Monday, August 15, 2011

Watchman Nee, Vol 41-26


BAB DUA PULUH EMPAT

ROH KUDUS DAN HUKUM TAURAT

Tanggal: 20 Nopember 1935, pagi hari

Tempat: Chuenchow

Sebagai orang-orang beriman, kita hidup oleh Roh Kudus, bukan oleh hukum Taurat. Banyak orang tidak mengenal apa hukum Taurat itu. Akibatnya, mereka juga tidak mengenal Roh Kudus. Mereka tidak tahu apa artinya hidup oleh hukum Taurat dan apa artinya hidup oleh Roh. Kegagalan di dalam pekerjaan kita adalah dikarenakan fakta bahwa kita bekerja berdasarkan hukum Taurat dan bukan berdasarkan Roh. Jika kita bersandar pada hukum Taurat, kita tidak akan memiliki kekuatan atau buah karena hukum Taurat adalah sesuatu yang telah dihakimi oleh Tuhan.

APAKAH HUKUM?

Hukum itu bukan hanya Sepuluh Perintah atau beberapa ratus ketentuan milik Perjanjian Lama. Itu adalah hukum-hukum Perjanjian Lama, tapi ada juga hukum-hukum Perjanjian Baru. Bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama memiliki hukum mereka, dan gereja di dalam Perjanjian Baru juga memiliki hukumnya. Apakah prinsip hukum? Ketika Allah memiliki suatu kehendak, dan kehendak ini ditulis pada loh batu atau pada kertas, termasuk segala sesuatu dari sebutir sampai ribuan butir ketentuannya, kita memiliki hukum. Melalui berjalan menurut ratusan dan ribuan butir dari hukum tersebut, manusia menjadi jelas mengenai apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang jahat. Dia juga menjadi jelas mengenai jalan yang harus dia tempuh. Itulah hukum. Ini adalah tanpa hayat. Begitu seseorang berjalan menurut hukum yang mati ini, dia bisa mengenyampingkan Allah dan mengabaikan-Nya. Ini adalah seperti seorang pelajar bisa mengabaikan kepala sekolah dari sekolahannya selama dia mengikuti aturan-aturan sekolah. Inilah hukum. Baik dan jahat, benar dan salah, dikenali menurut tulisan. Jalan yang harus ditempuh seseorang muncul sepenuhnya dari pengetahuannya dan bukan dari pimpinan batini dari Allah.

Banyak orang bisa mengenal perbedaan antara benar dan salah, baik dan jahat, tanpa pernah bersekutu dengan Allah. Akan tetapi, pengetahuan ini tidak ada gunanya. Mereka yang hidup seperti ini masih hidup di bawah hukum. Jika Anda mengukur segala sesuatu menurut autran ini, Anda akan menemukan bahwa banyak hal masih berada di bawah hukum. Manusia secara alamiah lebih condong kepada hukum sebab dia bisa dengan mudah mengenal apa itu baik dan apa itu salah dari hukum. Kebanyakan orang takut untuk hidup menurut Roh. Lebih lebih suka hidup menurut aturan-aturan yang tertulis. Memelihara hukum adalah resmi dan mati, tapi juga adalah sesuatu yang nyaman. Dia bisa mengenal berapa banyak hukum yang telah dia pelihara dan berapa banyak hukum yang masih belum. Hukum memalingkan manusia dari Allah. Dengan hukum, manusia tidak perlu mengontaki Allah; dia bisa mengenyampingkan-Nya. Setelah Anda melewati pintu gerbang kemenangan, Anda seharusnya tidak lagi hidup di bawah hukum, melainkan hidup menurut Roh (Rm. 7:6).

HIDUP DI BAWAH HUKUM

Mari kita melihat arti dari berjalan menurut hukum. Saya tidak tahu apa artinya hidup menurut hukum sampai beberapa tahun yang lalu, yaitu, sampai tahun 1928. saya sudah menjadi pengkotbah selama bertahun-tahun, namun saya tidak tahu apa artinya memelihara hukum. Memang benar bahwa saya bisa menjelaskan hukum kepada orang lain berdasarkan pengetahuan teologi saya. Akan tetapi dalam pengalaman praktisnya, saya tidak pernah memahami perkara ini. Ada saat dimana saya sakit parah. Tuhan menyembuhkan saya. Setelah saya sembuh, saya beristirahat dan memulihkan diri di daerah pesisir. Di sana saya berjumpa dengan Saudara Simon Meek dan tinggal bersamanya selama beberapa saat. Kesehatannya juga tidak terlalu baik, dan dia ingin supaya saya memberi dia beberapa nasihat. Saya bertanya, “Apakah yang bisa saya bantu?” Dia menjawab, “Mohon beri tahu saya apakah memohon penyembuhan itu alkitabiah.” Saya mengatakan, “Allah memang menyembuhkan orang-orang. Tapi Timotius harus minum sedikit anggur, dan Epafroditus tidak disembuhkan. Mata Paulus tidak terlalu baik dan tidak bisa membaca huruf-huruf yang kecil.” Saya melanjutkan untuk memberi tahu dia pengalaman dari banyak orang yang sudah disembuhkan. Saudara Simon Meek berkata, “Jawaban Anda sama sekali bukan jawaban.” Pada saat itu, saya menyadari apa hukum itu. Jika Alkitab memberi tahu kita apa yang harus dilakukan setahap demi setahap, yang perlu kita lakukan hanyalah melaksanakannya. Ini adalah memelihara hukum. Akan tetapi, Allah menginginkan persekutuan yang langsung dengan kita. Dia ingin supaya kita menerima wahyu-Nya dan kemudian bertindak menurut wahyu-Nya tersebut. Jika kita tidak bersekutu dengan Dia, Roh tidak akan memiliki saluran untuk pekerjaan-Nya.

Manusia senang memiliki instruksi yang jelas dari Alkitab mengenai segala sesuatu yang dia kerjakan. Misalnya, di dalam perkara kesembuhan ilahi, dia menginginkan jawaban “ya atau tidak” yang jelas dari Alkitab. Akan tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa beberapa penyakit disembuhkan dan beberapa penyakit tidak disembuhkan. Alkitab tidak memiliki ketentuan apa pun mengenai perkara ini. Allah tidak menghendaki gereja berpegang pada huruf-huruf yang mati dan meninggalkan Dia. Dia ingin melihat manusia mencari, berdoa, dan menanti dengan tenang pada-Nya. Dia tidak menginginkan kita untuk bersandar pada sesuatu yang bukan Dia.

Hukum berbicara mengenai kehendak Allah di masa lalu; itu bukan kehendak Allah hari ini. Akan tetapi, manusia selalu ingin mengetahui kehendak Allah hari ini berdasarkan kehendak masa lalu-Nya. Allah menginginkan manusia untuk bersekutu dengan-Nya dan memahami kedambaan-Nya hari ini melalui Roh Kudus. Dia tidak menginginkan kita untuk hanya memelihara hukum. Itulah sebabnya mengapa kita perlu memiliki persekutuan yang segar dengan Allah setiap hari. Hanya dengan demikianlah kita bisa mengenal kehendak-Nya.

Aspek yang kedua dari hukum adalah bahwa hukum mengatur bagaimana kita seharusnya hidup. Allah tidak mau memutuskan bagaimana gereja seharusnya hidup hari demi hari. Dia menginginkan gereja untuk bersekutu dengan-Nya setiap saat sehingga gereja bisa mengenal kedambaan-Nya. Jika saya menuliskan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang pegawai saya dan bagaimana dia seharusnya hidup, dia bisa mengikuti tulisan saya selama satu hari, satu minggu, atau bahkan satu bulan tanpa bersekutu dengan saya atau menanyakan sesuatu kepada saya. Ini adalah prinsip dari hukum. Hukum adalah melakukan kehendak Allah tanpa berkomunikasi dengan-Nya.

Ketika saya berada di Shanghai, saya memiliki seorang pembantu yang juga adalah seorang saudara. Pada suatu hari saya mempertimbangkan bagaimana Tuhan menginginkan kita untuk memakai roh kita dan tidak mengikuti hukum ketika bekerja bagi-Nya. Saya ingin melihat apakah bisa berhasil jika saya berhubungan dengan pembantu saya menurut Roh dan tidak menurut hukum. Sangat nyaman untuk membuat hukum di dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika saya membuat beberapa hukum, akan mudah bagi pembantu saya untuk bekerja bagi saya. Tentu saja saya juga harus mematuhi hukum yang sama. Saya mulai berbicara dengan pembantu saya dan memberi tahu dia bahwa dia seharusnya bertanya kepada saya di dalam segala sesuatu dan jangan membuat usulannya sendiri. Saya juga sama sekali tidak memberi peraturan tertulis kepadanya. Ketika saya sedang berbicara dengan seorang teman, pembantu itu datang beberapa kali dan setiap kali bertanya, “Anda ingin makan apa? Anda ingin minum apa?” Saya mengatakan, “Tunggu sebentar.” Kemudian, pembantu itu mengakui bahwa lebih mudah untuk bekerja menurut hukum daripada meminta instruksi dalam segala sesuatu. Dari sini kita melihat bahwa memelihara hukum itu mudah, akan tetapi tidaklah mudah untuk bekerja menurut pimpinan Roh. Akan tetapi, mudah atau sulit, itu adalah kedambaan Allah, dan kita tidak bisa mengambil jalan yang mudah. Kita harus mengambil jalan yang ditetapkan Allah, yang tidak berada di bawah hukum melainkan di bawah Roh.

HIDUP DALAM ROH

Hidup yang berdasarkan Roh tidak mengikuti peraturan yang pasti. Semua peraturan yang mati sudah disisihkan, dan kita mencari kehendak Allah secara langsung. Setelah pembantu saya selesai membersihkan lantai, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Ketika pukul dua belas tiba, dia tidak tahu apakah saya ingin makan. Inilah cara seseorang hidup ketika dia berada di dalam Roh. Dia bergerak ketika dia memiliki wahyu dari Roh dan menantikan Tuhan kalau tidak memiliki wahyu. Bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang sudah beroleh selamat dan siap untuk dibaptis? Kita bisa menanyai dia tentang kebenaran mengenai keselamatan dan baptisan, dan dia mungkin menjawab semuanya dengan benar. Jika karena itu kita mengatakan bahwa dia sudah bersyarat untuk dibaptis, kita sedang bertindak menurut hukum. Misalnya ada seorang wanita tua dari desa yang tidak bisa membaca atau mengatakan istilah-istilah Alkitab. Dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan mengenai keselamatan, pertobatan, atau pengampunan. Namun dia memiliki damai sejahtera di dalam hatinya. Apakah kita boleh membaptisnya? Masalahnya bukan pada perkara apakah orang-orang yang akan dibaptis itu lulus dari ujian kita dan bisa menjawab pertanyaan kita atau tidak. Masalahnya adalah apakah dia sudah dilahirkan kembali atau belum. Banyak orang-orang desa yang tidak tahu apa-apa mengenai istilah-istilah, namun mereka memiliki damai sejahtera dan sukacita secara batini. Orang-orang seperti itu mungkin tidak memahami apa pun di dalam pikiran mereka, tapi mereka benar-benar sudah diselamatkan.

Pada sidang meja Tuhan kami di Shanghai, kami sering kedatangan tamu yang tidak diundang. Berapa lama seharusnya kita meminta mereka untuk menunggu sebelum kita mengundang mereka untuk memecah roti bersama kita? Haruskah mereka menunggu seminggu atau sebulan? Sebenarnya, jika kita tahu bahwa orang itu sudah beroleh selamat, kita bisa langsung mengundang dia untuk memecah roti bersama kita. Tidak perlu menunggu.

Para sekerja tidak pernah boleh membuat hukum apa pun. Kita harus mengizinkan Roh Kudus untuk beroperasi dan bekerja di dalam masing-masing orang secara terpisah. Segala sesuatu di dalam Alkitab adalah hidup, tapi dia hidup hanya ketika berada di dalam Roh. Jika kita membuat sesuatu menjadi sebuah ketetapan, dengan segera itu menjadi mati. Kebenaran dari Alkitab harus direalisasikan di dalam Roh; hanya dengan demikian kebenaran itu akan menjadi hidup. Di dalam mengadakan konperensi-konperensi, kita kadang-kadang menerima berita dari Tuhan dan mengutarakannya. Ini mungkin menghasilkan keselamatan bagi banyak orang. Akan tetapi, kali selanjutnya kita mengadakan konperensi lagi, kita mungkin mengira bahwa kita seharusnya melakukan hal yang sama karena ada banyak orang yang diselamatkan pada konperensi yang lalu. Kita mungkin kemudian memberikan berita yang sama, dan ternyata tidak ada yang beroleh selamat. Kita mungkin mengira bahwa jika suatu berita menyelamatkan orang-orang pada satu kali, berita tersebut akan menyelamatkan orang-orang setiap kali. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Suatu berita menyelamatkan orang-orang ketika diberikan dalam Roh. Berita yang sama yang diulangi menurut hukum tidak akan menyelamatkan siapapun juga. Di sinilah terletak perbedaan antara berjalan menurut Roh dan berjalan menurut hukum.

Segala sesuatu yang tidak dilakukan menurut pimpinan yang hidup dari Roh adalah semacam hukum. Kita seringkali mengambil pimpinan kemarin sebagai bimbingan hari ini. Akan tetapi, menerapkan bimbingan kemarin pada hari ini adalah berjalan menurut hukum. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa karena Roh memimpin kita dalam satu cara di masa lalu, maka Dia akan memimpin kita dalam cara yang sama hari ini. Meniru pimpinan kemarin adalah berada di dalam hukum. Bahkan memungkinkan untuk berjalan menurut hukum dalam mentaati kebenaran alkitabiah. Jika kita ingin dibaptis hanya karena Alkitab mengatakan demikian, bukan karena hasil dari pimpinan Roh di batin, kita sedang mengikuti hukum. Kita harus berjalan menurut Kitab Suci, tapi pimpinan kita barulah benar ketika perjalanan kita ini dikonfirmasi oleh bimbingan batini. Jika seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu benar karena Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah salah, dia sepenuhnya berada di dalam alam hukum. Banyak orang menulis kepada saya untuk bertanya apakah ini atau itu adalah benar atau salah. Saya menulis balik dan bertanya apakah mereka memiliki Roh Kudus di batin atau tidak. Jika mereka memilikinya, mereka seharusnya belajar untuk mengikuti bimbingan batini dari Roh Kudus. Saya bukan peramal atau dukun; saya tidak bisa mengetahui kehendak Allah bagi Anda. Andalah sendiri yang harus belajar untuk mengenal pimpinan batini dari Roh.

Dalam belajar untuk mengikuti bimbingan Roh, kita harus bertanya apa yang dikatakan Roh sebelum kita bertanya apa yang dikatakan Alkitab. Hal pertama yang seharusnya kita tanyakan adalah apa yang sedang dikatakan perasaan batini kepada kita. Akan tetapi, kebanyakan orang hari ini bertanya terlebih dahulu apa yang dikatakan Alkitab dan tidak menanyakan apa yang dikatakan Roh di batin. Ini tidak normal. Seorang beriman Perjanjian Baru memiliki Roh Kudus tinggal di batinnya. Ini adalah hal yang mustika. Kita harus belajar untuk mengenal pimpinan batini Roh Kudus di dalam kita. Ada perbedaan antara prinsip dan perintah di dalam Alkitab. Seorang beriman tidak boleh hanya mentaati perintah-perintah di dalam Alkitab saja, melainkan juga berjalan menurut prinsip-prinsip yang ada di balik semua perintah tersebut. Pertimbangkanlah perkara penudungan kepala. Jika Anda menudungi kepala hanya karena 1 Korintus 11 berkata demikian, di dalam realitasnya Anda belum menudungi kepala Anda. Kecuali seseorang mentaati Alkitab menurut pimpinan Roh, ketaatannya adalah sama dengan ketidak-taatannya. Hal yang utama adalah apa yang dikatakan Tuhan di dalam seseorang. Jika Tuhan memimpin Anda untuk mentaati kebenaran tertentu di dalam Alkitab, dan Anda bertindak sesuati dengannya, ini adalah ketaatan yang sejati kepada Allah.

Di dalam Perjanjian Lama ada dispensasi hukum, tapi hari ini kita berada di dalam dispensasi Perjanjian Baru. Namun masih ada terlalu banyak “orang Yahudi” di dalam gereja hari ini. Mereka memelihara hukum dan membuat Alkitab menjadi kitab hukum. Banyak orang saling bertanya apa pendapat mereka tentang ini dan itu. Ini berarti mereka tidak tahu cara bertanya kepada Roh di batin mereka. Ini tidaklah normal.

PIMPINAN ROH DIKONFIRMASI OLEH ALKITAB

Setiap domba mengenal suara gembalanya. Banyak orang mengira bahwa jika mereka tidak mengenal tulisan Alkitab, mereka tidak akan mengenal bagaimana cara untuk hidup. Apakah ini berarti mereka akan berdosa setiap hari? Sebenarnya, jika kita mengikuti pimpinan Roh, kita malah akan mengalami hal yang sebaliknya. Jauh lebih baik untuk mengikuti pimpinan Roh daripada sekadar mengikuti Alkitab saja. Kita bisa lupa, tapi Roh Kudus tidak akan pernah lupa. Kita mungkin bertanya, “Jika pekerjaan Roh Kudus demikian pentingnya, apakah itu berarti kita tidak memerlukan Alkitab lagi?” Secara teori, pimpinan Roh Kudus di batin sudah cukup, namun dalam mengikuti pimpinan batini ini, adalah mungkin bagi kita untuk melakukan kesalahan. Oleh karena itu, kita masih memerlukan Alkitab. Dengan kata lain, kita bukan mengikuti pimpinan Alkitab; kita mengikuti pimpinan Roh di batin. Akan tetapi, kita memeriksa pimpinan batini sehari-hari ini dengan Alkitab. Hanya ketika kita mentaati keduanya, pimpinan rohani dan pimpinan di luar, baru kita benar-benar mentaati Allah. Kita tidak bisa hanya mentaati pimpinan Alkitab saja. Kita harus mengikuti pimpinan Roh di batin dan kemudian membandingkannya dengan Alkitab. Jika pimpinan tersebut tidak bisa dikonfirmasi oleh Alkitab, itu bukan pimpinan dari Roh melainkan sebuah pekerjaan yang berasal dari emosi. Masalah yang sesungguhnya adalah penyetelan batini.

Di Chefoo, dua orang bertanya kepada saya apakah mereka seharusnya meninggalkan denominasi atau tidak. Saja menjawab, “Saya tidak tahu.” Mereka berkata, “Apakah ini berarti Anda melarang kami untuk meninggalkan denominasi?” Kemudian saya bertanya kepada mereka, “Bagaimanakah perasaan hayat di dalam Anda ketika Anda berada di dalam denominasi? Apakah Anda merasa bahwa hayat di batin Anda mekar ketika Anda tinggal di denominasi? Jika Anda merasa demikian, Anda seharusnya tinggal di denominasi. Kalau tidak, Anda seharusnya pergi.” Itu sepenuhnya bukan perkara benar atau salah melainkan perkara hayat.

Pernah ada seorang misionaris Barat di Chefoo yang tiga kali datang untuk mendiskusikan perkara sekte dengan saya. Pada dua kali kedatangan yang pertama, saya menghindari dia dan tidak berbicara mengenai subyek tersebut dengannya. Kali terakhir dia datang, dia memaksa untuk membicarakan hal tersebut. Saya merasa bahwa ada pimpinan Roh, dan saya berbicara dengannya selama lima menit. Setelah pembicaraan tersebut, kami duduk untuk minum teh. Saya memberi tahu dia bahwa saya berada di dalam suatu lingkaran yang besar, namun dia berada di dalam sebuah lingkaran yang kecil di dalam lingkaran yang besar. Setelah pembicaraan tersebut, saya mengantar dia pergi. Dua hari kemudian, dia datang kepada saya di pagi hari dan berkata, “Tadi malam saya mengirim tiga surat pengunduran diri.” Saya memberi tahu dia, “Anda tidak seharusnya terpengaruh oleh saya. Perkara semacam itu hanya bisa diputuskan oleh Allah sendiri. Hanya Allah yang bisa memanggil Anda keluar dari denominasi.” Dia berkata, “Saya bertanya kepada Allah tadi malam dan melihat bahwa lingkaran kecil di dalam lingkaran besar adalah pilihan manusia dan bahwa pilihan manusia adalah sebuah dosa.” Saya merasa bahwa merupakan kehendak Allah bahwa saya seharusnya meninggalkan denominasi saya. Itulah sebabnya saya bangun tadi malam dan menulis surat pengunduran diri.” Saya menjabat tangannya. Mulai saat itu, dia mulai maju secara positif di dalam jalan Tuhan dan tidak terganggu oleh elemen-elemen negatif manapun.

Sebagai pekerja-pekerja Tuhan, kita seharusnya berhati-hati untuk tidak memimpin orang-orang menurut Alkitab saja. Kita seharusnya membiarkan Roh Kudus untuk membimbing mereka secara pribadi dari batin mereka. Kita tidak perlu membuat semua orang beriman untuk menjadi sama persis menurut standar-standar luaran atau menjaga tatanan yang luaran. Jika kita melakukan hal ini, Roh Kudus tidak akan memiliki dasar atau kebebasan untuk bekerja. Kita tidak boleh menjadi Musa, menyalurkan huruf-huruf dan hukum kepada orang lain. Hukum kita hanyalah Roh Kudus. Dia adalah pembimbing kita yang absolut. Kita harus belajar untuk mengikuti bimbingan Roh di batin. Jika seseorang memelihara hukum, dia bisa maju tanpa Allah. Tapi jika seseorang hidup oleh Roh, dia tidak akan mampu untuk meninggalkan Allah walaupun untuk sejenak. Bagitu dia meninggalkan Allah, dia akan mati.

Watchman Nee, Vol 41-25


BAB DUA PULUH TIGA

NADA DARI PENGHIDUPAN YANG MENANG

Tanggal: 19 Nopember 1935, malam hari

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:37; Mzm. 20:5

Kita perlu melihat hal lainnya malam ini—nada dari suatu penghidupan yang menang. Sebelum kita masuk ke dalam perkara ini, kita harus mengulang apa yang telah kita lihat. Kita pertama-tama melihat bahwa metode manusia untuk mencapai kemenangan adalah dengan menahan diri, bergumul, dan berdoa, dll. Sebenarnya, tidak ada satupun dari metode ini yang berhasil. Kedua, kita melihat bahwa Kristus adalah kemenangan kita. Menang adalah Kristus itu sendiri. Hayat yang menang yang telah diberikan Allah kepada kita tidak lain adalah Kristus itu sendiri. Ketiga, karakteristik yang paling penting dari hayat yang menang adalah bahwa itu merupakan suatu pertukaran, bukan pengubahan. Keempat, kita melihat bahwa ada dua hal yang harus kita lakukan—merelakan dan percaya. Kelima, kita melihat bahwa ada dua hal juga yang harus kita lakukan setelah menang—mengakhiri semua dosa dan berkonsikrasi secara penuh. Keenam, kita melihat bahwa Tuhan adalah Dia yang menjaga kita di dalam menempuh kehidupan yang menang; Tuhan secara terus menerus menang bagi kita. Kita harus menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan setiap hari. Kita harus bersandar pada-Nya dan menyerahkan diri kita kepada-Nya hari demi hari dan waktu demi waktu, mengizinkan kemenangan-Nya untuk dimanifestasikan di dalam kita. Jika ada yang belum melakukannya, saya harap Anda mau melakukannya hari ini.

Sekarang mari kita melihat nada dari kehidupan sehari-hari seorang pemenang. Ketika kita berkidung, kita memiliki kata-kata dan nada. Banyak orang menyanyi dengan kata-kata yang benar tapi dengan nada yang salah. Mohon diingat bahwa hayat yang menang juga memiliki nadanya. Setelah seseorang melewati pintu gerbang kemenangan, dia tidak bisa menang setiap hari jika dia tidak membawa nada kemenangan bersamanya. Jika nadanya salah, segala sesuatunya akan salah. Orang Fukien dan orang Amoy berbicara dengan nada yang berbeda. Tapi hanya ada satu nada bagi hayat yang menang. Jenis kemenangan yang ada di dalam Alkitab adalah yang membuat kita lebih daripada orang-orang yang menang (Rm. 8:37). Itu bukan jenis kemenangan yang hanya sedikit mengizinkan kita untuk menang. Kata hanya sedikit (barely) adalah perkataan saya sendiri; Alkitab tidak pernah menggunakan kata tersebut. Akan tetapi, faktanya adalah banyak orang Kristen yang hanya menang sedikit. Kemenangan mereka bukanlah kemenangan yang membuat mereka lebih daripada orang-orang yang menang. Kemenangan semacam itu bukanlah kemenangan yang sejati.

BERSORAK-SORAI DALAM KEMENANGAN

Keselamatan dan kemenangan adalah kata yang sama di dalam bahasa Ibrani. Bersorak-sorai dan bersukacita juga adalah kata yang sama di dalam bahasa Ibrani. Jadi, Mazmur 20:5 yang mengatakan, “Kami mau bersorak-sorai dalam keselamatan-Mu,” bisa diterjemahkan menjadi “Kami mau bersukacita dalam kemenangan-Mu.” Apa perbedaan antara kemenangan dengan bersorak-sorai bagi kemenangan? Misalnya dua kelompok pelajar sedang bertanding dan salah satu tim menang. Ini adalah kemenangan; tim tersebut telah menang. Bersorak-sorai bagi kemenangan adalah bagi para penggembira untuk bersorak-sorai dengan lantang bagi tim yang menang. Para pelajar yang benar-benar bertanding adalah orang-orang yang menang. Teman-teman mereka tidak menang, namun mereka bisa bersorak-sorai dalam kemenangan. Demikian juga, kemenangan adalah Kristus; ini tidak ada hubungannya dengan kita. Kita tidak bertanggung jawab atas kemenangan-Nya, tapi kita bertanggung jawab untuk satu hal—untuk bersorak-sorai dalam kemenangan. Tuhan sudah mendapatkan kemenangan, dan kita bersorak-sorai dalam kemenangan. Inilah nada dari penghidupan yang menang. Setiap orang dari kita seharusnya memiliki nada kemenangan yang seperti ini di dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika kita memiliki nada kemenangan, kita memiliki penghidupan yang menang. Tanpa nada kemenangan, kehidupan sehari-hari kita masih gagal. Lebih daripada orang-orang yang menang adalah menang terus menerus dan memiliki nada kemenangan setiap waktu.

Kemenangan dari banyak orang adalah kemenangan yang ogah-ogahan. Itu adalah kemenangan yang hanya sedikit dan sunyi senyap. Misalnya, ketika orang lain mencaci-maki, Anda mungkin tidak bereaksi; sebaliknya, Anda menutup mulut Anda. Anda mungkin mengira bahwa melalui berdiam diri seperti itu Anda sedang menang. Memang benar bahwa itu adalah menang, tetapi itu adalah kemenangan yang hanya sedikit. Itu bukan kemenangan yang membuat Anda lebih daripada orang-orang yang menang, juga bukan sorak-sorai kemenangan. Sorak-sorai kemenangan yang mengikuti suatu kemenangan adalah kemenangan yang bersukacita, bersyukur, dan memuji secara berkesinambungan. Itu bukan suatu usaha yang ogah-ogahan, juga bukan suatu tindakan menahan diri atau bersabar. Bersorak-sorai bagi kemenangan adalah memuji di dalam segala macam situasi dan bagi segala macam alasan. Inilah lebih dari menang. Kebanyakan orang mengira bahwa berdiam diri ketika mereka sedang dicaci-maki adalah menang. Akan tetapi ini bukanlah kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan yang sesungguhnya adalah bersyukur dan memuji Tuhan di dalam segala macam kesulitan dan penderitaan. Ini bukan hanya kemenangan, melainkan sorak-sorai dari kemenangan. Kita harus ingat bahwa cawan yang telah Allah berikan kepada kita adalah cawan yang melimpah (Mzm. 23:5). Itu bukan cawan yang hanya memiliki beberapa tetes air. Cawan kita meluap adalah kita bersorak-sorai bagi kemenangan. Jika orang lain meminta saya untuk berjalan satu mil, dan saya berjalan satu mil, itu bukan kemenangan. Lebih dari menang adalah jika orang lain meminta saya untuk berjalan satu mil, saya berjalan dua mil. Jika orang lain meminta baju saya, dan saya memberi baju saya, itu tidak menang. Tapi jika orang lain meminta baju, dan saya menyerahkan jubah saya juga, itu adalah kemenangan yang sesungguhnya. Ketika orang lain mencaci-maki saya, saya tidak hanya sekadar berusaha untuk menekan diri saya atau berusaha untuk bersabar. Melainkan, saya berkata kepada Allah, “Aku mengucap syukur,” dan saya mengatakannya tanpa rasa ogah-ogahan atau ragu-ragu. Inilah kemenangan yang membuat kita lebih dari menang. Kita seharusnya mengatakan kepada Tuhan, “Semua kesulitan yang telah menimpaku adalah pemberesan-Mu yang penuh kemurahan. Aku bersyukur pada-Mu bahwa aku mampu untuk menderita bagi-Mu.” Inilah nada kemenangan. Tuhan memberi Anda kemenangan supaya Anda bisa bersyukur dan memuji Dia. Banyak orang kelihatannya menang, namun mereka tidak memiliki nada kemenangan. Misalnya, seseorang mungkin berada di dalam kesulitan dan berkata kepada Tuhan, “Aku sedang menderita.” Ini berarti dia sudah kehilangan nada kemenangan. Mereka yang tidak bisa bersyukur dan memuji di dalam penderitaan mereka hanya berhasil sedikit; mereka tidak lebih dari orang-orang yang menang.

BERSUKACITA SENANTIASA

Beberapa bagian di dalam Alkitab berbicara mengenai bersukacita. Matius 5:11-12 mengatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." “Bersukacita dan bergembira” berarti “bersukacita dengan sangat dan sambil bersorak-sorai (greatly and jubilantly).” Yakobus 1:2 mengatakan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Apakah nada kita di tengah-tengah pencobaan? Yakobus mengatakan bahwa kita harus menganggapnya sebagai kebahagiaan. Inilah kemenangan yang riil. Seekor ikan harus berada di dalam air untuk bisa bertahan hidup. Demikian juga, hayat yang menang hanya bisa bertahan di dalam suatu lingkungan ucapan syukur dan pujian. Jika diletakkan di dalam suatu atmosfir kesedihan, dia akan mati. Kapankala hati kita kehilangan ucapan syukur dan pujian, dia kehilangan kemenangannya. Filipi 4:4 mengatakan bahwa kita harus bersukacita senantiasa. Bersukacita di dalam Perjanjian Baru itu tidak ada hentinya, bukan sekali-kali. Seharusnya tidak ada waktu istirahat bagi sukacita kita. Kapankala kita kehilangan kebahagiaan kita, kita kehilangan kemenangan kita. Jadi, kita harus bersukacita dalam Tuhan setiap waktu. Satu Petrus 4:13 mengatakan bahwa kaum beriman seharusnya bersukacita di dalam segala macam keadaan dan dipenuhi dengan ucapan syukur dan pujian. Banyak orang beriman tidak memiliki senyum di wajah mereka. Ini adalah ekspresi dari ketiada-sukacitaan. Pada suatu kali Paulus dan Silas dipukuli dan dibelenggu pada tangan dan kaki mereka. Namun mereka masih mampu untuk menyanyi. Saat mereka menyanyi, mungkin mulut mereka mengarah ke bawah, tapi hati mereka pasti mengarah ke atas. Ucapan syukur dan pujian ini mengguncangkan bumi dan membuka pintu penjara. Roh mereka sudah keluar, namun tubuh mereka masih di situ (Kis. 16:22-28). Inilah kemenangan yang diinginkan Tuhan. Dia ingin mendengar nyanyian kita di tengah malam sebab Dia tahu bahwa matahari terbit hanya tinggal beberapa jam lagi.

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA SESUATU

Dalam hal apakah kita seharusnya mengucap syukur? Kolose 3:17 dan 1 Tesalonika 5:18 mengatakan bahwa kita seharusnya mengucap syukur dalam segala sesuatu. Kita seharusnya memiliki suatu kebiasaan untuk mengucap syukur. Ini berarti apapun yang mungkin terjadi—hal yang besar, hal yang kecil, hal yang baik, atau hal yang buruk—kita harus mengucap syukur. Seorang saudara adalah pekerja di rel kereta api. Sekali waktu, ketika dia sedang bekerja, sebuah kereta api lewat dan karena kecerobohan, salah satu kakinya terpotong oleh kereta tersebut. Ketika dia bangun di rumah sakit, dia ditanyai mengenai keadaannya. Dia menjawab, “Syukur dan puji Tuhan.” Ketika dia ditanya, “Bagaimana Anda bisa mengucap syukur dan memuji Tuhan pada saat-saat seperti ini?”, dia menjawab, “Saya tidak melihat berapa banyak kaki saya yang hilang. Saya melihat berapa banyak kaki yang masih saya miliki.” Inilah nada kemenangan. Nada kemenangan adalah nada dimana kita mengucap syukur dan memuji di tengah-tengah pencobaan. Hati kita seharusnya menyerah kepada Tuhan. Kita seharusnya menerima dengan sukacita apapun yang Dia berikan kepada kita, dan kita seharusnya beristirahat di dalam kehendak-Nya. Tidaklah memadai bagi kita untuk hanya sekadar menanggung pencobaan. Jenis daya tahan yang dijabarkan di dalam Alkitab bukanlah daya tahan yang pasif. Kolose 1:11 mengatakan bahwa kita dikuatkan untuk menanggung segala sesuatu dengan sukacita. Jenis daya tahan yang ditopang melalui kertak gigi tidak banyak gunanya bagi siapapun juga. Daya tahan yang menang adalah daya tahan yang menanggung dengan sukacita, dan hanya mereka yang sepenuhnya menerima kehendak Allah bisa menanggung dan menderita dengan gembira.

UCAPAN SYUKUR DAN PUJIAN ADALAH

JALAN MENUJU KEMENANGAN

Ucapan syukur dan pujian adalah nada kemenangan. Mereka juga adalah jalan menuju kemenangan. Dua Tawarikh 20:21-22 menceritakan mengenai bangsa Israel mengalahkan musuh-musuh mereka di dalam pertempuran melalui puji-pujian. Yosafat, raja Yehuda, mengangkat orang-orang Lewi untuk memberikan pujian dalam pakaian kudus (ay. 21) dan untuk keluar di muka orang-orang bersenjata, menyanyikan nyanyian syukur kepada Yehova. Mereka berpakaian kudus; mereka tidak memakai baju zirah atau membawa senjata. Orang lain mungkin tercengang melihat mereka. Di satu pihak, mereka harus berperang, dan di lain pihak, kemenangan bukanlah milik mereka. Mereka berperang berdasarkan kemenangan. Pertama, mereka menang, dan kemudian mereka berperang—inilah kemenangan yang sejati. Berperang dan kemudian menang bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan. Kita pertama-tama percaya bahwa kita sudah menang dan kemudian maju untuk berperang. Kita tidak berperang supaya menang. Ada suatu perbedaan yang besar di antara keduanya. Alkitab mengatakan bahwa kita berperang sebab kita sudah menang. Jika kita nampak hal ini, kita akan tahu bagaimana cara menerapkan fakta ini di masa yang akan datang. Misalnya godaan mendatangi kita. Jika kita melihat bahwa Tuhan adalah kemenangan kita dan bahwa Dia sudah menang, dan jika kita maju berperang berdasarkan hal ini, kita ini sedang bersorak-sorai bagi kemenangan. Tapi jika kita berperang supaya menang, kita sudah kalah. Kemenangan yang sejati adalah mengenal bahwa kita sudah menang dan kemudian pergi berperang berdasarkan pengetahuan tersebut.

Peperangan kemenangan semacam itu mengalahkan musuh melalui ucapan syukur dan pujian. Begitu kita mengucap syukur dan memuji, musuh lari tunggang-langgang. Ketika kita percaya dalam Firman Allah, kita bisa membualkan pujian. Mazmur 106:12 mengatakan bahwa setelah Allah menenggelamkan seluruh pasukan Firaun di Laur Merah, bani Israel percaya kepada segala firman-Nya dan menyanyikan puji-pujian kepada-Nya. Kapankala kita memiliki iman, kita bisa menang dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Kita harus belajar untuk mengucap syukur dan memuji Dia dengan tidak putus-putusnya. Kita tidak seharusnya mengubur ucapan syukur dan pujian kita. Jika kita mengucap syukur dan memuji Dia dengan tak putus-putusnya, kita akan secara berkesinambungan menempuh suatu kehidupan yang menang.

Watchman Nee, Vol 41-24


BAB DUA PULUH DUA

PEKERJAAN-PEKERJAAN ROH KUDUS DAN MANFAAT

DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 19 Nopember 1935, pukul 3 siang

Tempat: Chuenchow

PEKERJAAN-PEKERJAAN ROH KUDUS

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keduanya memperlihatkan kepada kita bahwa hanya ada 3 pekerjaan Roh Kudus: (1) membagikan hayat kepada manusia, (2) menjadi hayat di dalam manusia, dan (3) menjadi kuat kuasa di atas manusia. Ketiga hal ini mencakup semua pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan yang pertama dari Roh Kudus adalah memberikan hayat. Yang kedua adalah hidup di dalam manusia untuk menjadi hayat bagi manusia, dan yang ketiga adalah turun ke atas manusia untuk memperkuatnya. Ketiga aspek ini mencakup seluruh pekerjaan dari Roh Kudus seperti yang dijabarkan di dalam Alkitab. Perjanjian Lama hanya memiliki aspek yang pertama dan yang ketiga; dia tidak memiliki aspek yang kedua. Di dalam Perjanjian Lama, kita tidak menemukan Roh Kudus berhuni di dalam manusia. Perbedaan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Roh Kudus berhuni di dalam manusia. Ada orang-orang di dalam Perjanjian Lama yang menjamah hayat. Misalnya, Daud menjamah hayat. Sebagai tambahan untuk aspek yang pertama dari pekerjaan Roh Kudus, kita juga menemukan pencurahan Roh di dalam Perjanjian Lama. Tentu saja, itu hanya dialami oleh sedikit orang. Misalnya, selama pembangunan tabernakel, Roh turun ke atas Aholiab dan Bezaleel dan memberi mereka hikmat untuk membuat berbagai rancangan dan membangun tabernakel (Kel. 31:1-11). Musa juga menerima Roh ke atas dirinya, dan dia mendistribusikan Roh kepada tujuh puluh orang tua-tua Israel (Bil. 11:17, 25). Banyak nabi juga menerima Roh Allah ke atas mereka. Akan tetapi, tidaklah umum bagi Roh Allah untuk turun ke atas seorang nabi. Hanya sedikit dari para nabi yang terkenal yang memiliki pengalaman mengenai Roh Allah turun ke atas mereka. Banyak dari para nabi itu juga memiliki murid-murid. Elisa memiliki banyak murid, namun tidak ada satupun dari mereka menerima Roh turun ke atas mereka. Walaupun kitab Hakim-hakim berbicara mengenai orang-orang menerima Roh dan melakukan hal-hal yang luar biasa, jumlahnya hanya sedikit (Hak. 3:10; 6:34; 11:29; 13:25).

Di dalam Perjanjian Lama, hanya Hakim-hakim 6:34 yang kelihatannya memberi indikasi bahwa Roh berhuni di dalam manusia. Ini adalah sebuah pengecualian. Akan tetapi, menurut teks aslinya, ayat ini tidak mengatakan bahwa Roh berhuni di dalam manusia. Ayat tersebut hanya mengindikasikan bahwa Roh Yehova mengenakan Gideon, seolah-olah Gideon adalah sebuah pakaian dan Roh Kudus berada di dalam pakaian ini. Selain kejadian tersebut, tidak ada satu tempat pun di dalam Perjanjian Lama yang mengindikasikan bahwa Roh berhuni di dalam manusia.

Di dalam Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Roh Kudus juga turun ke atas manusia. Kita melihat hal ini pada diri Maria, Zakharia, Yohanes Pembaptis, dan Tuhan sendiri. Pada saat itu Roh belum berhuni di dalam manusia dan belum menjadi hayat bagi manusia. Roh Kudus tidak melakukan pekerjaan yang baru ini sampai Yohanes 14:16-17. Mohon perhatikan kata “akan” di dalam bagian terakhir dari ayat 17; dia tidak mengatakan “sudah.” Ini adalah sesuatu yang sangat baru. Roh akan berhuni di dalam manusia dan menyertai manusia selamanya. Tidak seperti Perjanjian Lama, yang hanya memiliki aspek yang pertama dan yang ketiga dari pekerjaan Roh, Roh Kudus memulai pekerjaan yang baru di dalam Yohanes 14. Dia tidak lagi hanya turun ke atas manusia atau memberi hayat kepada manusia, namun Dia juga berhuni di dalam manusia.

Sebelum kenaikan Tuhan, Dia memberi dua janji yang besar kepada murid-murid-Nya. Janji yang pertama diberikan sebelum kematian-Nya, dan yang kedua diberikan sebelum kenaikan-Nya. Janji yang pertama adalah bahwa Roh Kudus akan berhuni di dalam manusia (Yoh. 14:17), dan janji yang kedua adalah bahwa Roh kudus akan turun ke atas Manusia (Kis. 1:8). Jadi, kita memiliki ketiga aspek dari pekerjaan Roh. Jika Anda adalah seorang pembaca Mandarin, Anda mungkin tidak tahu betapa mustikanya hal ini. Jika Anda adalah seorang Yahudi, ungkapan alkitabiah “berhuni di dalam kamu” adalah sebuah konsep yang aneh. Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Salomo, dan Yeremia tidak memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka. Perjanjian Lama hanya mengatakan bahwa Roh Yehova turun ke atas seseorang. Hanya Kejadian 6:3 yang menggunakan ungkapan “di dalam manusia.” [Catatan: Ini menurut Chinese Union Version.] akan tetapi, di dalam bahasa aslinya, ayat ini mengatakan, “Roh-Ku tidak akan selalu berurusan dengan manusia.” Ayat itu tidak mengatakan bahwa Roh Kudus berhuni di dalam mereka yang ada di dalam Kejadian 6:3. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Roh tidak akan lagi berurusan dengan manusia atau mendukakan manusia. Ketika Perjanjian Lama berbicara mengenai Roh, dia selalu memakai kata di atas, akan tetapi Perjanjian Baru selalu memakai kata di dalam. Janji ini terlalu ajaib—Roh Kudus akan berhuni di dalam manusia. Firman telah menjadi daging adalah suatu kejadian yang ajaib yang terjadi di dalam diri Tuhan sendiri, namun Roh itu sendiri tinggal di dalam kaum beriman merupakan suatu kejadian yang lebih ajaib.

Kapankah Roh mulai berhuni di dalam manusia? Di dalam Yohanes 14:17 Tuhan mengatakan bahwa Roh itu “akan” berada di dalam murid-murid. Perkataan ini diucapkan sebelum penyaliban Tuhan. Di dalam Yohanes 20:22, Dia menghembuskan nafas kudus ke dalam murid-murid dan mengatakan, “Terimalah Roh Kudus.” Ini terjadi setelah kebangkitan Tuhan. Setelah kebangkitan-Nya, Roh Kudus datang dan murid-murid menerima penghembusan Tuhan. Roh Kudus adalah nafas kehidupan Tuhan. Ini adalah seperti Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam Adam setelah dia diciptakan dari debu tanah. Hasilnya adalah dia menjadi jiwa yang hidup (Kej. 2:7). Inilah yang sedang terjadi atas diri kita hari ini. Tuhan sedang menghembuskan Roh Kudus, nafas kehidupan, ke dalam kita. Tanpa nafas dari Allah, manusia itu mati. Tanpa nafas dari Tuhan kepada gereja, gereja juga mati. Inilah aspek yang kedua dari pekerjaan Roh Kudus. Setelah kita mengenal sejarah dari pekerjaan Roh, kita akan memahami pengalaman kita.

Janji mengenai berhuninya Roh Kudus di dalam murid-murid digenapkan pada hari kebangkitan Tuhan. Empat puluh hari setelah kebangkitan Tuhan, Dia kembali menjanjikan kepada murid-murid bahwa mereka akan menerima kuat kuasa dari Roh Kudus. Janji Tuhan ini dipenuhi pada hari Pentakosta. Jika dibandingkan, janji yang manakah yang lebih baik? Di dalam Perjanjian Lama, pencurahan Roh adalah hak istimewa dari sedikit orang, seperti para imam, para nabi, atau para hakim. Mungkin hanya satu orang dari seluruh bangsa Israel yang memiliki hak istimewa ini. Mungkin hanya raja atau beberapa orang tertentu yang memiliki berkat ini. Yang lainnya harus mendengar orang-orang tersebut. Di dalam sejarah Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang semacam ini muncul hanya sekali setiap beberapa dekade atau abad. Kejadian tersebut sangat jarang. Namun di dalam Perjanjian Baru, setiap orang bisa dan seharusnya memiliki pengalaman ini. Janji ini sangat unik; ini adalah sesuatu yang bisa kita semua terima. Ini adalah berkat yang khusus dari Tuhan. Betapa sukacitanya bahwa kita semua bisa memiliki Roh Kudus di atas diri kita. Sebelum kenaikan-Nya, Tuhan memerintahkan murid-murid untuk tinggal di Yerusalem dan menunggu janji tersebut (Luk. 24:49). Pada saat itu, murid-murid sudah memiliki hayat yang berhuni. Mereka mendengar perkataan Tuhan dan lalu berdoa dan menantikannya. Sepuluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 2:4). Semua orang yang membaca Kisah Para Rasul 2 tahu bahwa ini berbicara mengenai pekerjaan luaran Roh Kudus di atas manusia. Injil Lukas juga berbicara mengenai aspek luaran dari pekerjaan Roh Kudus di atas diri manusia. Ini tidak mengacu pada pekerjaan batini dari Roh. Dari Yohanes, Lukas, dan Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa ada dua garis untuk pekerjaan Roh Kudus. Satu garis adalah di dalam manusia, dan garis yang satunya lagi adalah di luar manusia.

PERBEDAAN ANTARA PENGHUNIAN DAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Roh Kudus berhuni di dalam manusia untuk menjadi hayat manusia, dan Dia hinggap di atas manusia untuk menjadi kuat kuasanya. Jika kita tidak jelas mengenai perbedaan di antara kedua aspek pekerjaan-Nya ini, kita tidak tahu perbedaan antara pekerjaan Roh Kudus di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Berhuninya Roh Kudus sudah dijanjikan oleh Kristus di dalam Perjanjian Baru sebelum kematian-Nya. Aspek dari pekerjaan Roh ini berhubungan dengan kematian Tuhan, dan digenapkan pada waktu kebangkitan Tuhan. Berhuninya Roh di dalam manusia adalah bertujuan untuk menjadi hayat bagi kaum beriman dan juga bertujuan untuk memproduksi buah Roh di dalam penghidupan kaum beriman, seperti kekudusan, kebenaran, kesabaran, dan sukacita.

Pencurahan Roh ke atas manusia dijanjikan oleh Bapa di dalam Perjanjian Lama. Janji ini dikonfirmasi oleh Tuhan sebelum kenaikan-Nya. Aspek dari pekerjaan Roh ini berhubungan dengan kenaikan Tuhan, dan digenapkan setelah Tuhan terangkat dan ditinggikan. Pencurahan Roh ke atas manusia adalah bertujuan untuk mengenakan kuat kuasa Allah pada kaum beriman bagi kesaksian mereka dan juga bertujuan untuk menghasilkan karunia-karunia Roh dan memperkuat kaum beriman untuk bekerja bagi Tuhan demi penggenapan kehendak-Nya.

Ketika kita membaca Perjanjian Lama dan Baru, kita harus membedakan pekerjaan Roh di dalam manusia dan pekerjaan-Nya di luar manusia. Jika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa tidak ada konflik di dalam Alkitab mengenai aspek-aspek dari pekerjaan Roh. Jika kita tidak melakukannya, kita akan menemukan banyak kontradiksi. Misalnya, Alkitab mengatakan bahwa setiap orang yang sudah dilahirkan kembali memiliki Roh Kudus berhuni di dalam dirinya. Alkitab juga mengatakan bahwa kaum beriman bisa menerima pencurahan Roh. Yang satu mengindikasikan fakta memiliki, dan yang satunya lagi mengindikasikan suatu kemungkinan untuk memiliki. Begitu seseorang percaya dalam Tuhan, Roh Kudus tentunya akan berhuni di dalam dirinya. Pada saat yang sama, dia juga bisa mengalami pencurahan Roh. Jika kita dengan jelas membedakan antara kedua perkara ini, kita akan melihat hal-hal yang ajaib terjadi kepada kita. Baiklah saya memberi satu contoh. Pada suatu hari orang-orang Samaria percaya dalam Tuhan dan dibaptis. Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka menerima Roh yang berhuni ataupun pencurahan Roh. Malah, Kisah Para Rasul 8 mencatat bahwa walaupun mereka sudah dibaptis, mereka belum menerima Roh Kudus, dan Roh belum turun ke atas mereka. Jika kita tidak memahami perbedaan antara Roh yang berhuni dan pencurahan Roh, kita akan menemui kesulitan untuk menjelaskan fakta bahwa orang-orang Samaria sudah percaya dan dibaptis, tapi belum menerima Roh Kudus. Kita tidak akan tahu bagaimana cara menjelaskan Roma 8, 1 Yohanes 4, dan 1 Korintus 6. Semua bagian ini berbicara mengenai Roh Kudus yang berhuni di dalam manusia begitu dia percaya. Sebenarnya, orang-orang Samaria tidak kekurangan Roh yang berhuni. Mereka hanya kekurangan Roh yang dicurahkan ke atas manusia.

ASPEK BATINI DAN LUARAN DARI ROH

DI DALAM DAN DI ATAS MANUSIA

Pekerjaan batini dari Roh Kudus di dalam manusia adalah bagi hayat dan penghidupan. Itu membuat manusia mampu untuk menghasilkan buah Roh. Pekerjaan luaran Roh Kudus di luar manusia adalah bagi kesaksian dan pekerjaan. Itu membawakan karunia-karunia rohani kepada manusia. Jika seseorang dipenuhi dengan Roh di batin dan juga memiliki Roh di atasnya, dia akan diperkuat bagi pekerjaan Tuhan. Jika seseorang tidak dipenuhi di batin, namun hanya diliputi di luar, dia tidak akan mendapatkan terlalu banyak manfaat. Malah, itu akan merusaknya sebab dia akan menjadi sombong. Jika seseorang belum melewati pintu gerbang kemenangan, dia mungkin memiliki pengalaman atas pencurahan Roh, namun dalam beberapa bulan atau paling banyak beberapa tahun, orang lain akan melihat bahwa dia kekurangan sesuatu. Kita harus mengalami kedua aspek dari pekerjaan Roh Kudus di dalam dan di atas kita.

ROH KUDUS BERSAKSI BAGI KRISTUS

Roh Kudus tidak bersaksi bagi diri-Nya sendiri; Dia bersaksi mengenai Kristus (Yoh. 15:26). Setelah seseorang melihat penebusan salib, orang-orang lainnya mungkin mengajar dia untuk pergi berdoa meminta Roh dan untuk percaya. Membicarakan Roh dalam cara ini adalah bertujuan untuk memimpin dia kepada Kristus. Dalam berbicara mengenai pekerjaan Roh di dalam manusia, kita tidak menyinggung Roh Kudus secara terpisah. Melainkan, kita menyinggung Roh dalam hubungan dengan bagaimana Dia bersaksi bagi Kristus. Selama beberapa hari ini kita sudah berbicara mengenai hayat yang menang. Kita tidak menyinggung soal Roh Kudus. Melainkan, kita menyinggung mengenai bagaimana Tuhan telah bangkit dan telah menjadi hayat kita. Pekerjaan Roh Kudus berhubungan secara langsung dengan Kristus. Ketika seseorang melihat pekerjaan Kristus, dia menerima pekerjaan Roh. Ketika seseorang melihat kematian Kristus, dia menerima kelahiran kembali dari Roh. Ketika seseorang melihat kebangkitan Kristus, dia menerima Roh sebagai hayat. Ketika seseorang melihat Kristus yang terangkat, Tuhan yang duduk di takhta, dia menerima pencurahan Roh.

Pencurahan Roh adalah untuk mempersaksikan Kristus, dan penghunian Roh juga adalah untuk mempersaksikan Kristus. Di satu pihak, Roh Kudus di batin membuat kita mampu untuk menang. Di pihak lain, Roh ini di batin mempersaksikan bahwa Tuhan adalah segala sesuatu bagi kita. Ketika Roh Kudus ada di dalam kita, kita menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23), yang mana adalah Kristus itu sendiri. Allah tidak memberi kita buah-buah Roh yang terpisah-pisah dimana yang satu disebut kasih, yang lainnya disebut sukacita, dan yang ketiga disebut kesabaran, dll. Allah telah memberi kita Kristus yang lengkap. Buah yang disinggung di dalam Galatia 5:22 berbentuk tunggal di dalam bahasa aslinya; hanya ada satu buah. Ini adalah seperti jeruk kepruk (tangerine), yang memiliki sembilan bagian, namun kesembilan bagian itu tetap merupakan satu buah. Jika kita memiliki buah Roh, kita memiliki semuanya. Mustahil jika kita memiliki kasih namun tanpa sukacita, atau memiliki sukacita namun tanpa kesabaran. Allah bergerak di bidang grosiran; Dia tidak bergerak di usaha eceran. Dia hanya memberi kita Kristus. Jika kita memiliki kasih namun tidak memiliki sukacita, itu berarti kita hanya memiliki buah kita sendiri, bukan buah Roh.

Terdapat tiga pasal di dalam Alkitab yang berbicara mengenai Roh Kudus secara rinci. Mereka adalah 1 Korintus 12 sampai 14. pasal dua belas dan empat belas adalah mengenai pencurahan Roh; mereka berhubungan dengan aspek-aspek luaran dari pekerjaan Roh. Pasal tiga belas adalah mengenai kasih; itu berhubungan dengan aspek-aspek batini dari pekerjaan Roh. Jika kita mengganti frasa “buah Roh” dengan kata “kasih,” kita akan melihat bahwa 1 Korintus 13 sebenarnya berbicara mengenai hal-hal yang berasal dari Roh. Butir pertama dari buah Roh adalah kasih. Tanpa kasih, butir-butir lainnya seperti sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran, tidak ada gunanya. Paulus mengejar kasih sebab begitu dia mendapatkan kasih, dia mendapatkan semuanya.

ASPEK BATINI LEBIH PENTING DARIPADA ASPEK LUARAN

Tidak ada perbandingan di antara aspek batini dari Roh dan aspek luaran dari Roh. Lebih jauh lagi, baik pencurahan maupun penghunian, keduanya tidak sepenting hayat yang menang. Allah telah bermurah hati untuk membuat saya menjadi minister dari hayat yang menang dan bukan minister dari pencurahan Roh. Tentu saja, saya juga berbicara mengenai pencurahan. Sangat indah memiliki pencurahan Roh sebagai tambahan dari Roh yang berhuni. Namun sangat mengerikan jika kita memiliki pencurahan Roh, namun kekurangan pengalaman akan Roh yang berhuni. Hal yang terbaik adalah memiliki kedua aspek dari Roh. Jika kita memiliki aspek batini, kita bisa mengejar pekerjaan luaran dari Roh, namun jika kita tidak memiliki aspek batini, tidak apa-apa jika kita untuk sementara waktu mengenyampingkan pengejaran akan manifestasi luaran dari Roh.

Di dalam Perjanjian Lama, setelah para imam membubuhkan darah pada telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan dari orang yang datang untuk ditahirkan, mereka membubuhkan minyak urapan pada tempat yang sama (Im. 14:14-17). Pertama, ada darah, dan kemudian ada minyak urapan. Ini berarti salib harus pertama-tama bekerja atas telinga, tangan, dan kaki kita sebelum kita bisa berjalan dan bekerja oleh Roh Kudus. Salib menyingkirkan ego, sedangkan Roh hidup mewakili kita. Penerapan darah pada telinga, tangan, dan kaki menandakan bahwa darah sudah menghabisi kita dan menyingkirkan kita. Kemudian Roh Kudus datang untuk menggantikan telinga, tangan, dan kaki kita. Pertama-tama ada hayat yang menang, dan kemudian ada pencurahan Roh. Menerima pembubuhan darah Tuhan menandakan bahwa kita sudah mati bersama Tuhan. Pada saat yang sama, hayat-Nya membawa pengurapan kepada kita. Hari ini kita ingin melihat pengurapan atas kepala kita, namun kecuali darah sudah menjalankan tugasnya terlebih dahulu, pencurahan minyak urapan hanya akan membuat kita menjadi sombong.

Kaum beriman Korintus memiliki manifestasi-manifestasi luaran dari Roh, namun mereka tidak memiliki pemenuhan Roh secara batini. Mereka adalah kaum beriman yang bersifat daging. Ada banyak orang hari ini yang sudah menerima pencurahan Roh, namun mereka belum dipenuhi dengan hayat secara batini. Tidak ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka hidup secara sembrono dan tidak berbeda dengan orang-orang milik dunia. Pencurahan tidak ada hubungannya dengan hayat batini. Seseorang mungkin sangat berkarunia namun tidak memiliki hayat yang menang di batinnya. Jika seseorang tidak kudus di dalam hayatnya, tidak ada pemberian karunia dari Roh akan membuat dia menjadi kudus di batin. Namun jika kita memiliki hayat yang tepat di batin dan sebagai tambahan memiliki pemberian karunia Roh di luar, kita akan menjadi orang-orang yang berguna.

Dari semua gereja di dalam Perjanjian Baru, tidak ada yang lebih parah daripada gereja di Korintus. Akan tetapi Paulus tidak menyangkal pengalaman mereka akan pencurahan Roh hanya karena mereka rusak secara batini dan moral. Paulus tidak mengatakan bahwa memiliki pencurahan di dalam sidang-sidang adalah salah. Dia hanya mengatakan bahwa perlu ada keteraturan sebab karunia-karunia luaran bisa menyebabkan kekacauan. Walaupun mereka tidak memiliki keteraturan yang baik, Paulus tidak mengatakan bahwa mereka memiliki roh-roh jahat. Dia hanya memberi instruksi kepada mereka mengenai bagaimana mengatur segala sesuatu secara teratur. Kita seharusnya mengambil sikap yang sama. Jika ada saudara atau saudari yang bertindak abnormal, kita seharusnya mengatur keadaan dan menguji mereka. Akan tetapi, kita tidak seharusnya menganggapnya salah hanya karena itu abnormal. Seseorang mungkin masuk ke dalam sebuah kamar dan menemukan perabotan dan pakaian yang berantakan. Akan tetapi dia tidak bisa mengatakan bahwa perabotan itu bukan perabotan atau bahwa pakaian itu bukan lagi pakaian. Dia hanya bisa mengatakan bahwa perabotan dan pakaian itu berantakan. Ketika hal-hal berantakan, yang diperlukan hanyalah sedikit pengaturan. Paulus hanya membuat sedikit pengaturan. Dia berbicara mengenai menjaga keteraturan dalam berbahasa lidah, dan dia mengatakan bahwa jika tidak ada penafsiran, seseorang tidak seharusnya berbicara (1 Kor. 14:28). Mereka yang bernubuat seharusnya berbuat demikian satu demi satu. Jika terlalu banyak orang yang bernubuat, kekacauan akan masuk. Jadi, dia mengatakan bahwa hanya dua atau tiga orang yang bernubuat. Demikian juga dengan bahasa lidah, hanya dua atau tiga orang yang berbicara. Jika jumlahnya melebih dua atau tiga orang, mereka yang ingin berbicara seharusnya tidak berbicara (ay. 29). Satu Korintus 14 adalah mengenai keteraturan; itu adalah mengenai pengaturan-pengaturan luaran yang muncul setelah pengalaman akan pencurahan Roh. Di masa yang akan datang, kita harus memberi lebih banyak perhatian kepada 1 Korintus 14. Mereka semua yang menganggap dirinya gereja di dalam lokalitas mereka seharusnya memberi perhatian kepada pengalaman akan pencurahan Roh. Kita harus mempelajari kasih di satu pihak dan di lain pihak, mengejar karunia-karunia rohani. Jika kita melakukannya, kita akan menempuh kehidupan yang seimbang

MANFAAT DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Apakah manfaat dari pencurahan Roh Kudus? Jika aspek batini dari Roh lebih penting daripada aspek luaran dari Roh, lalu mengapa kita memerlukan pencurahan Roh? Mereka yang menempuh kehidupan kudus dan yang mengenal Roh sebagai sebuah persona, akan memiliki kekuatan untuk membagikan kekudusan ini dengan orang lain begitu mereka menerima pencurahan Roh. Banyak orang menyadari bahwa mereka memiliki banyak harta tersembunyi di batin, namun mereka tidak bisa membukakan harta tersebut kepada orang lain. Walaupun orang-orang lain mungkin mengagumi atau menginginkannya, mereka tidak bisa mendapatkan bantuan dari mereka. Mereka kekurangan pencurahan Roh Kudus. Sekarang marilah kita melihat manfaat yang praktis dari pencurahan Roh Kudus.

Kekuatan Persekutuan

Hal pertama yang kita dapatkan setelah kita mengalami pencurahan adalah kekuatan persekutuan. Pencurahan membuat kita mampu untuk menyampaikan hal-hal yang ada di dalam kita kepada orang lain. Seseorang mungkin telah menerima sesuatu dari Allah dan mungkin sudah mengumpulkan sesuatu di batin namun belum memiliki kekuatan untuk membagikannya kepada orang lain. Begitu mereka menerima pencurahan Roh, mereka akan mampu untuk membagikan kepada orang lain apa yang ada di dalam mereka. Mereka akan memiliki kekuatan yang luaran untuk menyampaikan hal-hal yang batini ini kepada orang lain. Mereka yang memiliki Roh di batin adalah seperti PLN. PLN mungkin penuh dengan terang, namun seluruh kota mungkin berada di dalam kegelapan. Harus ada kabel listrik untuk menghubungkan PLN ke kota supaya tenaga listrik bisa disampaikan ke seluruh kota. Jika tidak ada tenaga listrik di PLN, maka tidak akan terjadi apa-apa. Akan tetapi, jika ada tenaga listrik di PLN namun tidak ada kabel listrik, juga tidak akan terjadi apa-apa. Kabel penyalur tenaga listrik adalah gambaran dari fungsi pencurahan. Banyak orang memiliki kabel listrik, namun mereka harus menyalakan lilin pada malam hari. Mereka tidak memiliki apa-apa di dalam mereka, namun mereka berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Ini tidak akan berhasil. Kita harus memiliki aspek-aspek Roh yang di luar dan yang di batin. Jika kita sudah melewati pintu gerbang kemenangan, kita akan memiliki sesuatu di batin kita. Kemudian kita bisa melanjutkan untuk mengejar pencurahan sehingga kita bisa diperkuat untuk membagikan apa yang kita miliki dengan orang lain.

Keberanian

Sebagian orang memiliki watak batini yang unggul, namun mereka sangat pemalu. Mereka harus memutuskan beberapa kali sebelum mereka bisa berdiri untuk berbicara atau bersaksi bagi Tuhan. Sebagian orang sudah percaya pada Tuhan, namun mereka takut untuk membagikan traktat injil kepada orang lain. Masih ada sebagian orang di sini hari ini yang belum menerima pencurahan Roh. Saya tidak akan bertanya apakah Anda menginginkan pencurahan, dan saya tidak akan bertanya apakah Anda takut pada pencurahan. Saya hanya akan bertanya apakah Anda bisa seperti mereka yang sudah menerima pencurahan. Anda mungkin memiliki sesuatu yang riil di batin, namun Anda takut untuk membagikannya. Orang lain mungkin tidak memiliki apa-apa, tapi mereka tidak takut. Apa yang kurang dari Anda adalah keberanian mereka. Saya tidak mendorong mereka yang sudah menerima pencurahan untuk bertindak secara sembrono, akan tetapi mereka yang telah menerima pencurahan untuk pertama kalinya, haruslah kuat untuk bersaksi sebab mereka sudah menerima keberanian. Saudara saudari yang sudah menerima pencurahan bisa dibagi menjadi dua kategori. Yang pertama adalah mereka yang masih takut dan malu-malu. Yang kedua adalah mereka yang tidak takut dan berani. Sebelum saya menerima pencurahan Roh, saya bisa mengikuti teman injil sejauh satu atau dua mil dan masih tetap tidak bisa mengumpulkan keberanian yang cukup untuk membuka mulut saya untuk bersaksi kepadanya. Saya memiliki keberanian untuk membaca Alkitab atau berdoa di kereta api, tapi diperlukan usaha yang keras untuk membagikan traktat injil di dalam kereta api yang sama. Setelah saya menerima pencurahan Roh, saya tidak lagi takut pada apapun juga. Saya bahkan tidak peduli dengan bagaimana saya berpakaian. Saya menjadi berani. Saya bukan saja “tebal kulit muka”; saya sama sekali “kehilangan kulit muka.”

Tidak Ada Kesadaran-diri

Kesadaran-diri adalah hal terburuk yang bisa dimiliki oleh seorang Kristen. Seorang yang sadar-diri memperhatikan sebagus apa cara dia berpakaian dan bagaimana orang lain menanggapi perkataannya, dll. Ketika dia diundang ke suatu perjamuan, dia tidak bisa berbicara dengan leluasa mengenai injil kepada orang lain. Dia tidak bisa berbicara kepada seorang asing tanpa mempersiapkan dirinya baik-baik sebelum dia berbicara. Ini adalah karena dia selalu menyadari dirinya sendiri. Dia mungkin bisa berdoa sendirian di dalam kamarnya, akan tetapi ketika dia berada di tempat umum, dia tidak bisa berdoa dalam cara yang sama. Di muka umum, dia mengubah nada, kata-kata, dan ekspresinya dan menjadi takut pada kerutan dahi orang lain. Semua reaksi ini memiliki makna bahwa ada terlalu banyak kesadaran-diri. Orang-orang semacam ini memiliki roh, namun roh mereka tertutup oleh jiwa mereka, dan mereka tidak bisa leluasa. Pernah sekali ada sebuah sidang di ruang tengah seorang saudara. Roh turun, dan semua orang yang hadir dibebaskan. Kebebasan semacam ini bukanlah yang tidak bermoral melainkan suatu kebebasan di dalam roh. Kadang-kadang kita terlalu terikat di dalam sidang-sidang. Ketika ada terlalu banyak ikatan, tidak ada yang berani berbicara. Tn Evan Roberts menyelamatkan banyak jiwa di sepanjang hidupnya. Banyak orang telah mempersaksikan bahwa dia adalah satu-satunya orang di bumi ini yang pernah mereka jumpai yang tidak memiliki kesadaran-diri sama sekali. Ketika dia ingin tertawa, dia tertawa. Ketika dia ingin memandang seseorang, dia akan memandangnya. Hanya mereka yang bebas dari kesadaran-diri bisa bekerja bagi Allah, dan satu-satunya jalan supaya kita bisa dilepaskan dari kesadaran-diri adalah melalui pencurahan Roh. Hanya mereka yang sudah menerima pencurahan yang bebas dari kesadaran-diri.

Mengubah Atmosfir

Seseorang yang dipenuhi dengan Roh Kudus bisa mengubah atmosfir. Ketika sebagian orang masuk ke dalam suatu ruangan, mereka bisa mengubah ruangan yang sunyi menjadi ruangan yang ramai, ruangan yang ramai menjadi ruangan yang sunyi, atau orang-orang yang tidak bisa berbicara menjadi cerewet. Mereka mampu untuk mengubah atmosfir kemana saja mereka pergi. Kegagalan kita terletak pada fakta bahwa kita tidak bisa membawa atmosfir rohani bersama kita kemana saja kita pergi. Kita mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Kita tidak bisa mempengaruhi mereka. Malah kita yang terpengaruh oleh mereka. Akan tetapi, mereka yang sudah menerima pencurahan Roh bisa mengubah atmosfir dan membuat orang lain berpaling bersama mereka. Jika setiap orang dari kita sudah menerima pencurahan Roh, kita semua akan mampu untuk mengubah atmosfir.

Tenaga bagi Pekerjaan

Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh bisa mengejar karunia-karunia rohani. Untuk saat ini, kita tidak akan masuk ke dalam subyek dari karunia-karunia rohani, namun kita akan menyinggung sesuatu mengenai tenaga bagi pekerjaan. Mereka yang belum menerima pencurahan tidak memiliki tenaga bagi pekerjaan. Mereka yang sudah menerima pencurahan diperkuat untuk bekerja bagi Tuhan. Perbedaannya sangat besar. Supaya memiliki tenaga bagi pekerjaan, kita harus memiliki pencurahan Roh.

PERTANYAAN DAN JAWABAN

Pertanyaan: Bisakah Roh Kudus yang berhuni dimanifestasikan dalam cara yang sama Dia dimanifestasikan ketika Dia turun ke atas seseorang?

Jawaban: Ketika Anda percaya pada Tuhan, Roh Kudus masuk ke dalam Anda dan tinggal di dalam Anda. Fakta ini hanya bisa diketahui oleh Anda; tidak ada orang lain yang tahu. Pekerjaan Roh Kudus yang berhuni digenapkan oleh Allah sendiri. Manusia tidak bisa melihat pekerjaan ini. Akan tetapi, ketika Roh turun ke atas seseorang, semua orang bisa melihatnya.

Pertanyaan: Apakah Kisah Para Rasul 8 berbicara mengenai Roh Kudus berhuni di dalam manusia?

Jawaban: Tidak, itu hanya berbicara mengenai Roh turun ke atas manusia.

Pertanyaan: Kisah Para Rasul 19 mencatat dua belas orang beriman Efesus dibaptis ke dalam baptisan Yohanes tanpa pernah mendengar tentang kedatangan Roh Kudus. Ketika Paulus datang kepada mereka, dia bertanya apakah mereka sudah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya, dan mereka menjawab bahwa mereka belum. Mereka juga belum mengalami kedatangan Roh. Apakah orang-orang tersebut akan binasa jika mereka tetap berada di dalam keadaan mereka saat itu?

Jawaban: Murid-murid seminari mungkin menjawab, “Ya, mereka akan binasa sebab mereka belum pernah mendengar atau menerima Roh Kudus. Mereka akan tersesat.” Tapi saya berkata bahwa mereka beroleh selamat dan tidak akan binasa. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin mereka yang belum menerima Roh bisa diselamatkan?” Mereka sudah memiliki iman. Paulus hanya menunjukkan kepada mereka bahwa baptisan mereka itu salah. Itu adalah baptisan pertobatan dari Yohanes. Mereka seharusnya percaya pada Dia yang datang setelah Yohanes—Yesus. Itulah sebabnya mengapa mereka belum menerima Roh. Paulus tidak menyinggung perkara iman kepada mereka. Dengan kata lain, iman bukanlah masalah mereka. Kaum beriman Efesus di dalam Kisah Para Rasul hanya kekurangan dalam hal pencurahan. Mereka tidak kekurangan Roh yang berhuni di dalam Roma 8. lebih jauh lagi, Kisah Para Rasul menyebut mereka dua belas murid. Pada saat itu, setiap orang beriman adalah seorang murid dan setiap murid adalah seorang beriman, yaitu, yang sudah diselamatkan. Mereka hanya kekurangan pengalaman akan Roh turun ke atas mereka. Mereka tidak kekurangan pengalaman akan penghunian Roh. Misalnya beberapa orang dari kita percaya beberapa tahun yang lalu. Begitu kita percaya, kita memiliki Roh berhuni di dalam kita. Setelah sejangka waktu, kita menemukan hal-hal seperti berbahasa lidah, bernubuat, dan pencurahan Roh. Akan tetapi, bahasa lidah dan nubuat bukanlah bukti yang penting dari penghunian Roh. Kita tidak bisa mengatakan bahwa hanya karena seseorang tidak memiliki apa yang disebut dengan bukti-bukti dari pencurahan Roh, dia itu tidak memiliki Roh. Roh Kudus masuk ke dalam seseorang begitu dia percaya dan menerima Tuhan.

Pertanyaan oleh saudara-saudara dari Pin-Yang: Mengapa demikian penting untuk membedakan antara pekerjaan batini dan pekerjaan luaran dari Roh Kudus?

Jawaban: Sulit untuk mengidentifikasi mereka yang sudah memiliki Roh di batin namun tidak memiliki Roh di luar. Akan tetapi, mudah untuk mengidentifikasi mereka yang memiliki Roh di luar tapi tidak memiliki Roh di batin. Misalnya seorang saudara berjabatan tangan dengan saya, dan kemudian bertanya kepada saya, “Berapa banyak orang yang sudah Anda selamatkan? Saya sudah menyelamatkan begitu banyak orang di berbagai tempat. Saya bisa menyelamatkan jiwa-jiwa. Anda tidak perlu mengatakan apa-apa kepada saya.” Perkataan ini adalah pernyataan yang menyombongkan diri. Perkataan itu datang dari mereka yang menerima pencurahan Roh namun hanya memiliki sedikit Roh di batin. Kita harus lebih memperhatikan aspek batini dari pekerjaan Roh Kudus daripada aspek luaran dari pekerjaan-Nya.

LAMPIRAN:

PERBEDAAN ANTARA KELAHIRAN KEMBALI DAN PEMENUHAN

(1) Kelahiran kembali berhubungan dengan keselamatan; pemenuhan berhubungan dengan kemenangan.

(2) Kelahiran kembali adalah perkara hayat; pemenuhan adalah perkara penghidupan.

(3) Pembenaran datang bersama kelahiran kembali; pengudusan datang bersama pemenuhan.

(4) Kelahiran kembali adalah penambahan suatu hayat yang baru yang berbeda dari hayat Adam yang lama; pemenuhan adalah pemenuhan Roh Kudus dan adalah pengembangan dari hayat yang baru yang sudah diterima manusia.

(5) Kelahiran kembali adalah suatu pekerjaan yang digenapkan oleh Roh Kudus melalui kematian Tuhan yang menggantikan di atas salib; pemenuhan adalah hasil dari Roh Kudus menjenuhi seseorang sampai taraf dimana makna penuh dari salib direalisasikan di dalam dirinya.

(6) Kelahiran kembali menandai permulaan hayat; pemenuhan menandai kematangan hayat.

Watchman Nee, Vol 41-23


BAB DUA PULUH SATU

MANIFESTASI DAN BUKTI DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 19 Nopember 1935, pagi hari

Tempat: Chuenchow

PENGALAMAN DI HARI PENTAKOSTA BUKAN

PENGGENAPAN HARFIAH DARI NUBUAT

DI DALAM KITAB YOEL

Pengalaman di hari Pentakosta yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul bukanlah penggenapan yang harfiah dari nubuat di dalam kitab Yoel; itu hanyalah suatu kejadian yang mirip dengan nubuat Yoel. Tidak ada nubuat-nubuat, visi-visi, atau mimpi-mimpi pada hari Pentakosta. Hanya ada bunyi dari langit seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah seperti lidah api (Kis. 2:1-3). Satu-satunya manifestasi pada diri murid-murid adalah bahasa lidah. Namun bahasa lidah tidak disinggung di dalam nubuat di dalam kitab Yoel. Ini membuktikan bahwa Pentakosta bukanlah penggenapan dari perkataan Yoel; itu hanya menunjuk pada kejadian yang serupa.

Seorang pembicara dari aliran Pentakosta yang hebat menyatakan bahwa seseorang harus berbahasa lidah sebagai bukti bahwa dia sudah menerima pencurahan Roh. Namun kita tahu dari perkataan Petrus bahwa pengalaman di hari Pentakosta hanyalah apa yang dibicarakan melalui nabi Yoel. Petrus mengatakan, “Itulah yang difirmankan…” Dia tidak mengatakan, “Itulah penggenapan dari apa yang difirmankan…” ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Sebuah penggenapan adalah suatu realisasi yang harfiah, sedangkan “itulah (this is what is)” hanyalah mengacu kepada kejadian yang serupa. Banyak orang mengira bahwa pencurahan Roh adalah penggenapan dari perkataan Yoel. Sebenarnya, Yoel tidak menyinggung mengenai berbahasa lidah. Banyak orang hari ini melatih rahang mereka sedemikian rupa untuk mencoba berbahasa lidah. Mereka juga berusaha untuk memiliki mimpi. Akan tetapi, itu bukan yang dimaksud oleh Petrus. Dia mengatakan bahwa ketika Roh datang, orang-orang melihat sesuatu yang serupa dengan apa yang dinubuatkan Yoel. Oleh karena itu, kita tidak perlu meniru manifestasi-manifestasi dari pencurahan Roh di hari Pentakosta.

MANIFESTASI-MANIFESTASI YANG BERLAINAN

DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Baru-baru ini ketika saya berada di Shen-yang, Shanghai, Chefoo, dan Chuenchow, saya melihat berbagai macam manifestasi dari pencurahan Roh. Di Chefoo ada yang tertawa terus menerus, sementara yang lainnya menangis. Sebagian merasakan kekuatan atau hal-hal lainnya turun ke atas mereka. Kita harus menyadari bahwa semua manifestasi ini berada di dalam kategori yang dijabarkan Petrus sebagai “Itulah (this is what is).” Mereka bukanlah penggenapan dari perkataan Yoel. Sebagian merasa bahwa mereka menerima sengatan listrik; yang lainnya kelihatannya dilingkupi oleh sesuatu. Sebagian melompat-lompat kemana-mana, sedangkan yang lainnya tetap duduk. Ada segala macam sensasi yang berlainan. Sensasi-sensasi ini terjadi secara alamiah ketika Roh dicurahkan. Petrus mengatakan, “Itulah.” Ketika sebagian orang menerima pencurahan, mereka mungkin menangis atau meratap. Jika saya belum menerima pencurahan, dan saya mengejar pencurahan, saya mungkin tidak mengalami manifestasi yang sama seperti orang lain. Inilah makna dari “itulah.” Setiap orang memiliki jalannya sendiri untuk ditempuh. Kita tidak bisa mengatakan bahwa orang lain itu salah hanya karena mereka mengalami sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah kita alami. Jika seseorang sudah menerima Roh, dan dia bisa mengatakan, “Yesus itu Tuhan,” tidak penting seperti apa manifestasi luarannya. Manifestasi-menifestasi ini adalah urusan Allah, bukan urusan kita. Petrus mengatakan, “Itulah,” dan kita juga seharusnya mengatakan, “Itulah.” Kita tidak seharusnya meniru orang lain atau memaksa orang lain untuk mendapatkan manifestasi yang sama seperti kita.

MENGEJAR PENCURAHAN, NAMUN TIDAK LUPA UNTUK MENGUJI

Sementara kita sedang mengejar pencurahan Roh, kita seharusnya menguji apakah Roh yang turun ke atas kita itu berasal dari Allah atau bukan (1 Yoh. 4:1). Kita harus secara berkesinambungan bekerja sama dengan Roh Kudus dan tidak membiarkan pikiran kita untuk menganggur. Kita tidak seharusnya meniru orang lain, dan tekad kita tidak boleh pasif. Kita tidak seharusnya berusaha untuk terlalu mengendalikan; juga tidak seharusnya kita kehilangan kendali. Roh-roh jahat bisa meniru Roh Kudus dan memberi manusia perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang supranatural. Kita harus menguji apakah yang telah kita terima itu Roh Kudus atau roh-roh jahat. Untuk membedakan di antara pekerjaan dari Roh Kudus dan pekerjaan dari roh-roh jahat, kita harus pertama-tama mengenal prinsip dari pekerjaan Roh Kudus dan roh-roh jahat. Roh Kudus menginginkan manusia untuk bekerja sama dengan-Nya secara aktif, sedangkan roh-roh jahat hanya ingin supaya manusia tunduk kepada pekerjaan mereka secara pasif. Jadi, dalam mengejar pencurahan Roh, kita tidak boleh membiarkan pikiran kita untuk menganggur atau tekad kita menjadi pasif. Roh-roh jahat sangat menyukai sikap yang pasif. Bahkan kedambaan untuk meniru orang lain akan memberi kesempatan kepada roh-roh jahat untuk menggarap kita. Kita harus melaksanakan hal-hal ini secara pasti dan bekerja sama dengan Roh Kudus secara aktif. Dalam segala hal ini, kita harus sangat berhati-hati, kalau tidak kita akan tertipu sebab kita semua bisa ditipu.

Watchman Nee, Vol 41-22


BAB DUA PULUH

SYARAT-SYARAT UNTUK MENERIMA PENCURAHAN

ROH KUDUS, DAN HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI

Tanggal: 18 Nopember 1935, malam hari

Tempat: Chuenchow

SYARAT-SYARAT UNTUK MENERIMA PENCURAHAN

ROH KUDUS

Untuk menerima pencurahan Roh Kudus, kita harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Pertama, kita tidak boleh memiliki dosa-dosa yang kita ketahui dan belum dibereskan di dalam hati kita. Kedua, kita harus lapar dalam roh kita (Yes. 44:3). Ketiga, kita harus berdosa dengan sungguh-sungguh (Kis. 1:14; 2:4; 4:31; 8:14-17).

HAL-HAL YANG HARUS DIWASPADAI

OLEH MEREKA YANG SUDAH MENERIMA

PENCURAHAN ROH

Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh Kudus sudah berkontak dengan dunia rohani. Ketika seseorang yang belum pernah menerima pencurahan Roh membuka pintu menuju dunia rohani, yang tidak dia kenal sebelumnya, dia akan menjamah sesuatu di luar alam jasmani. Sebagian orang memiliki iman, namun mereka tidak bersedia untuk membuka pintu mereka. Ketika seseorang menolak dan tidak mau membuka pintunya, dia tidak akan menerima apa pun dari dunia rohani. Menuntut pencurahan Roh adalah seperti membuka pintu dan merobohkan tembok. Di sisi positif, begitu pintu-pintu tersebut terbuka, akan ada persekutuan rohani. Di sisi negatif, ada bahaya untuk terbuka kepada dunia rohani. Ini adalah seperti membuka pintu untuk teman-teman. Di satu pihak, teman-teman seseorang bisa datang dan pergi sesukanya, tapi di pihak lain, pencuri juga bisa datang dan pergi sesukanya. Kita tidak seharusnya mengatakan bahwa karena pencuri bisa datang dan pergi, akan lebih baik untuk tidak membuka pintunya sama sekali. Tidak, di satu pihak, kita harus membuka pintunya, tapi di pihak lain, kita harus berjaga-jaga setiap waktu.

Menguji Roh

Bagaimana kita bisa berjaga-jaga dan mencegah si jahat supaya tidak masuk ke dalam kita? Pertama, setelah menerima pencurahan Roh, kita harus menguji pengalaman kita. Kita tidak boleh ceroboh dalam perkara ini. Satu Korintus 12:3 dan 1 Yohanes 4:3 memberi tahu kita cara untuk menerapkan ujiannya. Ayat-ayat ini adalah perlindungan kita. Kita harus bertanya kepada mereka yang sudah menerima pencurahan “Roh” apakah Kristus sudah datang dalam daging atau tidak. Kita juga bisa bertanya kepada mereka apakah Yesus itu Tuhan. Kita seharusnya memperhatikan untuk melihat kalau-kalau roh yang ada di atas mereka itu memberi respon dengan mundur. Jika dia mundur, itu berarti dia adalah roh jahat. Tapi jika orang itu bisa berkata, “Yesus itu Tuhan,” dia memiliki Roh Kudus. Kita tidak seharusnya puas dengan sembilan dari sepuluh kali. Kita harus menerapkan ujian ini setiap kali. Tanggung jawab saya mengenai perkara ini sudah selesai. Sekarang tergantung kepada kita untuk berjalan secara tepat di hadapan Tuhan.

Menurut Prinsip 1 Korintus 14

Manifestasi awal dari pencurahan Roh seringkali luar biasa. Kelihatannya seolah-olah Allah membuang semua kekangan. Dia melakukan hal ini supaya kita bisa menerima lebih banyak dari Tuhan. Pengalaman awal dari pencurahan adalah seperti melalui sebuah pintu gerbang. Setelah kita melewati pintu gerbang tersebut, kita harus menenangkan diri dan menempuh kehidupan yang normal di rumah. Tidak perlu meloncat-loncat atau berteriak-teriak, dan tidak perlu mencari-cari perasaan atau pengalaman yang supranatural. Mulai saat itu, kita tidak perlu menerapkan prinsip Kisah Para Rasul 2, melainkan prinsip dari 1 Korintus 14. Prinsip dari 1 Korintus 14 memberi tahu kita bahwa pencurahan Roh di dalam sidang-sidang adalah untuk merawat orang lain bukan diri sendiri. Prinsip ini juga memberi tahu kita bahwa roh-roh para nabi tunduk kepada para nabi (ay. 32). Kita harus memelihara prinsip ini. Kita harus belajar untuk mengendalikan roh kita. Satu Korintus 14 mengatakan bahwa jika ada yang berbahasa lidah, hanya dua orang atau paling banyak tiga orang yang melakukannya, dan mereka seharusnya melakukannya secara bergiliran (ay. 27). Di dalam Kisah Para Rasul 2, semua dari seratus dua puluh orang berbicara, sebab itu adalah untuk pertama kalinya Roh turun. Kemudian prinsipnya berubah di dalam 1 Korintus 14.

Mengendalikan Roh yang Di atas Kita

Roh yang dicurahkan ke atas kita ini adalah tanpa persona. Misalnya, 1 Korintus 12:13 menyinggung mengenai dibaptis ke dalam satu Roh. Roh ini diumpamakan sebagai air dan oleh karena itu tanpa persona. Roh ini tunduk kepada kita (1 Kor. 14:32). Akan tetapi, Roh yang berhuni di dalam kita memiliki persona, dan kita harus tunduk kepada-Nya. Roh yang ada di atas kita tunduk kepada kita, dan kita bisa menyuruh-Nya untuk datang dan pergi. Kita juga bisa menentukan apakah kita menginginkan Dia banyak atau sedikit. Akan tetapi, Roh yang berhuni di dalam kita memiliki persona, dan kita harus menundukkan diri kita kepada-Nya. Di mata Allah, Roh yang di atas kita adalah seperti sebuah elemen. Jika kita tidak berhati-hati, Satan bisa datang dan memalsukannya. Orang-orang Pentakosta salah dalam hal ini sehingga mereka dikuasai oleh roh yang ada di atas mereka. Itulah sebabnya terdapat kekacauan di antara mereka. Kita tidak bisa mengikuti cara mereka. Kita harus mentaati Roh yang ada di dalam kita, namun kita harus mengendalikan Roh yang di atas kita. Baik di rumah ataupun di sidang-sidang, kita harus belajar untuk mengendalikan Roh yang ada di atas kita dalam menuntut pencurahan.

PENERAPAN DARI PENCURAHAN ROH KUDUS

Ada dua hal yang perlu kita ketahui tentang pencurahan Roh Kudus. Pertama, jika kita belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan, pencurahan itu tidak akan banyak membantu dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika seseorang menerima pencurahan Roh namun belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan, pengalamannya akan Roh itu akan berkurang setelah beberapa hari. Dia akan menjadi seperti ban sepeda yang bocor, dan dia tidak akan mampu untuk pergi terlalu jauh. Dia akan harus mencari Roh itu sekali lagi. Kapankala dia menjadi dingin, dia harus mencari pencurahan sekali lagi. Inilah kondisi awal dari pencurahan pada seseorang yang belum pernah melewati pintu gerbang kemenangan.

Setelah seseorang menerima pencurahan Roh, dia seharusnya langsung menerapkan kuat kuasa yang mengikuti pencurahan tersebut untuk membantu orang-orang Kristen atau untuk memberitakan injil. Sebelum pencurahan, dia mungkin tidak berdaya untuk memberitakan injil atau untuk membantu kaum beriman. Tapi setelah dia menerima pencurahan, dia seharusnya langsung menerapkan kuat kuasa ini untuk memberitakan injil dan merawat kaum beriman. Jika dia tidak menerapkan kuat kuasa ini, dia akan, secara esensial, mengubur talentanya di dalam tanah. Begitu seseorang menerima kuat kuasa Roh, dia harus memberitakan injil dan menjadi seorang pemenang dalam injil. Kegagalan dari beberapa pengikut aliran Pentakosta adalah di dalam fakta bahwa mereka telah membuat pencurahan Roh menjadi semacam hiburan. Setelah mereka menerima pencurahan, mereka berbahasa lidah atau tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi, kemudian mereka pulang ke rumah dan sama sekali tidak menerapkan kuat kuasa yang telah mereka terima. Ini adalah seperti seseorang dengan tubuh yang sehat tidak melakukan apa-apa selain bermain bola selama delapan jam sehari. Kehidupan semacam itu tidak normal. Pencurahan Roh bukan untuk hiburan, melainkan supaya kita hidup dan bekerja bagi Tuhan.

Terlebih lagi, begitu seseorang menerima pencurahan Roh, dia seharusnya langsung berdoa untuk meminta karunia. Misalnya seseorang belum pernah memiliki pengalaman akan pencurahan Roh. Ketika hal itu terjadi, dia seharusnya langsung meminta karunia-karunia kepada Allah. Dia seharusnya meminta kepada Allah kasih karunia apa pun yang dia kehendaki. Setelah seseorang menerima pencurahan, dia bahkan bisa menjadi sedikit serakah akan apa yang dia minta dari Tuhan. Tentu saja, dia tidak bisa membuat pencurahan menjadi suatu perkara untuk dibanggakan, dan dia juga tidak seharusnya menyombong kepada orang lain mengenainya. Melainkan, dia seharusnya mengizinkan kasih karunia dan kuat kuasa Allah untuk dimanifestasikan melalui dirinya dan kemuliaan-Nya bersinar melalui dirinya.

MEMPERSAKSIKAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Anda seharusnya memperhatikan beberapa hal ketika bersaksi mengenai pencurahan Roh Kudus. Pertama, jika Anda memiliki pengalaman akan pencurahan dan seseorang bertanya mengenainya, Anda seharusnya tidak memberi tahu perincian dari pengalaman Anda. Dalam mempersaksikan kepada orang lain mengenai pengalaman Anda akan pencurahan, Anda harus mengikuti beberapa prinsip:

Pertama, Anda tidak seharusnya mendiskusikan perincian dari pengalaman Anda. Di dalam Perjanjian Baru, kitab Kisah Para Rasul mencatat banyak manifestasi dari pencurahan Roh, seperti berbahasa lidah dan diperkuat bagi injil. Namun kita tidak diberi tahu perincian dari pengalaman-pengalaman itu. Mereka yang menerima pencurahan, hanya mempersaksikan secara umum. Mereka tidak pernah mengatakan sesuatu mengenai perinciannya.

Kedua, Anda tidak seharusnya terlalu menekankan pengalaman-pengalaman tersebut. Banyak dari mereka yang menuntut pencurahan Roh Kudus bersifat ingin tahu. Pengalaman orang lain akan pencurahan tidak akan membantu mereka sama sekali. Dalam menceritakan pengalaman Anda kepada orang lain, sangat mudah bagi mereka untuk mengambil pengalaman Anda sebagai standar. Akan tetapi, sebenarnya, manifestasi-manifestasi dari pencurahan itu berlainan pada orang-orang yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa Anda tidak boleh terlalu menekankan pengalaman-pengalaman Anda.

Ada satu butir lagi yang patut untuk diperhatikan: orang-orang Pentakosta menerima pencurahan Roh melalui “mencari,” sedangkan kita menerimanya melalui “percaya.” Kita percaya bahwa Yesus dari Nazaret sudah ditinggikan oleh Allah untuk menjadi Tuhan dan Kristus. Dia telah duduk di takhta, dan Dia sudah mencurahkan Roh-Nya. Kita mempercayai dan menerima fakta ini. Pencurahan Roh adalah demi tujuan untuk memikul kesaksian akan peninggian Yesus. Itu bukan demi tujuan untuk membuktikan bahwa Allah sudah mendengar doa kita atau bahwa Dia menerima permohonan kita. Pencurahan Roh itu sangat bertalian dengan peninggian Tuhan Yesus; tidak bertalian dengan doa-doa kita atau perbuatan-perbuatan baik kita. Kita harus meninggikan Tuhan, bukan diri kita sendiri. Kita harus memberi kemuliaan kepada-Nya bukan kepada diri kita sendiri. Kita harus bermegah dalam Tuhan, bukan dalam diri kita sendiri.