Monday, August 15, 2011

Watchman Nee, Vol 41-21


BAB SEMBILAN BELAS

PENJELASAN MENGENAI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tanggal: 18 Nopember 1935, jam 3 sore

Tempat: Chuenchow

Tidak mudah untuk berbicara mengenai pencurahan Roh Kudus di sini. Kita mungkin memerlukan sepuluh hari untuk membahas subyek ini dan tetap tidak selesai. Saya hanya bisa berbicara sedikit dikarenakan waktu. Ini bukan berarti Alkitab hanya membicarakan sedemikian banyak mengenai perakra ini, melainkan saya hanya bisa membuat beberapa komentar di sana sini. Untuk saat ini saya tidak bisa masuk ke kedalamannya. Kita akan terus berdoa sambil mengkaji dan meminta Tuhan untuk memberi kita lebih banyak terang.

PENCURAHAN ROH KUDUS DAN

PENCURAHAN ROH-ROH JAHAT

Mengenai manifestasi luaran dari pencurahan Roh, banyak orang tercengang akan fenomena yang luar biasa. Selama delapan atau sembilan tahun terakhir ini, saya sudah mengkaji perkara ini dan menemukan bahwa memang fenomena aneh tercatat di dalam Alkitab. Akan tetapi manifestasi-manifestasi yang luar biasa itu belum tentu merupakan sebuah bukti dari pencurahan Roh Kudus. Bukti yang alkitabiah mengenai hal ini ada di dalam 1 Korintus 12:1-3. Ayat 1 menyinggung karunia-karunia rohani. Kata “karunia“ dicetak miring untuk mengindikasikan bahwa kata ini tidak ada di dalam teks aslinya. Paulus bukan sedang berbicara mengenai karunia-karunia rohani, melainkan mengenai pneumatekos, atau inspirasi rohani. Orang-orang seperti Govett, Pember, dan Panton, semuanya setuju bahwa kata tersebut seharusnya diterjemahkan sebagai berhubungan dengan inspirasi rohani. Ini mengacu kepada tindakan-tindakan luar biasa yang dilakukan oleh seseorang yang dirasuki Roh. Kata “dipikat dan ditarik” di dalam ayat 2 mengacu kepada pengalaman rohani yang seperti ilmu sihir. Di dalam bahasa aslinya, itu mengacu pada pimpinan dan pikatan yang luar biasa dan tidak biasa; ini adalah supranatural. Paulus ingin supaya orang-orang Korintus mengenal tentang perkara inspirasi-inspirasi rohani. Hari ini kita akan melihat perbedaan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat. Paulus memang mendiskusikan mengenai manifestasi-manifestasi luaran dari kedua hal ini. Dia memahaminya, namun dia tidak membicarakannya. Paulus tidak membicarakannya, namun kita harus memperhatikannya. Sulit untuk membedakan keduanya melalui manifestasi-manifestasi luaran mereka. Walaupun secara luaran mereka kelihatannya sama, secara batini ada perbedaan yang besar.

PERBEDAAN ANTARA PENCURAHAN-PENCURAHAN

ADALAH KATA-KATA YANG DIUTARAKAN

Perbedaan yang utama di antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat adalah pada kata-kata yang diutarakan, bukan pada gerak-gerik tubuh atau sikap dari seseorang. Satu Korintus 12:3 mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata, ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” Apakah seseorang sudah menerima pencurahan Roh Kudus atau tidak bisa dibedakan melalui kata-kata yang dia ucapkan. Makna dari bagian yang terakhir dari ayat 3 adalah bahwa seseorang bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan hanya ketika dia berada di dalam Roh Kudus. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipalsukan. Jika seseorang tidak berada di dalam Roh Kudus, dia tidak bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka yang tidak bisa mengatakan ini telah menerima pencurahan roh-roh jahat. Kita bisa menggunakan metode ini untuk menguji dan memeriksa mereka yang mengatakan bahwa mereka sudah menerima roh. Mereka yang bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, sudah menerima pencurahan Roh Kudus. Mereka yang tidak bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, telah menerima pencurahan roh-roh jahat. Ketika Anda menanyakan pertanyaan ini kepada seseorang, mereka mungkin akan pergi. Ini mencurigakan. Akan tetapi, jika seseorang bisa mengatakan, “Tuhan, aku tidak layak; ini adalah kasih karunia-Mu,” dia masih berada di dalam Roh Kudus.

Kita tidak boleh dikejutkan oleh fenomena luar biasa. Jika suatu inspirasi bersifat biasa dan umum, itu bukan lagi inspirasi rohani. Mereka yang memiliki inspirasi dari Roh adalah mereka yang memiliki Roh di dalam mereka. Sebagai orang-orang yang demikian, mereka tentunya berbeda dari orang-orang biasa.

PERBEDAAN DI ANTARA PRINSIP PEKERJAAN ROH KUDUS

DAN PEKERJAAN ROH-ROH JAHAT

Kita juga bisa mengenal perbedaan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat melalui prinsip yang dengannya kedua roh itu bekerja. Ada dua syarat bagi roh-roh jahat untuk dicurahkan kepada manusia atau untuk merasuki manusia. Pertama, tekad harus pasif. Mereka yang pasif, mudah dirasuki roh-roh jahat. Jadi, seorang Kristen tidak boleh pasif. Kedua, pikirannya pasti kosong. Banyak orang malas dalam pikiran mereka; mereka tidak suka melatih pikiran mereka. Orang-orang seperti itu juga mudah diperdayai oleh roh-roh jahat. Ada suatu perbedaan yang besar dalam prinsip di antara pencurahan Roh Kudus dan perasukan oleh roh-roh jahat. Perbedaan yang utama terletak pada kondisi pikiran dan tekad. Mereka yang sudah menerima pencurahan Roh Kudus memiliki dua karakteristik: pikiran mereka jernih, dan tekad mereka tidak pasif. Orang-orang ini bertindak menurut kemauan mereka sendiri, dan tidak dikendalikan oleh kekuatan dari luar. Roh Kudus mengharapkan kita untuk melatih tekad kita untuk bekerja sama dengan Dia secara aktif. Ini sama sekali berbeda dengan roh-roh jahat, yang menuntut supaya manusia tetap pasif dalam tekadnya supaya mereka bisa menggarapnya. Di dalam cara ini kita bisa membedakan antara pencurahan Roh Kudus dan pencurahan roh-roh jahat.

SYARAT BAGI PENCURAHAN ROH KUDUS

Tidak Memiliki Dosa-dosa yang Tersembunyi atau

Dosa-dosa Yang Mana Seseorang Menolak untuk Membereskannya

Untuk memiliki pencurahan Roh Kudus, kita harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, kita tidak boleh memiliki dosa-dosa yang tersembunyi di hadapan Tuhan, juga dosa-dosa yang mana kita menolak untuk membereskannya. Jika seseorang memiliki dosa yang tersembunyi, dia mungkin tertipu oleh roh-roh jahat ketika dia berdoa bagi pencurahan Roh Kudus. Ketika dia memberi tempat di dalam hatinya untuk dimasuki roh-roh jahat, mereka pastinya akan masuk dan merasuki dia.

Tidak Pasif dalam Tekad

Kedua, kita harus dengan aktif meminta Roh Kudus untuk turun ke atas kita. Perasukan oleh roh-roh jahat tidak memerlukan partisipasi aktif kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu secara pasif dan mereka akan datang. Ada yang berdoa, “Jika ini adalah Roh Kudus, aku mau mengambilnya, dan jika ini adalah roh-roh jahat, aku tidak mau mengambil mereka.” Doa-doa semacam ini juga masih terlalu pasif. Cara kita bekerja sama dengan Roh Kudus adalah sebagai berikut: Ketika Roh Kudus datang, Dia akan bertanya, mungkin dengan suatu suara yang kecil, mengenai berapa banyak kita bersedia untuk mengizinkan Dia menduduki kita. Sampai tingkat mana kita mengizinkan Dia untuk masuk akan menjadi tingkatan dimana Dia menduduki kita. Keputusannya ada di tangan kita. Segala sesuatu yang bertindak berlawanan dengan pola ini adalah kepasifan dan bukan pekerjaan Roh Kudus; itu adalah pekerjaan roh-roh jahat. Roh Kudus hanya turun ke atas kita ketika kita mengatakan bahwa kita menginginkan Dia. Roh Kudus tidak bertindak sendirian; kita harus memulainya, dan kemudian Roh Kudus akan memberi respon. Jika Roh Kudus mendorong kita untuk tertawa, itu adalah dikarenakan kita sudah pertama-tama menetapkan untuk tertawa. Roh Kudus kemudian menyuplai kita dengan energi untuk tertawa. Inilah kerja sama yang sedang saya bicarakan. Ketika kita berdoa bagi pencurahan Roh Kudus, kita harus pada saat yang sama berdoa untuk penudungan darah Tuhan yang mustika. Jika kita melaksanakan apa yang harus kita lakukan, Roh Kudus akan melaksanakan apa yang harus Dia lakukan.

Seorang saudara menutup dirinya rapat-rapat. Dia berdoa, “O Roh Kudus, jika Engkau mau datang, datanglah.” Dia berdoa seperti ini selama beberapa jam, namun Roh Kudus tidak datang kepadanya. Doanya tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, Roh Kudus tidak turun ke atasnya. Roh Kudus hanya bisa bekerja jika ada kerja sama dari tekad kita. Ini adalah seperti naik kuda. Tali kekang kuda ada di tangan orang yang mengendarainya. Ketika tali kekangnya dilonggarkan, kuda itu bisa berlari menurut kehendaknya sendiri, akan tetapi tidak peduli betapa cepatnya dia berlari, tali kekangnya masih berada di tangan si pengendara. Prinsip yang sama berlaku dalam mengalami pencurahan Roh Kudus. Di satu pihak, kita harus merelakan supaya Roh bisa memiliki kebebasan yang penuh. Di lain pihak, tekad kita harus memenuhi fungsinya. Kalau tidak, kita akan kehilangan kendali.

ALASAN PENCURAHAN ROH KUDUS

Kita juga harus mengenal alasan pencurahan Roh Kudus. Petrus mengatakan di dalam Kisah Para Rasul 2:33, “Sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima dari Bapa, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya Roh itu seperti yang kamu lihat dan dengar di sini.” Kemudian di dalam ayat 36 dia berkata, “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." Kata “jadi” di dalam ayat 36 mengacu kepada ayat 33, yang berbicara mengenai Allah meninggikan Tuhan. “Jadi,” yaitu, demi tujuan untuk membuktikan bahwa Yesus sudah ditinggikan, Roh Kudus dicurahkan, seperti yang terlihat dan terdengar pada hari Pentakosta. Pencurahan Roh Kudus adalah demi tujuan untuk membuktikan kepada kaum Israel bahwa Yesus dari Nazaret telah ditinggikan, dan bahwa Dia sudah mendapatkan kemenangan. Jika Tuhan belum ditinggikan, tidak ada kemungkinan untuk pencurahan Roh. Meneriman pencurahan Roh bukan untuk tujuan membuktikan iman kita atau kemenangan kita. Itu adalah bertujuan untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus.

Syukur dan puji Dia. Jika peninggian Tuhan adalah sebuah fakta, maka pencurahan Roh juga pasti adalah fakta. Sebaliknya, jika Tuhan tidak ditinggikan, Roh Kudus tidak mungkin sudah dicurahkan. Tuhan tersalib dan mencurahkan darah-Nya bagi pengampunan dosa-dosa. Setiap orang yang percaya pada-Nya bisa menerima pengampunan dosa-dosa. Dalam prinsip yang sama, seseorang tidak boleh mengatakan bahwa walaupun Tuhan sudah ditinggikan untuk menjadi Tuhan dan Kristus, dia belum menerima pencurahan Roh. Ini adalah mustahil. Kita harus berani untuk mengatakan bahwa Tuhan sudah ditinggikan ke takhta. Semoga Tuhan memenuhi diri kita. Kita memerlukan iman yang penuh untuk percaya pada Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang sudah digenapkan.

Watchman Nee, Vol 41-20


BAB DELAPAN BELAS

PENCOBAAN, KEGAGALAN, DAN KEMAJUAN

DALAM HAYAT YANG MENANG

Tanggal: 18 Nopember 1935, jam 9 pagi

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:16

Ada dua hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang beriman sebelum dia bisa menang: merelakan dan percaya. Juga ada dua hal yang seharusnya dia lakukan setelah menang: mengaku dan berkonsikrasi. Kemenangan adalah sebuah pintu gerbang dan juga sebuah jalan. Dua hal yang pertama membuat seseorang mampu untuk melewati pintu gerbang, sedangkan dua hal yang terakhir menopang seseorang di jalan tersebut. Bagaimanakah seharusnya seorang beriman bertindak tanduk hari demi hari setelah dia melewati pintu gerbang kemenangan? Apa yang seharusnya dia lakukan? Bagaimanakah hayat yang menang bisa terjaga, dan bagaimanakah dia bisa terus maju di dalam jalan kemenangan? Kita harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini satu demi satu.

KEHIDUPAN YANG SEHARUSNYA DITEMPUH SESEORANG

SETELAH MELEWATI PINTU GERBANG KEMENANGAN

Setelah kita melewati pintu gerbang kemenangan, kehidupan sehari-hari kita seharusnya tidak berbeda dari hari pertama kita menang. Setiap pagi kita seharusnya menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mengizinkan Dia untuk menjaga, melindungi, dan menopang kita. Pada saat yang sama, kita seharusnya memenuhi diri kita dengan ucapan syukur dan pujian. Kita harus berkata kepada Tuhan, “Allah, di mata-Mu aku masih tetap lemah dan aku masih tidak bisa melakukan apa-apa. Aku belum berubah. Tapi aku bersyukur pada-Mu, Tuhan, sebab Engkau masih hayatku hari ini. Engkau masih kekudusanku hari ini, dan Engkau masih kemenanganku hari ini. Aku percaya bahwa Engkau akan memperhidupkan hayat-Mu di dalamku sepanjang hari ini. Allah, aku bersyukur dan memuji-Mu sebab segalanya adalah berdasarkan kasih karunia-Mu; Putra-Mu telah menggenapkan segalanya bagiku.” Tidak peduli bagaimanakah perasaan kita, kita harus percaya bahwa Tuhan sedang hidup di dalam kita, dan kita harus berdiri di atas fakta ini. Kita seharusnya sangat jelas bahwa Tuhan ada di dalam kita dan bahwa bukan lagi kita yang hidup, melainkan Tuhan yang hidup di dalam kita.

Setelah kita melewati pintu gerbang kemenangan, kita harus mempertahankan sikap yang tepat. Setiap hari kita harus memberi tahu Tuhan bahwa tidak ada kebaikan di dalam diri kita sendiri, bahwa kita ini masih sama jahatnya seperti dahulu, dan bahwa kita penuh dengan dosa. Oleh diri kita sendiri, kita tidak mampu untuk melakukan apa pun, hanya Tuhan yang mampu. Kapankala kita mengira bahwa kita bisa melakukan sesuatu, Tuhan tidak akan melakukan apa-apa bagi kita, dan kita akan langsung gagal. Kita akan menang hanya jika kita tidak menang oleh diri kita sendiri. Salah satu kidung mengatakan, “Waktu hati agak bangga, nyaris aku terjerembab” (Kid. 423). Ini memang benar. Saudara-saudara, kita harus menyadari bahwa kita ini masih tetap sama; kita tidak berubah sama sekali. Satu-satunya pendirian kita di hadapan Tuhan seharusnya hanyalah mendeklarasikan bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Singkatnya, setelah melewati pintu gerbang kemenangan, kehidupan sehari-hari kita mencakup (1) menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan, (2) mengakui bahwa kita tidak bisa, (3) percaya bahwa Tuhan hidup di dalam kita, dan (4) bersyukur dan memuji Dia.

JALAN UNTUK MENGALAHKAN PENCOBAAN

Hayat yang menang adalah hayat yang mengalahkan pencobaan. Setelah kita menerima hayat yang menang, masih mungkin bagi kita untuk menjumpai pencobaan. Tuhan juga menjumpai pencobaan-pencobaan, namun Dia mengalahkan mereka. Demikian juga, kita tidak bisa menghindari pencobaan, tapi kita bisa mengalahkan mereka. Hari demi hari kita menemui dua macam pencobaan. Jenis yang pertama adalah pencobaan yang muncul mendadak; mereka tidak memberi kita kesempatan untuk memikirkannya. Sebelum kita bisa memikirkan dan mendoakannya, kita sudah berdosa. Pencobaan macam ini tidak terbatas oleh waktu tertentu; mereka muncul kapan saja. Jenis yang kedua adalah pencobaan yang muncul perlahan-lahan. Kita bisa mempertimbangkannya, dan mereka datang sebagai usulan dan proposal yang semakin lama semakin meningkat. Jenis yang satu tidak memberi waktu kepada seseorang untuk berpikir, sedangkan jenis yang satunya lagi memberi waktu bagi seseorang untuk memikirkannya. Kita mungkin mengira bahwa pencobaan yang memberi kita waktu untuk berpikir itu mudah untuk ditaklukkan, dan bahwa pencobaan yang tidak memberi kesempatan untuk berpikir adalah sulit untuk ditaklukkan. Sebenarnya, kita bisa mengalahkan kedua jenis pencobaan ini. Ada dua jalan untuk membereskan kedua jenis pencobaan tersebut.

Jalan untuk Membereskan Pencobaan yang Mendadak

Tidak ada waktu untuk bersiap-siap untuk pencobaan-pencobaan yang mendadak dan bersifat instan ini. Oleh karena itu, kita tidak bisa membereskan mereka secara seketika. Jauh sebelum pencobaan semacam ini muncul, kita harus mempersiapkan pertahanan kita. Di dalam peperangan di antara dua bangsa, mereka tidak bisa bersiap-siap untuk berperang hanya setelah musuh sudah mulai menyerang. Mereka harus mempersiapkan garis pertahanan jauh sebelumnya dan meminta penyelamatan Tuhan sebelum waktunya. Setiap pagi, kita harus berdoa kepada Tuhan dan meminta Dia untuk melepaskan kita dari pencobaan-pencobaan yang mendadak. Kita harus meminta Dia untuk melepaskan kita dari pencobaan-pencobaan yang tidak memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir. Seringkali seseorang berdosa dikarenakan dia belum memasang alarm sebelumnya. Tentu saja, Tuhan kadang-kadang mengizinkan pencobaan untuk menimpa kita secara mendadak. Ketika pencobaan semacam itu muncul, apakah yang harus kita lakukan? Kita harus ingat bahwa iman adalah perisai (Ef. 6:16). Iman itu bukan tang. Banyak orang memakai iman seolah-olah iman itu adalah tang; mereka mencoba untuk mencungkil panah-panah yang telah menusuk tubuh. Akan tetapi iman tidak berfungsi sebagai tang. Iman adalah sebuah perisai. Iman adalah sesuatu yang diletakkan di antara diri kita dan Satan. Ketika panah-panah itu datang, mereka menghantam perisai dan terpental. Kita tidak memasang perisai di belakang kita. Jika perisai ada di belakang kita, akan sulit baginya untuk melindungi kita dari panah-panah.

Setiap pagi kita harus meninggikan iman ini di hadapan Allah. Baru Anda akan bertahan dari pencobaan tanpa menyadarinya. Sangat sedikit orang Kristen yang tahu apakah perisai iman itu. Kita memerlukan perisai iman bahkan sebelum pencobaan datang. Jika hal pertama yang Anda lakukan di pagi hari adalah percaya, Anda sedang meninggikan perisai iman, dan panah-panah dari Satan akan rontok. Jika Anda meninggikan iman Anda seperti ini untuk menahan musuh hari demi hari, Anda akan menemukan pada suatu hari—hari yang mulia—bahwa banyak panah telah rontok.

Roma 1-2 adalah mengenai dosa manusia, sedangkan Roma 4-5:15 adalah mengenai keselamatan Allah. Roma 5:12 memberi tahu kita bahwa kita berdosa karena kita berbagian dalam hayat Adam. Itulah sebabnya mengapa kita berdosa tanpa perlu berusaha. Tidak perlu bagi kita untuk mengerahkan usaha untuk marah-marah. Begitu kita terprovokasi, kita marah. Tidak perlu bagi kita untuk menetapkan untuk berbuat dosa, sebab kita berbagian dalam hayat yang sama dengan Adam, yaitu hayat yang penuh dosa. Roma 5:15 mengatakan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” Di masa lampau, manusia lama kita diikatkan kepada Adam, tapi hari ini Tuhan telah membuat kita menjadi satu dengan Kristus. Di masa lalu, kita berdosa tanpa menyadarinya sama sekali, namun hari ini kita bisa bersabar, rendah hati, dan mengasihi tanpa menyadarinya. Ini membuktikan realitas dari persatuan kita dengan Tuhan. Sama seperti kita berdosa secara spontan dan tanpa usaha ketika kita berada di dalam Adam, demikian juga kita bisa menang secara spontan dan tanpa usaha ketika kita berada dalam Kristus dan diikatkan dengan-Nya. Di dalam jalan ini, hayat Kristus diperhidupkan dari diri kita. Kita akan tercengang pada keunggulan dan kekuatan dari hayat Tuhan. Jika kita percaya, hayat Kristus akan dimanifestasikan di dalam kita hari demi hari.

Membereskan Pencobaan yang Meningkat secara Bertahap

Pencobaan jenis kedua bersifat bertahap dan semakin meningkat. Satan memberi kita usulan secara bertahap dan sedikit demi sedikit. Pencobaan-pencobaan ini bersifat semakin meningkat. Tidak perlu meminta tenaga kepada Tuhan untuk mengalahkan pencobaan semacam ini. Cara yang terbaik untuk mengalahkannya adalah dengan berdiri di atas dasar seorang berdosa begitu mereka muncul. Kita seharusnya mengambil pendirian sebagai seorang pasien yang mencari dokternya dan yang menyerahkan seluruh dirinya kepada dokter tersebut. Kita seharusnya berbicara kepada Tuhan seperti seorang pasien: “Pikiran dan pemikiranku cenderung mengarah pada dosa. Aku mudah marah. Aku tidak bisa menolak apapun juga. Aku tidak ada harapan. Aku minta supaya Engkau menolaknya bagiku.” Kita harus mengambil pendirian bahwa kita sudah mati bersama Tuhan. Satan mungkin datang dengan berbagai macam pencobaan, namun prinsipnya adalah sama. Dia tidak perlu membuat kita berbuat dosa secara langsung. Sasaran dari pencobaannya adalah untuk menghasut kita supaya kita bertindak oleh diri kita sendiri. Posisi kita adalah di dalam Kristus; ini adalah satu-satunya tempat yang aman. Jika kita tetap tinggal di dalam posisi ini dan mengizinkan Tuhan untuk melakukan segalanya, Satan tidak akan mampu untuk melakukan apa-apa kepada kita. Akan tetapi, begitu kita bergerak, bahkan dalam hal-hal seperti berdoa, meminta Tuhan untuk menguatkan kita untuk menahan pencobaan tersebut, atau membuat ketetapan untuk tidak berbuat dosa, kita akan menemukan bahwa Satan mengungguli kita dan mengalahkan kita sebab kita telah keluar dari daerah aman.

SIKAP DARI KEHIDUPAN YANG MENANG

Bagian di atas mencakup langkah-langkah yang seharusnya diambil seseorang untuk menempuh kehidupan di belakang pintu gerbang kemenangan. Sekarang kita harus mengenal sikap yang seharusnya diambil seseorang untuk mempertahankan kehidupan yang menang. Banyak orang sudah melakukan hal-hal yang kita singgung di atas, namun mereka secara konstan takut kalau-kalau Tuhan tidak akan datang kepada mereka, dan mereka kuatir bahwa mereka akan gagal jika Dia tidak datang. Untuk menempuh kehidupan yang menang, kita harus memperhatikan sikap kita. Kita harus dengan iman menyingkirkan semua rasa takut dan mengizinkan Tuhan untuk mengambil alih segalanya. Ketika Tuhan bersama-sama dengan murid-murid di tepi laut, Dia menyuruh murid-murid untuk bertolak ke seberang (Mrk. 4:35). Dia tidak menyuruh mereka untuk pergi ke dasar laut, melainkan ke seberang laut. Akan tetapi murid-murid itu tidak mempercayai perkataan-Nya. Ketika badai muncul, mereka kalap dan sangat ketakutan. Mereka tidak memiliki iman, dan mereka meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu. Sering kali, semakin nyaring doa kita, semakin sedikit iman di dalam doa kita itu. Kadang-kadang, semakin kita berdoa dengan sungguh-sungguh, semakin itu menunjukkan bahwa kita tidak memiliki iman. Iman adalah percaya pada firman Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa murid-murid akan pergi ke seberang, bukan pergi ke dasar laut. Jika mereka memiliki iman, mereka semua bisa tidur nyenyak. Memiliki iman berarti tidur bersama Tuhan. Jika seseorang tidak memiliki iman, dia tidak bisa tidur bersama Tuhan. Jika seseorang memiliki iman, bahkan jika dia tidak tidur, dia masih bisa pergi ke buritan perahu dan berbicara kepada ombak. Dia bahkan bisa mengejek ombak dengan mengatakan, “Engkau kurang kuat. Engkau kurang ganas.” Orang yang memiliki iman memiliki damai sejahtera; dia memiliki damai sejahtera di dalam dan di luar. Satan tidak bisa mengalahkan orang semacam itu. Jadi, kemenangan adalah percaya pada perkataan Allah dan kekuatan-nya. Sikap dari kehidupan yang menang adalah sepenuhnya damai sejahtera melalui iman.

APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA GAGAL

Setelah seorang beriman sudah menang, dia tidak seharusnya berdosa lagi dalam perkara pekerjaan, perawatan, dan perintah Allah. Akan tetapi, mereka yang sudah melewati pintu gerbang kemenangan mungkin terkejut menemukan diri mereka bisa berdosa lagi. Walaupun jelas bagi mereka bahawa mereka berdosa di masa lalu, mereka bertanya-tanya mengapa mereka masih berdosa setelah mereka seharusnya sudah melewati pintu gerbang kemenangan. Mungkin ada yang bertanya, “Jika seseorang yang sudah menang masih berbuat dosa, lalu apa manfaatnya kemenangan ini baginya?” Ada perbedaan yang besar. Ada tiga perbedaan di antara seorang pemenang dan seorang yang belum menang dalam perkara berbuat dosa. Pertama, sebelum seseorang menang, dosa adalah sesuatu yang wajib dan tidak bisa tidak. Dia tidak memiliki pilihan lain selain berdosa. Ada suatu kekuatan di dalam dirinya yang memaksa dia untuk berbuat dosa. Setelah seseorang menang, situasinya sama sekali berbeda. Dosa itu insidentil, dan dilakukan karena kelalaian atau kecerobohan. Kedua, sebelum seseorang menang, dia melakukan dosa yang sama berulang kali. Dia memiliki apa yang disebut dengan dosa pribadi yang secara khas adalah miliknya. Dia melakukan dosa yang sama terus menerus. Setiap orang hanya memiliki tiga sampai lima macam dosa yang berulang-ulang. Beberapa dosa ini secara konstan menjeratnya. Akan tetapi setelah seseorang menang, situasinya berubah sama sekali. Dia masih berdosa, tapi hanya sekali-sekali. Dosa-dosa yang sering itu tidak lagi mengganggu dia; mereka hanya menyusul dia secara insidentil. Ketiga, sebelum seseorang menang, melanjutkan persekutuan yang jernih bersama Tuhan setelah dia melakukan dosa adalah sulit dan lama. Namun setelah dia menang, dia bisa dengan cepat memulihkan persekutuannya dengan Tuhan jika dia berbuat dosa lagi. Ini adalah dikarenakan dia memiliki iman, dan dia percaya bahwa darah Tuhan bisa membasuh dirinya dari segala macam dosanya (1 Yoh. 1:9). Mereka yang sudah melewati pintu gerbang kemenangan seharusnya mengakui dosa-dosa mereka langsung setelah mereka secara tidak sengaja melakukan suatu dosa, dan mereka seharusnya percaya bahwa Tuhan bisa membasuh mereka dengan darah mustika-Nya. Setelah itu, mereka seharusnya langsung memuji dan bersyukur pada Tuhan, dan menerapkan hayat kemenangan-nya secara berkesinambungan. Jika kita secara tidak sengaja berdosa, kita tidak seharusnya menunda pengakuan kita sampai tiga atau lima hari. Jika kita menundanya, kita akan melakukan lebih banyak dosa.

PERTUMBUHAN HAYAT YANG MENANG

Mungkin ada yang bertanya, “Karena seseorang sudah menang, bagaimana dia bisa berbuat dosa lagi?” Kita harus mengenal apa iman itu. Kehidupan yang menang adalah kehidupan iman. Tuhan ingin supaya kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya setiap saat. Tidak peduli seperti apa keadaan luaran, kita seharusnya percaya pada-Nya. Tuhan ingin mengeluarkan kita dari suatu kehidupan yang berasal dari perasaan ke dalam kehidupan yang berasal dari iman. Dia menginginkan kita untuk terus maju selangkah demi selangkah dengan iman dan dalam kasih karunia. Sekarang kita perlu melihat bagaimana kita bertumbuh dalam hayat yang menang.

Kemenangan adalah sebuah pintu gerbang dan juga sebuah jalan. Pertama, itu adalah sebuah titik balik, dan kemudian sebuah perjalanan. Jika kita melanjutkan menempuh perjalanan ini, tidak akan ada batas bagi masa depan kita. Ada yang bertanya, “Karena Tuhan adalah hayat saya, dan karena dia sudah hidup di dalam saya, bagaimana saya bisa bertumbuh lagi? Apakah Anda mengatakan bahwa hayat ini tidak sempurna? Dan apakah Anda mengatakan bahwa ada keperluan bagi hayat-Nya untuk bertumbuh?” Memang benar bahwa Tuhan tidak berubah; Dia tidak maju atau mundur. Namun kita memiliki kehendak yang bebas, dan kita memiliki intelektual dan emosi kita sendiri. Kemenangan kita adalah mengalahkan dosa-dosa yang kita ketahui, bukan mengalahkan semua dosa yang tidak kita ketahui. Ini adalah seperti konsikrasi kita; kita hanya mengkonsikrasikan hal-hal yang kita ketahui. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui, yang hanya bisa kita konsikrasikan secara bertahap. Bahkan konsikrasi pun tidak memiliki standar yang mutlak. Misalnya, saya mungkin tahu bahwa saya tidak memiliki kekuatan di dalam perkara kesabaran. Ketika saya mengkonsikrasikan diri saya, kesabaran Tuhan akan terekspresi melalui diri saya. Mengenai kesabaran itu sendiri, kita tidak bisa memiliki pertumbuhan lagi sebab kesabaran Tuhan itu sempurna. Akan tetapi, pertumbuhan memiliki makna bahwa sebagai tambahan dari kesabaran tersebut, kita bisa mengalami ketulusan. Pertumbuhan berarti perluasan dari ruang lingkup dan pendalaman dari ukuran. Tidak ada pertumbuhan atas kesabaran atau ketulusan itu sendiri sebab ketulusan dan kesabaran adalah Kristus. Akan tetapi, terhadap pengalaman kita akan hal-hal ini, dimungkinkan untuk memiliki perluasan dan pendalaman yang berkesinambungan dalam ruang lingkup dan ukuran. Inilah makna dari pertumbuhan dari hayat yang menang.

Kita telah mengatakan bahwa Tuhan adalah pengudusan kita. Akan tetapi ada sebuah ayat yang mengatakan bahwa kita dikuduskan oleh kebenaran (Yoh. 17:17). Ini berarti kita mungkin saja memiliki dosa yang cukup kita banggakan hari ini dan sama sekali tidak mengganggu hati nurani kita. Kemudian, kita mungkin menemukan dari kebenaran Alkitab bahwa hal tersebut adalah salah. Dengan demikian, kita mengenal satu dosa lagi, dan kita bisa mengakui dosa tersebut. Setelah kebenaran mengungkapkan dosa kita melalui penerangan Allah dan setelah kita mengenal bahwa itu adalah dosa, kita harus membereskannya. Cara untuk membereskannya adalah sama seperti sebelumnya. Kita harus memberi tahu Tuhan, “Aku telah menemukan satu dosa lagi. Terima kasih bahwa aku sekarang mengenal satu dosa lagi dan bisa mengalami lebih banyak kasih karunia dan mengenal lebih banyak tentang hayat yang menang.” Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita seharusnya bertumbuh dalam kasih karunia (2 Ptr. 3:18). Apa yang dimaksud dengan bertumbuh dalam kasih karunia? Kasih karunia adalah Allah melakukan hal-hal bagi manusia. Ketika manusia melakukan hal-hal bagi Allah, itu adalah hukum Taurat, sedangkan ketika Allah mengerjakan hal-hal bagi manusia, itu adalah kasih karunia. Bertumbuh dalam kasih karunia adalah mengizinkan Allah untuk melakukan lebih banyak hal bagi kita. Ketika kebenaran menyinari kita, kekurangan-kekurangan kita akan terungkap. Kemudian kasih karunia datang untuk menyuplai kita. Kebenaran adalah Allah mengungkapkan keperluan-keperluan kita, sedangkan kasih karunia adalah Allah menyuplai kita dengan kekuatan. Semakin banyak terang yang kita terima, semakin banyak keperluan yang kita temukan, dan semakin banyak kita menerima dan bertumbuh dalam kasih karunia.

KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN

Bagaimana kita menerima kasih karunia? Ada tiga jalan untuk menerima kasih karunia. Yang pertama adalah melalui Alkitab. Semakin banyak kita membaca Alkitab, semakin Alkitab akan memperbesar ukuran kita, dan semakin kita akan mengenal diri kita sendiri. Semakin kita mengenal diri kita sendiri, semakin kita akan merasakan keperluan-keperluan kita, dan semakin kasih karunia akan bertambah. Yang kedua, kita bisa menerima kasih karunia langsung dari Allah. Ketika kita mendengarkan suatu berita, berdoa, atau bersekutu dengan Allah, kita menerima kasih karunia secara langsung dari Dia melalui penerangan-Nya. Yang ketiga, kita bisa menerima kasih karunia melalui bantuan saudara saudari lain. Jika seorang saudara sudah membereskan suatu dosa, dan dosa yang sama menjerat saya, saya bisa menerima bantuan dari saudara tersebut untuk mendapatkan kemenangan. Dengan demikian saya menerima lebih banyak kasih karunia. Kasih karunia yang kita dapatkan terbatas oleh kebenaran yang telah kita terima. Jumlah kasih kaunia yang diterima seseorang menyatakan jumlah kebenaran yang telah dia terima. Semakin seseorang mengenal apa itu dosa, semakin banyak kasih karunia yang akan dia terima.

Sebagai contoh, kita mungkin menemukan dari pembacaan Alkitab bahwa kita seharusnya tidak kuatir tentang apapun juga. Begitu kita memiliki kebenaran ini, kita menyadari bahwa kuatir itu adalah sebuah dosa. Seorang saudari membaca Filipi 4:6, yang menyuruh kita untuk tidak kuatir tentang apapun juga, dan menyimpulkan bahwa itu adalah mustahil. Lalu dia berpikir bahwa ini adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah. Jika Alkitab tidak salah, maka dialah yang salah. Dia membawa perkara ini kepada seorang saudari yang memiliki sembilan orang anak, yang dua diantaranya sudah meninggal. Saudari yang kedua menjawab, “Bagaimana seorang ibu bisa tidak kuatir? Malah, kelihatannya adalah suatu dosa jika seorang ibu tidak kuatir. Kekuatiran saya sudah mengirim dua orang anak ke surga, dan saya masih memiliki tujuh orang anak untuk dikuatirkan.” Saudari yang pertama itu merasa semakin bingung setelah dia mendengarnya. Kemudian, dia diterangi untuk melihat bahwa kuatir itu memang adalah dosa, dan dia berdoa supaya Tuhan mau membuat dia menang atas dosa tersebut. Akhirnya, dia menang. Inilah makna dari kebenaran dan kasih karunia. Kebenaran memberi tahu kita apa dosa itu, dan kasih karunia membuat kita mampu untuk mengalahkan dosa tersebut. Sebelum kita memiliki kebenaran, kita mungkin tidak terlalu memikirkan hal-hal tertentu. Namun setelah kita menerima kebenaran dan diterangi, kita akan mengenal apa dosa itu. Di masa lalu, pulau Kulangsu diserahkan kepada Inggris. Kemudian, semakin banyak laut yang dijadikan tanah, dan wilayah Inggris akhirnya semakin bertambah. Dalam prinsip yang sama, semakin banyak kebenaran, semakin banyak kasih karunia. Kebenaran memperlihatkan kepada kita apa dosa itu, dan ketika kita menerapkan kasih karunia, kita mengalami kemenangan yang penuh atas dosa tersebut.

Seorang saudari memiliki sebuah jam tangan, yang diberikan oleh ibunya saat dia berulang tahun yang kedua puluh. Pada jam tangan tersebut terdapat sebuah salib emas. Dia memakai jam tangan tersebut selama delapan belas tahun. Pada suatu hari dia membaca 1 Timotius 2:9 yang mengatakan bahwa perempuan tidak seharusnya mendandani diri mereka dengan emas. Dia merasa bahwa memiliki perhiasan kecil pada jam tangannya itu tidak apa-apa. Namun pada hari itu Allah menunjuk pada jam tangannya dan memperlihatkan kepadanya bahwa dia harus membereskannya. Dia mulai mengkotbahi Allah dan berdebat bahwa hal sekecil itu tidak masalah, namun pada akhirnya Tuhan yang menang, dan dia membereskan perkara kecil tersebut. Hari ini kita seharusnya berani untuk mencari dosa-dosa kita dan membereskan mereka. Di masa lalu kita mungkin sudah membereskan dosa-dosa yang najis, dosa-dosa luaran, dosa-dosa yang jelas, dan dosa-dosa yang menjijikan. Hari ini kita harus membereskan dosa-dosa yang kecil, halus, batini, dan tersembunyi, yang mempermalukan Allah. Pemberesan-pemberesan ini akan membawa lebih banyak kasih karunia kepada kita untuk mengalami lebih banyak kemenangan di dalam kehidupan sehari-hari kita.

MENERIMA KEBENARAN, MENIKMATI KASIH KARUNIA,

DAN MENGALAMI KEMENANGAN

Apakah Anda memiliki kemajuan di dalam kehidupan sehari-hari Anda atau tidak, bergantung pada apakah Anda sudah melihat kebenaran atau belum. Anda pertama-tama harus menemukan macam-macam dosa yang Anda miliki dan kemudian menemukan bagaimana Tuhan menggenapkan pekerjaan kemenangan di dalam Anda. Seorang misionaris wanita bekerja untuk Misi Pedalaman Cina. Dia berselisih dengan Miss Fischbacher dan sering memfitnah dia secara terbuka. Ketika Miss Fischbacher melaporkan sesuatu, dia akan menyangkalnya. Ketika Miss Fischbacher menyangkal sesuatu, dia akan ngotot mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Pernah sekali Miss Fischbacher menulis surat untuk melaporkan pekerjaannya di Cina. Saudari ini berusaha untuk menemukan kepada siapa surat tersebut dikirimkan, dan dia menulis surat kepada orang yang sama untuk menyangkal hal-hal yang dikatakan Miss Fischbacher. Kelihatannya dia habis-habisan berusaha untuk membuktikan kepada orang lain bahwa Miss Fischbacher adalah seorang yang tidak jujur. Setelah berlangsung selama sejangka waktu, Miss Fischbacher tidak kuasa untuk tidak merasa sebal terhadapnya. Kemudian, dia membaca 1 Petrus 1:22, yang mengatakan bahwa kita seharusnya bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati. Sangat mudah bagi manusia untuk mengkotbahi Allah. Dia memberi tahu Tuhan, “Mustahil bagiku untuk mengasihi saudari ini. Bahkan lebih mustahil lagi bagiku untuk mengasihinya dengan segenap hati.” Dia berdoa selama dua minggu tanpa hasil. Dia berpuasa selama satu hari penuh, dan bertekad untuk tidak keluar dari kamarnya sampai dia mengalahkan kepedihan ini. Akan tetapi, dia masih tetap tidak berhasil. Kemudian, dia mengakui bahwa yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah tidak membenci saudari ini. Mustahil untuk mengasihinya. Dia berpuasa untuk satu hari lagi, tapi masih tetap tanpa hasil.

Akhirnya, dia menyadari bahwa dia tidak bisa melakukannya oleh dirinya sendiri, dan dia berkata kepada Tuhan, “Aku seharusnya mengasihi saudari ini, tapi aku tidak bisa. Ini adalah dosa. Aku tidak akan melepaskan-Mu kecuali Engkau membuatku mengasihi dia.” Keesokan harinya dia berdoa secara terus menerus selama tiga jam. Pada sekitar jam sembilan pagi, kasih Tuhan memenuhi dia. Kepediahnnya hilang, dan kasih muncul secara tidak terduga. Dia bahkan merasa bahwa dia bersedia untuk mati demi saudari ini. Dia melanjutkan berdoa baginya sepanjang malam. Ketika dia melihat saudari itu keesokan harinya, perasaannya sama sekali berbeda. Setelah satu hari, saudari itu juga berpaling. Kehidupan yang menang memiliki Allah sebagai standarnya. Allah sudah mengatakan banyak hal. Jika kita tidak bisa mentaati apa yang Dia katakan, kita sudah berdosa. Kita hidup di dunia ini hanya sebentar, tapi kita menjumpai terlalu banyak hal selama hidup ini. Di tengah-tengah kehidupan semacam itulah kita mengekspresikan kemenangan Kristus.

Ada tiga orang saudari di Shansi yang bersama-sama menjadi misionaris. Dua dari antara mereka memilih untuk tidak menikah, dan yang ketiga sudah bertunangan. Akan tetapi, justru dialah yang paling tidak bahagia. Dia sering merasa kesepian. Walaupun tunangannya sering menulis surat, dia masih merasa kesepian ketika dia sedang sendirian di kamarnya. Pada suatu hari dia menangis lagi. Dua saudari lainnya datang untuk menghiburnya, mereka berkata, “Mengapa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki seorang tunangan yang selalu menulis surat kepadamu! Kamilah yang seharusnya merasa kesepian!” Kemudian, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing dan rasa kesepian menyambar mereka juga, dan mereka juga mulai menangis. Sementara mereka merasa kasihan, mereka memikirkan Firman Allah: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). Mereka menyadari bahwa perasaan kesepian sebenarnya adalah sebuah dosa. Tuhan mengatakan bahwa di dalam hadirat-Nya ada sukacita yang berlimpah-limpah, namun mereka mengatakan bahwa mereka merasa kesepian. Itu pasti adalah sebuah dosa. Mereka berlutut dan berdoa untuk membereskan dosa tersebut, dan rasa kesepian itupun hilang. Sembilan tahun sudah berlalu, dan mereka tidak pernah merasa kesepian lagi.

Kemenangan adalah bagi Allah untuk mengungkapkan dosa-dosa kita secara berkesinambungan dan bagi kita untuk bertumbuh melalui pengetahuan tersebut. Kita tidak seharusnya takut kalau-kalau orang lain mengungkapkan kesalahan-kesalahan kita. Ini akan memberi kita kesempatan untuk menang. Semakin kita mengenal kebenaran, semakin kita akan mengalami kemenangan Kristus. Saya harap tahun depan, ada yang berdiri untuk mempersaksikan bagaimana kebenaran telah datang kepada mereka dan bagaimana kasih karunia mengikutinya. Ini adalah sesuatu yang sangat mustika. Kita semua seharusnya menerima kebenaran dengan gembira sehingga kasih karunia bisa terus menerus datang kepada kita. Di dalam sidang-sidang, kita perlu lebih banyak berdiri untuk mempersaksikan bagaimana kebenaran tertentu telah menghasilkan suatu efek bagi kita. Kita tidak seharusnya kuatir kalau-kalau orang lain akan mengatakan bahwa kita ini sombong padahal itu adalah pekerjaan Tuhan. Kita hanya menjabarkan pekerjaan Tuhan di dalam kita dan bagaimana Dia telah mendapatkan kemenangan di dalam kita. Dengan melakukan hal ini, mereka yang berada di dalam keadaan yang sama atau yang belum mengalami pemberesan yang tepat seperti kita akan bisa berbagian dalam kasih karunia yang telah kita terima.

Penghidupan yang menang adalah ajaib sebab hayat yang menang adalah ajaib. Tuhan bisa melakukan segala sesuatu di dalam kita. Tidak ada yang tidak bisa Dia kerjakan. Kita tidak perlu takut akan hal apa pun. Kita bisa datang kepada-Nya secara terus menerus. Kita seharusnya mengizinkan Dia untuk menerangai kita dengan kebenaran dan menerima Dia sebagai kemenangan kita. Jika kita berjalan dalam jalan ini, tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa kita kerjakan. Setelah setahun, kita akan menyadari bahwa kita sudah lebih menang, dan kita akan semakin mampu untuk mengikuti pimpinan Tuhan dan maju di dalam jalan yang telah dihamparkan di hadapan kita.

Watchman Nee, Vol 41-19


BAB TUJUH BELAS

MENJAGA HAYAT YANG MENANG

Tanggal: 17 Nopember 1935, malam

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: 2 Tim. 1:12; Flp. 1:6; 1 Ptr. 1:5; Mzm. 17:8; Yud. 24-25

TUHAN SEDANG MEMULAI PEKERJAAN YANG BAIK

DAN SEDANG MENYELESAIKANNYA

Pekerjaan kemenangan dimulai oleh Tuhan (Flp. 1:6). Malah, baik permulaan, kelanjutan, dan perampungan dari hayat yang menang adalah berasal dari diri Tuhan sendiri; kita tidak ada hubungannya dengan mereka. Nama Tuhan adalah Alfa dan Omega (Why. 1:8). Alfa mengacu pada awal, sedangkan Omega mengacu kepada akhir. Dialah Satu-satunya yang dari awal sampai akhir. Dia adalah awal dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu. Dia adalah permulaan dari hayat yang menang, dan juga perampungan dari hayat yang menang. Jadi, hayat yang menang itu berhuni. Pernah seseorang bertanya, “Apakah kemenangan itu?” Saya menjawab, “Menang adalah Kristus.” Baiklah saya bertanya: Apakah Kristus tetap sama? Tentu saja Dia tetap sama. Dia adalah Yang tetap sama dari awal sampai akhir. Segala sesuatu akan berlalu, namun Tuhan akan tetap selamanya. Sore ini kita harus mendeklarasikan bahwa pengalaman kita hanyalah diri Kristus sendiri. Dia sudah melakukan segalanya. Semua pengalaman kita berpusat pada Kristus. Kita mengalami kemenangan melalui iman dalam Kristus. Namun dari awal sampai akhir, bahkan iman kita pun hanyalah diri Kristus itu sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memuji dan bersukacita. Selama Dia adalah Yang memulai pekerjaan, Dia akan menyelesaikannya.

ALLAH MAMPU MENJAGA KITA DARI TERSANDUNG

Yudas 24 mengatakan bahwa Allah adalah Dia yang mampu menjaga kita supaya tidak tersandung. Bagaimanakah cara Dia menjaga kita? Yudas tidak mengatakan bahwa Allah menjaga kita melalui membangkitkan kita setiap kali kita tersandung. Juga tidak dikatakan bahwa Allah akan menjaga kita supaya tidak jatuh. Dia mengatakan bahwa Dia akan menjaga kita supaya tidak tersandung. Ada perbedaan antara jatuh dan tersandung. Jatuh adalah tersungkur. Jika ada seorang Kristen bisa berjalan secara lurus selama tiga tahun tanpa pernah jatuh, dia pasti dianggap sebagai orang Kristen kelas atas. Namun ayat ini berbicara mengenai tidak tersandung. Tuhan akan menjaga kita supaya tidak tersandung bukan hanya untuk tiga tahun, melainkan untuk selamanya. Tentu saja, kita tidak bisa bersandar pada diri kita sendiri atau melihat diri sendiri. Jika demikian, besok kita akan jatuh. Mata kita harus diarahkan pada Tuhan dan pada Dia saja, dan kita harus percaya bahwa Dia akan menjaga kita supaya tidak tersandung.

TUHAN MENJAGA KITA SEPERTI BIJI MATANYA

Bagaimana Tuhan menjaga kita? Bagian yang paling peka dari tubuh manusia adalah pupil matanya. Bagaimanakah kelopak mata melindungi pupil mata? Kapankala ada suatu benda melayang ke mata kita, tidak perlu menginstruksikan kelopak mata untuk menutup; mereka akan menutup secara otomatis. Ketika debu tertiup ke mata kita, kelopak mata akan segera menutup untuk mencegah debu tersebut masuk ke dalam mata. Satu Korintus 15:52 menyinggung mengenai sekejap mata. Begitulah cara Allah melindungi kita. Perlindungan-Nya datang secara instan dengan sekejap mata, sama seperti kelopak mata kita melindungi pupil mata kita. Sebelum Tuhan disalibkan, Petrus berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” (Mat. 14:30). Setelah penyaliban Tuhan, dia tidak berteriak untuk meminta tolong kepada Tuhan lagi sebab setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia hidup di dalam Petrus. Begitu pencobaan datang, Tuhan ada di sana untuk melindunginya.

Di dalam Mazmur 17:8, pemazmur berdoa, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.” Kita semua bisa memanjatkan doa yang sama. Tuhan itu mau dan bisa untuk menjaga kita seperti menjaga biji mata-Nya. Banyak orang yang dengan keliru menyangka bahwa walaupun kemenangan itu adalah perkara kasih karunia Tuhan, menjaga kemenangan adalah pekerjaan kita sendiri. Mohon diingat bahwa sama seperti kemenangan hanya berhubungan dengan Tuhan dan bukan diri dengan kita sendiri, menjaga kemenangan ini juga berhubungan dengan Tuhan dan bukan dengan diri kita sendiri.

SYARAT-SYARAT UNTUK PENJAGAAN TUHAN

Berserah

Syarat apakah yang diperlukan bagi kita untuk dijaga oleh Tuhan? Ada dua syarat. Pertama, kita harus menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan. Dua Timotius 1:12 mengatakan, “Dia mampu untuk menjaga yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari Tuhan.” Tuhan akan menjaga kita, namun kita harus menyerahkan diri kita ke dalam tangan-Nya. Sampai tingkat mana kita berserah akan menentukan sejauh mana Dia akan menjaga. Jika kita tidak menyerahkan diri kita ke dalam tangan-Nya, Dia tidak akan bisa menjaga kita. Banyak orang membaca Alkitab dan menemukan bahwa Tuhan memiliki kasih karunia yang menjaga. Namun mereka juga menemukan bahwa mereka tidak bisa berbagian dalam janji ini. Itu adalah dikarenakan mereka belum menyerahkan diri mereka kepada Tuhan. Banyak orang mengenal Yudas 24 dan 25 dan Filipi 1:6 selama bertahun-tahun, namun mereka tidak bisa percaya bahwa perkataan-perkataan tersebut adalah riil. Mereka sudah puas jika mereka bisa bangkit setelah mereka jatuh. Mereka belum menyerahkan diri mereka ke dalam tangan Tuhan untuk mengizinkan Tuhan menjaga mereka supaya tidak tersandung. Mereka tidak bisa mengalami penjagaan Tuhan yang sedemikian. Untuk mengalami penjagaan Tuhan, kita harus berkata kepada Tuhan, “Aku menyerahkan diriku kepada penjagaan-Mu. Aku percaya pada kekuatan penjagaan-Mu.” Seorang saudari pernah meminta saya untuk menyewa kotak simpanan di bank, dan bank meminta biaya enam dolar. Tapi penjagaan Tuhan kita adalah gratis selama kita bersedia untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya.

Percaya

Kedua, kita harus percaya pada kekuatan penjagaan Tuhan. Satu Petrus 1:5 mengatakan bahwa kita sedang dijaga oleh kekuatan Allah “melalui iman.” Untuk mengalami penjagaan Tuhan, menyerahkan diri kita kepada Dia belumlah cukup. Kita juga harus percaya pada kekuatan penjagaan-Nya. Misalnya saya meminta Saudara Luk untuk membawa sejumlah uang untuk diserahkan kepada seseorang. Saya harus percaya bahwa Saudara Luk memiliki kekuatan untuk menjaga uang yang saya serahkan kepadanya. Jika saya benar-benar percaya padanya dan menyerahkan uangnya kepada dia, saya tidak perlu untuk berulang kali datang kepadanya dan menanyakan apakah uang saya masih ada di tangannya. Setelah kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, kita tidak perlu terus menerus menanyai-Nya apa yang akan Dia lakukan. Tidakkah Allah dari surga dan bumi akan menjaga kita dengan baik? Perkataan Allah menopang segala sesuatu. Apakah Dia tidak mampu untuk menopang kita? Allah tidak menjaga kita seolah-olah Dia sedang menjaga secarik kertas yang tidak ada nilainya. Tidak! Dia menjaga kita seperti pupil mata-Nya (Ul. 32:10). Sama seperti sebuah jari diikatkan kepada Tubuh, demikian juga Dia telah mengikatkan kita kepada diri-Nya dan menyusun kita menjadi anggota-anggota Kristus melalui hayat-Nya. Kita harus percaya bahwa Dia mampu untuk menjaga kita. Mata kita seharusnya diarahkan kepada Tuhan dan bukan kepada pengalaman kita. Satu-satunya hal yang bisa diandalkan adalah kekuatan Tuhan, Firman-Nya, dan kasih-Nya. Pengalaman kita tidak bisa diandalkan sama sekali. Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia mampu untuk menjaga yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari Tuhan” (2 Tim. 1:12).

Watchman Nee, Vol 41-18


BAB ENAM BELAS

KONSIKRASI

Tanggal: 17 Nopember 1935, sore

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: Rm. 12:1; 6:13; 2 Kor. 5:14-15

PENDAHULUAN

Allah menyelamatkan kita dengan tujuan supaya kita hidup bagi Tuhan. Allah menyelamatkan kita bukan hanya sekedar dengan tujuan untuk memisahkan kita dari dunia. Dia menyelamatkan kita dengan tujuan untuk memisahkan kita dari diri kita sendiri. Pada akhirnya, kita akan dikuduskan, yaitu, dipisahkan sepenuhnya kepada Tuhan (cf. Yoh. 17:14-19). Seorang Kristen yang belum menang bukanlah seorang Kristen yang berbahagia. Dia hidup dalam kekalahan secara konstan dan secara terus menerus memiliki konflik di dalam hatinya. Konflik dan kekalahan ini terjadi dikarenakan dia belum mengkonsikrasikan dirinya secara mutlak kepada Tuhan.

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN

SEBELUM DAN SESUDAH MENANG

Konsikrasi yang dibicarakan di dalam Alkitab adalah konsikrasi yang mutlak. Jika konsikrasi kita tidak mutlak, kita hanya bisa menjadi orang-orang Kristen kelas dua. Ada dua hal yang seharusnya dilakukan seorang Kristen sebelum dia bisa menang. Yang pertama adalah merelakan, dan yang kedua adalah percaya. Ada juga dua hal yang seharusnya dia lakukan setelah dia menang. Yang pertama adalah mengakui dosa-dosanya, dan yang kedua adalah berkonsikrasi.

Kita sudah berbicara mengenai merelakan, percaya, dan mengaku. Hari ini kita akan melihat perkara konsikrasi. Kita memiliki banyak hal yang tidak rela kita konsikrasikan, seperti uang, keluarga, waktu, dan karir kita. Kita tidak mampu berkonsikrasi sebab kita belum menang. Kita bisa berkonsikrasi hanya jika kita berdiri di atas dasar kemenangan. Mereka yang belum pernah mengalami kemenangan tidak bisa mengkonsikrasikan diri mereka. Ketika kita mengambil Tuhan sebagai kemenangan kita, akan sangat mudah bagi kita untuk mengkonsikrasikan diri kita. Jika belum mengambil Tuhan sebagai kemenangan kita, dan kemudian mengatakan bahwa kita tidak bisa mengkonsikrasikan diri kita, saya akan mengatakan, “Amin, itu benar. Anda tidak akan pernah bisa mengkonsikrasikan diri Anda oleh diri Anda sendiri.” Roma 6:13 mengatakan bahwa konsikrasi muncul setelah pengalaman akan kematian dan kebangkitan bersama Tuhan. Kita bisa mengkonsikrasikan diri kita kepada Allah hanya setelah kita “dahulu mati, sekarang hidup.” Banyak orang mengira bahwa mereka sedang menempuh suatu kehidupan yang terkonsikrasi. Padahal, mereka bahkan belum menyentuh pintu masuk kepada kehidupan yang sedemikian. Kecuali kita terlebih dahulu mengalami kemenangan Kristus, kita tidak bisa mengkonsikrasikan diri kita.

KONSIKRASI BERDASARKAN KASIH KARUNIA ALLAH YANG MENYELAMATKAN

Roma 12:1 mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu.” Kata “kemurahan” di atas adalah jamak; itu mengacu pada beraneka ragam kasih karunia yang disebutkan di dalam Roma 1 sampai 8. Menurut urutan pengajaran di dalam kitab Roma, pasal dua belas seharusnya langsung melanjutkan pasal delapan. Jadi, kemurahan yang disebutkan di dalam pasal dua belas mengacu kepada hal-hal yang dibahas di dalam pasal satu sampai delapan. Putra Allah sudah mati bagi dosa-dosa kita. Allah telah memperlihatkan semua kemurahan ini kepada kita. Paulus tidak memerintah kita melainkan menasihati kita untuk mempersembahkan tubuh kita. Di dalam delapan pasal pertama, kita diberi tahu bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan bahwa Putra Allah mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita dari dosa. Pasal tiga dan empat berbicara mengenai darah, pasal lima berbicara mengenai pengampunan, dan pasal enam sampai delapan berbicara mengenai salib menyalibkan manusia lama kita dan membebaskan kita dari dosa. Tuhan mati bagi kita, dan sekarang dia hidup bagi kita. Begitu kita percaya dalam kematian dan kebangkitan Tuhan, kita menjadi milik Tuhan. Banyak orang bersedia untuk dibebaskan dari neraka, namun sayangnya mereka tidak bersedia untuk dipisahkan dari dunia. Mereka bersedia untuk dibebaskan dari dosa, namun mereka tidak bersedia untuk dikuduskan dan dipisahkan secara mutlak kepada Tuhan.

Allah sudah menyelamatkan kita, dan kita sudah percaya pada fakta penyelamatan ini. Pernah ada seorang gadis Kristen dari Abyssinia, Afrika, yang dijual sebagai budak. Pada awal pelelangan, tiga orang menawar dengan ketat untuknya. Ketiga orang itu adalah orang-orang jahat, dan gadis itu tahu bahwa dia akan sangat menderita tidak peduli siapapun yang menang. Dia meratap dan penuh dengan kesedihan. Akhirnya, orang keempat muncul dan membuat penawaran yang tertinggi. Begitu dia membeli gadis itu, dia memanggil tukang besi untuk memutuskan rantai gadis tersebut, dan berkata kepadanya, “Engkau bebas.” Kemudian orang tersebut berbalik dan pergi. Awalnya gadis tersebut tidak paham. Kemudian dia tersadar dan berteriak, “Dia sudah membeli saya! Dia sudah membeli saya. Mulai hari ini sampai hari kematian saya, saya akan mengikuti dia!” Cerita ini sedang terjadi atas diri kita hari ini. Kasih Tuhan telah mengikat kita, dan kita harus memberi tahu Dia bahwa kita akan mengikuti Dia mulai sekarang.

Seorang Saudara suatu kali naik kereta api dan diajak untuk berpartisipasi dalam sebuah permainan kartu. Dia memberi tahu orang yang mengajaknya, “Maaf teman, saya tidak membawa tangan saya hari ini.” Yang lainnya terkejut mendengarnya. Dia melanjutkan, “Kedua tangan saya adalah milik Tuhan. Kedua tangan yang dahulu berdosa dan main kartu, sekarang sudah disalibkan bersama Tuhan.” Dia melihat bahwa karena dia sudah mengkonsikrasikan dirinya kepada Tuhan, kedua tangannya adalah milik Tuhan dan bukan lagi miliknya.

Pernah sekali ketika saya sedang menunggu bus, saya melihat sebuah buku yang kontroversial di sebuah toko, dan saya tergoda untuk melihatnya, namun Tuhan melarang saya dan saya tidak berani membuka buku tersebut. Mata saya sudah dikonsikrasikan kepada Tuhan; mereka bukan lagi milik saya.

Hari ini kita memerlukan kesadaran yang sedemikian. Kita perlu mengenal bahwa Tuhan sudah membeli kita dan bahwa kita adalah milik-Nya. Perasaan ini sungguh manis dan indah. Sebagian orang mungkin mengkritik kita terlalu picik atau keras kepala, namun sementara mulut mereka mengkritik kita, hati mereka mengagumi kita. Orang-orang Kristen yang seperti itu adalah orang-orang yang paling berbahagia. Tidak ada yang bisa memberi kita rasa sukacita yang lebih besar dibandingkan mengkonsikrasikan diri kita secara mutlak kepada Tuhan, sebab kita mengkonsikrasikan diri kita kepada Tuhan yang paling mengasihi kita.

EMPAT HAL YANG HARUS DIKONSIKRASIKAN

Mengkonsikrasikan Orang-orang

Hal pertama yang harus kita lakukan setelah menang adalah berkonsikrasi. Apa itu konsikrasi? Itu adalah meletakkan diri Anda dan segala yang Anda miliki di atas mezbah. Secara spesifik, kita seharusnya mengkonsikrasikan empat hal kepada Tuhan. Yang pertama adalah orang-orang, yaitu, semua orang yang berhubungan dengan kita. Jika seseorang mengasihi banyak orang, Tuhan tidak akan memiliki tempat di dalam hatinya. Jika Anda sudah mengkonsikrasikan diri Anda kepada Tuhan, tidak akan ada lagi seseorang di dunia ini yang akan menduduki hati Anda, dan tidak akan ada seorang pun yang bisa merebut hati Anda dari Tuhan. Alah menyelamatkan Anda demi mendapatkan kendali yang penuh atas diri Anda. Akan tetapi, banyak air mata yang menahan Anda, banyak rasa sayang insani yang memikat Anda untuk berpaling, dan banyak hati yang patah memanggil Anda untuk kembali. Anda harus berkata kepada Tuhan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang aku ingini di bumi” (Mzm 73:25). Konsikrasi semacam ini bukanlah untuk masa depan, melainkan untuk hari ini; ini adalah sesuatu yang bisa kita lakukan hari ini. Hari ini kita bisa memutuskan semua rasa sayang insani dan hubungan insani dan memberikan kepada Tuhan tempat yang paling utama.

Mengkonsikrasikan Karir

Hal kedua yang seharusnya kita konsikrasikan adalah karir kita. Kita tidak perlu mengkonsikrasikan diri kita untuk menjadi pengkotbah. Banyak pengkotbah hari ini yang tidak berkonsikrasi. Melainkan, kita perlu mengkonsikrasikan diri kita untuk melakukan kehendak Allah, untuk mencari kehendak-Nya, dan untuk menemukan apa kehendak-Nya bagi kita. Seorang saudara, yang duduk di bangku SMA, selalu menjadi nomer satu di kelasnya. Dia bertekad untuk menjadi yang nomer satu di ujian akhirnya dan tidak mau menduduki peringkat yang lebih rendah. Dia mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk belajar, dan kasihnya terhadap Tuhan berkurang. Kemudian, dia mendapatkan suatu terobosan dalam perkara menang dan menyadari bahwa memiliki ambisi seperti itu adalah salah. Dia berdoa kepada Tuhan, “Jika itu adalah kehendak-Mu, aku bersedia bahkan jika aku harus menduduki tempat paling buncit di kelas.” Murid SMA ini adalah seorang saudara yang sejati di dalam Tuhan. Akhirnya dia menang. Dia mengalami hayat yang menang dalam penuntutan akademisnya. Saudara-saudara, jika Anda memiliki cita-cita di dalam bisnis atau karir Anda yang tidak bisa Anda tanggalkan dan jika ada sesuatu yang Anda ngotot ingin memilikinya, Anda harus mengkonsikrasikan diri Anda. Anda harus mengkonsikrasikan karir, cita-cita, dan ambisi Anda sepenuhnya kepada Tuhan sehingga Anda bisa melakukan kehendak Allah.

Mengkonsikrasikan Barang

Hal ketiga yang harus dikonsikrasikan adalah barang-barang. Lebih mudah bagi orang kaya untuk meninggalkan Tuhan dibandingkan orang miskin meninggalkan Tuhan karena hati dari orang kaya ada bersama uangnya. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang adalah milik kita; semuanya adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, kita harus mengkonsikrasikan segalanya kepada Tuhan dan meletakkan semua yang kita miliki di atas mezbah (1 Taw. 29:12-16). Banyak orang menghamburkan uang mereka. Tentunya, hal itu tidak menyenangkan Allah, namun sebagian orang menyimpan uang mereka dalam cara yang juga tidak menyenangkan Tuhan. Misalnya, seorang saudari tidak mau memakai bahkan satu dolar pun selama lima puluh tahun. Penghamburan harta tidak memiliki tempat di hadapan Tuhan, sama seperti kepelitan juga tidak memiliki tempat di hadapan Tuhan. Seluruh penghematan dan pemakaian kita akan dihakimi oleh Tuhan pada takta penghakiman Kristus. Jika Tuhan ingin kita menggunakan uang kita untuk suatu perkara apapun, kita seharusnya melakukannya. Persembahan di dalam Perjanjian Baru berbeda dari persembahan di dalam perjanjian Lama. Prinsip di dalam perjanjian lama adalah perpuluhan, mempersembahkan sepersepuluh. Tapi prinsip di dalam perjanjian Baru adalah mempersembahan sepuluh perpuluh; itu adalah mempersembahkan segala yang kita miliki ke dalam tangan Tuhan. Allah tidak akan membiarkan kita kelaparan. Kita mungkin kuatir mengenai bagaimana kita akan menopang penghidupan kita, namun Allah ingin supaya kita pertama-tama mempersembahkan segalanya kepada Dia dan kemudian menarik seluruh keperluan kita dari Dia. Hari pertama kita membawa pulang uang gajian kita, kita seharusnya berkata kepada Tuhan, “Semua uang ini adalah milik-Mu. Aku mempersembahkan semuanya kepada-Mu.” Setelah kita menerima uang gaji kita, kita seharusnya pertama-tama mempersembahkannya kepada Tuhan dan kemudian memakainya menurut dispensi-Nya. Ketika kita menerima uang gaji kita, adalah salah jika pertama-tama memakainya untuk keperluan kita dan kemudian memberikan sisanya kepada Allah. Saudara Witness Lee memiliki keluarga besar. Dia dan kedua saudara laki-lakinya menyerahkan semua uang yang mereka dapatkan setiap bulannya kepada ibu mereka, dan kemudian ibu mereka membagi-bagikannya sesuai dengan keperluan masing-masing orang. Demikianlah seharusnya di antara Allah dan kita. Kita tidak seharusnya mempersembahkan kepada Allah apa yang tersisa dari pemakaian kita sendiri. Melainkan, kita seharusnya mempersembahkan segalanya kepada Allah dan kemudian membiarkan Dia menyuplai kita dengan apa yang kita perlukan.

Kita tidak perlu membuang semua barang yang kita peroleh di masa lalu. Jika Allah ingin supaya kita mempersembahkan segalanya, kita seharusnya mempersembahkan segalanya. Kita bisa menjual semua harta kita dan mendepositokan hasilnya di bank, menunggu pimpinan Allah di masa depan, dan kemudian mempersembahkan semuanya untuk digunakan Tuhan. Jika kita melakukan hal ini, bank dimana kita menyimpan uang kita akan diberkati. Bank itu tidak akan ditutup sebab Allah akan menjaga simpanan-Nya. Di dunia ini, bunga lima persen sudah dianggap terlalu tinggi, namun Alkitab mengatakan bahwa ketika kita mempersembahkan kepada Tuhan, kita akan menerima seratus kali lipat di dunia ini (Mat. 19:29)! Ini adalah bunga sepuluh ribu persen! Betapa menguntungkan! Saudara saudari, Allah tidak akan menilap kita. Di masa lalu, kita sudah melewatkan banyak kesempatan yang diberikan Allah. Dalam perkara persembahan harta, saya memiliki banyak pengalaman. Saya sudah mengalami banyak berkat yang dibawa masuk melalui persembahan. Suatu kali seorang saudari mempersembahkan seluruh penghasilannya selama satu bulan, yaitu seratus dua puluh dolar, kepada Tuhan. Ketika harta itu ada di tangan kita, harta itu akan dihamburkan atau disimpan. Namun jika kita mempersembahkan semuanya kepada Tuhan, kita tidak akan berani untuk memakainya dengan sembarangan. Setelah kita mengkonsikrasikan uang kita kepada Tuhan, semuanya akan menjadi milik Tuhan, dan Dia akan menyimpan atau memakainya seturut kehendak-Nya.

Mempersembahkan Diri Kita Sendiri

Keempat, kita harus mempersembahkan diri kita sendiri. Tidak saja kita seharusnya mempersembahkan orang-orang, karir, dan barang-barang, namun kita juga harus mempersembahkan diri kita sendiri. Sebagian orang mengira bahwa setelah seseorang mengalami kemenangan, dia tidak perlu lagi mempraktekkan ketaatan. Sebenarnya, kemenangan kita hanya membuat kita menjadi semakin mampu untuk taat kepada Tuhan. Tadinya kita tidak memiliki kekuatan untuk mentaati Tuhan. Sekarang karena Tuhan sudah menggenapkan segalanya bagi kita, kita bisa secara spontan menyerahkan segala keinginan dan milik kita kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan untuk memperkuat kita dengan hayat yang menang demi ketaatan. Ini adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara pasti. Harus ada tanggal yang pasti untuk konsikrasi kita, sama seperti terdapat tanggal yang pasti untuk pernikahan seseorang. Seorang gadis tidak bisa mengatakan, “Saya rasa saya menikah pada suatu hari tertentu.” Demikian juga, kita tidak bisa mengatakan, “Saya rasa saya mengkonsikrasikan diri saya pada hari tertentu.” Ini adalah sesuatu yang perlu kita lakukan di hadapan Tuhan secara pasti. Kita seharusnya sangat jelas akan tanggalnya dan tidak pernah melupakannya. Saya mengkonsikrasikan diri saya pada tanggal 13 Pebruari 1922. Kita bisa mengumumkan tanggalnya kepada orang lain. Kita bisa memberi tahu mereka yang telah membawa kita kepada Tuhan atau mereka yang sudah memberi kita bantuan rohani. Kita bahkan bisa mengumandangkannya dan mendeklarasikannya kepada manusia dan juga kepada Satan: “Aku sudah menikah dengan Tuhan.” Paulus mengatakan bahwa dia sudah mempertunangkan kaum beriman Korintus sebagai perawan suci kepada Kristus (2 Kor. 11:2).

Ulangan 26:16-19 mengatakan bahwa jika kita mentaati perkataan Tuhan, Tuhan akan membuat kita memelihara semua perintah-Nya dan membuat kita menjadi suatu umat yang kudus bagi Yehova, Allah kita. Taat kepada perkataan Tuhan adalah tugas kita sebagai orang-orang Kristen, sedangkan membuat kita menjadi suatu umat yang kudus bagi Yehova adalah tugas Allah. Jika kita melaksanakan bagian kita, Allah akan melaksanakan bagian-nya.

MENANG UNTUK MENEMPUH KEHIDUPAN YANG TERKONSIKRASI

Jika konsikrasi berhubungan sangat akrab dengan kemenangan, lalu apa itu kehidupan yang menang? Apakah itu hanya sekedar menang atas segala hal yang jahat? Tidak! Jika demikian, akan ada banyak orang di dunia ini yang tidak akan memerlukan hayat yang menang. Mereka memiliki banyak kebajikan alamiah. Mereka tidak marah-marah dan tidak melakukan banyak hal yang jahat. Apakah orang-orang ini menang? Tidak! Kemanangan bukan hanya berarti mengalahkan perbuatan-perbuatan yang jahat. Menang berarti kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri melainkan kita hidup bagi Tuhan sementara kita hidup di bumi ini hari demi hari. Kita harus memiliki kesadaran bahwa Tuhan sudah membeli kita, bahwa kita ini milik-Nya, dan bahwa kita sudah dinikahkan kepada-Nya. Mereka yang hidup di dalam atmosfir ini akan menghirup udara kekudusan yang surgawi.

Menang itu bukan perkara tidak melakukan perkara-perkara. Itu bukan hanya pembebasan dari dosa secara pasif. Menang adalah sebuah konsikrasi yang aktif kepada Tuhan dan suatu persekutuan dengan-Nya sementara hidup di atas bumi ini. Kecuali seseorang mencapai tahap ini, dia belum menang. Seorang Kristen pertama-tama menang dan kemudian berkonsikrasi. Jika kita sudah mendapat terobosan dalam perkara menang, yang perlu kita lakukan hari ini adalah mengkonsikrasikan diri kita.

HATI ALLAH ITU BAIK

Roma 6:16 mengatakan, “Apakah kamu tidak tahu bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk menaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, entah itu dosa yang memimpin kamu kepada kematian, entah itu ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” kita berkonsikrasi kepada Tuhan untuk menjadi hamba-Nya. Ketika banyak orang mendengar tentang konsikrasi dan menjadi hamba kepada Allah, mereka merasa takut. Mereka mengira bahwa setelah mereka mengkonsikrasikan diri mereka, Allah akan memberi mereka banyak kesulitan. Akan tetapi, hanya mereka yang tidak mengenal Allah yang berpikir sedemikian.

Ada seorang ibu yang tidak memahami makna dari ketaatan dan konsikrasi. Seseorang menjelaskan hal tersebut kepadanya dengan cara memberi ilustrasi: “Misalnya Anda mempunyai seorang anak yang sangat keras kepala dan tidak taat. Kemudian, dia bertobat dan memberi tahu Anda bahwa mulai sekarang dia akan mentaati Anda, bahwa dia akan menerima perkataan Anda, dan bahwa dia akan melakukan apa pun yang Anda inginkan. Sebagai seorang ibu, apakah sepanjang malam sesudahnya Anda akan memikirkan hal-hal yang sulit untuk dia lakukan supaya Anda bisa memberi dia kesulitan keesokan harinya?” Ibu itu berkata, “Tentu saja tidak. Saya akan berpaling dan semakin mengasihi dia.” Malah, dia akan berpikir untuk membuatkan baju baru untuknya atau membelikan permen untuknya. Inilah hati seorang ibu. Ini juga adalah hati Allah kita.

Ketika kita mengkonsikrasikan diri kita kepada Allah, Dia akan menata segala sesuatu dan membuatnya mendatangkan kebaikan bagi kita. Tidakkah Dia merasa puas dengan ketaatan kita? Mengapa Dia harus membuat rencana yang busuk untuk membereskan kita atau memberi kita kesulitan? Hati Allah terhadap kita hanyalah kebaikan dan keramahan. Memang benar bahwa Dia tidak melakukan segala sesuatu seperti cara kita, namun kita harus percaya bahwa hati-Nya terhadap kita itu baik dan ramah. Walaupun seorang Kristen mungkin mengalami kesusahan di dunia ini, dia masih bisa bersukacita di dalam hatinya. Kita bisa memiliki sukacita di tengah-tengah air mata kita sebab kita tahu bahwa segala sesuatu yang menimpa kita sudah diukur oleh tangan Allah. Kita harus percaya bahwa maksud Bapa selalu baik. Semakin kita mengkonsikrasikan diri kita kepada Tuhan, semakin kita menjadi orang-orang yang sama sekali berbeda. Kita menjadi spesial di mata-Nya, dan Dia bisa memiliki kebebasan yang penuh untuk menggarap kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Semoga setiap orang dari kita di sini meletakkan semuanya di atas mezbah—orang-orang yang berhubungan dengan kita, karir kita, harta milik kita, dan bahkan diri kita sendiri—menguduskan semuanya kepada Tuhan. Semoga kita memahami bahwa sasaran dari keselamatan-Nya adalah supaya kita tidak lagi hidup kepada diri kita sendiri melainkan kepada Tuhan yang telah mati dan telah bangkit bagi kita (2 Kor. 5:14-15).

Watchman Nee, Vol 41-16


BAB EMPAT BELAS

APAKAH IMAN

Tanggal: 16 Nopember 1935, pagi

Tempat: Chuenchow

Pembacaan Alkitab: Ibr. 11:1

IMAN ADALAH SUBSTANSIASI DARI HAL-HAL ROHANI

Ibrani 11:1 adalah satu-satunya ayat di dalam Alkitab yang memberikan definisi mengenai iman. Ayat ini memberi tahu kita bahwa iman adalah pensubstansian hal-hal yang kita harapkan. Iman membuat hal-hal yang kita harapkan menjadi riil. Ini adalah seperti hidung yang membuat bau menjadi riil, mata yang membuat warna menjadi riil, dan telinga yang membuat suara menjadi riil. Hanya iman yang bisa membuat hal-hal yang rohani menjadi riil. Iman adalah pengalaman rohani. Tanpa iman, tidak ada pengalaman rohani. Seseorang mungkin memiliki mata, namun semua warna di dunia ini akan menjadi tidak kelihatan bagi dia jika dia menutup matanya. Demikian juga dengan iman. Ketika kita tidak melatih iman, kita tidak melihat sesuatu yang rohani. Namun ketika kita mengizinkan iman untuk membuat hal-hal yang rohani menjadi riil bagi kita, semua pengalaman rohani menjadi riil. Banyak doa kaum beriman tidak pernah mencapai Allah sebab doa-doa mereka itu kekurangan iman. Hanya doa-doa yang berasal dari iman yang akan menjamah Allah, dan hanya doa-doa inilah yang akan membawa masuk hal-hal yang rohani. Misalnya seseorang mengalami kebutaan selama tiga puluh tahun, tanpa pernah melihat warna seumur hidupnya. Begitu matanya terbuka, dia akan langsung melihat warna. Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-ranting. Jika kita percaya pada firman ini, firman ini akan langsung menjadi realitas bagi kita. Ketika seseorang menggunakan matanya untuk melihat, segala sesuatunya ada di situ. Namun jika dia tidak menggunakan matanya, semuanya akan seolah-olah tidak ada. Dengan juga dengan hal-hal rohani. Iman mensubstansiasi hal-hal rohani.

IMAN MEMERLUKAN WAHYU DARI ALLAH

Iman diberikan kepada kita ketika kita beroleh selamat (Ef. 2:8). Ini adalah seperti mengatakan bahwa seorang anak dilahirkan dengan kedua matanya. Jika seseorang tidak melihat, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena tidak melihat. Matanya ada di situ, dan matanya adalah miliknya, namun dia bisa memilih untuk melihat atau untuk tidak melihat. Demikian juga, begitu kita diselamatkan, iman ada di dalam kita. Apakah kita mengambil hal-hal rohani atau tidak, bergantung pada apakah kita menggunakan iman kita atau tidak. Banyak orang sudah memiliki iman, namun mereka tidak menggunakan iman mereka untuk percaya. Kita perlu meminta kepada Allah untuk memperlihatkan wahyu kepada kita. Wahyu Allah bisa membebaskan iman kita. Wahyu adalah seperti Allah mengangkat selubung dan memperlihatkan kepada kita apa yang ada di balik selubung tersebut. Jika saya sedang bersembunyi di balik selubung itu, Anda tidak akan tahu apa yang sedang saya lakukan. Akan tetapi, jika Anda memiliki iman, itu adalah seolah-olah Anda bergerak ke balik selubung tersebut dan melihat segala sesuatu yang sedang saya lakukan di balik selubung itu.

Sebelum kita memiliki iman, kita hanya bisa memahami secara samar-samar kebenaran-kebenaran di dalam Alkitab. Kita tidak bisa memahaminya dengan jelas, sebab selubungnya belum diangkat. Akan tetapi, setelah kita memiliki iman, segalanya menjadi riil. Begitu kita memiliki iman, kita bisa mengatakan, “Sekarang saya tahu, sebab selubungnya sudah dibuang.” Di masa lalu, kita mungkin terselubung terhadap sebagian kebenaran. Sekarang selubungnya sudah diangkat, dan segalanya menjadi jelas. Siapakah yang mengangkat selubung itu? Allahlah yang telah mengangkat selubung itu melalui wahyu-wahyu-Nya dan telah membuat semua hal-hal rohani di balik selubung itu menjadi riil bagi kita.

PERLUNYA LAPAR AKAN WAHYU

Wahyu Allah adalah pengangkatan selubung oleh Allah. Sebagai tambahan dari percaya, seseorang haruslah lapar jika dia ingin menerima wahyu. Hanya hati yang lapar yang akan menerima wahyu Allah. Hati yang lapar adalah hati yang mati-matian. Jika kita mati-matian, kita akan melihat wahyu Allah begitu wahyu tersebut muncul. Jika kita datang ke sidang ini hanya sebagai penonton, kita mungkin mendapatkan banyak doktrin dan bahkan mampu untuk menganalisa doktrin-doktrin ini dengan jelas, namun analisa kita akan tetap hanya merupakan sebuah analisa; analisa kita tidak akan menjadi wahyu kita. Doktrin tidak akan membuat kita melihat, dan kita tidak akan mendapatkan apa pun. Di pihak Allah, Dia bersedia untuk memberi kita wahyu, namun di pihak manusia, kita harus haus dan mati-matian. Jika kita mengambil sikap ini, kita akan menerima wahyu setiap kali kita membaca Firman atau datang ke dalam sidang. Di dalam sidang, sangat mudah untuk menuliskan pengajaran-pengajaran ke dalam buku catatan kita. Pikiran kita mungkin dipenuhi dengan pengetahuan, namun jika hati kita tidak terbuka kepada Allah, kita masih tetap tidak akan menerima wahyu. Jika hati kita tidak terbuka kepada Tuhan, kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu. Kita harus berdoa dengan rendah hati di hadapan Tuhan, dan mengatakan, “Tuhan, ampuni aku. Remukkan aku! Bukalah hatiku!”

Dalam keadaan yang normal, keselamatan dan kemenangan terjadi pada saat yang sama. Ini bisa dilihat dari bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, yang makan daging domba pada hari mereka membubuhkan darah domba pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu mereka. Pembubuhan darah domba adalah untuk keselamatan mereka, sedangkan makan daging domba adalah untuk penguatan mereka. Kita seharusnya mengalami keselamatan dan penguatan secara bersamaan. Sayangnya kondisi kebanyakan orang Kristen hari ini adalah tidak normal, dan kita menemukan bahwa kita harus memberitakan kehidupan yang menang kepada mereka setelah mereka diselamatkan. Pemberitaan kita mengenai kehidupan yang menang hari ini adalah semacam pelajaran tambahan. Baru-baru ini, ketika saya sedang mengadakan suatu konperensi di tempat lain, sebagian saudara-saudari mengeluhkan kenapa saya tidak memberitakan berita ini dari dulu-dulu. Kita menerima kehidupan yang menang pada saat kita diselamatkan. Kemenangan yang saya bicarakan hari ini tidak lain hanyalah suatu pelajaran tambahan. Pelajaran ini memberi tahu kita bahwa kita bukan saja sudah diselamatkan melainkan kita juga mampu untuk menang.

KAPASITAS IMAN KITA

Ada beberapa macam kapasitas untuk iman. Setiap orang memiliki kapasitas iman yang berlainan di hadapan Allah, sama seperti cangkir, mangkuk, dan gelas memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Tn George Muller memiliki iman yang besar; kapasitasnya sangat besar, dan Allah melakukan banyak hal melalui dirinya. Akan tetapi, iman itu sama utuhnya di dalam setiap orang (2 Ptr. 1:1). Ini sama dengan mengatakan bahwa penuh itu penuh, tidak peduli apakah penuh di dalam bejana yang besar maupun di dalam bejana yang kecil. Di mata Allah, ukuran iman bisa bertambah atau berkurang. Sebuah wahyu memberi kita penglihatan dan iman, namun setelah menerima wahyu, seseorang harus menggunakan imannya. Ketika iman ditambahkan kepada wahyu, kita memiliki realitas. Kolose 3:4 mengatakan, “Kristus yang adalah hayat kita.” Supaya Yesus Kristus bisa menjadi hayat kita, Allah harus di satu pihak memperlihatkan hal ini kepada kita sebagai sebuah wahyu, dan di lain pihak, kita harus mempercayainya. Filipi 2:13 mengatakan, “Karena Allahlah yang beroperasi di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Beroperasi adalah tanggung jawab Allah, dan tanggung jawab kita adalah mau dan bekerja, atau dengan kata lain, merupakan tanggung jawab Allah untuk mau dan bekerja melalui kita. Sebuah kapal laut dengan bobot sepuluh ribu ton di galangan kapal hanya memerlukan tangan seorang anak kecil untuk memotong pitanya, meluncurkan seluruh kapal laut tersebut ke air. Kemauan Allah bisa diumpamakan seperti kapal laut yang berbobot sepuluh ribu ton tersebut,. Begitu kita mau dan bekerja, tujuan-Nya terealisasikan.

Semakin kita melihat bahwa dosa-dosa kita itu hidup dan semakin kita mengakui bahwa kita adalah orang yang paling berdosa, semakin kita akan mengalami kemajuan dalam perkara menang. Kemenangan itu bukan menjadi lebih baik. Saya adalah seorang berdosa yang sama sekali tidak ada harapan; lima puluh tahun dari sekarang, aku masih tetap adalah seorang berdosa. Tuhan tidak memiliki maksud untuk mengubah saya menjadi lebih baik. Dia ingin memberi saya suatu hayat yang lain. Hayat yang menang yang Dia berikan kepada kita adalah suatu pergantian; itu bukan perubahan dalam hayat kita sendiri. Segalanya digenapkan oleh Tuhan. Sejak hari kita beroleh selamat, Tuhan sudah memberi kita kemenangan itu. Jika iman kita besar, kita akan melihat lebih banyak mengenai apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jika iman kita kecil, kita akan melihat lebih sedikit mengenai apa yang telah Dia berikan kepada kita.

Iman itu bukan mendapatkan sesuatu yang baru. Iman adalah melihat apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita tidak memiliki iman, hal-hal rohani masih tetap ada, tapi mereka akan seolah-olah sama sekali tidak ada. Mata melihat benda-benda, namun begitu mata dipejamkan, benda-benda itu menjadi tidak kelihatan. Benda-benda itu masih ada di sana, namun bagi mata, mereka sudah tidak ada. Wahyu itu selalu tersedia, akan tetapi adalah mungkin bagi manusia untuk tidak beriman. Semakin banyak wahyu yang kita dapatkan, semakin banyak iman yang kita miliki. Semakin sedikit wahyu yang kita miliki, semakin sedikit iman yang kia miliki. Semakin banyak kita melihat wahyu Tuhan, semakin banyak kita akan maju; semakin sedikit kita melihat, semakin sedikit kita akan maju.

IMAN ITU TIDAK BERGANTUNG PADA PERASAAN

MELAINKAN PADA FIRMAN ALLAH

Iman tidak ada hubungannya dengan pemahaman alamiah. Banyak perempuan desa yang memiliki lebih banyak iman dibandingkan profesor perguruan tinggi. Ini bukan mengenai apakah seseorang memiliki pengetahuan atau tidak, melainkan apakah seseorang memiliki iman yang hidup atau tidak. Iman bukan muncul sebagai hasil dari suatu kepercayaan yang luaran, ataupun berdasarkan perasaan seseorang. Perasaan kita tidak bisa diandalkan; hanya Firman Allah yang bisa diandalkan. Menurut perasaannya, seorang anak kecil mengira bahwa ayahnya akan membelikan dia sebuah bola. Sambil menunggu, dia mengundang banyak temannya untuk datang ke rumahnya untuk bermain. Ketika ayahnya pulang, tidak ada bola sebab dia tidak pernah menjanjikan anaknya untuk membelikan sebuah bola. Kemudian, ayahnya berjanji bahwa dia akan membelikan bola untuknya. Setelah ayahnya membuat janji tersebut, anak itu hanya perlu mempercayai perkataan ayahnya. Demikian juga, kita tidak seharusnya berjalan menurut perasaan kita atau menilai Allah berdasarkan apa yang kita rasakan. Kita seharusnya mempercayai Firman Allah. Apa yang terbilang hanyalah apa yang telah Allah katakan. Begitu kita percaya, hal-hal itu akan menjadi milik kita.

MEMBEDAKAN IMAN DAN PENCOBAAN

Bagaimana kita bisa membedakan antara iman yang berasal dari Allah dan pencobaan yang berasal dari Satan? Kuncinya terletak pada sumber dari perkataan yang diucapkan—apakah itu berasal dari Satan atau dari Allah. Ketika Satan mencobai Tuhan, dia juga mengutip Kitab Suci. Dia ingin supaya Tuhan melompat dari puncak bait suci, tapi Tuhan menolak untuk melakukannya sebab perkataan tersebut merupakan suatu pencobaan dari Satan. Jika Allah yang mengatakan, “Engkau boleh melompat,” Anda boleh melompat ke bawah bahkan jika Anda memiliki bait yang lebih tinggi. Ini adalah iman. Akan tetapi, jika Allah tidak memerintahkan Anda untuk melompat, Anda tidak seharusnya melompat tidak peduli betapa pendeknya bait tersebut. Jika Anda melakukannya, Anda sedang mencobai Tuhan.

MEMPERHATIKAN PIMPINAN BATINI DARI ROH

Bagaimana kita bisa tahu jika ayat ini atau ayat itu merupakan perkataan Tuhan kepada kita? Setiap orang yang sudah diselamatkan memiliki Roh Kudus tinggal di dalam dirinya, dan setiap orang bisa mengenal pimpinan Allah. Menurut janji dari perjanjian Baru, “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku” (Ibr. 8:10-11). Ada seseorang yang menulis sebuah buku untuk menentang trikotomi roh, jiwa, dan tubuh. Dia mengira bahwa tidak perlu ada pembedaan seperti itu. Kemudian hari, orang lain menanyakan opini saya mengenai subyek tersebut. Saya mengatakan, “Bahkan jika Alkitab tidak mengatakan bahwa manusia terdiri dari tiga bagian, Roh Kudus, yang ada di dalam kita, akan memberi tahu kita bahwa ada perbedaan antara roh, jiwa, dan tubuh.” Jika Perjanjian Baru itu sama dengan perjanjian Lama, lalu mengapa Alkitab memerlukan Perjanjian Baru? Perjanjian Lama diukir di luar manusia, sedangkan Perjanjian Baru adalah kitab yang diukir di hati, yang menjamah kondisi batin kita. Sebenarnya, Dia yang diukirkan ke dalam, kita adalah Roh Kudus.

Hari ini semua orang bisa pergi untuk meminta kepada Allah, “Aku adalah domba-Mu, dan domba mendengarkan suara-Mu. Berbicaralah kepadaku, dan izinkan aku mengenal kehendak-Mu.” Ada sebuah cerita mengenai dua orang yang berebut seekor domba. Mereka membawa perkara tersebut kepada hakim, yang meminta kedua orang itu untuk memanggil domba tersebut. Ketika pemilik yang sesungguhnya memanggil, domba itu merespon dia. Hari ini Roh Kudus tinggal di dalam kita. Dia adalah Tuhan kita; kita harus mendengarkan suara batini-Nya. Saya tidak bisa membuat semua orang jelas mengenai kehendak Allah, akan tetapi Roh Kudus ada di dalam kita. Dia lebih dekat daripada saya; Dia ada di dalam kita. Dia bisa memimpin kita. Kita hanya perlu mendengarkan suara-Nya.

Masalah pada gereja hari ini adalah bahwa gereja hanya mempelajari Kitab Suci dan tidak bertanya kepada Roh di batin. Jika kita hanya memiliki pengajaran Alkitab dan tidak memiliki pimpinan batini Roh, Alkitab hanya akan menjadi huruf-huruf yang mematikan bagi kita. Buku The Assembly Life (Hidup Gereja) sudah diterbitkan, namun suatu pertanyaan yang besar tetap ada, yaitu apakah kita memiliki pimpinan dari Roh atau tidak. Jika kita berusaha untuk mempraktekkan Hidup Gereja seolah-olah kita sedang mempraktekkan Sepuluh Perintah (Hukum Taurat) dan mengabaikan pimpinan Roh di batin, sidang-sidang kita akan mati. Pernah sekali saya melihat seorang saudari yang dengan membabi-buta mengikuti orang lain untuk menudungi kepalanya; dia tidak mengikuti pimpinan Roh. Ketika saya melihat hal itu, saya menyuruh dia untuk melepaskan tudung kepalanya. Ketika seorang saudara melihat saya, dia bertanya kenapa saya menyuruh saudari itu untuk melepaskan tudung kepalanya. Saya menyuruh saudara itu untuk menanyakan satu pertanyaan kepada saudari tersebut: Apakah dia itu kaum beriman Perjanjian Lama atau kaum beriman Perjanjian Baru? Kaum beriman Perjanjian Lama patuh secara luaran; dia hanya memelihara hukum yang luaran. Namun kaum beriman Perjanjian Baru memiliki Roh di dalam dirinya. Hidup kita adalah hidup yang berjalan menurut pimpinan Roh Kudus. Jika kita tidak mematuhi suara dari Roh di batin, kita sedang tidak mematuhi Allah. Jika Roh di batin tidak menyuruh kita untuk melakukan sesuatu, dan kita melakukannya, kita bersalah di mata Allah tidak peduli betapa baiknya pekerjaan kita itu.

Misalnya seorang saudara ingin dibaptis. Jika dia melakukannya hanya karena Alkitab berkata demikian, dia itu salah. Kita harus mematuhi Alkitab menurut Roh. Setiap peraturan luaran dan setiap adat istiadat manusia adalah hukum Taurat. Kita harus melakukan segalanya menurut pimpinan Roh. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengikuti pimpinan batini. Jika kita memberi tahu orang lain untuk melakukan sesuatu hanya karena Alkitab berkata demikian, kita sedang memelihara hukum Taurat. Kecuali Roh bekerja terlebih dahulu di dalam seseorang, apa pun yang dia lakukan secara luaran adalah berasal dari hukum Taurat. Segala sesuatu yang bukan berasal dari pimpinan Roh ada di dalam prinsip hukum Taurat. Hukum Taurat Perjanjian Lama ada di luar manusia, sedangkan Roh Perjanjian Baru ada di dalam manusia. Semoga Tuhan merahmati kita. Kita tidak melihat banyak pekerjaan Roh Kudus hari ini sebab kita tidak menghormati Dia dan tidak mengenal Dia. Jika kita menghormati Dia, mengenal Dia, dan memperbesar Dia, Dia bisa melakukan hal-hal yang besar di tengah-tengah kita. Jika kita memiliki keyakinan dari Roh untuk melakukan sesuatu hal, kita bisa tidak bergeming bahkan jika seluruh dunia menggelengkan kepalanya. Semoga kita semua mengikuti pimpinan batini dan tidak melakukan apa-apa tanpa pimpinan batini. Mematuhi pimpinan batini seperti ini adalah kepatuhan yang sejati. Hanya mereka yang patuh seperti ini yang akan mendengar perkataan Allah, dan hanya mereka yang akan memiliki iman yang mensubstansiasikan segala hal rohani.