Monday, August 15, 2011

Watchman Nee, Vol 41-24


BAB DUA PULUH DUA

PEKERJAAN-PEKERJAAN ROH KUDUS DAN MANFAAT

DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 19 Nopember 1935, pukul 3 siang

Tempat: Chuenchow

PEKERJAAN-PEKERJAAN ROH KUDUS

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keduanya memperlihatkan kepada kita bahwa hanya ada 3 pekerjaan Roh Kudus: (1) membagikan hayat kepada manusia, (2) menjadi hayat di dalam manusia, dan (3) menjadi kuat kuasa di atas manusia. Ketiga hal ini mencakup semua pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan yang pertama dari Roh Kudus adalah memberikan hayat. Yang kedua adalah hidup di dalam manusia untuk menjadi hayat bagi manusia, dan yang ketiga adalah turun ke atas manusia untuk memperkuatnya. Ketiga aspek ini mencakup seluruh pekerjaan dari Roh Kudus seperti yang dijabarkan di dalam Alkitab. Perjanjian Lama hanya memiliki aspek yang pertama dan yang ketiga; dia tidak memiliki aspek yang kedua. Di dalam Perjanjian Lama, kita tidak menemukan Roh Kudus berhuni di dalam manusia. Perbedaan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Roh Kudus berhuni di dalam manusia. Ada orang-orang di dalam Perjanjian Lama yang menjamah hayat. Misalnya, Daud menjamah hayat. Sebagai tambahan untuk aspek yang pertama dari pekerjaan Roh Kudus, kita juga menemukan pencurahan Roh di dalam Perjanjian Lama. Tentu saja, itu hanya dialami oleh sedikit orang. Misalnya, selama pembangunan tabernakel, Roh turun ke atas Aholiab dan Bezaleel dan memberi mereka hikmat untuk membuat berbagai rancangan dan membangun tabernakel (Kel. 31:1-11). Musa juga menerima Roh ke atas dirinya, dan dia mendistribusikan Roh kepada tujuh puluh orang tua-tua Israel (Bil. 11:17, 25). Banyak nabi juga menerima Roh Allah ke atas mereka. Akan tetapi, tidaklah umum bagi Roh Allah untuk turun ke atas seorang nabi. Hanya sedikit dari para nabi yang terkenal yang memiliki pengalaman mengenai Roh Allah turun ke atas mereka. Banyak dari para nabi itu juga memiliki murid-murid. Elisa memiliki banyak murid, namun tidak ada satupun dari mereka menerima Roh turun ke atas mereka. Walaupun kitab Hakim-hakim berbicara mengenai orang-orang menerima Roh dan melakukan hal-hal yang luar biasa, jumlahnya hanya sedikit (Hak. 3:10; 6:34; 11:29; 13:25).

Di dalam Perjanjian Lama, hanya Hakim-hakim 6:34 yang kelihatannya memberi indikasi bahwa Roh berhuni di dalam manusia. Ini adalah sebuah pengecualian. Akan tetapi, menurut teks aslinya, ayat ini tidak mengatakan bahwa Roh berhuni di dalam manusia. Ayat tersebut hanya mengindikasikan bahwa Roh Yehova mengenakan Gideon, seolah-olah Gideon adalah sebuah pakaian dan Roh Kudus berada di dalam pakaian ini. Selain kejadian tersebut, tidak ada satu tempat pun di dalam Perjanjian Lama yang mengindikasikan bahwa Roh berhuni di dalam manusia.

Di dalam Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Roh Kudus juga turun ke atas manusia. Kita melihat hal ini pada diri Maria, Zakharia, Yohanes Pembaptis, dan Tuhan sendiri. Pada saat itu Roh belum berhuni di dalam manusia dan belum menjadi hayat bagi manusia. Roh Kudus tidak melakukan pekerjaan yang baru ini sampai Yohanes 14:16-17. Mohon perhatikan kata “akan” di dalam bagian terakhir dari ayat 17; dia tidak mengatakan “sudah.” Ini adalah sesuatu yang sangat baru. Roh akan berhuni di dalam manusia dan menyertai manusia selamanya. Tidak seperti Perjanjian Lama, yang hanya memiliki aspek yang pertama dan yang ketiga dari pekerjaan Roh, Roh Kudus memulai pekerjaan yang baru di dalam Yohanes 14. Dia tidak lagi hanya turun ke atas manusia atau memberi hayat kepada manusia, namun Dia juga berhuni di dalam manusia.

Sebelum kenaikan Tuhan, Dia memberi dua janji yang besar kepada murid-murid-Nya. Janji yang pertama diberikan sebelum kematian-Nya, dan yang kedua diberikan sebelum kenaikan-Nya. Janji yang pertama adalah bahwa Roh Kudus akan berhuni di dalam manusia (Yoh. 14:17), dan janji yang kedua adalah bahwa Roh kudus akan turun ke atas Manusia (Kis. 1:8). Jadi, kita memiliki ketiga aspek dari pekerjaan Roh. Jika Anda adalah seorang pembaca Mandarin, Anda mungkin tidak tahu betapa mustikanya hal ini. Jika Anda adalah seorang Yahudi, ungkapan alkitabiah “berhuni di dalam kamu” adalah sebuah konsep yang aneh. Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Salomo, dan Yeremia tidak memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka. Perjanjian Lama hanya mengatakan bahwa Roh Yehova turun ke atas seseorang. Hanya Kejadian 6:3 yang menggunakan ungkapan “di dalam manusia.” [Catatan: Ini menurut Chinese Union Version.] akan tetapi, di dalam bahasa aslinya, ayat ini mengatakan, “Roh-Ku tidak akan selalu berurusan dengan manusia.” Ayat itu tidak mengatakan bahwa Roh Kudus berhuni di dalam mereka yang ada di dalam Kejadian 6:3. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Roh tidak akan lagi berurusan dengan manusia atau mendukakan manusia. Ketika Perjanjian Lama berbicara mengenai Roh, dia selalu memakai kata di atas, akan tetapi Perjanjian Baru selalu memakai kata di dalam. Janji ini terlalu ajaib—Roh Kudus akan berhuni di dalam manusia. Firman telah menjadi daging adalah suatu kejadian yang ajaib yang terjadi di dalam diri Tuhan sendiri, namun Roh itu sendiri tinggal di dalam kaum beriman merupakan suatu kejadian yang lebih ajaib.

Kapankah Roh mulai berhuni di dalam manusia? Di dalam Yohanes 14:17 Tuhan mengatakan bahwa Roh itu “akan” berada di dalam murid-murid. Perkataan ini diucapkan sebelum penyaliban Tuhan. Di dalam Yohanes 20:22, Dia menghembuskan nafas kudus ke dalam murid-murid dan mengatakan, “Terimalah Roh Kudus.” Ini terjadi setelah kebangkitan Tuhan. Setelah kebangkitan-Nya, Roh Kudus datang dan murid-murid menerima penghembusan Tuhan. Roh Kudus adalah nafas kehidupan Tuhan. Ini adalah seperti Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam Adam setelah dia diciptakan dari debu tanah. Hasilnya adalah dia menjadi jiwa yang hidup (Kej. 2:7). Inilah yang sedang terjadi atas diri kita hari ini. Tuhan sedang menghembuskan Roh Kudus, nafas kehidupan, ke dalam kita. Tanpa nafas dari Allah, manusia itu mati. Tanpa nafas dari Tuhan kepada gereja, gereja juga mati. Inilah aspek yang kedua dari pekerjaan Roh Kudus. Setelah kita mengenal sejarah dari pekerjaan Roh, kita akan memahami pengalaman kita.

Janji mengenai berhuninya Roh Kudus di dalam murid-murid digenapkan pada hari kebangkitan Tuhan. Empat puluh hari setelah kebangkitan Tuhan, Dia kembali menjanjikan kepada murid-murid bahwa mereka akan menerima kuat kuasa dari Roh Kudus. Janji Tuhan ini dipenuhi pada hari Pentakosta. Jika dibandingkan, janji yang manakah yang lebih baik? Di dalam Perjanjian Lama, pencurahan Roh adalah hak istimewa dari sedikit orang, seperti para imam, para nabi, atau para hakim. Mungkin hanya satu orang dari seluruh bangsa Israel yang memiliki hak istimewa ini. Mungkin hanya raja atau beberapa orang tertentu yang memiliki berkat ini. Yang lainnya harus mendengar orang-orang tersebut. Di dalam sejarah Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang semacam ini muncul hanya sekali setiap beberapa dekade atau abad. Kejadian tersebut sangat jarang. Namun di dalam Perjanjian Baru, setiap orang bisa dan seharusnya memiliki pengalaman ini. Janji ini sangat unik; ini adalah sesuatu yang bisa kita semua terima. Ini adalah berkat yang khusus dari Tuhan. Betapa sukacitanya bahwa kita semua bisa memiliki Roh Kudus di atas diri kita. Sebelum kenaikan-Nya, Tuhan memerintahkan murid-murid untuk tinggal di Yerusalem dan menunggu janji tersebut (Luk. 24:49). Pada saat itu, murid-murid sudah memiliki hayat yang berhuni. Mereka mendengar perkataan Tuhan dan lalu berdoa dan menantikannya. Sepuluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 2:4). Semua orang yang membaca Kisah Para Rasul 2 tahu bahwa ini berbicara mengenai pekerjaan luaran Roh Kudus di atas manusia. Injil Lukas juga berbicara mengenai aspek luaran dari pekerjaan Roh Kudus di atas diri manusia. Ini tidak mengacu pada pekerjaan batini dari Roh. Dari Yohanes, Lukas, dan Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa ada dua garis untuk pekerjaan Roh Kudus. Satu garis adalah di dalam manusia, dan garis yang satunya lagi adalah di luar manusia.

PERBEDAAN ANTARA PENGHUNIAN DAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Roh Kudus berhuni di dalam manusia untuk menjadi hayat manusia, dan Dia hinggap di atas manusia untuk menjadi kuat kuasanya. Jika kita tidak jelas mengenai perbedaan di antara kedua aspek pekerjaan-Nya ini, kita tidak tahu perbedaan antara pekerjaan Roh Kudus di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Berhuninya Roh Kudus sudah dijanjikan oleh Kristus di dalam Perjanjian Baru sebelum kematian-Nya. Aspek dari pekerjaan Roh ini berhubungan dengan kematian Tuhan, dan digenapkan pada waktu kebangkitan Tuhan. Berhuninya Roh di dalam manusia adalah bertujuan untuk menjadi hayat bagi kaum beriman dan juga bertujuan untuk memproduksi buah Roh di dalam penghidupan kaum beriman, seperti kekudusan, kebenaran, kesabaran, dan sukacita.

Pencurahan Roh ke atas manusia dijanjikan oleh Bapa di dalam Perjanjian Lama. Janji ini dikonfirmasi oleh Tuhan sebelum kenaikan-Nya. Aspek dari pekerjaan Roh ini berhubungan dengan kenaikan Tuhan, dan digenapkan setelah Tuhan terangkat dan ditinggikan. Pencurahan Roh ke atas manusia adalah bertujuan untuk mengenakan kuat kuasa Allah pada kaum beriman bagi kesaksian mereka dan juga bertujuan untuk menghasilkan karunia-karunia Roh dan memperkuat kaum beriman untuk bekerja bagi Tuhan demi penggenapan kehendak-Nya.

Ketika kita membaca Perjanjian Lama dan Baru, kita harus membedakan pekerjaan Roh di dalam manusia dan pekerjaan-Nya di luar manusia. Jika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa tidak ada konflik di dalam Alkitab mengenai aspek-aspek dari pekerjaan Roh. Jika kita tidak melakukannya, kita akan menemukan banyak kontradiksi. Misalnya, Alkitab mengatakan bahwa setiap orang yang sudah dilahirkan kembali memiliki Roh Kudus berhuni di dalam dirinya. Alkitab juga mengatakan bahwa kaum beriman bisa menerima pencurahan Roh. Yang satu mengindikasikan fakta memiliki, dan yang satunya lagi mengindikasikan suatu kemungkinan untuk memiliki. Begitu seseorang percaya dalam Tuhan, Roh Kudus tentunya akan berhuni di dalam dirinya. Pada saat yang sama, dia juga bisa mengalami pencurahan Roh. Jika kita dengan jelas membedakan antara kedua perkara ini, kita akan melihat hal-hal yang ajaib terjadi kepada kita. Baiklah saya memberi satu contoh. Pada suatu hari orang-orang Samaria percaya dalam Tuhan dan dibaptis. Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka menerima Roh yang berhuni ataupun pencurahan Roh. Malah, Kisah Para Rasul 8 mencatat bahwa walaupun mereka sudah dibaptis, mereka belum menerima Roh Kudus, dan Roh belum turun ke atas mereka. Jika kita tidak memahami perbedaan antara Roh yang berhuni dan pencurahan Roh, kita akan menemui kesulitan untuk menjelaskan fakta bahwa orang-orang Samaria sudah percaya dan dibaptis, tapi belum menerima Roh Kudus. Kita tidak akan tahu bagaimana cara menjelaskan Roma 8, 1 Yohanes 4, dan 1 Korintus 6. Semua bagian ini berbicara mengenai Roh Kudus yang berhuni di dalam manusia begitu dia percaya. Sebenarnya, orang-orang Samaria tidak kekurangan Roh yang berhuni. Mereka hanya kekurangan Roh yang dicurahkan ke atas manusia.

ASPEK BATINI DAN LUARAN DARI ROH

DI DALAM DAN DI ATAS MANUSIA

Pekerjaan batini dari Roh Kudus di dalam manusia adalah bagi hayat dan penghidupan. Itu membuat manusia mampu untuk menghasilkan buah Roh. Pekerjaan luaran Roh Kudus di luar manusia adalah bagi kesaksian dan pekerjaan. Itu membawakan karunia-karunia rohani kepada manusia. Jika seseorang dipenuhi dengan Roh di batin dan juga memiliki Roh di atasnya, dia akan diperkuat bagi pekerjaan Tuhan. Jika seseorang tidak dipenuhi di batin, namun hanya diliputi di luar, dia tidak akan mendapatkan terlalu banyak manfaat. Malah, itu akan merusaknya sebab dia akan menjadi sombong. Jika seseorang belum melewati pintu gerbang kemenangan, dia mungkin memiliki pengalaman atas pencurahan Roh, namun dalam beberapa bulan atau paling banyak beberapa tahun, orang lain akan melihat bahwa dia kekurangan sesuatu. Kita harus mengalami kedua aspek dari pekerjaan Roh Kudus di dalam dan di atas kita.

ROH KUDUS BERSAKSI BAGI KRISTUS

Roh Kudus tidak bersaksi bagi diri-Nya sendiri; Dia bersaksi mengenai Kristus (Yoh. 15:26). Setelah seseorang melihat penebusan salib, orang-orang lainnya mungkin mengajar dia untuk pergi berdoa meminta Roh dan untuk percaya. Membicarakan Roh dalam cara ini adalah bertujuan untuk memimpin dia kepada Kristus. Dalam berbicara mengenai pekerjaan Roh di dalam manusia, kita tidak menyinggung Roh Kudus secara terpisah. Melainkan, kita menyinggung Roh dalam hubungan dengan bagaimana Dia bersaksi bagi Kristus. Selama beberapa hari ini kita sudah berbicara mengenai hayat yang menang. Kita tidak menyinggung soal Roh Kudus. Melainkan, kita menyinggung mengenai bagaimana Tuhan telah bangkit dan telah menjadi hayat kita. Pekerjaan Roh Kudus berhubungan secara langsung dengan Kristus. Ketika seseorang melihat pekerjaan Kristus, dia menerima pekerjaan Roh. Ketika seseorang melihat kematian Kristus, dia menerima kelahiran kembali dari Roh. Ketika seseorang melihat kebangkitan Kristus, dia menerima Roh sebagai hayat. Ketika seseorang melihat Kristus yang terangkat, Tuhan yang duduk di takhta, dia menerima pencurahan Roh.

Pencurahan Roh adalah untuk mempersaksikan Kristus, dan penghunian Roh juga adalah untuk mempersaksikan Kristus. Di satu pihak, Roh Kudus di batin membuat kita mampu untuk menang. Di pihak lain, Roh ini di batin mempersaksikan bahwa Tuhan adalah segala sesuatu bagi kita. Ketika Roh Kudus ada di dalam kita, kita menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23), yang mana adalah Kristus itu sendiri. Allah tidak memberi kita buah-buah Roh yang terpisah-pisah dimana yang satu disebut kasih, yang lainnya disebut sukacita, dan yang ketiga disebut kesabaran, dll. Allah telah memberi kita Kristus yang lengkap. Buah yang disinggung di dalam Galatia 5:22 berbentuk tunggal di dalam bahasa aslinya; hanya ada satu buah. Ini adalah seperti jeruk kepruk (tangerine), yang memiliki sembilan bagian, namun kesembilan bagian itu tetap merupakan satu buah. Jika kita memiliki buah Roh, kita memiliki semuanya. Mustahil jika kita memiliki kasih namun tanpa sukacita, atau memiliki sukacita namun tanpa kesabaran. Allah bergerak di bidang grosiran; Dia tidak bergerak di usaha eceran. Dia hanya memberi kita Kristus. Jika kita memiliki kasih namun tidak memiliki sukacita, itu berarti kita hanya memiliki buah kita sendiri, bukan buah Roh.

Terdapat tiga pasal di dalam Alkitab yang berbicara mengenai Roh Kudus secara rinci. Mereka adalah 1 Korintus 12 sampai 14. pasal dua belas dan empat belas adalah mengenai pencurahan Roh; mereka berhubungan dengan aspek-aspek luaran dari pekerjaan Roh. Pasal tiga belas adalah mengenai kasih; itu berhubungan dengan aspek-aspek batini dari pekerjaan Roh. Jika kita mengganti frasa “buah Roh” dengan kata “kasih,” kita akan melihat bahwa 1 Korintus 13 sebenarnya berbicara mengenai hal-hal yang berasal dari Roh. Butir pertama dari buah Roh adalah kasih. Tanpa kasih, butir-butir lainnya seperti sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran, tidak ada gunanya. Paulus mengejar kasih sebab begitu dia mendapatkan kasih, dia mendapatkan semuanya.

ASPEK BATINI LEBIH PENTING DARIPADA ASPEK LUARAN

Tidak ada perbandingan di antara aspek batini dari Roh dan aspek luaran dari Roh. Lebih jauh lagi, baik pencurahan maupun penghunian, keduanya tidak sepenting hayat yang menang. Allah telah bermurah hati untuk membuat saya menjadi minister dari hayat yang menang dan bukan minister dari pencurahan Roh. Tentu saja, saya juga berbicara mengenai pencurahan. Sangat indah memiliki pencurahan Roh sebagai tambahan dari Roh yang berhuni. Namun sangat mengerikan jika kita memiliki pencurahan Roh, namun kekurangan pengalaman akan Roh yang berhuni. Hal yang terbaik adalah memiliki kedua aspek dari Roh. Jika kita memiliki aspek batini, kita bisa mengejar pekerjaan luaran dari Roh, namun jika kita tidak memiliki aspek batini, tidak apa-apa jika kita untuk sementara waktu mengenyampingkan pengejaran akan manifestasi luaran dari Roh.

Di dalam Perjanjian Lama, setelah para imam membubuhkan darah pada telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan dari orang yang datang untuk ditahirkan, mereka membubuhkan minyak urapan pada tempat yang sama (Im. 14:14-17). Pertama, ada darah, dan kemudian ada minyak urapan. Ini berarti salib harus pertama-tama bekerja atas telinga, tangan, dan kaki kita sebelum kita bisa berjalan dan bekerja oleh Roh Kudus. Salib menyingkirkan ego, sedangkan Roh hidup mewakili kita. Penerapan darah pada telinga, tangan, dan kaki menandakan bahwa darah sudah menghabisi kita dan menyingkirkan kita. Kemudian Roh Kudus datang untuk menggantikan telinga, tangan, dan kaki kita. Pertama-tama ada hayat yang menang, dan kemudian ada pencurahan Roh. Menerima pembubuhan darah Tuhan menandakan bahwa kita sudah mati bersama Tuhan. Pada saat yang sama, hayat-Nya membawa pengurapan kepada kita. Hari ini kita ingin melihat pengurapan atas kepala kita, namun kecuali darah sudah menjalankan tugasnya terlebih dahulu, pencurahan minyak urapan hanya akan membuat kita menjadi sombong.

Kaum beriman Korintus memiliki manifestasi-manifestasi luaran dari Roh, namun mereka tidak memiliki pemenuhan Roh secara batini. Mereka adalah kaum beriman yang bersifat daging. Ada banyak orang hari ini yang sudah menerima pencurahan Roh, namun mereka belum dipenuhi dengan hayat secara batini. Tidak ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka hidup secara sembrono dan tidak berbeda dengan orang-orang milik dunia. Pencurahan tidak ada hubungannya dengan hayat batini. Seseorang mungkin sangat berkarunia namun tidak memiliki hayat yang menang di batinnya. Jika seseorang tidak kudus di dalam hayatnya, tidak ada pemberian karunia dari Roh akan membuat dia menjadi kudus di batin. Namun jika kita memiliki hayat yang tepat di batin dan sebagai tambahan memiliki pemberian karunia Roh di luar, kita akan menjadi orang-orang yang berguna.

Dari semua gereja di dalam Perjanjian Baru, tidak ada yang lebih parah daripada gereja di Korintus. Akan tetapi Paulus tidak menyangkal pengalaman mereka akan pencurahan Roh hanya karena mereka rusak secara batini dan moral. Paulus tidak mengatakan bahwa memiliki pencurahan di dalam sidang-sidang adalah salah. Dia hanya mengatakan bahwa perlu ada keteraturan sebab karunia-karunia luaran bisa menyebabkan kekacauan. Walaupun mereka tidak memiliki keteraturan yang baik, Paulus tidak mengatakan bahwa mereka memiliki roh-roh jahat. Dia hanya memberi instruksi kepada mereka mengenai bagaimana mengatur segala sesuatu secara teratur. Kita seharusnya mengambil sikap yang sama. Jika ada saudara atau saudari yang bertindak abnormal, kita seharusnya mengatur keadaan dan menguji mereka. Akan tetapi, kita tidak seharusnya menganggapnya salah hanya karena itu abnormal. Seseorang mungkin masuk ke dalam sebuah kamar dan menemukan perabotan dan pakaian yang berantakan. Akan tetapi dia tidak bisa mengatakan bahwa perabotan itu bukan perabotan atau bahwa pakaian itu bukan lagi pakaian. Dia hanya bisa mengatakan bahwa perabotan dan pakaian itu berantakan. Ketika hal-hal berantakan, yang diperlukan hanyalah sedikit pengaturan. Paulus hanya membuat sedikit pengaturan. Dia berbicara mengenai menjaga keteraturan dalam berbahasa lidah, dan dia mengatakan bahwa jika tidak ada penafsiran, seseorang tidak seharusnya berbicara (1 Kor. 14:28). Mereka yang bernubuat seharusnya berbuat demikian satu demi satu. Jika terlalu banyak orang yang bernubuat, kekacauan akan masuk. Jadi, dia mengatakan bahwa hanya dua atau tiga orang yang bernubuat. Demikian juga dengan bahasa lidah, hanya dua atau tiga orang yang berbicara. Jika jumlahnya melebih dua atau tiga orang, mereka yang ingin berbicara seharusnya tidak berbicara (ay. 29). Satu Korintus 14 adalah mengenai keteraturan; itu adalah mengenai pengaturan-pengaturan luaran yang muncul setelah pengalaman akan pencurahan Roh. Di masa yang akan datang, kita harus memberi lebih banyak perhatian kepada 1 Korintus 14. Mereka semua yang menganggap dirinya gereja di dalam lokalitas mereka seharusnya memberi perhatian kepada pengalaman akan pencurahan Roh. Kita harus mempelajari kasih di satu pihak dan di lain pihak, mengejar karunia-karunia rohani. Jika kita melakukannya, kita akan menempuh kehidupan yang seimbang

MANFAAT DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Apakah manfaat dari pencurahan Roh Kudus? Jika aspek batini dari Roh lebih penting daripada aspek luaran dari Roh, lalu mengapa kita memerlukan pencurahan Roh? Mereka yang menempuh kehidupan kudus dan yang mengenal Roh sebagai sebuah persona, akan memiliki kekuatan untuk membagikan kekudusan ini dengan orang lain begitu mereka menerima pencurahan Roh. Banyak orang menyadari bahwa mereka memiliki banyak harta tersembunyi di batin, namun mereka tidak bisa membukakan harta tersebut kepada orang lain. Walaupun orang-orang lain mungkin mengagumi atau menginginkannya, mereka tidak bisa mendapatkan bantuan dari mereka. Mereka kekurangan pencurahan Roh Kudus. Sekarang marilah kita melihat manfaat yang praktis dari pencurahan Roh Kudus.

Kekuatan Persekutuan

Hal pertama yang kita dapatkan setelah kita mengalami pencurahan adalah kekuatan persekutuan. Pencurahan membuat kita mampu untuk menyampaikan hal-hal yang ada di dalam kita kepada orang lain. Seseorang mungkin telah menerima sesuatu dari Allah dan mungkin sudah mengumpulkan sesuatu di batin namun belum memiliki kekuatan untuk membagikannya kepada orang lain. Begitu mereka menerima pencurahan Roh, mereka akan mampu untuk membagikan kepada orang lain apa yang ada di dalam mereka. Mereka akan memiliki kekuatan yang luaran untuk menyampaikan hal-hal yang batini ini kepada orang lain. Mereka yang memiliki Roh di batin adalah seperti PLN. PLN mungkin penuh dengan terang, namun seluruh kota mungkin berada di dalam kegelapan. Harus ada kabel listrik untuk menghubungkan PLN ke kota supaya tenaga listrik bisa disampaikan ke seluruh kota. Jika tidak ada tenaga listrik di PLN, maka tidak akan terjadi apa-apa. Akan tetapi, jika ada tenaga listrik di PLN namun tidak ada kabel listrik, juga tidak akan terjadi apa-apa. Kabel penyalur tenaga listrik adalah gambaran dari fungsi pencurahan. Banyak orang memiliki kabel listrik, namun mereka harus menyalakan lilin pada malam hari. Mereka tidak memiliki apa-apa di dalam mereka, namun mereka berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Ini tidak akan berhasil. Kita harus memiliki aspek-aspek Roh yang di luar dan yang di batin. Jika kita sudah melewati pintu gerbang kemenangan, kita akan memiliki sesuatu di batin kita. Kemudian kita bisa melanjutkan untuk mengejar pencurahan sehingga kita bisa diperkuat untuk membagikan apa yang kita miliki dengan orang lain.

Keberanian

Sebagian orang memiliki watak batini yang unggul, namun mereka sangat pemalu. Mereka harus memutuskan beberapa kali sebelum mereka bisa berdiri untuk berbicara atau bersaksi bagi Tuhan. Sebagian orang sudah percaya pada Tuhan, namun mereka takut untuk membagikan traktat injil kepada orang lain. Masih ada sebagian orang di sini hari ini yang belum menerima pencurahan Roh. Saya tidak akan bertanya apakah Anda menginginkan pencurahan, dan saya tidak akan bertanya apakah Anda takut pada pencurahan. Saya hanya akan bertanya apakah Anda bisa seperti mereka yang sudah menerima pencurahan. Anda mungkin memiliki sesuatu yang riil di batin, namun Anda takut untuk membagikannya. Orang lain mungkin tidak memiliki apa-apa, tapi mereka tidak takut. Apa yang kurang dari Anda adalah keberanian mereka. Saya tidak mendorong mereka yang sudah menerima pencurahan untuk bertindak secara sembrono, akan tetapi mereka yang telah menerima pencurahan untuk pertama kalinya, haruslah kuat untuk bersaksi sebab mereka sudah menerima keberanian. Saudara saudari yang sudah menerima pencurahan bisa dibagi menjadi dua kategori. Yang pertama adalah mereka yang masih takut dan malu-malu. Yang kedua adalah mereka yang tidak takut dan berani. Sebelum saya menerima pencurahan Roh, saya bisa mengikuti teman injil sejauh satu atau dua mil dan masih tetap tidak bisa mengumpulkan keberanian yang cukup untuk membuka mulut saya untuk bersaksi kepadanya. Saya memiliki keberanian untuk membaca Alkitab atau berdoa di kereta api, tapi diperlukan usaha yang keras untuk membagikan traktat injil di dalam kereta api yang sama. Setelah saya menerima pencurahan Roh, saya tidak lagi takut pada apapun juga. Saya bahkan tidak peduli dengan bagaimana saya berpakaian. Saya menjadi berani. Saya bukan saja “tebal kulit muka”; saya sama sekali “kehilangan kulit muka.”

Tidak Ada Kesadaran-diri

Kesadaran-diri adalah hal terburuk yang bisa dimiliki oleh seorang Kristen. Seorang yang sadar-diri memperhatikan sebagus apa cara dia berpakaian dan bagaimana orang lain menanggapi perkataannya, dll. Ketika dia diundang ke suatu perjamuan, dia tidak bisa berbicara dengan leluasa mengenai injil kepada orang lain. Dia tidak bisa berbicara kepada seorang asing tanpa mempersiapkan dirinya baik-baik sebelum dia berbicara. Ini adalah karena dia selalu menyadari dirinya sendiri. Dia mungkin bisa berdoa sendirian di dalam kamarnya, akan tetapi ketika dia berada di tempat umum, dia tidak bisa berdoa dalam cara yang sama. Di muka umum, dia mengubah nada, kata-kata, dan ekspresinya dan menjadi takut pada kerutan dahi orang lain. Semua reaksi ini memiliki makna bahwa ada terlalu banyak kesadaran-diri. Orang-orang semacam ini memiliki roh, namun roh mereka tertutup oleh jiwa mereka, dan mereka tidak bisa leluasa. Pernah sekali ada sebuah sidang di ruang tengah seorang saudara. Roh turun, dan semua orang yang hadir dibebaskan. Kebebasan semacam ini bukanlah yang tidak bermoral melainkan suatu kebebasan di dalam roh. Kadang-kadang kita terlalu terikat di dalam sidang-sidang. Ketika ada terlalu banyak ikatan, tidak ada yang berani berbicara. Tn Evan Roberts menyelamatkan banyak jiwa di sepanjang hidupnya. Banyak orang telah mempersaksikan bahwa dia adalah satu-satunya orang di bumi ini yang pernah mereka jumpai yang tidak memiliki kesadaran-diri sama sekali. Ketika dia ingin tertawa, dia tertawa. Ketika dia ingin memandang seseorang, dia akan memandangnya. Hanya mereka yang bebas dari kesadaran-diri bisa bekerja bagi Allah, dan satu-satunya jalan supaya kita bisa dilepaskan dari kesadaran-diri adalah melalui pencurahan Roh. Hanya mereka yang sudah menerima pencurahan yang bebas dari kesadaran-diri.

Mengubah Atmosfir

Seseorang yang dipenuhi dengan Roh Kudus bisa mengubah atmosfir. Ketika sebagian orang masuk ke dalam suatu ruangan, mereka bisa mengubah ruangan yang sunyi menjadi ruangan yang ramai, ruangan yang ramai menjadi ruangan yang sunyi, atau orang-orang yang tidak bisa berbicara menjadi cerewet. Mereka mampu untuk mengubah atmosfir kemana saja mereka pergi. Kegagalan kita terletak pada fakta bahwa kita tidak bisa membawa atmosfir rohani bersama kita kemana saja kita pergi. Kita mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Kita tidak bisa mempengaruhi mereka. Malah kita yang terpengaruh oleh mereka. Akan tetapi, mereka yang sudah menerima pencurahan Roh bisa mengubah atmosfir dan membuat orang lain berpaling bersama mereka. Jika setiap orang dari kita sudah menerima pencurahan Roh, kita semua akan mampu untuk mengubah atmosfir.

Tenaga bagi Pekerjaan

Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh bisa mengejar karunia-karunia rohani. Untuk saat ini, kita tidak akan masuk ke dalam subyek dari karunia-karunia rohani, namun kita akan menyinggung sesuatu mengenai tenaga bagi pekerjaan. Mereka yang belum menerima pencurahan tidak memiliki tenaga bagi pekerjaan. Mereka yang sudah menerima pencurahan diperkuat untuk bekerja bagi Tuhan. Perbedaannya sangat besar. Supaya memiliki tenaga bagi pekerjaan, kita harus memiliki pencurahan Roh.

PERTANYAAN DAN JAWABAN

Pertanyaan: Bisakah Roh Kudus yang berhuni dimanifestasikan dalam cara yang sama Dia dimanifestasikan ketika Dia turun ke atas seseorang?

Jawaban: Ketika Anda percaya pada Tuhan, Roh Kudus masuk ke dalam Anda dan tinggal di dalam Anda. Fakta ini hanya bisa diketahui oleh Anda; tidak ada orang lain yang tahu. Pekerjaan Roh Kudus yang berhuni digenapkan oleh Allah sendiri. Manusia tidak bisa melihat pekerjaan ini. Akan tetapi, ketika Roh turun ke atas seseorang, semua orang bisa melihatnya.

Pertanyaan: Apakah Kisah Para Rasul 8 berbicara mengenai Roh Kudus berhuni di dalam manusia?

Jawaban: Tidak, itu hanya berbicara mengenai Roh turun ke atas manusia.

Pertanyaan: Kisah Para Rasul 19 mencatat dua belas orang beriman Efesus dibaptis ke dalam baptisan Yohanes tanpa pernah mendengar tentang kedatangan Roh Kudus. Ketika Paulus datang kepada mereka, dia bertanya apakah mereka sudah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya, dan mereka menjawab bahwa mereka belum. Mereka juga belum mengalami kedatangan Roh. Apakah orang-orang tersebut akan binasa jika mereka tetap berada di dalam keadaan mereka saat itu?

Jawaban: Murid-murid seminari mungkin menjawab, “Ya, mereka akan binasa sebab mereka belum pernah mendengar atau menerima Roh Kudus. Mereka akan tersesat.” Tapi saya berkata bahwa mereka beroleh selamat dan tidak akan binasa. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin mereka yang belum menerima Roh bisa diselamatkan?” Mereka sudah memiliki iman. Paulus hanya menunjukkan kepada mereka bahwa baptisan mereka itu salah. Itu adalah baptisan pertobatan dari Yohanes. Mereka seharusnya percaya pada Dia yang datang setelah Yohanes—Yesus. Itulah sebabnya mengapa mereka belum menerima Roh. Paulus tidak menyinggung perkara iman kepada mereka. Dengan kata lain, iman bukanlah masalah mereka. Kaum beriman Efesus di dalam Kisah Para Rasul hanya kekurangan dalam hal pencurahan. Mereka tidak kekurangan Roh yang berhuni di dalam Roma 8. lebih jauh lagi, Kisah Para Rasul menyebut mereka dua belas murid. Pada saat itu, setiap orang beriman adalah seorang murid dan setiap murid adalah seorang beriman, yaitu, yang sudah diselamatkan. Mereka hanya kekurangan pengalaman akan Roh turun ke atas mereka. Mereka tidak kekurangan pengalaman akan penghunian Roh. Misalnya beberapa orang dari kita percaya beberapa tahun yang lalu. Begitu kita percaya, kita memiliki Roh berhuni di dalam kita. Setelah sejangka waktu, kita menemukan hal-hal seperti berbahasa lidah, bernubuat, dan pencurahan Roh. Akan tetapi, bahasa lidah dan nubuat bukanlah bukti yang penting dari penghunian Roh. Kita tidak bisa mengatakan bahwa hanya karena seseorang tidak memiliki apa yang disebut dengan bukti-bukti dari pencurahan Roh, dia itu tidak memiliki Roh. Roh Kudus masuk ke dalam seseorang begitu dia percaya dan menerima Tuhan.

Pertanyaan oleh saudara-saudara dari Pin-Yang: Mengapa demikian penting untuk membedakan antara pekerjaan batini dan pekerjaan luaran dari Roh Kudus?

Jawaban: Sulit untuk mengidentifikasi mereka yang sudah memiliki Roh di batin namun tidak memiliki Roh di luar. Akan tetapi, mudah untuk mengidentifikasi mereka yang memiliki Roh di luar tapi tidak memiliki Roh di batin. Misalnya seorang saudara berjabatan tangan dengan saya, dan kemudian bertanya kepada saya, “Berapa banyak orang yang sudah Anda selamatkan? Saya sudah menyelamatkan begitu banyak orang di berbagai tempat. Saya bisa menyelamatkan jiwa-jiwa. Anda tidak perlu mengatakan apa-apa kepada saya.” Perkataan ini adalah pernyataan yang menyombongkan diri. Perkataan itu datang dari mereka yang menerima pencurahan Roh namun hanya memiliki sedikit Roh di batin. Kita harus lebih memperhatikan aspek batini dari pekerjaan Roh Kudus daripada aspek luaran dari pekerjaan-Nya.

LAMPIRAN:

PERBEDAAN ANTARA KELAHIRAN KEMBALI DAN PEMENUHAN

(1) Kelahiran kembali berhubungan dengan keselamatan; pemenuhan berhubungan dengan kemenangan.

(2) Kelahiran kembali adalah perkara hayat; pemenuhan adalah perkara penghidupan.

(3) Pembenaran datang bersama kelahiran kembali; pengudusan datang bersama pemenuhan.

(4) Kelahiran kembali adalah penambahan suatu hayat yang baru yang berbeda dari hayat Adam yang lama; pemenuhan adalah pemenuhan Roh Kudus dan adalah pengembangan dari hayat yang baru yang sudah diterima manusia.

(5) Kelahiran kembali adalah suatu pekerjaan yang digenapkan oleh Roh Kudus melalui kematian Tuhan yang menggantikan di atas salib; pemenuhan adalah hasil dari Roh Kudus menjenuhi seseorang sampai taraf dimana makna penuh dari salib direalisasikan di dalam dirinya.

(6) Kelahiran kembali menandai permulaan hayat; pemenuhan menandai kematangan hayat.

Watchman Nee, Vol 41-23


BAB DUA PULUH SATU

MANIFESTASI DAN BUKTI DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 19 Nopember 1935, pagi hari

Tempat: Chuenchow

PENGALAMAN DI HARI PENTAKOSTA BUKAN

PENGGENAPAN HARFIAH DARI NUBUAT

DI DALAM KITAB YOEL

Pengalaman di hari Pentakosta yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul bukanlah penggenapan yang harfiah dari nubuat di dalam kitab Yoel; itu hanyalah suatu kejadian yang mirip dengan nubuat Yoel. Tidak ada nubuat-nubuat, visi-visi, atau mimpi-mimpi pada hari Pentakosta. Hanya ada bunyi dari langit seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah seperti lidah api (Kis. 2:1-3). Satu-satunya manifestasi pada diri murid-murid adalah bahasa lidah. Namun bahasa lidah tidak disinggung di dalam nubuat di dalam kitab Yoel. Ini membuktikan bahwa Pentakosta bukanlah penggenapan dari perkataan Yoel; itu hanya menunjuk pada kejadian yang serupa.

Seorang pembicara dari aliran Pentakosta yang hebat menyatakan bahwa seseorang harus berbahasa lidah sebagai bukti bahwa dia sudah menerima pencurahan Roh. Namun kita tahu dari perkataan Petrus bahwa pengalaman di hari Pentakosta hanyalah apa yang dibicarakan melalui nabi Yoel. Petrus mengatakan, “Itulah yang difirmankan…” Dia tidak mengatakan, “Itulah penggenapan dari apa yang difirmankan…” ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Sebuah penggenapan adalah suatu realisasi yang harfiah, sedangkan “itulah (this is what is)” hanyalah mengacu kepada kejadian yang serupa. Banyak orang mengira bahwa pencurahan Roh adalah penggenapan dari perkataan Yoel. Sebenarnya, Yoel tidak menyinggung mengenai berbahasa lidah. Banyak orang hari ini melatih rahang mereka sedemikian rupa untuk mencoba berbahasa lidah. Mereka juga berusaha untuk memiliki mimpi. Akan tetapi, itu bukan yang dimaksud oleh Petrus. Dia mengatakan bahwa ketika Roh datang, orang-orang melihat sesuatu yang serupa dengan apa yang dinubuatkan Yoel. Oleh karena itu, kita tidak perlu meniru manifestasi-manifestasi dari pencurahan Roh di hari Pentakosta.

MANIFESTASI-MANIFESTASI YANG BERLAINAN

DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Baru-baru ini ketika saya berada di Shen-yang, Shanghai, Chefoo, dan Chuenchow, saya melihat berbagai macam manifestasi dari pencurahan Roh. Di Chefoo ada yang tertawa terus menerus, sementara yang lainnya menangis. Sebagian merasakan kekuatan atau hal-hal lainnya turun ke atas mereka. Kita harus menyadari bahwa semua manifestasi ini berada di dalam kategori yang dijabarkan Petrus sebagai “Itulah (this is what is).” Mereka bukanlah penggenapan dari perkataan Yoel. Sebagian merasa bahwa mereka menerima sengatan listrik; yang lainnya kelihatannya dilingkupi oleh sesuatu. Sebagian melompat-lompat kemana-mana, sedangkan yang lainnya tetap duduk. Ada segala macam sensasi yang berlainan. Sensasi-sensasi ini terjadi secara alamiah ketika Roh dicurahkan. Petrus mengatakan, “Itulah.” Ketika sebagian orang menerima pencurahan, mereka mungkin menangis atau meratap. Jika saya belum menerima pencurahan, dan saya mengejar pencurahan, saya mungkin tidak mengalami manifestasi yang sama seperti orang lain. Inilah makna dari “itulah.” Setiap orang memiliki jalannya sendiri untuk ditempuh. Kita tidak bisa mengatakan bahwa orang lain itu salah hanya karena mereka mengalami sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah kita alami. Jika seseorang sudah menerima Roh, dan dia bisa mengatakan, “Yesus itu Tuhan,” tidak penting seperti apa manifestasi luarannya. Manifestasi-menifestasi ini adalah urusan Allah, bukan urusan kita. Petrus mengatakan, “Itulah,” dan kita juga seharusnya mengatakan, “Itulah.” Kita tidak seharusnya meniru orang lain atau memaksa orang lain untuk mendapatkan manifestasi yang sama seperti kita.

MENGEJAR PENCURAHAN, NAMUN TIDAK LUPA UNTUK MENGUJI

Sementara kita sedang mengejar pencurahan Roh, kita seharusnya menguji apakah Roh yang turun ke atas kita itu berasal dari Allah atau bukan (1 Yoh. 4:1). Kita harus secara berkesinambungan bekerja sama dengan Roh Kudus dan tidak membiarkan pikiran kita untuk menganggur. Kita tidak seharusnya meniru orang lain, dan tekad kita tidak boleh pasif. Kita tidak seharusnya berusaha untuk terlalu mengendalikan; juga tidak seharusnya kita kehilangan kendali. Roh-roh jahat bisa meniru Roh Kudus dan memberi manusia perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang supranatural. Kita harus menguji apakah yang telah kita terima itu Roh Kudus atau roh-roh jahat. Untuk membedakan di antara pekerjaan dari Roh Kudus dan pekerjaan dari roh-roh jahat, kita harus pertama-tama mengenal prinsip dari pekerjaan Roh Kudus dan roh-roh jahat. Roh Kudus menginginkan manusia untuk bekerja sama dengan-Nya secara aktif, sedangkan roh-roh jahat hanya ingin supaya manusia tunduk kepada pekerjaan mereka secara pasif. Jadi, dalam mengejar pencurahan Roh, kita tidak boleh membiarkan pikiran kita untuk menganggur atau tekad kita menjadi pasif. Roh-roh jahat sangat menyukai sikap yang pasif. Bahkan kedambaan untuk meniru orang lain akan memberi kesempatan kepada roh-roh jahat untuk menggarap kita. Kita harus melaksanakan hal-hal ini secara pasti dan bekerja sama dengan Roh Kudus secara aktif. Dalam segala hal ini, kita harus sangat berhati-hati, kalau tidak kita akan tertipu sebab kita semua bisa ditipu.

Watchman Nee, Vol 41-22


BAB DUA PULUH

SYARAT-SYARAT UNTUK MENERIMA PENCURAHAN

ROH KUDUS, DAN HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI

Tanggal: 18 Nopember 1935, malam hari

Tempat: Chuenchow

SYARAT-SYARAT UNTUK MENERIMA PENCURAHAN

ROH KUDUS

Untuk menerima pencurahan Roh Kudus, kita harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Pertama, kita tidak boleh memiliki dosa-dosa yang kita ketahui dan belum dibereskan di dalam hati kita. Kedua, kita harus lapar dalam roh kita (Yes. 44:3). Ketiga, kita harus berdosa dengan sungguh-sungguh (Kis. 1:14; 2:4; 4:31; 8:14-17).

HAL-HAL YANG HARUS DIWASPADAI

OLEH MEREKA YANG SUDAH MENERIMA

PENCURAHAN ROH

Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh Kudus sudah berkontak dengan dunia rohani. Ketika seseorang yang belum pernah menerima pencurahan Roh membuka pintu menuju dunia rohani, yang tidak dia kenal sebelumnya, dia akan menjamah sesuatu di luar alam jasmani. Sebagian orang memiliki iman, namun mereka tidak bersedia untuk membuka pintu mereka. Ketika seseorang menolak dan tidak mau membuka pintunya, dia tidak akan menerima apa pun dari dunia rohani. Menuntut pencurahan Roh adalah seperti membuka pintu dan merobohkan tembok. Di sisi positif, begitu pintu-pintu tersebut terbuka, akan ada persekutuan rohani. Di sisi negatif, ada bahaya untuk terbuka kepada dunia rohani. Ini adalah seperti membuka pintu untuk teman-teman. Di satu pihak, teman-teman seseorang bisa datang dan pergi sesukanya, tapi di pihak lain, pencuri juga bisa datang dan pergi sesukanya. Kita tidak seharusnya mengatakan bahwa karena pencuri bisa datang dan pergi, akan lebih baik untuk tidak membuka pintunya sama sekali. Tidak, di satu pihak, kita harus membuka pintunya, tapi di pihak lain, kita harus berjaga-jaga setiap waktu.

Menguji Roh

Bagaimana kita bisa berjaga-jaga dan mencegah si jahat supaya tidak masuk ke dalam kita? Pertama, setelah menerima pencurahan Roh, kita harus menguji pengalaman kita. Kita tidak boleh ceroboh dalam perkara ini. Satu Korintus 12:3 dan 1 Yohanes 4:3 memberi tahu kita cara untuk menerapkan ujiannya. Ayat-ayat ini adalah perlindungan kita. Kita harus bertanya kepada mereka yang sudah menerima pencurahan “Roh” apakah Kristus sudah datang dalam daging atau tidak. Kita juga bisa bertanya kepada mereka apakah Yesus itu Tuhan. Kita seharusnya memperhatikan untuk melihat kalau-kalau roh yang ada di atas mereka itu memberi respon dengan mundur. Jika dia mundur, itu berarti dia adalah roh jahat. Tapi jika orang itu bisa berkata, “Yesus itu Tuhan,” dia memiliki Roh Kudus. Kita tidak seharusnya puas dengan sembilan dari sepuluh kali. Kita harus menerapkan ujian ini setiap kali. Tanggung jawab saya mengenai perkara ini sudah selesai. Sekarang tergantung kepada kita untuk berjalan secara tepat di hadapan Tuhan.

Menurut Prinsip 1 Korintus 14

Manifestasi awal dari pencurahan Roh seringkali luar biasa. Kelihatannya seolah-olah Allah membuang semua kekangan. Dia melakukan hal ini supaya kita bisa menerima lebih banyak dari Tuhan. Pengalaman awal dari pencurahan adalah seperti melalui sebuah pintu gerbang. Setelah kita melewati pintu gerbang tersebut, kita harus menenangkan diri dan menempuh kehidupan yang normal di rumah. Tidak perlu meloncat-loncat atau berteriak-teriak, dan tidak perlu mencari-cari perasaan atau pengalaman yang supranatural. Mulai saat itu, kita tidak perlu menerapkan prinsip Kisah Para Rasul 2, melainkan prinsip dari 1 Korintus 14. Prinsip dari 1 Korintus 14 memberi tahu kita bahwa pencurahan Roh di dalam sidang-sidang adalah untuk merawat orang lain bukan diri sendiri. Prinsip ini juga memberi tahu kita bahwa roh-roh para nabi tunduk kepada para nabi (ay. 32). Kita harus memelihara prinsip ini. Kita harus belajar untuk mengendalikan roh kita. Satu Korintus 14 mengatakan bahwa jika ada yang berbahasa lidah, hanya dua orang atau paling banyak tiga orang yang melakukannya, dan mereka seharusnya melakukannya secara bergiliran (ay. 27). Di dalam Kisah Para Rasul 2, semua dari seratus dua puluh orang berbicara, sebab itu adalah untuk pertama kalinya Roh turun. Kemudian prinsipnya berubah di dalam 1 Korintus 14.

Mengendalikan Roh yang Di atas Kita

Roh yang dicurahkan ke atas kita ini adalah tanpa persona. Misalnya, 1 Korintus 12:13 menyinggung mengenai dibaptis ke dalam satu Roh. Roh ini diumpamakan sebagai air dan oleh karena itu tanpa persona. Roh ini tunduk kepada kita (1 Kor. 14:32). Akan tetapi, Roh yang berhuni di dalam kita memiliki persona, dan kita harus tunduk kepada-Nya. Roh yang ada di atas kita tunduk kepada kita, dan kita bisa menyuruh-Nya untuk datang dan pergi. Kita juga bisa menentukan apakah kita menginginkan Dia banyak atau sedikit. Akan tetapi, Roh yang berhuni di dalam kita memiliki persona, dan kita harus menundukkan diri kita kepada-Nya. Di mata Allah, Roh yang di atas kita adalah seperti sebuah elemen. Jika kita tidak berhati-hati, Satan bisa datang dan memalsukannya. Orang-orang Pentakosta salah dalam hal ini sehingga mereka dikuasai oleh roh yang ada di atas mereka. Itulah sebabnya terdapat kekacauan di antara mereka. Kita tidak bisa mengikuti cara mereka. Kita harus mentaati Roh yang ada di dalam kita, namun kita harus mengendalikan Roh yang di atas kita. Baik di rumah ataupun di sidang-sidang, kita harus belajar untuk mengendalikan Roh yang ada di atas kita dalam menuntut pencurahan.

PENERAPAN DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Ada dua hal yang perlu kita ketahui tentang pencurahan Roh Kudus. Pertama, jika kita belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan, pencurahan itu tidak akan banyak membantu dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika seseorang menerima pencurahan Roh namun belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan, pengalamannya akan Roh itu akan berkurang setelah beberapa hari. Dia akan menjadi seperti ban sepeda yang bocor, dan dia tidak akan mampu untuk pergi terlalu jauh. Dia akan harus mencari Roh itu sekali lagi. Kapankala dia menjadi dingin, dia harus mencari pencurahan sekali lagi. Inilah kondisi awal dari pencurahan pada seseorang yang belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan.

Setelah seseorang menerima pencurahan Roh, dia seharusnya langsung menerapkan kuat kuasa yang mengikuti pencurahan tersebut untuk membantu orang-orang Kristen atau untuk memberitakan injil. Sebelum pencurahan, dia mungkin tidak berdaya untuk memberitakan injil atau untuk membantu kaum beriman. Tapi setelah dia menerima pencurahan, dia seharusnya langsung menerapkan kuat kuasa ini untuk memberitakan injil dan merawat kaum beriman. Jika dia tidak menerapkan kuat kuasa ini, dia akan, secara esensial, mengubur talentanya di dalam tanah. Begitu seseorang menerima kuat kuasa Roh, dia harus memberitakan injil dan menjadi seorang pemenang dalam injil. Kegagalan dari beberapa pengikut aliran Pentakosta adalah di dalam fakta bahwa mereka telah membuat pencurahan Roh menjadi semacam hiburan. Setelah mereka menerima pencurahan, mereka berbahasa lidah atau tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi, kemudian mereka pulang ke rumah dan sama sekali tidak menerapkan kuat kuasa yang telah mereka terima. Ini adalah seperti seseorang dengan tubuh yang sehat tidak melakukan apa-apa selain bermain bola selama delapan jam sehari. Kehidupan semacam itu tidak normal. Pencurahan Roh bukan untuk hiburan, melainkan supaya kita hidup dan bekerja bagi Tuhan.

Terlebih lagi, begitu seseorang menerima pencurahan Roh, dia seharusnya langsung berdoa untuk meminta karunia. Misalnya seseorang belum pernah memiliki pengalaman akan pencurahan Roh. Ketika hal itu terjadi, dia seharusnya langsung meminta karunia-karunia kepada Allah. Dia seharusnya meminta kepada Allah kasih karunia apa pun yang dia kehendaki. Setelah seseorang menerima pencurahan, dia bahkan bisa menjadi sedikit serakah akan apa yang dia minta dari Tuhan. Tentu saja, dia tidak bisa membuat pencurahan menjadi suatu perkara untuk dibanggakan, dan dia juga tidak seharusnya menyombong kepada orang lain mengenainya. Melainkan, dia seharusnya mengizinkan kasih karunia dan kuat kuasa Allah untuk dimanifestasikan melalui dirinya dan kemuliaan-Nya bersinar melalui dirinya.

MEMPERSAKSIKAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Anda seharusnya memperhatikan beberapa hal ketika bersaksi mengenai pencurahan Roh Kudus. Pertama, jika Anda memiliki pengalaman akan pencurahan dan seseorang bertanya mengenainya, Anda seharusnya tidak memberi tahu perincian dari pengalaman Anda. Dalam mempersaksikan kepada orang lain mengenai pengalaman Anda akan pencurahan, Anda harus mengikuti beberapa prinsip:

Pertama, Anda tidak seharusnya mendiskusikan perincian dari pengalaman Anda. Di dalam Perjanjian Baru, kitab Kisah Para Rasul mencatat banyak manifestasi dari pencurahan Roh, seperti berbahasa lidah dan diperkuat bagi injil. Namun kita tidak diberi tahu perincian dari pengalaman-pengalaman itu. Mereka yang menerima pencurahan, hanya mempersaksikan secara umum. Mereka tidak pernah mengatakan sesuatu mengenai perinciannya.

Kedua, Anda tidak seharusnya terlalu menekankan pengalaman-pengalaman tersebut. Banyak dari mereka yang menuntut pencurahan Roh Kudus bersifat ingin tahu. Pengalaman orang lain akan pencurahan tidak akan membantu mereka sama sekali. Dalam menceritakan pengalaman Anda kepada orang lain, sangat mudah bagi mereka untuk mengambil pengalaman Anda sebagai standar. Akan tetapi, sebenarnya, manifestasi-manifestasi dari pencurahan itu berlainan pada orang-orang yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa Anda tidak boleh terlalu menekankan pengalaman-pengalaman Anda.

Ada satu butir lagi yang patut untuk diperhatikan: orang-orang Pentakosta menerima pencurahan Roh melalui “mencari,” sedangkan kita menerimanya melalui “percaya.” Kita percaya bahwa Yesus dari Nazaret sudah ditinggikan oleh Allah untuk menjadi Tuhan dan Kristus. Dia telah duduk di takhta, dan Dia sudah mencurahkan Roh-Nya. Kita mempercayai dan menerima fakta ini. Pencurahan Roh adalah demi tujuan untuk memikul kesaksian akan peninggian Yesus. Itu bukan demi tujuan untuk membuktikan bahwa Allah sudah mendengar doa kita atau bahwa Dia menerima permohonan kita. Pencurahan Roh itu sangat bertalian dengan peninggian Tuhan Yesus; tidak bertalian dengan doa-doa kita atau perbuatan-perbuatan baik kita. Kita harus meninggikan Tuhan, bukan diri kita sendiri. Kita harus memberi kemuliaan kepada-Nya bukan kepada diri kita sendiri. Kita harus bermegah dalam Tuhan, bukan dalam diri kita sendiri.

Watchman Nee, Vol 41-21


BAB SEMBILAN BELAS

PENJELASAN MENGENAI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 18 Nopember 1935, jam 3 sore

Tempat: Chuenchow

Tidak mudah untuk berbicara mengenai pencurahan Roh Kudus di sini. Kita mungkin memerlukan sepuluh hari untuk membahas subyek ini dan tetap tidak selesai. Saya hanya bisa berbicara sedikit dikarenakan waktu. Ini bukan berarti Alkitab hanya membicarakan sedemikian banyak mengenai perakra ini, melainkan saya hanya bisa membuat beberapa komentar di sana sini. Untuk saat ini saya tidak bisa masuk ke kedalamannya. Kita akan terus berdoa sambil mengkaji dan meminta Tuhan untuk memberi kita lebih banyak terang.

PENCURAHAN ROH KUDUS DAN

PENCURAHAN ROH-ROH JAHAT

Mengenai manifestasi luaran dari pencurahan Roh, banyak orang tercengang akan fenomena yang luar biasa. Selama delapan atau sembilan tahun terakhir ini, saya sudah mengkaji perkara ini dan menemukan bahwa memang fenomena aneh tercatat di dalam Alkitab. Akan tetapi manifestasi-manifestasi yang luar biasa itu belum tentu merupakan sebuah bukti dari pencurahan Roh Kudus. Bukti yang alkitabiah mengenai hal ini ada di dalam 1 Korintus 12:1-3. Ayat 1 menyinggung karunia-karunia rohani. Kata “karunia“ dicetak miring untuk mengindikasikan bahwa kata ini tidak ada di dalam teks aslinya. Paulus bukan sedang berbicara mengenai karunia-karunia rohani, melainkan mengenai pneumatekos, atau inspirasi rohani. Orang-orang seperti Govett, Pember, dan Panton, semuanya setuju bahwa kata tersebut seharusnya diterjemahkan sebagai berhubungan dengan inspirasi rohani. Ini mengacu kepada tindakan-tindakan luar biasa yang dilakukan oleh seseorang yang dirasuki Roh. Kata “dipikat dan ditarik” di dalam ayat 2 mengacu kepada pengalaman rohani yang seperti ilmu sihir. Di dalam bahasa aslinya, itu mengacu pada pimpinan dan pikatan yang luar biasa dan tidak biasa; ini adalah supranatural. Paulus ingin supaya orang-orang Korintus mengenal tentang perkara inspirasi-inspirasi rohani. Hari ini kita akan melihat perbedaan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat. Paulus memang mendiskusikan mengenai manifestasi-manifestasi luaran dari kedua hal ini. Dia memahaminya, namun dia tidak membicarakannya. Paulus tidak membicarakannya, namun kita harus memperhatikannya. Sulit untuk membedakan keduanya melalui manifestasi-manifestasi luaran mereka. Walaupun secara luaran mereka kelihatannya sama, secara batini ada perbedaan yang besar.

PERBEDAAN ANTARA PENCURAHAN-PENCURAHAN

ADALAH KATA-KATA YANG DIUTARAKAN

Perbedaan yang utama di antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat adalah pada kata-kata yang diutarakan, bukan pada gerak-gerik tubuh atau sikap dari seseorang. Satu Korintus 12:3 mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata, ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” Apakah seseorang sudah menerima pencurahan Roh Kudus atau tidak bisa dibedakan melalui kata-kata yang dia ucapkan. Makna dari bagian yang terakhir dari ayat 3 adalah bahwa seseorang bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan hanya ketika dia berada di dalam Roh Kudus. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipalsukan. Jika seseorang tidak berada di dalam Roh Kudus, dia tidak bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka yang tidak bisa mengatakan ini telah menerima pencurahan roh-roh jahat. Kita bisa menggunakan metode ini untuk menguji dan memeriksa mereka yang mengatakan bahwa mereka sudah menerima roh. Mereka yang bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, sudah menerima pencurahan Roh Kudus. Mereka yang tidak bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, telah menerima pencurahan roh-roh jahat. Ketika Anda menanyakan pertanyaan ini kepada seseorang, mereka mungkin akan pergi. Ini mencurigakan. Akan tetapi, jika seseorang bisa mengatakan, “Tuhan, aku tidak layak; ini adalah kasih karunia-Mu,” dia masih berada di dalam Roh Kudus.

Kita tidak boleh dikejutkan oleh fenomena luar biasa. Jika suatu inspirasi bersifat biasa dan umum, itu bukan lagi inspirasi rohani. Mereka yang memiliki inspirasi dari Roh adalah mereka yang memiliki Roh di dalam mereka. Sebagai orang-orang yang demikian, mereka tentunya berbeda dari orang-orang biasa.

PERBEDAAN DI ANTARA PRINSIP PEKERJAAN ROH KUDUS

DAN PEKERJAAN ROH-ROH JAHAT

Kita juga bisa mengenal perbedaan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat melalui prinsip yang dengannya kedua roh itu bekerja. Ada dua syarat bagi roh-roh jahat untuk dicurahkan kepada manusia atau untuk merasuki manusia. Pertama, tekad harus pasif. Mereka yang pasif, mudah dirasuki roh-roh jahat. Jadi, seorang Kristen tidak boleh pasif. Kedua, pikirannya pasti kosong. Banyak orang malas dalam pikiran mereka; mereka tidak suka melatih pikiran mereka. Orang-orang seperti itu juga mudah diperdayai oleh roh-roh jahat. Ada suatu perbedaan yang besar dalam prinsip di antara pencurahan Roh Kudus dan perasukan oleh roh-roh jahat. Perbedaan yang utama terletak pada kondisi pikiran dan tekad. Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh Kudus memiliki dua karakteristik: pikiran mereka jernih, dan tekad mereka tidak pasif. Orang-orang ini bertindak menurut kemauan mereka sendiri, dan tidak dikendalikan oleh kekuatan dari luar. Roh Kudus mengharapkan kita untuk melatih tekad kita untuk bekerja sama dengan Dia secara aktif. Ini sama sekali berbeda dengan roh-roh jahat, yang menuntut supaya manusia tetap pasif dalam tekadnya supaya mereka bisa menggarapnya. Di dalam cara ini kita bisa membedakan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat.

SYARAT BAGI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tidak Memiliki Dosa-dosa yang Tersembunyi atau

Dosa-dosa Yang Mana Seseorang Menolak untuk Membereskannya

Untuk memiliki pencurahan Roh Kudus, kita harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, kita tidak boleh memiliki dosa-dosa yang tersembunyi di hadapan Tuhan, juga dosa-dosa yang mana kita menolak untuk membereskannya. Jika seseorang memiliki dosa yang tersembunyi, dia mungkin tertipu oleh roh-roh jahat ketika dia berdoa bagi pencurahan Roh Kudus. Ketika dia memberi tempat di dalam hatinya untuk dimasuki roh-roh jahat, mereka pastinya akan masuk dan merasuki dia.

Tidak Pasif dalam Tekad

Kedua, kita harus dengan aktif meminta Roh Kudus untuk turun ke atas kita. Perasukan oleh roh-roh jahat tidak memerlukan partisipasi aktif kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu secara pasif dan mereka akan datang. Ada yang berdoa, “Jika ini adalah Roh Kudus, aku mau mengambilnya, dan jika ini adalah roh-roh jahat, aku tidak mau mengambil mereka.” Doa-doa semacam ini juga masih terlalu pasif. Cara kita bekerja sama dengan Roh Kudus adalah sebagai berikut: Ketika Roh Kudus datang, Dia akan bertanya, mungkin dengan suatu suara yang kecil, mengenai berapa banyak kita bersedia untuk mengizinkan Dia menduduki kita. Sampai tingkat mana kita mengizinkan Dia untuk masuk akan menjadi tingkatan dimana Dia menduduki kita. Keputusannya ada di tangan kita. Segala sesuatu yang bertindak berlawanan dengan pola ini adalah kepasifan dan bukan pekerjaan Roh Kudus; itu adalah pekerjaan roh-roh jahat. Roh Kudus hanya turun ke atas kita ketika kita mengatakan bahwa kita menginginkan Dia. Roh Kudus tidak bertindak sendirian; kita harus memulainya, dan kemudian Roh Kudus akan memberi respon. Jika Roh Kudus mendorong kita untuk tertawa, itu adalah dikarenakan kita sudah pertama-tama menetapkan untuk tertawa. Roh Kudus kemudian menyuplai kita dengan energi untuk tertawa. Inilah kerja sama yang sedang saya bicarakan. Ketika kita berdoa bagi pencurahan Roh Kudus, kita harus pada saat yang sama berdoa untuk penudungan darah Tuhan yang mustika. Jika kita melaksanakan apa yang harus kita lakukan, Roh Kudus akan melaksanakan apa yang harus Dia lakukan.

Seorang saudara menutup dirinya rapat-rapat. Dia berdoa, “O Roh Kudus, jika Engkau mau datang, datanglah.” Dia berdoa seperti ini selama beberapa jam, namun Roh Kudus tidak datang kepadanya. Doanya tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, Roh Kudus tidak turun ke atasnya. Roh Kudus hanya bisa bekerja jika ada kerja sama dari tekad kita. Ini adalah seperti naik kuda. Tali kekang kuda ada di tangan orang yang mengendarainya. Ketika tali kekangnya dilonggarkan, kuda itu bisa berlari menurut kehendaknya sendiri, akan tetapi tidak peduli betapa cepatnya dia berlari, tali kekangnya masih berada di tangan si pengendara. Prinsip yang sama berlaku dalam mengalami pencurahan Roh Kudus. Di satu pihak, kita harus merelakan supaya Roh bisa memiliki kebebasan yang penuh. Di lain pihak, tekad kita harus memenuhi fungsinya. Kalau tidak, kita akan kehilangan kendali.

ALASAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Kita juga harus mengenal alasan pencurahan Roh Kudus. Petrus mengatakan di dalam Kisah Para Rasul 2:33, “Sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima dari Bapa, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya Roh itu seperti yang kamu lihat dan dengar di sini.” Kemudian di dalam ayat 36 dia berkata, “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." Kata “jadi” di dalam ayat 36 mengacu kepada ayat 33, yang berbicara mengenai Allah meninggikan Tuhan. “Jadi,” yaitu, demi tujuan untuk membuktikan bahwa Yesus sudah ditinggikan, Roh Kudus dicurahkan, seperti yang terlihat dan terdengar pada hari Pentakosta. Pencurahan Roh Kudus adalah demi tujuan untuk membuktikan kepada kaum Israel bahwa Yesus dari Nazaret telah ditinggikan, dan bahwa Dia sudah mendapatkan kemenangan. Jika Tuhan belum ditinggikan, tidak ada kemungkinan untuk pencurahan Roh. Meneriman pencurahan Roh bukan untuk tujuan membuktikan iman kita atau kemenangan kita. Itu adalah bertujuan untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus.

Syukur dan puji Dia. Jika peninggian Tuhan adalah sebuah fakta, maka pencurahan Roh juga pasti adalah fakta. Sebaliknya, jika Tuhan tidak ditinggikan, Roh Kudus tidak mungkin sudah dicurahkan. Tuhan tersalib dan mencurahkan darah-Nya bagi pengampunan dosa-dosa. Setiap orang yang percaya pada-Nya bisa menerima pengampunan dosa-dosa. Dalam prinsip yang sama, seseorang tidak boleh mengatakan bahwa walaupun Tuhan sudah ditinggikan untuk menjadi Tuhan dan Kristus, dia belum menerima pencurahan Roh. Ini adalah mustahil. Kita harus berani untuk mengatakan bahwa Tuhan sudah ditinggikan ke takhta. Semoga Tuhan memenuhi diri kita. Kita memerlukan iman yang penuh untuk percaya pada Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang sudah digenapkan.

Watchman Nee, Vol 41-20


BAB DELAPAN BELAS

PENCOBAAN, KEGAGALAN, DAN KEMAJUAN

DALAM HAYAT YANG MENANG

Tanggal: 18 Nopember 1935, jam 9 pagi

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:16

Ada dua hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang beriman sebelum dia bisa menang: merelakan dan percaya. Juga ada dua hal yang seharusnya dia lakukan setelah menang: mengaku dan berkonsikrasi. Kemenangan adalah sebuah pintu gerbang dan juga sebuah jalan. Dua hal yang pertama membuat seseorang mampu untuk melewati pintu gerbang, sedangkan dua hal yang terakhir menopang seseorang di jalan tersebut. Bagaimanakah seharusnya seorang beriman bertindak tanduk hari demi hari setelah dia melewati pintu gerbang kemenangan? Apa yang seharusnya dia lakukan? Bagaimanakah hayat yang menang bisa terjaga, dan bagaimanakah dia bisa terus maju di dalam jalan kemenangan? Kita harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini satu demi satu.

KEHIDUPAN YANG SEHARUSNYA DITEMPUH SESEORANG

SETELAH MELEWATI PINTU GERBANG KEMENANGAN

Setelah kita melewati pintu gerbang kemenangan, kehidupan sehari-hari kita seharusnya tidak berbeda dari hari pertama kita menang. Setiap pagi kita seharusnya menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mengizinkan Dia untuk menjaga, melindungi, dan menopang kita. Pada saat yang sama, kita seharusnya memenuhi diri kita dengan ucapan syukur dan pujian. Kita harus berkata kepada Tuhan, “Allah, di mata-Mu aku masih tetap lemah dan aku masih tidak bisa melakukan apa-apa. Aku belum berubah. Tapi aku bersyukur pada-Mu, Tuhan, sebab Engkau masih hayatku hari ini. Engkau masih kekudusanku hari ini, dan Engkau masih kemenanganku hari ini. Aku percaya bahwa Engkau akan memperhidupkan hayat-Mu di dalamku sepanjang hari ini. Allah, aku bersyukur dan memuji-Mu sebab segalanya adalah berdasarkan kasih karunia-Mu; Putra-Mu telah menggenapkan segalanya bagiku.” Tidak peduli bagaimanakah perasaan kita, kita harus percaya bahwa Tuhan sedang hidup di dalam kita, dan kita harus berdiri di atas fakta ini. Kita seharusnya sangat jelas bahwa Tuhan ada di dalam kita dan bahwa bukan lagi kita yang hidup, melainkan Tuhan yang hidup di dalam kita.

Setelah kita melewati pintu gerbang kemenangan, kita harus mempertahankan sikap yang tepat. Setiap hari kita harus memberi tahu Tuhan bahwa tidak ada kebaikan di dalam diri kita sendiri, bahwa kita ini masih sama jahatnya seperti dahulu, dan bahwa kita penuh dengan dosa. Oleh diri kita sendiri, kita tidak mampu untuk melakukan apa pun, hanya Tuhan yang mampu. Kapankala kita mengira bahwa kita bisa melakukan sesuatu, Tuhan tidak akan melakukan apa-apa bagi kita, dan kita akan langsung gagal. Kita akan menang hanya jika kita tidak menang oleh diri kita sendiri. Salah satu kidung mengatakan, “Waktu hati agak bangga, nyaris aku terjerembab” (Kid. 423). Ini memang benar. Saudara-saudara, kita harus menyadari bahwa kita ini masih tetap sama; kita tidak berubah sama sekali. Satu-satunya pendirian kita di hadapan Tuhan seharusnya hanyalah mendeklarasikan bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Singkatnya, setelah melewati pintu gerbang kemenangan, kehidupan sehari-hari kita mencakup (1) menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan, (2) mengakui bahwa kita tidak bisa, (3) percaya bahwa Tuhan hidup di dalam kita, dan (4) bersyukur dan memuji Dia.

JALAN UNTUK MENGALAHKAN PENCOBAAN

Hayat yang menang adalah hayat yang mengalahkan pencobaan. Setelah kita menerima hayat yang menang, masih mungkin bagi kita untuk menjumpai pencobaan. Tuhan juga menjumpai pencobaan-pencobaan, namun Dia mengalahkan mereka. Demikian juga, kita tidak bisa menghindari pencobaan, tapi kita bisa mengalahkan mereka. Hari demi hari kita menemui dua macam pencobaan. Jenis yang pertama adalah pencobaan yang muncul mendadak; mereka tidak memberi kita kesempatan untuk memikirkannya. Sebelum kita bisa memikirkan dan mendoakannya, kita sudah berdosa. Pencobaan macam ini tidak terbatas oleh waktu tertentu; mereka muncul kapan saja. Jenis yang kedua adalah pencobaan yang muncul perlahan-lahan. Kita bisa mempertimbangkannya, dan mereka datang sebagai usulan dan proposal yang semakin lama semakin meningkat. Jenis yang satu tidak memberi waktu kepada seseorang untuk berpikir, sedangkan jenis yang satunya lagi memberi waktu bagi seseorang untuk memikirkannya. Kita mungkin mengira bahwa pencobaan yang memberi kita waktu untuk berpikir itu mudah untuk ditaklukkan, dan bahwa pencobaan yang tidak memberi kesempatan untuk berpikir adalah sulit untuk ditaklukkan. Sebenarnya, kita bisa mengalahkan kedua jenis pencobaan ini. Ada dua jalan untuk membereskan kedua jenis pencobaan tersebut.

Jalan untuk Membereskan Pencobaan yang Mendadak

Tidak ada waktu untuk bersiap-siap untuk pencobaan-pencobaan yang mendadak dan bersifat instan ini. Oleh karena itu, kita tidak bisa membereskan mereka secara seketika. Jauh sebelum pencobaan semacam ini muncul, kita harus mempersiapkan pertahanan kita. Di dalam peperangan di antara dua bangsa, mereka tidak bisa bersiap-siap untuk berperang hanya setelah musuh sudah mulai menyerang. Mereka harus mempersiapkan garis pertahanan jauh sebelumnya dan meminta penyelamatan Tuhan sebelum waktunya. Setiap pagi, kita harus berdoa kepada Tuhan dan meminta Dia untuk melepaskan kita dari pencobaan-pencobaan yang mendadak. Kita harus meminta Dia untuk melepaskan kita dari pencobaan-pencobaan yang tidak memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir. Seringkali seseorang berdosa dikarenakan dia belum memasang alarm sebelumnya. Tentu saja, Tuhan kadang-kadang mengizinkan pencobaan untuk menimpa kita secara mendadak. Ketika pencobaan semacam itu muncul, apakah yang harus kita lakukan? Kita harus ingat bahwa iman adalah perisai (Ef. 6:16). Iman itu bukan tang. Banyak orang memakai iman seolah-olah iman itu adalah tang; mereka mencoba untuk mencungkil panah-panah yang telah menusuk tubuh. Akan tetapi iman tidak berfungsi sebagai tang. Iman adalah sebuah perisai. Iman adalah sesuatu yang diletakkan di antara diri kita dan Satan. Ketika panah-panah itu datang, mereka menghantam perisai dan terpental. Kita tidak memasang perisai di belakang kita. Jika perisai ada di belakang kita, akan sulit baginya untuk melindungi kita dari panah-panah.

Setiap pagi kita harus meninggikan iman ini di hadapan Allah. Baru Anda akan bertahan dari pencobaan tanpa menyadarinya. Sangat sedikit orang Kristen yang tahu apakah perisai iman itu. Kita memerlukan perisai iman bahkan sebelum pencobaan datang. Jika hal pertama yang Anda lakukan di pagi hari adalah percaya, Anda sedang meninggikan perisai iman, dan panah-panah dari Satan akan rontok. Jika Anda meninggikan iman Anda seperti ini untuk menahan musuh hari demi hari, Anda akan menemukan pada suatu hari—hari yang mulia—bahwa banyak panah telah rontok.

Roma 1-2 adalah mengenai dosa manusia, sedangkan Roma 4-5:15 adalah mengenai keselamatan Allah. Roma 5:12 memberi tahu kita bahwa kita berdosa karena kita berbagian dalam hayat Adam. Itulah sebabnya mengapa kita berdosa tanpa perlu berusaha. Tidak perlu bagi kita untuk mengerahkan usaha untuk marah-marah. Begitu kita terprovokasi, kita marah. Tidak perlu bagi kita untuk menetapkan untuk berbuat dosa, sebab kita berbagian dalam hayat yang sama dengan Adam, yaitu hayat yang penuh dosa. Roma 5:15 mengatakan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” Di masa lampau, manusia lama kita diikatkan kepada Adam, tapi hari ini Tuhan telah membuat kita menjadi satu dengan Kristus. Di masa lalu, kita berdosa tanpa menyadarinya sama sekali, namun hari ini kita bisa bersabar, rendah hati, dan mengasihi tanpa menyadarinya. Ini membuktikan realitas dari persatuan kita dengan Tuhan. Sama seperti kita berdosa secara spontan dan tanpa usaha ketika kita berada di dalam Adam, demikian juga kita bisa menang secara spontan dan tanpa usaha ketika kita berada dalam Kristus dan diikatkan dengan-Nya. Di dalam jalan ini, hayat Kristus diperhidupkan dari diri kita. Kita akan tercengang pada keunggulan dan kekuatan dari hayat Tuhan. Jika kita percaya, hayat Kristus akan dimanifestasikan di dalam kita hari demi hari.

Membereskan Pencobaan yang Meningkat secara Bertahap

Pencobaan jenis kedua bersifat bertahap dan semakin meningkat. Satan memberi kita usulan secara bertahap dan sedikit demi sedikit. Pencobaan-pencobaan ini bersifat semakin meningkat. Tidak perlu meminta tenaga kepada Tuhan untuk mengalahkan pencobaan semacam ini. Cara yang terbaik untuk mengalahkannya adalah dengan berdiri di atas dasar seorang berdosa begitu mereka muncul. Kita seharusnya mengambil pendirian sebagai seorang pasien yang mencari dokternya dan yang menyerahkan seluruh dirinya kepada dokter tersebut. Kita seharusnya berbicara kepada Tuhan seperti seorang pasien: “Pikiran dan pemikiranku cenderung mengarah pada dosa. Aku mudah marah. Aku tidak bisa menolak apapun juga. Aku tidak ada harapan. Aku minta supaya Engkau menolaknya bagiku.” Kita harus mengambil pendirian bahwa kita sudah mati bersama Tuhan. Satan mungkin datang dengan berbagai macam pencobaan, namun prinsipnya adalah sama. Dia tidak perlu membuat kita berbuat dosa secara langsung. Sasaran dari pencobaannya adalah untuk menghasut kita supaya kita bertindak oleh diri kita sendiri. Posisi kita adalah di dalam Kristus; ini adalah satu-satunya tempat yang aman. Jika kita tetap tinggal di dalam posisi ini dan mengizinkan Tuhan untuk melakukan segalanya, Satan tidak akan mampu untuk melakukan apa-apa kepada kita. Akan tetapi, begitu kita bergerak, bahkan dalam hal-hal seperti berdoa, meminta Tuhan untuk menguatkan kita untuk menahan pencobaan tersebut, atau membuat ketetapan untuk tidak berbuat dosa, kita akan menemukan bahwa Satan mengungguli kita dan mengalahkan kita sebab kita telah keluar dari daerah aman.

SIKAP DARI KEHIDUPAN YANG MENANG

Bagian di atas mencakup langkah-langkah yang seharusnya diambil seseorang untuk menempuh kehidupan di belakang pintu gerbang kemenangan. Sekarang kita harus mengenal sikap yang seharusnya diambil seseorang untuk mempertahankan kehidupan yang menang. Banyak orang sudah melakukan hal-hal yang kita singgung di atas, namun mereka secara konstan takut kalau-kalau Tuhan tidak akan datang kepada mereka, dan mereka kuatir bahwa mereka akan gagal jika Dia tidak datang. Untuk menempuh kehidupan yang menang, kita harus memperhatikan sikap kita. Kita harus dengan iman menyingkirkan semua rasa takut dan mengizinkan Tuhan untuk mengambil alih segalanya. Ketika Tuhan bersama-sama dengan murid-murid di tepi laut, Dia menyuruh murid-murid untuk bertolak ke seberang (Mrk. 4:35). Dia tidak menyuruh mereka untuk pergi ke dasar laut, melainkan ke seberang laut. Akan tetapi murid-murid itu tidak mempercayai perkataan-Nya. Ketika badai muncul, mereka kalap dan sangat ketakutan. Mereka tidak memiliki iman, dan mereka meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu. Sering kali, semakin nyaring doa kita, semakin sedikit iman di dalam doa kita itu. Kadang-kadang, semakin kita berdoa dengan sungguh-sungguh, semakin itu menunjukkan bahwa kita tidak memiliki iman. Iman adalah percaya pada firman Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa murid-murid akan pergi ke seberang, bukan pergi ke dasar laut. Jika mereka memiliki iman, mereka semua bisa tidur nyenyak. Memiliki iman berarti tidur bersama Tuhan. Jika seseorang tidak memiliki iman, dia tidak bisa tidur bersama Tuhan. Jika seseorang memiliki iman, bahkan jika dia tidak tidur, dia masih bisa pergi ke buritan perahu dan berbicara kepada ombak. Dia bahkan bisa mengejek ombak dengan mengatakan, “Engkau kurang kuat. Engkau kurang ganas.” Orang yang memiliki iman memiliki damai sejahtera; dia memiliki damai sejahtera di dalam dan di luar. Satan tidak bisa mengalahkan orang semacam itu. Jadi, kemenangan adalah percaya pada perkataan Allah dan kekuatan-nya. Sikap dari kehidupan yang menang adalah sepenuhnya damai sejahtera melalui iman.

APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA GAGAL

Setelah seorang beriman sudah menang, dia tidak seharusnya berdosa lagi dalam perkara pekerjaan, perawatan, dan perintah Allah. Akan tetapi, mereka yang sudah melewati pintu gerbang kemenangan mungkin terkejut menemukan diri mereka bisa berdosa lagi. Walaupun jelas bagi mereka bahawa mereka berdosa di masa lalu, mereka bertanya-tanya mengapa mereka masih berdosa setelah mereka seharusnya sudah melewati pintu gerbang kemenangan. Mungkin ada yang bertanya, “Jika seseorang yang sudah menang masih berbuat dosa, lalu apa manfaatnya kemenangan ini baginya?” Ada perbedaan yang besar. Ada tiga perbedaan di antara seorang pemenang dan seorang yang belum menang dalam perkara berbuat dosa. Pertama, sebelum seseorang menang, dosa adalah sesuatu yang wajib dan tidak bisa tidak. Dia tidak memiliki pilihan lain selain berdosa. Ada suatu kekuatan di dalam dirinya yang memaksa dia untuk berbuat dosa. Setelah seseorang menang, situasinya sama sekali berbeda. Dosa itu insidentil, dan dilakukan karena kelalaian atau kecerobohan. Kedua, sebelum seseorang menang, dia melakukan dosa yang sama berulang kali. Dia memiliki apa yang disebut dengan dosa pribadi yang secara khas adalah miliknya. Dia melakukan dosa yang sama terus menerus. Setiap orang hanya memiliki tiga sampai lima macam dosa yang berulang-ulang. Beberapa dosa ini secara konstan menjeratnya. Akan tetapi setelah seseorang menang, situasinya berubah sama sekali. Dia masih berdosa, tapi hanya sekali-sekali. Dosa-dosa yang sering itu tidak lagi mengganggu dia; mereka hanya menyusul dia secara insidentil. Ketiga, sebelum seseorang menang, melanjutkan persekutuan yang jernih bersama Tuhan setelah dia melakukan dosa adalah sulit dan lama. Namun setelah dia menang, dia bisa dengan cepat memulihkan persekutuannya dengan Tuhan jika dia berbuat dosa lagi. Ini adalah dikarenakan dia memiliki iman, dan dia percaya bahwa darah Tuhan bisa membasuh dirinya dari segala macam dosanya (1 Yoh. 1:9). Mereka yang sudah melewati pintu gerbang kemenangan seharusnya mengakui dosa-dosa mereka langsung setelah mereka secara tidak sengaja melakukan suatu dosa, dan mereka seharusnya percaya bahwa Tuhan bisa membasuh mereka dengan darah mustika-Nya. Setelah itu, mereka seharusnya langsung memuji dan bersyukur pada Tuhan, dan menerapkan hayat kemenangan-nya secara berkesinambungan. Jika kita secara tidak sengaja berdosa, kita tidak seharusnya menunda pengakuan kita sampai tiga atau lima hari. Jika kita menundanya, kita akan melakukan lebih banyak dosa.

PERTUMBUHAN HAYAT YANG MENANG

Mungkin ada yang bertanya, “Karena seseorang sudah menang, bagaimana dia bisa berbuat dosa lagi?” Kita harus mengenal apa iman itu. Kehidupan yang menang adalah kehidupan iman. Tuhan ingin supaya kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya setiap saat. Tidak peduli seperti apa keadaan luaran, kita seharusnya percaya pada-Nya. Tuhan ingin mengeluarkan kita dari suatu kehidupan yang berasal dari perasaan ke dalam kehidupan yang berasal dari iman. Dia menginginkan kita untuk terus maju selangkah demi selangkah dengan iman dan dalam kasih karunia. Sekarang kita perlu melihat bagaimana kita bertumbuh dalam hayat yang menang.

Kemenangan adalah sebuah pintu gerbang dan juga sebuah jalan. Pertama, itu adalah sebuah titik balik, dan kemudian sebuah perjalanan. Jika kita melanjutkan menempuh perjalanan ini, tidak akan ada batas bagi masa depan kita. Ada yang bertanya, “Karena Tuhan adalah hayat saya, dan karena dia sudah hidup di dalam saya, bagaimana saya bisa bertumbuh lagi? Apakah Anda mengatakan bahwa hayat ini tidak sempurna? Dan apakah Anda mengatakan bahwa ada keperluan bagi hayat-Nya untuk bertumbuh?” Memang benar bahwa Tuhan tidak berubah; Dia tidak maju atau mundur. Namun kita memiliki kehendak yang bebas, dan kita memiliki intelektual dan emosi kita sendiri. Kemenangan kita adalah mengalahkan dosa-dosa yang kita ketahui, bukan mengalahkan semua dosa yang tidak kita ketahui. Ini adalah seperti konsikrasi kita; kita hanya mengkonsikrasikan hal-hal yang kita ketahui. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui, yang hanya bisa kita konsikrasikan secara bertahap. Bahkan konsikrasi pun tidak memiliki standar yang mutlak. Misalnya, saya mungkin tahu bahwa saya tidak memiliki kekuatan di dalam perkara kesabaran. Ketika saya mengkonsikrasikan diri saya, kesabaran Tuhan akan terekspresi melalui diri saya. Mengenai kesabaran itu sendiri, kita tidak bisa memiliki pertumbuhan lagi sebab kesabaran Tuhan itu sempurna. Akan tetapi, pertumbuhan memiliki makna bahwa sebagai tambahan dari kesabaran tersebut, kita bisa mengalami ketulusan. Pertumbuhan berarti perluasan dari ruang lingkup dan pendalaman dari ukuran. Tidak ada pertumbuhan atas kesabaran atau ketulusan itu sendiri sebab ketulusan dan kesabaran adalah Kristus. Akan tetapi, terhadap pengalaman kita akan hal-hal ini, dimungkinkan untuk memiliki perluasan dan pendalaman yang berkesinambungan dalam ruang lingkup dan ukuran. Inilah makna dari pertumbuhan dari hayat yang menang.

Kita telah mengatakan bahwa Tuhan adalah pengudusan kita. Akan tetapi ada sebuah ayat yang mengatakan bahwa kita dikuduskan oleh kebenaran (Yoh. 17:17). Ini berarti kita mungkin saja memiliki dosa yang cukup kita banggakan hari ini dan sama sekali tidak mengganggu hati nurani kita. Kemudian, kita mungkin menemukan dari kebenaran Alkitab bahwa hal tersebut adalah salah. Dengan demikian, kita mengenal satu dosa lagi, dan kita bisa mengakui dosa tersebut. Setelah kebenaran mengungkapkan dosa kita melalui penerangan Allah dan setelah kita mengenal bahwa itu adalah dosa, kita harus membereskannya. Cara untuk membereskannya adalah sama seperti sebelumnya. Kita harus memberi tahu Tuhan, “Aku telah menemukan satu dosa lagi. Terima kasih bahwa aku sekarang mengenal satu dosa lagi dan bisa mengalami lebih banyak kasih karunia dan mengenal lebih banyak tentang hayat yang menang.” Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita seharusnya bertumbuh dalam kasih karunia (2 Ptr. 3:18). Apa yang dimaksud dengan bertumbuh dalam kasih karunia? Kasih karunia adalah Allah melakukan hal-hal bagi manusia. Ketika manusia melakukan hal-hal bagi Allah, itu adalah hukum Taurat, sedangkan ketika Allah mengerjakan hal-hal bagi manusia, itu adalah kasih karunia. Bertumbuh dalam kasih karunia adalah mengizinkan Allah untuk melakukan lebih banyak hal bagi kita. Ketika kebenaran menyinari kita, kekurangan-kekurangan kita akan terungkap. Kemudian kasih karunia datang untuk menyuplai kita. Kebenaran adalah Allah mengungkapkan keperluan-keperluan kita, sedangkan kasih karunia adalah Allah menyuplai kita dengan kekuatan. Semakin banyak terang yang kita terima, semakin banyak keperluan yang kita temukan, dan semakin banyak kita menerima dan bertumbuh dalam kasih karunia.

KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN

Bagaimana kita menerima kasih karunia? Ada tiga jalan untuk menerima kasih karunia. Yang pertama adalah melalui Alkitab. Semakin banyak kita membaca Alkitab, semakin Alkitab akan memperbesar ukuran kita, dan semakin kita akan mengenal diri kita sendiri. Semakin kita mengenal diri kita sendiri, semakin kita akan merasakan keperluan-keperluan kita, dan semakin kasih karunia akan bertambah. Yang kedua, kita bisa menerima kasih karunia langsung dari Allah. Ketika kita mendengarkan suatu berita, berdoa, atau bersekutu dengan Allah, kita menerima kasih karunia secara langsung dari Dia melalui penerangan-Nya. Yang ketiga, kita bisa menerima kasih karunia melalui bantuan saudara saudari lain. Jika seorang saudara sudah membereskan suatu dosa, dan dosa yang sama menjerat saya, saya bisa menerima bantuan dari saudara tersebut untuk mendapatkan kemenangan. Dengan demikian saya menerima lebih banyak kasih karunia. Kasih karunia yang kita dapatkan terbatas oleh kebenaran yang telah kita terima. Jumlah kasih kaunia yang diterima seseorang menyatakan jumlah kebenaran yang telah dia terima. Semakin seseorang mengenal apa itu dosa, semakin banyak kasih karunia yang akan dia terima.

Sebagai contoh, kita mungkin menemukan dari pembacaan Alkitab bahwa kita seharusnya tidak kuatir tentang apapun juga. Begitu kita memiliki kebenaran ini, kita menyadari bahwa kuatir itu adalah sebuah dosa. Seorang saudari membaca Filipi 4:6, yang menyuruh kita untuk tidak kuatir tentang apapun juga, dan menyimpulkan bahwa itu adalah mustahil. Lalu dia berpikir bahwa ini adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah. Jika Alkitab tidak salah, maka dialah yang salah. Dia membawa perkara ini kepada seorang saudari yang memiliki sembilan orang anak, yang dua diantaranya sudah meninggal. Saudari yang kedua menjawab, “Bagaimana seorang ibu bisa tidak kuatir? Malah, kelihatannya adalah suatu dosa jika seorang ibu tidak kuatir. Kekuatiran saya sudah mengirim dua orang anak ke surga, dan saya masih memiliki tujuh orang anak untuk dikuatirkan.” Saudari yang pertama itu merasa semakin bingung setelah dia mendengarnya. Kemudian, dia diterangi untuk melihat bahwa kuatir itu memang adalah dosa, dan dia berdoa supaya Tuhan mau membuat dia menang atas dosa tersebut. Akhirnya, dia menang. Inilah makna dari kebenaran dan kasih karunia. Kebenaran memberi tahu kita apa dosa itu, dan kasih karunia membuat kita mampu untuk mengalahkan dosa tersebut. Sebelum kita memiliki kebenaran, kita mungkin tidak terlalu memikirkan hal-hal tertentu. Namun setelah kita menerima kebenaran dan diterangi, kita akan mengenal apa dosa itu. Di masa lalu, pulau Kulangsu diserahkan kepada Inggris. Kemudian, semakin banyak laut yang dijadikan tanah, dan wilayah Inggris akhirnya semakin bertambah. Dalam prinsip yang sama, semakin banyak kebenaran, semakin banyak kasih karunia. Kebenaran memperlihatkan kepada kita apa dosa itu, dan ketika kita menerapkan kasih karunia, kita mengalami kemenangan yang penuh atas dosa tersebut.

Seorang saudari memiliki sebuah jam tangan, yang diberikan oleh ibunya saat dia berulang tahun yang kedua puluh. Pada jam tangan tersebut terdapat sebuah salib emas. Dia memakai jam tangan tersebut selama delapan belas tahun. Pada suatu hari dia membaca 1 Timotius 2:9 yang mengatakan bahwa perempuan tidak seharusnya mendandani diri mereka dengan emas. Dia merasa bahwa memiliki perhiasan kecil pada jam tangannya itu tidak apa-apa. Namun pada hari itu Allah menunjuk pada jam tangannya dan memperlihatkan kepadanya bahwa dia harus membereskannya. Dia mulai mengkotbahi Allah dan berdebat bahwa hal sekecil itu tidak masalah, namun pada akhirnya Tuhan yang menang, dan dia membereskan perkara kecil tersebut. Hari ini kita seharusnya berani untuk mencari dosa-dosa kita dan membereskan mereka. Di masa lalu kita mungkin sudah membereskan dosa-dosa yang najis, dosa-dosa luaran, dosa-dosa yang jelas, dan dosa-dosa yang menjijikan. Hari ini kita harus membereskan dosa-dosa yang kecil, halus, batini, dan tersembunyi, yang mempermalukan Allah. Pemberesan-pemberesan ini akan membawa lebih banyak kasih karunia kepada kita untuk mengalami lebih banyak kemenangan di dalam kehidupan sehari-hari kita.

MENERIMA KEBENARAN, MENIKMATI KASIH KARUNIA,

DAN MENGALAMI KEMENANGAN

Apakah Anda memiliki kemajuan di dalam kehidupan sehari-hari Anda atau tidak, bergantung pada apakah Anda sudah melihat kebenaran atau belum. Anda pertama-tama harus menemukan macam-macam dosa yang Anda miliki dan kemudian menemukan bagaimana Tuhan menggenapkan pekerjaan kemenangan di dalam Anda. Seorang misionaris wanita bekerja untuk Misi Pedalaman Cina. Dia berselisih dengan Miss Fischbacher dan sering memfitnah dia secara terbuka. Ketika Miss Fischbacher melaporkan sesuatu, dia akan menyangkalnya. Ketika Miss Fischbacher menyangkal sesuatu, dia akan ngotot mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Pernah sekali Miss Fischbacher menulis surat untuk melaporkan pekerjaannya di Cina. Saudari ini berusaha untuk menemukan kepada siapa surat tersebut dikirimkan, dan dia menulis surat kepada orang yang sama untuk menyangkal hal-hal yang dikatakan Miss Fischbacher. Kelihatannya dia habis-habisan berusaha untuk membuktikan kepada orang lain bahwa Miss Fischbacher adalah seorang yang tidak jujur. Setelah berlangsung selama sejangka waktu, Miss Fischbacher tidak kuasa untuk tidak merasa sebal terhadapnya. Kemudian, dia membaca 1 Petrus 1:22, yang mengatakan bahwa kita seharusnya bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati. Sangat mudah bagi manusia untuk mengkotbahi Allah. Dia memberi tahu Tuhan, “Mustahil bagiku untuk mengasihi saudari ini. Bahkan lebih mustahil lagi bagiku untuk mengasihinya dengan segenap hati.” Dia berdoa selama dua minggu tanpa hasil. Dia berpuasa selama satu hari penuh, dan bertekad untuk tidak keluar dari kamarnya sampai dia mengalahkan kepedihan ini. Akan tetapi, dia masih tetap tidak berhasil. Kemudian, dia mengakui bahwa yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah tidak membenci saudari ini. Mustahil untuk mengasihinya. Dia berpuasa untuk satu hari lagi, tapi masih tetap tanpa hasil.

Akhirnya, dia menyadari bahwa dia tidak bisa melakukannya oleh dirinya sendiri, dan dia berkata kepada Tuhan, “Aku seharusnya mengasihi saudari ini, tapi aku tidak bisa. Ini adalah dosa. Aku tidak akan melepaskan-Mu kecuali Engkau membuatku mengasihi dia.” Keesokan harinya dia berdoa secara terus menerus selama tiga jam. Pada sekitar jam sembilan pagi, kasih Tuhan memenuhi dia. Kepediahnnya hilang, dan kasih muncul secara tidak terduga. Dia bahkan merasa bahwa dia bersedia untuk mati demi saudari ini. Dia melanjutkan berdoa baginya sepanjang malam. Ketika dia melihat saudari itu keesokan harinya, perasaannya sama sekali berbeda. Setelah satu hari, saudari itu juga berpaling. Kehidupan yang menang memiliki Allah sebagai standarnya. Allah sudah mengatakan banyak hal. Jika kita tidak bisa mentaati apa yang Dia katakan, kita sudah berdosa. Kita hidup di dunia ini hanya sebentar, tapi kita menjumpai terlalu banyak hal selama hidup ini. Di tengah-tengah kehidupan semacam itulah kita mengekspresikan kemenangan Kristus.

Ada tiga orang saudari di Shansi yang bersama-sama menjadi misionaris. Dua dari antara mereka memilih untuk tidak menikah, dan yang ketiga sudah bertunangan. Akan tetapi, justru dialah yang paling tidak bahagia. Dia sering merasa kesepian. Walaupun tunangannya sering menulis surat, dia masih merasa kesepian ketika dia sedang sendirian di kamarnya. Pada suatu hari dia menangis lagi. Dua saudari lainnya datang untuk menghiburnya, mereka berkata, “Mengapa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki seorang tunangan yang selalu menulis surat kepadamu! Kamilah yang seharusnya merasa kesepian!” Kemudian, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing dan rasa kesepian menyambar mereka juga, dan mereka juga mulai menangis. Sementara mereka merasa kasihan, mereka memikirkan Firman Allah: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). Mereka menyadari bahwa perasaan kesepian sebenarnya adalah sebuah dosa. Tuhan mengatakan bahwa di dalam hadirat-Nya ada sukacita yang berlimpah-limpah, namun mereka mengatakan bahwa mereka merasa kesepian. Itu pasti adalah sebuah dosa. Mereka berlutut dan berdoa untuk membereskan dosa tersebut, dan rasa kesepian itupun hilang. Sembilan tahun sudah berlalu, dan mereka tidak pernah merasa kesepian lagi.

Kemenangan adalah bagi Allah untuk mengungkapkan dosa-dosa kita secara berkesinambungan dan bagi kita untuk bertumbuh melalui pengetahuan tersebut. Kita tidak seharusnya takut kalau-kalau orang lain mengungkapkan kesalahan-kesalahan kita. Ini akan memberi kita kesempatan untuk menang. Semakin kita mengenal kebenaran, semakin kita akan mengalami kemenangan Kristus. Saya harap tahun depan, ada yang berdiri untuk mempersaksikan bagaimana kebenaran telah datang kepada mereka dan bagaimana kasih karunia mengikutinya. Ini adalah sesuatu yang sangat mustika. Kita semua seharusnya menerima kebenaran dengan gembira sehingga kasih karunia bisa terus menerus datang kepada kita. Di dalam sidang-sidang, kita perlu lebih banyak berdiri untuk mempersaksikan bagaimana kebenaran tertentu telah menghasilkan suatu efek bagi kita. Kita tidak seharusnya kuatir kalau-kalau orang lain akan mengatakan bahwa kita ini sombong padahal itu adalah pekerjaan Tuhan. Kita hanya menjabarkan pekerjaan Tuhan di dalam kita dan bagaimana Dia telah mendapatkan kemenangan di dalam kita. Dengan melakukan hal ini, mereka yang berada di dalam keadaan yang sama atau yang belum mengalami pemberesan yang tepat seperti kita akan bisa berbagian dalam kasih karunia yang telah kita terima.

Penghidupan yang menang adalah ajaib sebab hayat yang menang adalah ajaib. Tuhan bisa melakukan segala sesuatu di dalam kita. Tidak ada yang tidak bisa Dia kerjakan. Kita tidak perlu takut akan hal apa pun. Kita bisa datang kepada-Nya secara terus menerus. Kita seharusnya mengizinkan Dia untuk menerangai kita dengan kebenaran dan menerima Dia sebagai kemenangan kita. Jika kita berjalan dalam jalan ini, tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa kita kerjakan. Setelah setahun, kita akan menyadari bahwa kita sudah lebih menang, dan kita akan semakin mampu untuk mengikuti pimpinan Tuhan dan maju di dalam jalan yang telah dihamparkan di hadapan kita.