BAB ENAM
KISAH PENCIPTAAN DAN KEBENARAN MENGENAI DISPENSASI
Jika kita ingin memahami Alkitab dengan jelas, kita harus membagi Alkitab ke dalam beberapa dispensasi yang berlainan. Wahyu Allah di dalam Alkitab berbeda menurut dispensasi yang berlainan. Allah menggunakan cara tertentu untuk membereskan orang-orang di dalam masing-masing dispensasi. Jika dispensasi-dispensasi ini dicampur-adukkan dalam pengkajian Alkitab, ada yang akan melihat banyak kontradiksi dan menemukan banyak bagian yang sulit untuk dimengerti sebab mereka tidak menyadari bahwa pemberesan Allah terhadap manusia berbeda-beda menurut dispensasi yang berlainan. Orang-orang tidak percaya mengira bahwa kontradiksi ini eksis dikarenakan para penulis Alkitab tidak memiliki konsep yang lengkap mengenai Allah. Mereka mengira bahwa konsep Allah berevolusi secara bertahap sampai menjadi terang dan jelas pada jaman Tuhan Yesus. Ini adalah nada orang-orang tidak percaya yang berusaha untuk mendiskreditkan Alkitab sebagai wahyu Allah. Kita tidak bisa menerimanya, tapi kita mengakui bahwa memang ada kemajuan doktrin di dalam kitab-kitab yang berlainan di dalam Alkitab. Apa yang kita lihat hanya secara samar-samar di dalam permulaan Perjanjian Lama termanifestasi, dalam terang Perjanjian Baru yang jelas, kekurangan wahyu yang penuh. Ini bukan dikarenakan konsep manusia terhadap Allah yang berubah, melainkan karena wahyu Allah terhadap manusia berbeda. Pemberesan Allah terhadap manusia berbeda-beda menurut suatu dispensasi tertentu; oleh karena itu, Allah secara bertahap mewahyukan Diri-Nya kepada manusia dan juga mewahyukan perbuatan seperti apa yang seharusnya dimiliki seseorang selama dispensasi dimana dia hidup.
Kita harus membagi Alkitab menjadi beberapa dispensasi yang berbeda-beda. Banyak orang mengira bahwa satu-satunya pemisahan dispensasional di dalam Alkitab adalah antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Walaupun pemisahan ini adalah suatu bantuan yang baik sekali dalam pengkajian, tapi belum sempurna. Semua sarjana Alkitab yang telah mempelajari Alkitab dengan cermat telah melihat bahwa ada tujuh dispensasi di dalam Alkitab. Analisa ini bukan berdasarkan ide manusia. Melalui pengkajian yang tekun, kita bisa melihat bahwa ada pembagian yang alami (dari tujuh dispensasi) di dalam Alkitab.
Dispensasi yang pertama adalah dispensasi tanpa dosa (dispensation of innocence), mencakup periode waktu dimana Adam dan Hawa berada di taman Eden. Dispensasi yang kedua adalah dispensasi hati nurani, mencakup periode waktu yang dimulai setelah Adam diusir dari firdaus dan menerima hati nurani sampai akhir banjir besar. Dispensasi ketiga adalah dispensasi pemerintahan manusia, mencakup periode waktu setelah banjir besar sampai penyerakan di Babel. Dispensasi keempat adalah dispensasi janji, mencakup periode antara pemanggilan Abraham dan keluarnya bani Israel dari Mesir. Dispensasi kelima adalah dispensasi hukum Taurat, mencakup periode mulai dari keluar dari Mesir dan pemberian hukum di Gunung Sinai sampai waktu ketersaliban. Dispensasi keenam adalah dispensasi kasih karunia, mencakup periode waktu mulai dari kematian Tuhan Yesus dan turunnya Roh Kudus sampai keterangkatan kaum saleh. Dispensasi ketujuh adalah dispensasi kerajaan, dimulai dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua dan penegakkan kerajaan di bumi sampai akhir milenium. Setelah milenium, langit dan bumi akan dibakar oleh api. Lalu Allah akan membuat langit baru dan bumi baru dimana orang-orang benar akan tinggal. Ini akan menjadi permulaan dari kekekalan.
Dua dispensasi yang paling penting di dalam Alkitab adalah dispensasi hukum Taurat dan dispensasi kasih karunia. Kedua dispensasi ini adalah yang paling panjang dan paling sering disinggung di dalam Alkitab. Kondisi awal manusia, perjanjian Allah dengan manusia, kejatuhan manusia, dan penghakiman Allah semuanya berbeda-beda di dalam masing-masing dispensasi ini. Jika kita tidak membedakan dispensasi yang berlainan ini ketika kita membaca Alkitab, kita akan melihat banyak kontradiksi. Allah membereskan orang-orang secara berbeda di dalam masing-masing dispensasi. Jika kita tidak dengan cermat membedakan dispensasi, kita bisa menuntut orang-orang di dalam dispensasi ini untuk memelihara hukum Taurat. Ini akan menghasilkan kekacauan dan membuat kita menyalah-artikan makna dari Alkitab. Ketujuh dispensasi dari Alkitab ini memberi tahu kita cara-cara yang berlainan yang diambil Allah dalam membereskan manusia. Tujuan terbesar Allah di dalam ketujuh dispensasi ini, sejauh menyangkut manusia, adalah untuk memperlihatkan bahwa manusia seharusnya diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan oleh pekerjaan. Galatia 3 memberi tahu kita bahwa ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, tujuan-Nya adalah supaya manusia bisa diselamatkan melalui kasih karunia. Pada saat itu manusia tidak tahu bahwa dia itu berdosa dan tidak mau mengakui bahwa dia tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri melalui pekerjaan baik. Untuk memperlihatkan manusia bahwa dia berdosa dan tidak bisa melakukan kebaikan, Allah menambahkan hukum Taurat setelah Dia memberikan janji-Nya kepada Abraham supaya manusia bisa mengenal dirinya sendiri. Semua perintah dan ketentuan di dalam hukum Taurat memperlihatkan ketidakmampuan dan kecemaran batini manusia sehingga dia akan bersedia untuk menerima kasih karunia dan diselamatkan. Menurut alamiah manusia, tidak seorang pun menyukai kasih karunia. Semua orang mengira bahwa diri mereka mampu, mampu untuk berbuat baik, tanpa dosa di dalam diri mereka, bersih, dan mampu untuk diselamatkan melalui pekerjaan yang baik. Karena itulah Allah harus pertama-tama membuat manusia mengenal dirinya sendiri; hanya dengan demikianlah dia akan mengakui bahwa dia itu tidak berdaya, hanya dengan demikianlah dia akan mengaku bahwa dia adalah orang berdosa dan menerima kasih karunia Allah tanpa kesombongan sama sekali. Allah menghabiskan lebih dari seribu lima ratus tahun di dalam dispensasi hukum Taurat untuk membuktikan bahwa tidak seorang pun di dunia bisa memelihara hukum Taurat-Nya atau pun melakukan kebaikan. Setelah ujian selama lima belas abad Allah memanifestasikan tujuan sebenar-Nya di dalam dispensasi kasih karunia; manusia bisa diselamatkan melalui percaya pada kasih karunia-Nya. Kasih karunia ini diberikan kepada dunia melalui kematian Tuhan Yesus bagi orang-orang berdosa. Sungguh disayangkan bahwa bahkan hari ini masih ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka itu penuh dengan dosa. Mereka masih berencana untuk diselamatkan melalui pekerjaan. Orang-orang ini seharusnya kembali kepada dispensasi hukum Taurat dan diuji supaya mengenal diri mereka sendiri!
Kita hanya bisa berbicara sedemikian mengenai pengajaran tujuh dispensasi. Sekarang kita akan menunjukkan mengapa kisah penciptaan di dalam Kejadian 1 mengekspresikan pengajaran tujuh dispensasi di dalam Alkitab. Ada banyak penulis di Eropa dan Amerika Serikat yang lebih cakap dari saya dan yang sudah menulis banyak wacana mengenai poin ini. Saya tidak percaya kalau saya bisa menulis lebih baik dari mereka, tapi saya hanya ingin menyinggung poin-poin ini secara singkat untuk membantu mereka yang belum mengenal pengajaran ini.
Sebelum kita maju lebih jauh, kita harus pertama-tama menyinggung satu ayat secara khusus. Kita tahu bahwa di dalam dispensasi ketujuh akan ada seribu tahun. Ini adalah kerajaan seribu tahun, dan Wahyu 20 dengan jelas memberi tahu kita bahwa dispensasi kerajaan akan benar-benar berlangsung seribu tahun. Banyak yang menyalah-artikan Sabat dari penciptaan sebagai lambang dari kerajaan seribu tahun. Karena hari Sabat milenial itu seribu tahun, berdasarkan 2 Petrus 3:8 mereka mengira bahwa enam hari juga adalah enam ribu tahun. Mereka mengira bahwa tujuh hari penciptaan adalah lambang dari tujuh ribu tahun sejarah dunia. Dasar mereka adalah "bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari." Ini keliru, dan saya sendiri tidak percaya. Pengajaran di dalam 2 Petrus 3:8 tidak memberi tahu kita bahwa Tuhan menganggap satu hari sebagai seribu hari. Tujuan dari ayat ini adalah untuk menjelaskan kepada kaum saleh bahwa waktu bukan masalah bagi Allah yang kekal. Dia adalah Allah yang kekal; karena itu, waktu tidak mempengaruhi-Nya. Jika kita mengatakan bahwa tujuh hari penciptaan berarti tujuh ribu tahun karena Tuhan menganggap satu hari seperti satu tahun, lalu bagaimana kita menjelaskan kalimat selanjutnya yang mengatakan bahwa Tuhan menganggap "seribu tahun sama seperti satu hari." Oleh karena itu, makna yang sebenarnya dari ayat ini bahwa Tuhan menganggap "seribu tahun sama seperti satu hari" adalah bahwa dalam penderitaan-Nya yang berkepanjangan (longsuffering), seribu tahun itu tidak banyak. Dalam hubungan dengan keterlambatan-Nya, Tuhan menganggap bahwa "satu hari sama seperti seribu hari." Ini berarti keterlambatan satu hari bagi Dia sama dengan terlambat seribu tahun. Ini berbicara mengenai kesetiaan dari janji Tuhan dan kelapangan kasih karunia-Nya. Ini terbukti di dalam ayat selanjutnya. Kita tidak seharusnya membawa firman dari Alkitab keluar dari konteksnya untuk membuktikan ide kita.
Sekarang kita kembali kepada judul kita. Kejadian 1:1 mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Ini menandakan dispensasi tanpa dosa. Apa yang Allah ciptakan adalah sempurna, baik, dan tanpa cacat. Selama dispensasi tanpa dosa, umat manusia juga tanpa dosa. Akan tetapi, langit dan bumi yang diciptakan oleh Allah tidak tetap dalam kondisi yang sama seperti ketika mereka keluar dari tangan Allah. Ayat 2 memberi tahu kita bahwa "bumi tanpa bentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam." Bumi yang diciptakan Allah berubah dari penampilannya yang semula. Dia dihakimi oleh Allah; oleh karena itu, dia jatuh ke dalam keadaan yang gersang. Kesempurnaan yang sebermula telah hilang. Ini menunjukkan situasi setelah manusia diusir dari taman Eden. Manusia berdosa, jatuh, mengikuti perkataan Satan, dan memberontak melawan perintah Allah. Mereka menerima penghakiman dan murka Allah. Mereka tidak lagi memiliki hak untuk tinggal di dalam firdaus Eden yang indah. Mereka diusir dalam ketelanjangan, penderitaan, dan kutukan. Walaupun mereka ditutupi oleh jubah kulit, mereka telah kehilangan rupa mereka yang sebermula. Sejak saat itu, satu-satunya cara untuk menjabarkan kondisi mereka adalah bahwa dengan keringat di wajah, dia akan makan roti, dan dalam dukacita dia akan melahirkan anak dan berada di bawah penindasan. Inilah permulaan dan kesimpulan dari dispensasi pertama--dispensasi tanpa dosa.
Pekerjaan pada hari pertama adalah lambang dari dispensasi kedua, dispensasi hati nurani, sebab pekerjaan pada hari itu dengan jelas menunjukkan kondisi sebelum banjir besar. Walaupun terang bersinar, penerangan tersebut tidak menginterfensi ataupun membantu penciptaan. Bersinarnya terang itu hanya mewahyukan kegersangan. Pada saat ini walaupun manusia menerima suatu hati nurani untuk membedakan yang baik dari yang jahat dan memahami benar dan salah, mereka tidak memiliki pertolongan Allah untuk mengekang sifat dosa mereka atau perbuatan dosa yang berasal dari sifat dosa mereka. Selain mewahyukan kedosaan manusia, hati nurani tidak menahan seseorang dari berbuat kejahatan. Pekerjaan hati nurani adalah seperti bersinarnya terang Allah ke dalam orang-orang berdosa; dia mewahyukan satu demi satu kegagalan dari orang-orang berdosa dan dengan sepenuhnya mengekspos bahkan hal yang paling kecil sekalipun. Sama seperti terang hari pertama tidak bisa memberikan bantuan kepada dunia yang gersang, hati nurani juga tidak bisa memberi kita bantuan apa pun.
Pekerjaan pada hari kedua adalah penciptaan cakrawala. Tidak sulit untuk menemukan makna cakrawala di dalam Alkitab. Daniel 4:26 mengatakan, "Segera sesudah tuanku mengakui, bahwa Sorgalah yang memiliki kekuasaan." Menurut Alkitab, cakrawala terutama mengacu kepada posisi otoritas. Air berada di atas cakrawala. Jika kita mempelajari sifat dari air, kita tahu bahwa air adalah substansi yang paling lemah dan paling tidak menentu. Ekspresi "lemah seperti air" mengindikasikan hal ini. Cakrawala dan air bergabung berarti otoritas yang lemah dan tidak menentu. Ada otoritas, tapi lemah dan tidak menentu. Pekerjaan pada hari kedua adalah lambang dari dispensasi pemerintahan manusia. Setelah banjir besar, Allah menyerahkan otoritas untuk memerintah kepada manusia. Sebelum banjir besar, ketika adik Kain mati, dia berkata, "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" (Kej. 4:9). Setelah banjir besar, Allah memerintahkan, "Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia" (9:6). Ini dengan jelas membicarakan pemerintahan manusia sebab Allah menyerahkan otoritas kepada manusia untuk mengeksekusi hukuman mati. Ada otoritas, tapi manusia yang memiliki otoritas selemah air. Perintah itu diserahkan kepada Nuh, tapi tidak lama kemudian Nuh mengekspos kelemahannya sendiri dalam perkara mabuk-mabukan dan tidur dalam ketelanjangan (ay. 21). Walaupun Allah tidak memuji bahwa pekerjaan-Nya pada hari kedua itu baik, tujuan-Nya adalah baik. Pemerintahan manusia didirikan oleh Allah. Dia tidak bisa memberkati pemerintahan manusia, tapi melalui pemerintahan ini Dia bisa membuat manusia menerima berkat.
Pekerjaan pada hari ketiga adalah lambang dari dispensasi janji. Di dalam pekerjaan pada hari ketiga, daratan kering dipisahkan dari samudera. Menurut pengajaran Daniel 7:2-3 dan 17 dan Wahyu 17:15, kita tahu bahwa samudera mengacu kepada bangsa Kafir. Di dalam Alkitab, tanah kering adalah lambang dari bangsa Yahudi. Kita sering bisa melihat hal ini di dalam kitab-kitab para nabi, sebab setiap kali para nabi menyinggung "tanah/negeri ini," itu mengacu kepada tanah/negeri Yehuda. Oleh karena itu, pemisahan daratan kering dari samudera menandakan bani Israel dipisahkan dari bangsa Kafir. Dispensasi janji dimulai dengan pemanggilan Abraham. Panggilan untuk meninggalkan Ur-kasdim adalah seperti daratan kering dipisahkan dari samudera. Dimulai dengan Abraham, bani Israel menjadi umat pilihan khusus Allah. Panggilannya untuk dipisahkan dari bangsa Kafir adalah permulaan dari pemisahan bani Israel oleh Allah. Tujuan Allah dalam memisahkan daratan kering dari samudera adalah supaya dia menghasilkan buah. Ini membawa kita kepada bagian kedua dari pekerjaan di hari ketiga.
Kita sudah menyinggung sebelumnya bahwa pekerjaan pada hari ketiga terbagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, Allah memisahkan daratan kering dari samudera; pada bagian kedua, Allah membuat daratan menghasilkan buah. Bagian pertama dari pekerjaan adalah lambang dari dispensasi keempat, dispensasi janji. Bagian kedua dari pekerjaan di hari ketiga adalah lambang dari dispensasi kelima, dispensasi hukum Taurat. Allah memberikan hukum Taurat kepada bani Israel supaya mereka berbuah. Hukum Taurat adalah seperti bajak untuk menggarap tanah dalam-dalam sehingga dia bisa menghasilkan buah. Ketika Allah memberi hukum Taurat kepada bani Israel, maksud sebermulanya adalah supaya mereka berbuah. Air tidak bisa menghasilkan buah. Demikian juga Allah tidak menuntut bangsa Kafir untuk menghasilkan buah kepada-Nya. Allah memperhatikan tanah. Melalui hukum Taurat dia menaburkan benih ke dalam bangsa Israel. Sebagai pemilik tanah, Dia sering mengutus para pelayan-Nya kepada para penggarap tanah untuk meminta buah. Kita tahu bahwa hanya sedikit buah yang dihasilkan oleh bani Israel. Walaupun demikian, Allah memakai mereka untuk menghasilkan buah sebab "keselamatan datang dari bangsa Yahudi" (Yoh. 4:4). Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang berada di bawah hukum Taurat (Gal. 4:4). Dia memelihara hukum yang sempurna dan menghasilkan buah yang paling baik. Dia adalah seorang Israel sejati. Sedangkan untuk bani Israel lainnya, mereka akan menghasilkan buah di dalam kerajaan seribu tahun.
Pekerjaan pada hari keempat adalah lambang dari dispensasi keenam, dispensasi kasih karunia. Benda-benda penerang surgawi dengan jelas membicarakan Kristus dan gereja-Nya. Ini mewakili jaman gereja hari ini. Kristus adalah seperti matahari yang muncul di dalam hati manusia melalui kuasa Roh Kudus. Dalam cara ini manusia memahami dan menerima kasih karunia-Nya. Selama periode ini gereja memiliki tanggung jawab untuk memantulkan terang Kristus. Jaman hari ini adalah malam panjang yang sangat gelap. Selama periode ini Kristus telah naik ke surga. Gereja dan kaum saleh adalah satu-satunya benda penerang di bumi. Kita tahu bahwa semua benda penerang ini berasal dari langit. Kita bersinar di hadapan manusia berarti kita seharusnya dilihat sebagai orang-orang dari dunia lain. Orang-orang akan melihat bahwa Kristus itu bukan dari dunia dan bahwa kita juga bukan dari dunia. Kehidupan kita seharusnya juga memikul sifat surgawi dengan Kristus bersinar melalui wajah kita melalui sukacita dan kepuasan kita dalam Dia. Seluruh kesaksian gereja selama jaman kasih karunia ini berhubungan dengan penyinaran ini. Sangat disayangkan bahwa terang hari ini sudah menjadi demikian suram da tidak jelas! Mempelai laki-laki berlambatan, dan terang telah menjadi kabur. Selain dari pelita milik para dara, ada terang apa lagi di dalam dunia? Bersinarnya terang injil adalah karakteristik dispensasi kasih karunia.
Pekerjaan pada hari kelima adalah lambang dari periode kesusahan besar yang dimulai pada akhir jaman gereja. Ada suatu periode pendek di antara akhir dispensasi keenam dan permulaan dari dispensasi ketujuh yang disebut dengan kesusahan besar. Ini adalah waktu pengujian bagi penghuni bumi.
Di dalam pekerjaan hari kelima ini, Allah kembali bekerja pada air (menciptakan makhluk-makhluk di dalam air – red). Pada saat itu gelombang dan ombak bergelora di laut. Situasi ini dijabarkan di dalam Mazmur 93:3-4. "Air bah (the floods) telah mengangkat, ya Tuhan, air bah telah mengangkat suaranya, air bah mengangkat bunyi hempasannya." Ini adalah kondisi sebermula dari hari tersebut. Tapi "dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat Tuhan di tempat tinggi" (Mzm. 93:4).
Ini adalah hari pengujian bagi dunia sebab pada waktu ini Allah akan menjatuhkan ujian kepada seluruh penghuni bumi (Why. 3:10). Samudera mengacu kepada bangsa Kafir. Pada saat itu bangsa Kafir akan menjadi liar dalam cara-cara mereka dan memberontak melawan Tuhan. Oleh karena itu, mereka akan berada di bawah ujian dari Allah. "Di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala yang menimpa bumi ini" (Luk. 21:25b-26a). "Sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar" (Yes. 26:9). Oleh karena itu, samudera akan penuh dengan banyak makhluk hidup. Pada saat itu Allah akan sudah memanggil pulang semua umat surgawi-Nya sebab Allah ingin mempersiapkan umat bumiah-Nya di atas bumi. Walaupun lamanya periode ini tidak akan panjang, Allah akan melakukan pekerjaan persiapan, sebab Dia ingin semua penghuni bumi untuk menikmati berkat di dalam hari-hari dimana kebenaran dan keadilan-Nya meraja.
Sementara penghuni bumi sedang diuji, Allah akan bekerja di udara. Allah tidak hanya menciptakan makhluk hidup di air, Dia juga membuat unggas bersayap di udara pada hari tersebut. Makna rohani dari hal ini tidak sulit untuk dipahami. Alkitab memberi tahu kita bahwa ketika penghuni bumi, bangsa Kafir, berada di bawah pengujian dan sedang dihakimi oleh Allah, kaum saleh akan diterima oleh Tuhan di udara. "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu?" (Mat. 6:26). "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu....Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Mat. 10:29, 31). Tidakkah ini mengacu kepada orang-orang Kristen? Unggas bersayap sebenarnya adalah hewan di langit. Walaupun kadang-kadang mereka turun ke bumi, pada akhirnya mereka kembali ke rumah. Tempat di mana mereka tinggal dan terbang adalah di udara. Allah telah menetapkan bahwa unggas bersayap bisa terbang di atas bumi di udara. Pada masa kesusahan besar, "Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan" (1 Tes. 4:16-17). Unggas bersayap akan segera pulang.
Di dalam pekerjaan hari keenam, Allah menciptakan Adam dan Hawa dan memerintahkan mereka untuk menguasai bumi. Ini adalah lambang dari dispensasi ketujuh, dispensasi kerajaan. Rasul Paulus memberi tahu kita di dalam Roma 5:14 bahwa Adam adalah lambang Kristus yang akan datang. Dia juga memberi tahu kita di dalam Efesus 5:25 dan 32 bahwa Hawa adalah lambang dari gereja, yang akan dipersembahkan kepada Kristus tanpa cacat atau kerut. Selama dispensasi ketujuh, Kristus, sebagai Putra Manusia, akan duduk di atas takhta-Nya bersama umat-Nya (Why. 1:13; 3:21). Pemerintahan ini menyangkut Allah memerintah melalui manusia. Manusia ini adalah manusia Kristus Yesus (1 Tim. 2:5).
Di dalam pekerjaan pada hari tersebut, kita melihat banyak makhluk hidup dihasilkan di bumi. Makhluk hidup di air dan unggas bersayap di udara sudah disinggung. Allah akan memalingkan perhatian-Nya kepada bani Israel lagi. Mereka adalah "daratan." Selama seribu tahun, bukan hanya bangsa kafir yang telah melewati kesusahan besar akan menjadi warganegara dari kerajaan, dan bukan hanya kaum saleh akan meraja bersama Kristus, tapi bani Israel juga akan kembali berjaya. Mereka akan menerima berkat Allah yang telah dinubuatkan melalui para nabi; mereka akan menerima apa yang telah Allah janjikan ketika Dia membuat perjanjian dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. "Pada hari-hari yang akan datang, Yakub akan berakar, Israel akan berkembang dan bertunas dan memenuhi muka bumi dengan hasilnya" (Yes. 27:6). Pada saat itu Allah akan menaburkan Yizreel di bumi (Hos. 2:21b-22a).
Sisa dari hari ketujuh adalah lambang dari langit baru dan bumi baru, dan dari kekekalan setelah seribu tahun. Tujuh dispensasi telah berlalu. Yang tertinggal adalah perhentian/istirahat. Perhentian ini bukan lambang dari seribu tahun, sebab seribu tahun bukan suatu perhentian. Allah berhenti pada hari ketujuh dan tidak bekerja lagi. Tapi seribu tahun masih bukan waktu bagi Allah untuk berhenti; Allah baru akan mendapatkan perhentian pada langit baru dan bumi baru. Oleh karena itu, hari perhentian bukanlah lambang dari seribu tahun.
Tidak ada hari lain lagi setelah hari ketujuh. Seluruh pekerjaan akan sudah selesai. Kedambaan hati dari kehendak Allah akan tergenapi. Dia memberkati hari perhentian. Menurut pemikiran Allah, hanya ada tujuh hari. Tidak perlu melanjutkan hari berikutnya setelah tujuh hari. Pekerjaan penebusan akan sudah digenapi. Segala sesuatu akan sudah digenapi menurut tujuan kekal Allah. Waktu tidak akan diperlukan lagi setelah pekerjaan selesai. Allah akan mengagumi Diri-Nya sendiri dalam segala pekerjaan yang telah Dia buat di antara makhluk ciptaan dan akan memberkati mereka selamanya. Akan tetapi, sebelum langit baru dan bumi baru dengan perhentian kekal tiba, pekerjaan Allah belum lengkap. Mata-Nya berkenan untuk melihat pekerjaan penebusan-Nya diselesaikan selengkapnya. Sebelum selesai, Dia tidak bisa beristirahat. Sungguh, bagaimana Allah bisa mendapatkan perhentian sebelum perampungan tersebut? Dia akan beristirahat ketika Dia melihat umat tebusan-Nya sepenuhnya dipersatukan kepada Dia yang unik dan diutus, menerima segala otoritas dan berkat. Inilah kekekalan. Kekekalan terletak pada kepuasan dan pujian Allah. Kapankah waktunya akan tiba?
Sunday, May 23, 2010
Misteri Penciptaan - Bab 5
BAB LIMA
PENCIPTAAN DAN PEKERJAAN YANG KUDUS DARI KRISTUS
Kristus adalah kunci untuk segala kebenaran. Jika Alkitab tidak memiliki Kristus, dia adalah sebuah kitab yang mati. Tanpa Kristus, kita tidak bisa memahami Alkitab. Jika kita memeriksa tempat-tempat di dalam Alkitab, yang sulit untuk dijelaskan atau dipahami, dengan suatu pandangan akan Kristus dan memasukkan Dia ke dalamnya, kita akan menerima terang yang luar biasa. Malah, Alkitab memiliki satu Manusia sebagai pusat; tanpa Manusia ini kita tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Alkitab. Manusia ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dia sendiri mengatakan, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci,...memberi kesaksian tentang Aku" (Yoh. 5:39). Kemudian Dia mengatakan, "Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku" (Ibr. 10:7). Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, dan Kristus adalah Firman Allah yang hidup. Firman yang tertulis adalah untuk mempersaksikan Firman yang hidup. Firman yang hidup adalah untuk menggenapi Firman yang tertulis. Sama seperti kita membaca mengenai Tuhan Yesus di dalam Matius, kita juga bisa membaca mengenai Dia di dalam Kejadian.
Kita sudah melihat di dalam bab sebelumnya bahwa penciptaan jasmani hanyalah mengekspresikan penciptaan rohani. Sekarang kita akan melihat prosedur-prosedur yang diambil Allah dalam penciptaan jasmani-Nya dan bagaimana hal-hal itu berhubungan dengan pekerjaan Kristus dalam penciptaan rohani. Pekerjaan penciptaan Allah sebenarnya dilakukan oleh Tuhan Yesus sebab "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu" (Kol. 1:16). Kita sekarang akan melihat bagaimana Kristus dalam penciptaan jasmani berhubungan dengan Kristus dalam penciptaan rohani. Semoga kita terlepas dari segala terkaan dan hanya memanifestasikan Kristus yang mengenai-Nya Allah telah dengan jelas menulis di dalam kitab-Nya. Karena Allah memakai penciptaan jasmani untuk menandakan penciptaan ulang rohani, sangat memungkinkan bagi kita untuk menemukan bagaimana kedua penciptaan ini berhubungan di tangan Kristus.
PERLUNYA PENEBUSAN
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Semua pekerjaan Allah itu sempurna; semua yang telah melewati tangan Mahaperkasa adalah tanpa cacat dosa, kerut ketuaan, atau penyakit lainnya. Semua pekerjaan Allah adalah seperti Diri-Nya, cantik dan baik secara sempurna. Hal-hal yang baru keluar dari tangan Penguasa alam semesta, Tukang Periuk yang unik, adalah segar dan mulia! Allah menganggap keadaan orisinil umat manusia "sangat baik."
Walaupun demikian, hal-hal yang baik selalu datang bersama banyak ujian, dan keadaan ini tidak berlangsung lama. Setelah melihat bahwa Allah menciptakan suatu langit dan bumi yang sempurna, kita segera mendengar suatu cerita yang tragis: "Bumi menjadi tanpa bentuk, dan kosong" (ay. 2, Ibr.). Catatan di dalam ayat ini berbeda ketika dibandingkan dengan ayat sebelumnya! Bumi yang Allah ciptakan telah berubah! Di antara kedua ayat tersebut, suatu bencana yang luar biasa pasti telah terjadi dan bumi yang cantik itu menjadi tanpa bentuk dan kosong. Dosa telah datang! Para malaikat telah jatuh! Bagian dari sejarah ini demikian menyedihkannya sehingga Allah tidak mau mencatatnya secara langsung. Umat manusia juga berdosa dan jatuh ke taraf yang rendah.
"Gelap gulita menutupi samudera dalam" (ay. 2). Ini adalah gambar dari kejatuhan. Kegelapan menutupi permukaan samudera dalam! Secara rohani, moral, mental, dan tingkah laku, kegelapan membutakan seluruh umat manusia; semuanya dilahirkan dari daging! Otoritas kegelapan, yang adalah kekuatan Satan, turun ke atas orang-orang berdosa di dunia, merampas kebebasan mereka dan menundukkan mereka semua kepada pemerintahannya. Di dalam samudera dalam, manusia menciptakan, menghasilkan, dan menyombongkan kebudayaan dan hikmat mereka; tapi Satan membuat kegelapan menutupi permukaan samudera dalam sehingga tidak ada penerangan dari Allah! Namun manusia masih mengatakan kepada diri mereka sendiri bahwa peradaban di abad kedua puluh ini tidak ada tandingannya! Sebenarnya, itu masih berada di bawah otoritas Satan.
Di dalam keadaan seperti ini, tidak ada harapan bahwa manusia bisa diselamatkan. Allah tidak berutang kepada manusia, kecuali bahwa Dia mengadakan perjanjian dengan manusia bahwa Dia harus memenuhi, mewajibkan Diri-Nya untuk mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia. Jika Dia melaksanakan penghakiman-Nya dan membuat seluruh dunia binasa selamanya, ini akan masih sangat benar. Akan tetapi, Dia memiliki kasih karunia yang besar sekali, suatu kasih karunia yang tanpa batas, sangat agung, dan di luar dugaan manusia. Dia mempersiapkan keselamatan untuk menyelamatkan dunia. Sama seperti Dia memulihkan penciptaan jasmani dalam enam hari, Allah juga menebus manusia yang berdosa dalam penebusan Kristus, yang dilambangkan di dalam enam hari itu, untuk menggenapkan penciptaan rohani-Nya. Kita akan maju selangkah lebih jauh dalam renungan kita. Betapa sukacitanya berbicara lebih banyak mengenai Kristus dan berpikir lebih banyak mengenai Kristus! Baiklah kita dengan khidmat memuji dan menyembah Juruselamat yang ajaib ini atas pekerjaan penyelamatan-Nya yang indah.
I. Pekerjaan pada hari pertama menandakan kelahiran Tuhan Yesus. Pada hari pertama Allah menjadikan terang, dan terang bersinar di dalam kegelapan. Permukaan samudera dalam pada mulanya ditutupi oleh kegelapan, tapi terang datang! Inilah untuk pertama kalinya terang dan kegelapan bertemu. Belum pernah ada keadaan yang seperti ini di bumi; inilah kali pertama terang datang ke dunia yang gelap. Jelas sekali bahwa ini melambangkan kelahiran Tuhan Yesus. Ketika Yohanes berbicara mengenai kelahiran Tuhan Yesus dan inkarnasi Firman, dia mengatakan, "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya," dan "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia" (Yoh. 1:5, 9). Yohanes dengan jelas menyerupakan kelahiran Tuhan Yesus kepada terang yang bercahaya di dalam kegelapan. Ketika Zakharia berbicara mengenai kelahiran Tuhan Yesus, dia juga mengatakan, "Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi" (Luk. 1:78). Bahkan Tuhan Yesus sendiri membandingkan kelahiran-Nya kepada terang yang bersinar ke dalam kegelapan. Dia mengatakan, "Sebab Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia...Terang telah datang ke dalam dunia" (Yoh. 3:17, 19). Ayat-ayat Kitab Suci ini mempersaksikan kepada kita bahwa pekerjaan Allah pada hari pertama, memanggil terang untuk bersinar ke dalam kegelapan, melambangkan Tuhan Yesus yang kelak menjadi terang yang sesungguhnya yang datang ke dalam dunia. Terang sudah datang, namun sayang sekali bahwa dunia tidak mau membiarkan Dia untuk menyinari mereka!
Pekerjaan pada hari pertama adalah langkah pertama dari pekerjaan penebusan. Tanpa terang datang ke dalam dunia, Allah dan manusia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertemu. Tanpa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, orang-orang berdosa tidak akan bisa melihat Allah Bapa, yang diekspresikan hanya oleh Putra tunggal. Sekarang kita bisa melihat bagaimana pekerjaan pada hari pertama dan kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia adalah sama.
Bersinarnya terang terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus. "Dan Roh Allah mengerami di atas permukaan air" (Kej. 1:2, Ibr.). Prinsip yang sama juga berlaku untuk inkarnasi. Malaikat memberi tahu Maria, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Putra Allah" (Luk. 1:35). Putra Allah Yang Mahatinggi dilahirkan dari Roh Kudus. Akan tetapi, dunia tidak menerima pengandungan dari Roh Kudus ini. Oleh karena itu, terang dipanggil pada hari pertama. "Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi" (Kej. 1:3). Ini sudah kita katakan tadi: Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai terang. Sekarang mari kita melihat tempat lainnya di dalam Alkitab. Ketika Simeon melihat Tuhan Yesus sebagai seorang anak kecil, dia mengatakan, "Sekarang, Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel" (Luk. 2:29-32). Siapa yang ingin diterangi oleh Dia?
Allah mendeklarasikan bahwa terang itu baik. "Allah melihat bahwa terang itu baik" (Kej. 1:4). Kata pertama yang diucapkan Allah kepada Tuhan Yesus Kristus adalah, "Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Mat. 3:17). Selain Putra-Nya, tidak seorang pun bisa berkenan kepada hati Bapa sebab "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah" (Rm. 8:8). Salah satu fenomena aneh di antara manusia yang berdosa hari ini adalah adanya pemikiran bahwa tingkah laku mereka itu dengan sempurna berkenan kepada Allah dan bahwa Tuhan Yesus itu kurang lebih sama seperti mereka! Betapa butanya manusia milik daging! Dia tidak bisa melihat kecantikan Tuhan Yesus dan oleh karenanya jatuh cinta kepada-Nya! Bagaimanapun juga, Allah selalu menganggap bahwa Terang ini baik. Diberkatilah mereka yang memiliki pandangan Allah! Terang dan kegelapan dipisahkan. "Dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap" (Kej. 1:4). Di sini kita melihat keharmonisan yang ajaib di dalam catatan Alkitab. Kitab Ibrani mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah "Imam Besar...yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari tingkat-tingkat surga" (7:26). Betapa berbedanya Manusia ini dari orang-orang biasa! Dia bersedia untuk berbagian dengan sifat insani kita, namun Dia tidak memiliki akar dosa seperti kita. Terang dipisahkan dari gelap; Kristus berbeda dari orang-orang berdosa. Allah menamai terang itu. "Dan Allah menamai terang itu siang" (Kej. 1:5). Demikian juga, nama Kristus diberikan oleh Allah. Nama-Nya bukan diberikan oleh Yusuf dan Maria. Ketika Dia masih berada di dalam kandungan ibu-Nya, malaikat memberi tahu Maria, "Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka" (Mat. 1:21). Sebelum Dia dilahirkan, Dia telah dinubuatkan oleh nabi, katanya, "TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan" (Yes. 49:1). Dia adalah Yesus; oleh karena itu, Dia adalah Juruselamat. Karena Juruselamat sudah datang, bagaimanakah kalian memperlakukan-Nya? Dunia tidak meminta Juruselamat. Melalui kasih karunia-Nya yang khusus, Tuhan sendiri datang ke dunia dan menjadi manusia. Juruselamat sudah datang, dan terang sudah bersinar. Namun siapakah yang mau menerima Dia?
Firman menjadi daging adalah pemandangan pertama di dalam permulaan pekerjaan penebusan. Di dalam dirinya sendiri, manusia sangat lemah dan milik daging. Apakah manusia? Manusia hanyalah debu! Manusia itu terbatas dan terikat; segala kebajikan manusia (itupun kalau ada) memiliki batasan yang tidak bisa dilewati. Pemikiran, karakter, tingkah laku, dan etika manusia sepenuhnya berasal dari manusia; mereka tidak akan pernah bisa lebih tinggi dari tingkat ini. Kelemahan, kemerosotan, dan dosa adalah kualitas umum manusia. Jika ada kebaikan, itu tidak bisa melebihi alam manusia. Akan tetapi, jika manusia tetap manusia--lemah, kalah, berdosa--Allah tidak akan puas. Allah itu sempurna. Dia ingin manusia sempurna dalam karakter, moralitas, tingkah laku, dan pemikiran, menurut standar-Nya sendiri. Kalau tidak, Allah tidak akan pernah memilih manusia untuk menjadi pendamping-Nya, memberi manusia hayat yang kekal dan memiliki manusia bersama dengan Dia di surga. Kecuali manusia bisa mencapai tingkat kesempurnaan Allah, dia tidak bisa menerima hal-hal itu. Harapan apa yang dimiliki manusia? Sangatlah penting bahwa Allah menjadi manusia. Kelahiran Yesus adalah perbauran antara keilahian dengan keinsanian. Tuhan Yesus adalah Allah, namun Dia menjadi manusia. Oleh karena itu Dia adalah Allah dan manusia; Dia adalah manusia dan juga Allah. Tadinya ada jurang yang memisahkan Allah dan manusia. Allah tidak bisa menjadi manusia, dan manusia tidak bisa menjadi Allah. Akan tetapi, Firman menjadi daging ketika Tuhan Yesus datang ke bumi ini. Dia adalah jembatan ponton gantung antara Allah dan manusia. Allah dan manusia bertemu di dalam Tuhan Yesus. Manusia tidak hanya menjadi Allah, Allah juga tidak hanya menjadi manusia. Tuhan Yesus mengekspresikan Allah, dan Dia juga mewakili manusia. Dia adalah Allah yang unik, dan Dia juga adalah Manusia yang unik. Karena Dia adalah Allah dan juga manusia, Allah bisa memberi kasih karunia kepada manusia dalam Dia. Karena Dia adalah manusia dan juga Allah, manusia bisa mendekat kepada Allah dalam Dia. Sekarang ada banyak manusia di bumi yang dipenuhi dengan keilahian. Manusia memiliki kemungkinan untuk menerima hayat Allah. Hayat Allah bisa masuk ke dalam roh manusia. Tadinya, mustahil bagi Allah dan manusia untuk dipersatukan; akan tetapi, Allah dan manusia telah dipersatukan di dalam Tuhan Yesus. Mulai titik ini ada kemungkinan bagi Allah dan manusia untuk dipersatukan. Inkarnasi bukan totalitas dari injil. Inkarnasi adalah langkah pertama dari keselamatan; langkah ini memproklamirkan sifat dan hasil dari keselamatan yang mendekat.
Akan tetapi, ini bukan alasan langsung bagi inkarnasi. Alasan bahwa Putra Allah "menjadi sama [darah dan daging] dengan mereka" adalah (1) "supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan...Iblis"; dan (2) "membebaskan [manusia] pula" (Ibr. 2:14-15). Semua orang sudah berdosa, dan upah dosa adalah maut. Yang memiliki kuasa maut adalah iblis. Dosa membawa manusia kepada maut, dan melalui maut dikarenakan dosa, iblis menguasai manusia. Oleh karena itu, bagi Allah untuk menyelamatkan manusia, Dia harus membereskan masalah hukuman dari dosa melalui menghancurkan kuasa maut, yang berada di bawah komando iblis. Hukuman dosa adalah maut, namun maut mewajibkan tubuh jasmani. Oleh karena itu, Tuhan Yesus "menjadi sama [darah dan daging] dengan mereka." Karena Dia memiliki tubuh jasmani, Dia bisa mati dan menebus manusia. Oleh karena itu, Allah "menyediakan tubuh" bagi-Nya "untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku"; kehendak ini adalah "persembahan tubuh Yesus Kristus...setelah mempersembahkan hanya satu kurban saja karena dosa, Kristus duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah" (Ibr. 10:5, 7, 10, 12). Iblis memiliki kuasa maut. Karena tidak ada satu manusia pun bisa mengalahkan maut, Yesus mendapatkan tubuh insani, mati, dan juga bangkit. Dia mengalahkan semua kuasa iblis dan memusnahkannya.
Manusia telah berdosa dan seharusnya mati. Allah tidak bisa memberikan kasih karunia dengan mengorbankan kebenaran, dan Dia juga tidak bisa menyelamatkan manusia tanpa menghukum dosa. Allah ingin menyelamatkan manusia, namun Allah juga ingin menghukum dosa. Oleh karena itu, Dia sendiri menjadi manusia untuk menanggung hukuman dosa atas nama manusia. Akibatnya, dosa bisa dihakimi dan manusia bisa diselamatkan. Jika Allah tidak menjadi manusia, hal ini tidak akan pernah tergenapi. Karena dosa-dosa dilakukan oleh manusia, hukumannya juga seharusnya ditanggung oleh manusia. Allah tidak bisa mati. Tapi bahkan jika Allah bisa mati bagi manusia, itu akan tidak adil sebab manusialah yang melakukan dosa, bukan Allah. Itulah sebabnya mengapa Allah harus menjadi manusia. Manusia, secara kolektif, telah berdosa. "Manusia Kristus Yesus," Manusia yang unik yang di dalamnya seluruh ras manusia tercakup, telah menanggung hukuman dosa; ini memenuhi syarat hukum Taurat. Manusia, dunia, telah berdosa, dan Manusia itu, Tuhan Yesus, telah menanggung hukumannya; ini sangat adil. Jika Tuhan Yesus terpisah dari manusia, maka kematian Tuhan Yesus tidak bisa dihitung sebagai manusia yang menanggung hukuman dosa. Walaupun Tuhan Yesus itu Allah, Dia benar-benar adalah manusia, telah dipersatukan sepenuhnya dengan ras manusia. Oleh karena itu, kematian-Nya adalah kematian manusia. Dia tidak seharusnya mati; oleh karena itu, kematian-Nya adalah sebuah kematian yang menggantikan. Inilah yang telah digenapkan inkarnasi.
Walaupun demikian, Kristus haruslah Allah; kalau tidak, penebusan tidak adil. Karena Kristus adalah Allah, Dia adalah Dia yang telah diserang dunia; Dia memiliki hal untuk menerima serangan dunia dan mengampuni mereka. Jika Dia bukan Allah, maka Dia bukan yang diserang; melainkan, Dia adalah pihak ketiga yang tidak berdosa. Ketika seseorang yang tidak berdosa mati bagi para penyerang, walaupun itu adalah penuh belas kasih, hal tersebut merupakan suatu ketidakadilan bagi orang yang tidak berdosa itu. Akan tetapi, Kristus bukan pihak ketiga. Dia terlibat secara langsung. Dia adalah yang dilukai; oleh karena itu, Dia memiliki kuasa untuk mengampuni dan menanggung akibat dari dilukai. Dia adalah Allah.
Inkarnasi tidak menyusun keseluruhan keselamatan. Penggenapan keselamatan terletak pada penyaliban. Inkarnasi adalah langkah pertama dari keselamatan. Jika Juruselamat belum pernah mengosongkan Diri-Nya untuk menjadi manusia, Dia tidak akan pernah bisa mati untuk menyelamatkan manusia. Betlehem mendahului Golgota. Tanpa Betlehem, tidak akan pernah ada Golgota. Betapa kasih karunia yang ajaib bahwa Putra Allah mau menanggalkan Diri-Nya sendiri untuk menjadi manusia! Betapa misteri yang agung bahwa Putra Allah mau menjadi daging!
II. Pekerjaan pada hari kedua menandakan kematian Tuhan Yesus. Dalam pekerjaan di hari kedua, Allah membuat cakrawala dan memisahkan air yang di bawah cakrawala dengan air yang di atas cakrawala. Cakrawala ini adalah langit kita. Tadinya, semua air dikumpulkan semua pada satu tempat, tidak ada pemisahan. Kemudian langit yang beratmosfir muncul dan memisahkan air di bawah langit dari air di atas langit. Langit yang beratmosfir ini merupakan suatu lambang yang jelas mengenai salib Tuhan Yesus. Di dalam pekerjaan hari kedua, pemisahan adalah sebuah hal yang besar. Pemisahan ini terdiri dari dua bagian. Di dalam bagian pertama, cakrawala di dalam air memisahkan air. Di dalam bagian kedua, air di bawah cakrawala dipisahkan dari air yang di atas cakrawala. Bukankah salib juga terdiri dari dua bagian? Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Dia berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Ini adalah pemisahan-Nya dari Allah. Namun Alkitab juga mengatakan bahwa Dia diputus dari dunia orang-orang hidup. Ini berbicara mengenai pemisahan-Nya dari manusia. Pekerjaan pada hari kedua adalah bagian yang paling penting dalam pekerjaan penebusan. Tanpa pencurahan darah, tidak ada pengampunan dosa-dosa. Dunia bukan hanya memerlukan teladan yang bersinar. Walaupun terang itu baik, dia hanya mengekspos kerusakan manusia dan kondisi yang sesungguhnya dari kejatuhannya. Semakin terang itu bercahaya, semakin seseorang dihakimi. Jika kelahiran Kristus tidak diikuti oleh penebusan, kelahiran-Nya akan menjadi dasar yang paling kuat untuk penghakiman manusia. Jika Dia bisa menempuh kehidupan yang kudus dan benar, semua orang seharusnya juga bisa menempuh kehidupan yang sama. Jika Seseorang bisa melakukannya, semua orang seharusnya bisa juga. Jika Seseorang bisa, namun yang lainnya tidak bisa, maka yang lainnya itu tidak memiliki alasan. Jika kelahiran Tuhan Yesus adalah seluruh pekerjaan, kehidupan-Nya akan menghakimi seluruh dunia akan dosa-dosa mereka. Jika Dia tidak mati bagi manusia, dan jika tujuan kelahiran-Nya bukan untuk penebusan, akan lebih baik bagi-Nya jika Dia sama sekali tidak pernah dilahirkan. Pemikiran, perkataan, tingkah laku, dan penghidupan-Nya jauh melebihi jangkauan siapapun juga. Setiap aspek dari Diri-Nya cukup untuk menghakimi manusia atas dosanya. Dia adalah manusia, dan kalian juga manusia. Jika Dia bisa melakukannya, mengapa kalian tidak bisa? Tabir di dalam Tempat Kudus mungkin indah dan mulia, namun tabir yang sama ini memisahkan Tempat Kudus dan menahan manusia dari Tempat Maha Kudus dan Allah. Hanya tabir yang robek yang bisa menawarkan jalan kepada manusia untuk datang ke hadapan Allah. Yesus yang hidup akan mengusir semua orang dari hadirat Allah, sedangkan Yesus yang mati bisa membawa semua orang berdosa ke Tempat Maha Kudus. "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib"; "Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Ptr. 2:24; 3:18). Selama Dia hidup, tidak ada yang bisa dipersatukan dengan Allah.
Sekarang kita akan melihat bagaimana salib Tuhan Yesus sesuai dengan pekerjaan pada hari kedua. Allah tidak membuat cakrawala langsung sekaligus. Pertama Allah menentukan, lalu Dia melaksanakannya. Ayat 6 mengatakan, "Jadilah cakrawala." Ini berbicara mengenai keputusan Allah. Lalu di dalam ayat 7, kita melihat bahwa "Allah menjadikan cakrawala." Ini adalah Allah melaksanakan keputusan-Nya. Sebelum salib didirikan di Golgota, Allah telah menakdirkan perkara tersebut. Salib sangat mirip dengan cakrawala di sini. Kematian Tuhan Yesus bukan sebuah nasib sial, itu bukan kecelakaan; itu sudah ditakdirkan sebelumnya. "Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (1 Ptr. 1:20). Dia adalah "Anak Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan" (Why. 13:8). Kematian Tuhan Yesus, sama seperti pekerjaan pada hari kedua, dilaksanakan pertama-tama melalui suatu keputusan, lalu suatu eksekusi.
Cakrawala diletakkan di tengah-tengah air. Di dalam Alkitab, air mewakili dunia. Kita bisa melihat hal ini dengan jelas ketika kita mempelajari Wahyu 17:15. Air mewakili dunia dan kerajaan-kerajaan di dunia. Demikian juga salib ditinggikan di tengah-tengah manusia dan bagi manusia. "Di situ mereka menyalibkan Dia. Bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, sedangkan Yesus di tengah-tengah" (Yoh. 19:18). Sebenarnya, Golgota bisa dianggap sebagai pusat dunia. Tuhan Yesus mati di tengah-tengah keinsanian untuk tujuan menyelamatkan manusia.
Cakrawala memisahkan air. Salib Tuhan Yesus memisahkan orang-orang dunia. Ketika Dia disalibkan, salibnya memisahkan kedua orang penjahat untuk selamanya. Yang satu pergi ke Firdaus, yang satunya lagi pergi ke Hades. Sepanjang hidup mereka, keduanya telah berdosa bersama-sama. Namun selama beberapa menit dari akhir hidup mereka, yang satu menerima kematian yang menggantikan dari salib Tuhan Yesus, dan yang lainnya menolak untuk menerimanya. Ada pemisahan antara surga dan neraka! Pemisahan ini adalah untuk selamanya. Salib-Nya memisahkan kedua penjahat pada waktu itu, dan dalam cara yang sama memisahkan seluruh dunia hari ini. Sebenarnya, pemisahan ini tidak terjadi hanya hari ini saja. Di sepanjang sejarah, salib-Nya telah memisahkan semua orang di dalam dunia ke dalam dua jenis: yang diselamatkan dan yang binasa. "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah" (1 Kor. 1:18). Salib memisahkan keselamatan dan kebinasaan bagi manusia. Pemisahan antara orang-orang yang binasa dan orang-orang yang diselamatkan hanyalah berdasarkan sikap mereka terhadap salib. Hanya cakrawala yang bisa memisahkan air yang diatas dari air yang di bawah. Demikian juga, hanya salib yang bisa memisahkan orang-orang yang diselamatkan dan orang-orang yang binasa.
Lebih jauh lagi, cakrawala memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah sehingga air yang di atas tidak bisa turun. Cakrawala berdiri di tengah-tengah. Dia mencegah air dari atas turun ke bawah dan bercampur dengan air di bawah, yang bisa sekali lagi membuat mereka menjadi tanpa bentuk dan kosong, dan membawa mereka kembali kepada keadaan yang gersang dari penghakiman Allah. Kita sudah melihat dari Wahyu 17 bahwa air di bumi merupakan lambang dari orang-orang duniawi. Akan tetapi, air di langit melambangkan hal lainnya. Di jaman Nuh, dunia jatuh ke dalam dosa, dan Allah menghakiminya. Dia mengirim hujan dan membuka jendela langit, mencurahkan air dari atas. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa air di atas adalah lambang dari kemurkaan, penghukuman, dan penghakiman Allah. Jika ini benar, maka tidak sulit untuk menemukan makna dari cakrawala. Cakrawala menahan air yang di atas supaya tidak turun ke air di bawah. Dia berdiri di antara air di atas dan air di bawah. Ini adalah pekerjaan salib. Ketika Tuhan Yesus disalibkan di atas salib, Dia berdiri di tempat kita dan menanggung dosa-dosa kita. Dia adalah penutup kita. Penghakiman, penghukuman, dan murka Allah seharusnya turun ke atas kita dan membuat kita gersang, membuat kita menjadi "samudera dalam." Akan tetapi, Tuhan Yesus berdiri di antara kita dan murka Allah. Ketika Dia disalibkan di atas salib, Dia mengijinkan murka Allah turun ke atas Diri-Nya dan bukan ke atas kita. Menurut ketetapan Allah, murka Allah seharusnya tinggal di atas kita (Yoh. 3:36). Tetapi Dia telah menetapkan-Nya sebagai pemikul dosa-dosa kita. "TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yes. 53:6). Syukur pada Tuhan atas cakrawala di langit yang memisahkan air di atas dari air di bawah! Syukur pada Tuhan atas salib Tuhan Yesus yang memisahkan dunia dari murka Allah! Namun Dia telah menanggung apa yang seharusnya kita tanggung sendiri. Inilah keselamatan. Inilah injil. Jika air di atas tidak dipisahkan dari air di bawah, dunia akan selamanya binasa di bawah air. Jika Tuhan Yesus tidak menanggung murka Allah demi manusia, dunia akan selamanya berada di dalam kegersangan dan tanpa harapan. Inilah pekerjaan salib yang menggantikan/men-substitusi.
Cakrawala diciptakan oleh Allah. Keputusan dibuat oleh Allah, dan penciptaan juga digenapkan oleh Allah. Secara luaran, Tuhan Yesus disalibkan oleh orang-orang Yahudi dan dibunuh oleh orang-orang Kafir. Kelihatannya nyawa-Nya diambil oleh manusia. Akan tetapi, menurut Alkitab, Dia tidak dibunuh sebab Dia mengatakan bahwa tidak seorang pun bisa merebut nyawa-Nya dari Dia. Kematian-Nya adalah penghakiman Allah atas Diri-Nya bagi segala dosa orang-orang berdosa. "Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban penebus salah" (Yes. 53:10). Salib adalah pekerjaan Allah secara langsung. Bukan manusia yang memperlakukan Dia dengan tidak baik. Alkitab mengatakan, "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka" (Kis. 2:23).
Di antara keenam hari pekerjaan Allah, Dia menganggap bahwa pekerjaan-Nya di hari-hari yang lainnya baik. Hari kedua adalah satu-satunya hari dimana Allah tidak mengatakan bahwa apa yang Dia jadikan adalah baik. Apa yang tidak dikatakan Allah adalah sama bermaknanya dengan apa yang dikatakan-Nya. Pekerjaan pada hari kedua adalah Allah membereskan dosa di salib. Murka Allah dimanifestasikan atas Yang Benar untuk tujuan membebaskan orang-orang yang tidak benar. Di sanalah Allah membuat Dia yang tidak berdosa menjadi dosa bagi kita dan membuat Dia menderita penghakiman bagi orang-orang berdosa. Sangatlah bermakna bahwa Dia tidak mengatakan bahwa itu baik. Allah tidak bahagia dalam menghakimi dosa. Dia senang memberi kasih karunia; Dia tidak suka menghakimi.
Pembebasan salib adalah dasar keselamatan. Tanpa salib yang menggantikan, kelahiran Kristus akan sia-sia. Seluruh dunia telah berdosa, dan upah dosa adalah maut. Kecuali ada Juruselamat yang mau mati demi orang-orang berdosa, tidak seorang pun akan lepas dari penghakiman yang layak untuk dia terima. Jika hanya ada kelahiran Kristus, itu akan benar-benar tidak berguna dalam menyelamatkan orang-orang berdosa. Apa yang kekurangan dari manusia adalah Juruselamat yang menanggung dosa, bukan guru yang kudus. Hanya Juruselamat yang mau menderita bagi orang lain yang bisa membebaskan orang-orang berdosa dari dosa-dosa mereka. Jika tidak ada kematian yang bagi orang lain (vicarious death), bahkan kebangkitanpun tidak ada gunanya, sebab tanpa kematian tidak akan bisa ada kebangkitan dan tidak diperlukan kebangkitan. Semua fakta dari keselamatan adalah berdasarkan pekerjaan hari kedua. Jika air tidak dipisahkan, tidak ada kemungkinan bagi daratan untuk muncul. Bahkan bersinarnya terang pada hari sebelumnya akan menjadi sia-sia. Kita seharusnya memberi perhatian pada perkara ini dan tidak pernah lupa bahwa Tuhan Yesus mati di salib bagi kita.
III. Pekerjaan pada hari ketiga menandakan kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam pekerjaan-Nya pada hari ketiga ini Allah membuat air di bawah langit berkumpul di satu tempat, membuat daratan kering muncul, dan membuat daratan menumbuhkan rumput, tanaman berbiji, dan pohon. Tadinya bumi ditutupi oleh samudera luas; sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan, ataupun kehidupan. Seluruh daratan telah terkubur di bawah air penghakiman Allah. Kecuali kegelapan, tidak ada apa-apa lagi. Selain gelombang air kotor, tidak ada bayangan dari daratan. Karena bumi sendiri sudah menghilang, tidak ada kehidupan bumiah. Lalu Allah memulai pekerjaan-Nya. Pertama, Dia membuat daratan keluar dari air. Kedua, Dia membuat kehidupan muncul di atas daratan ini. Pekerjaan pada hari ketiga ini jelas merupakan lambang dari kebangkitan Tuhan Yesus.
Kata "hari ketiga" saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pekerjaan pada hari tersebut adalah lambang dari kebangkitan. Satu Korintus 15:4 mengatakan, "Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga." Ada banyak tempat di dalam Alkitab dimana hari ketiga dan kebangkitan dihubungkan bersama. Ini berlaku bukan hanya di dalam Perjanjian Baru saja, namun juga di dalam Perjanjian Lama. Tiga hari setelah Paskah (Passover, bukan Easter -- red). ada pesta untuk mempersembahkan buah-buah sulung dari hasil panen. Ini jelas mengacu kepada kebangkitan Kristus tiga hari setelah kematian-Nya. Di dalam 1 Korintus 15 ada sebuah frase khusus, "Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci" (ay. 4). Kebangkitan Tuhan Yesus pada hari ketiga telah dinubuatkan oleh Kitab Suci, yaitu, di dalam Perjanjian Lama. Dimana kita bisa menemukan hari ketiga? Kita tidak perlu melihat semua tempat di dalam Alkitab. Di dalam Kejadian 1, pada permulaan Alkitab, kita menemukan "hari ketiga" yang pertama. Kita tidak bisa tidak menganggap hal ini sebagai lambang dari kebangkitan Tuhan Yesus.
Bukan saja tanda bilangan, "hari ketiga," adalah suatu lambang, namun pekerjaan pada hari ketiga juga merupakan bukti kebangkitan. Daratan tadinya terkubur di bawah air. Ayat 9 mengatakan, "Hendaklah..., sehingga kelihatan yang kering." Tadinya daratan berada di bawah air; kemudian dia naik ke atas air. Inilah kebangkitan. Daratan keluar dari kuburan air. Dulu dia tertutup air. Lalu dia naik ke atas air dan menjadi lebih tinggi dari air. Ini adalah gambaran yang indah akan kebangkitan. Kita bisa melihat gambaran ini dengan jelas pada saat pembaptisan. Ketika seseorang dibaptis, seluruh dirinya dicelupkan ke dalam air, dan lalu dia keluar dari air. Roma 6:24 dan Kolose 2:12 memberi tahu kita bahwa baptisan melalui diselam ke dalam air merupakan simbol dari kematian, penguburan, dan kebangkitan. Jadi, daratan keluar dari air adalah lambang dari kebangkitan keluar dari kematian dan kubur.
Yesaya 57:20 memberi tahu kita bahwa air mewakili dosa. "Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur." Daratan terkubur di bawah air adalah seperti Tuhan Yesus terkubur di kuburan. Daratan tidak tinggal di bawah air untuk selamanya. Pada hari ketiga dia keluar dari air. Situasi ini adalah seperti kebangkitan Tuhan Yesus. Roma 6 dengan jelas memberi tahu kita mengenai hubungan kebangkitan Tuhan Yesus dan dosa. "Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah" (ay. 10). Dan, "Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (ay. 9). Seperti daratan keluar dari air, kebangkitan Kristus membuat-Nya putus hubungan dengan dosa.
Pekerjaan pada hari ketiga memiliki dua tingkat. Tidak saja daratan keluar dari air, tapi dia juga menumbuhkan kehidupan yang baru. Ini berbicara mengenai kebangkitan. Ayat 11 memberi tahu kita bahwa tanah menumbuhkan berbagai jenis rumput, tanaman berbiji, dan pohon-pohon yang menghasilkan buah. Asalnya tidak ada kehidupan di bumi. Akan tetapi, pada hari tersebut, kehidupan mulai muncul. Tadinya maut berkuasa. Sekarang hayat datang. Allah tidak menciptakan kehidupan pada hari kedua, atau membuat hal-hal bertumbuh di tanah pada hari keempat. Pada hari inilah, hari ketiga, Allah menciptakan kehidupan. Roma 6:4 memberi tahu kita bahwa "kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan berjalan dalam kebaharuan hayat." Tanpa kebangkitan, tidak akan ada hayat yang baru. Hayat yang baru ini muncul setelah kebangkitan. Sebelum tanah keluar dari air, tidak ada kehidupan yang bisa tumbuh di bumi. Harus pertama-tama ada pemisahan dari air sebelum bisa ada pertumbuhan. Harus pertama-tama ada kebangkitan sebelum bisa ada hayat. Setelah kebangkitan, hayat pasti akan mengikuti. Tanpa hayat yang baru, kebangkitan itu kosong. Kaum saleh yang memperhatikan kemajuan rohani mereka seharusnya memperhatikan fakta ini.
Pada tingkat kedua dari pekerjaan hari ketiga, perkara yang paling penting adalah buah. Ini adalah hasil alami dari kebangkitan. Sasaran dari kebangkitan adalah untuk menghasilkan buah. Kalau tidak, mengapa daratan keluar dari air? Daratan muncul untuk tujuan menghasilkan buah. Alkitab tidak bisu mengenai hubungan antara kebangkitan dan berbuah. Roma 6:22 mengatakan, "Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan." Bagaimana kita bisa dibebaskan dari dosa? Kita dibebaskan melalui diidentifikasikan bersama Tuhan dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Inilah apa yang dikatakan Kejadian 1:11-13 kepada kita. Hasil dari kebangkitan ini adalah buah kepada pengudusan. Dengan demikian, berbuah adalah hasil nyata dari kebangkitan. Ini bukan satu-satunya ayat yang memberi tahu kita mengenai hal ini. Roma 7:4 juga mengatakan, "Kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah." Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan dan tidak ada buah. Buah-buah yang adalah bagi Allah datang hanya melalui mati dan bangkit bersama Tuhan Yesus. Satu-satunya buah yang terhitung di hadapan Allah adalah buah yang berdasarkan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Di mata Allah, segala sesuatu yang belum melewati kematian dan kebangkitan berasal dari ciptaan lama. Dia dihakimi oleh Allah dan tidak bersyarat untuk menghasilkan buah.
Pekerjaan pada hari ketiga adalah kebangkitan. Inkarnasi itu penting, dan penyaliban juga penting. Tapi tanpa kebangkitan, injil akan menjadi tidak lengkap. Sasaran inkarnasi adalah penyaliban. Hasil dari penyaliban adalah kebangkitan. Kebangkitan berarti Allah telah menerima keselamatan yang digenapkan oleh penyaliban Tuhan Yesus. Roma 4:25 mengatakan bahwa Yesus diserahkan bagi pelanggaran-pelanggaran kita. Ini berarti Tuhan Yesus mati untuk menanggung dosa-dosa kita. Ketika Dia mati, Dia menanggung penghukuman dosa-dosa kita, dan kita diampuni. Lebih jauh lagi, Dia "dibangkitkan bagi pembenaran kita." Pengampunan ada di sisi negatif; ini memperlihatkan bahwa kita telah berdosa dan bahwa Allah telah mengampuni kita. Pembenaran ada di sisi positif; dia memperlihatkan bahwa kita sekarang tanpa berdosa, bahwa Allah telah mendeklarasikan bahwa kita ini tanpa berdosa, dan bahwa kita sudah dibenarkan. Kita bisa menjadi tanpa dosa sebab pekerjaan pada sisi negatif telah digenapkan sepenuhnya dan segala dosa kita telah diampuni dan dicuci. Berdasarkan kematian Tuhan Yesus dan pengampunan kita, Allah membenarkan kita. Pembenaran diberikan kepada kita melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Kematian-Nya telah menggenapkan keselamatan melalui pengampunan dosa-dosa kita. Sekarang melalui kebangkitan-Nya, Allah telah mendeklarasikan bahwa kita ini tanpa dosa dan membenarkan kita. Kebangkitan mendirikan suatu hubungan yang baru bagi kita dengan Allah. Dikarenakan kebangkitan Tuhan Yesus, kita diletakkan pada posisi yang baru di hadapan Allah. Kematian dan kebangkitan saling berkaitan. Demikian juga pengampunan dan pembenaran saling berkaitan. Kebangkitan Tuhan menandakan bahwa Allah telah menerima dan mengakui kematian-Nya. Pembenaran kita membuktikan bahwa kita sudah diampuni oleh Allah. Dikarenakan kematian Tuhan Yesus, seorang Kristen seharusmya menyadari dalam rohnya bahwa dosa-dosanya telah ditanggung oleh Tuhan, bahwa dosa-dosanya telah diampuni, dan bahwa mereka telah dihakimi dan dihukum dalam Tuhan Yesus. Semuanya ini ada pada sisi negatif. Melalui kebangkitan Tuhan Yesus, kaum saleh seharusnya menyadari dalam roh mereka bahwa mereka bukan hanya orang-orang berdosa yang telah diampuni yang seharusnya meringkuk dengan gelisah di hadapan Allah, melainkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang terkasih. Kebangkitan berarti segala hal yang lampau sudah mati. Segala sesuatu yang berdosa dan berasal dari diri sendiri telah dikuburkan di kuburan; mereka tidak pernah bisa ditemukan. Mereka selamanya hilang. Segalanya sekarang sepenuhnya baru. Karena itulah, kita tidak seharusnya hanya menjadi kaum saleh yang sudah diampuni, puas hanya dengan dosa-dosa kita sudah diampuni. Melainkan, kita seharusnya menjadi orang-orang Kristen yang dibenarkan, setiap hari mengakui fakta bahwa Allah telah menganggap kita benar di hadapan-Nya, bukan melalui kebenaran kita sendiri, melainkan melalui posisi baru kita yang didapat melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Setiap hari kita harus percaya bahwa kita diterima dalam Kristus dan bahwa Allah telah menerima kita sama seperti Dia telah menerima Kristus. Sama seperti Allah puas dan berkenan pada Kristus, Dia juga menerima kita melalui hubungan kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
IV. Pekerjaan pada hari keempat menandakan kenaikan Tuhan Yesus. Pada hari keempat, pekerjaan Allah menjadikan benda-benda penerang. Dia membuat matahari, bulan, dan bintang. Pekerjaan pada hari-hari sebelumnya adalah di bumi. Pekerjaan pada hari keempat adalah di langit. Penekanan pada hari keempat adalah pada hal-hal surgawi. Matahari, bulan, dan bintang adalah benda-benda surgawi. Allah membuat benda-benda penerang ini untuk beberapa alasan. Pertama, mereka "untuk menerangi bumi" (Kej. 1:17). Kegelapan adalah kondisi umum dari dunia, dan terang adalah kondisi khusus dari dunia. Umumnya dunia itu gelap. Itulah sebabnya mengapa terang harus memancar. Kalau tidak, dunia akan tenggelam ke dalam malam yang panjang. Kedua, benda-benda penerang adalah untuk "menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap" (ay. 18). Mereka bukan hanya untuk penerang saja, tapi juga untuk berkuasa. Pekerjaan pada hari keempat ini adalah lambang dari kenaikan Tuhan Yesus.
Seluruh pekerjaan pada hari keempat ada di langit. Ini tidak sama dengan hari pertama, ketika terang ada di dalam dunia. Walaupun terang pada hari pertama bersinar di bumi, benda-benda penerang di hari keempat ada di langit. Terang yang datang ke bumi sekarang sumbernya di langit. Inilah kenaikan. Tuhan Yesus, yang turun dari surga, sekarang telah dibawa keluar dari dunia lagi.
Maleakhi 4:2 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Surya kebenaran. Wahyu 12:1 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Matahari. Mazmur 19:5-6 mengatakan hal yang sama. Dalam pembacaan Alkitab, kita menemukan pengajaran bahwa matahari adalah lambang Kristus. Kita tidak melihatnya di dunia, melainkan di langit. Dia telah naik ke surga bagi kita dan telah menampakkan diri di hadapan Allah sebagai Jurudamai dan Imam kita.
Pekerjaan pada hari keempat ini bukan hanya menandakan Kristus saja, namun juga umat-Nya, sebab bulan adalah lambang dari gereja dan bintang-bintang adalah lambang dari orang-orang Kristen secara individual. Berdasarkan kematian dan kebangkitan Tuhan, Tuhan telah mendapatkan umat untuk nama-Nya sendiri. Itulah sebabnya mengapa kita melihat bulan dan bintang-bintang di hadirat Tuhan. Bulan tidak memiliki terangnya sendiri; dia hanya memantulkan terang matahari. Demikian juga gereja tidak memiliki terangnya sendiri; dia hanya memantulkan terang Kristus. Saat ini kaum beriman "bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Flp. 2:15); mereka itu seperti bintang-bintang. Kita sudah membahas poin ini sebelumnya dan tidak akan membahas terlalu banyak sekarang.
Dua hal yang harus kita lakukan sekarang berhubungan dengan apa yang telah kita bahas sebelumnya. Pertama, kita harus memantulkan terang Kristus di dalam malam yang gelap secara moral ini. Kedua, kita harus berkuasa atas kekuatan kegelapan dengan terang dari perkataan dan perbuatan kita. Ketika seribu tahun datang, kita akan benar-benar menjadi raja-raja dan berkuasa atas segala sesuatu.
Kenaikan Kristus merampungkan pekerjaan-Nya di bumi. Kenaikan-Nya adalah berdasarkan kematian dan kebangkitan-Nya. Makna dari kenaikan-Nya adalah kemenangan atas segala sesuatu milik kerajaan Satan. Efesus 1:20-21 mengatakan, "Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut." Kita tahu bahwa semua hal ini mengacu kepada Satan dan bawahannya. Kenaikan Tuhan Yesus berarti Allah telah memberi Dia suatu posisi yang lebih tinggi dari segala kekuasaan Satan. Posisi-Nya di surga adalah posisi mengalahkan-Satan. Satan berada di bawah kaki-Nya; dia tidak punya peluang untuk mengalahkan-Nya sebab Yesus sekarang adalah Tuhan atas segala sesuatu dan telah menjadi Kepala atas segala sesuatu.
Filipi 2:8-11 mengatakan bahwa Kristus melewati "mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!" Dalam kenaikan-Nya Tuhan Yesus menerima tempat yang paling tinggi, tempat yang tidak bisa dijamah Satan dan roh-roh jahatnya. Mereka juga telah mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Raja. Posisi ini sangat penting. Jika Tuhan Yesus belum terangkat, efek kematian dan kebangkitan-Nya di bumi akan terpengaruh. Adalah benar bagi Tuhan sendiri untuk memimpin umat-Nya ke posisi surgawi ini. Di satu pihak, umat-Nya bisa bersinar bagi Dia, dan di lain pihak, mengalahkan kuat kuasa kegelapan yang menentang mereka. Inilah yang diberitakan Efesus 2:6 kepada kita. Sama seperti terang matahari mengalahkan kegelapan, posisi surgawi Tuhan Yesus mengalahkan kuat kuasa kegelapan iblis. Sama seperti bulan dan bintang menemani matahari di langit, orang-orang Kristen juga tinggal bersama Tuhan Yesus di surga.
V. Pekerjaan pada hari kelima menandakan Tuhan Yesus sebagai Tuhan hayat. Dalam pekerjaan-Nya pada hari kelima, Allah menciptakan banyak jenis kehidupan di dalam air dan burung-burung. Pada keempat hari sebelumnya, Allah mempersiapkan langit dan bumi sebagai tempat tinggal bagi makhluk-makhluk hidup. Sampai hari kelima, belum ada makhluk hidup di dalam air ataupun di udara. Walaupun tumbuh-tumbuhan tercakup di dalam pekerjaan hari ketiga, tidak ada tanda-tanda mengenai hewan. Makhluk di dalam air bisa hidup di dalam air sebab Allah mempersiapkan air pada hari pertama. Burung-burung bisa terbang di udara sebab Allah mempersiapkan udara pada hari kedua. Burung dan makhluk di dalam air keduanya memiliki hayat. Satu-satunya perbedaan terletak pada bentuk luaran mereka. Burung-burung dan makhluk di dalam air ciptaan Allah ini berbeda satu dengan yang lainnya di pandangan manusia; mereka jelas berbeda. Akan tetapi, mereka memiliki hayat yang sama. Mereka hanya berbeda dalam tempurung luaran dari hayat mereka. Karena itu, pekerjaan pada hari kelima adalah supaya hayat mengambil bentuk. Sebagian mengambil bentuk mereka di dalam air, sedangkan yang lainnya mengambil bentuk mereka di udara. Pekerjaan pada hari kelima adalah lambang dari Tuhan Yesus sebagai Tuhan pemberi hayat.
Hayat tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Semua hayat diciptakan oleh Allah. Allah adalah Pencipta segala hayat. Tidak peduli bentuk luaran apa yang diambil hayat ini, dia berasal dari Allah. Setelah Tuhan Yesus bangkit dan terangkat, pekerjaan-Nya adalah mendispensikan hayat kepada orang-orang, sehingga mereka yang memiliki hayat-Nya bisa memilikinya dengan berlimpah. Kenaikan-Nya, yang dilambangkan oleh pekerjaan pada hari sebelumnya, adalah dengan tujuan untuk menjadi hayat bagi kaum saleh. Kita bisa melihatnya di dalam Kolose 3:1-4: "Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." Ini berbicara mengenai kebangkitan dan kenaikan. Mengikuti kenaikan, Kitab Suci melanjutkan, "Hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hayat kita,..." Dari sini kita bisa melihat bahwa pekerjaan Kristus setelah kenaikan adalah untuk menjadi hayat kita, suatu hayat yang tersembunyi di dalam Allah.
Burung-burung dan makhluk-makhluk di dalam air adalah lambang dari orang-orang di dalam dunia. Sekarang kita akan melihat bagaimana burung-burung dan makhluk-makhluk di dalam air ini berhubungan dalam maknanya dengan hayat Kristen.
Hayat diberikan oleh Tuhan Yesus. Tuhan sekarang sudah naik ke surga. Sasaran-Nya adalah supaya kaum saleh mengekspresikan hayat-Nya secara praktis sebelum Dia datang kembali. Jika suatu hayat tidak memiliki bentuk luaran, hayat tersebut tidak bisa eksis di bumi ini atau memiliki pengalaman di bumi. Walaupun bentuk luaran tidak berarti banyak, tanpa bentuk tersebut, tidak ada jalan bagi hayat untuk diekspresikan. Karena itulah, sangat diperlukan bagi hayat untuk "mengambil bentuk." Tuhan Yesus menginginkan kaum saleh-Nya untuk memperhidupkan ekspresi praktis dari hayat yang berasal dari kematian dan kebangkitan-Nya di bumi. Mereka telah menerima hayat melalui kematian dan kebangkitan Tuhan. Secara posisi, mereka sudah menerima tempat surgawi. Kekurangan mereka adalah suatu bentuk di bumi yang mengekspresikan hayat Tuhan. Inilah makna dari hari kelima.
Tuhan Yesus sekarang sedang melatih murid-murid-Nya untuk mengambil bentuk di bumi. Sama seperti burung mengekspresikan hayat mereka melalui bentuk luaran mereka dan seperti makhluk di dalam air mengekspresikan hayat mereka melalui bentuk luaran mereka, Tuhan Yesus damba supaya kaum saleh-Nya mengekspresikan Dia dengan suatu bentuk yang nyata di bumi. Tuhan damba supaya kaum saleh-Nya, di manapun mereka, mengekspresikan hayat-Nya melalui bentuk mereka. Hayat ini adalah hayat yang sama. Namun dalam bentuk luaran mereka, ada perbedaan antara burung dan makhluk di dalam air. Burung dan makhluk di dalam air menerima hayat yang sama. Tapi bentuk mereka berbeda. Jadi, ada perbedaan ekspresi dari hayat batini yang sama. Seluruh hayat yang diterima kaum saleh berasal dari Tuhan Yesus; tidak ada perbedaan sejak semula. Akan tetapi, dikarenakan perbedaan karakter kaum saleh, mereka mengekspresikan hayat Tuhan secara berbeda. Ini bisa kita lihat dengan jelas dalam perumpamaan seorang penabur. Walaupun benih yang ditaburkan jenisnya sama, walaupun hayat di dalam benih tersebut adalah sama, dan walaupun ladang-ladang semuanya baik, pada akhirnya, ada yang menghasilkan tiga puluh kali, ada yang enam puluh kali, dan ada yang seratus kali. Setiap orang menerima hayat yang sama dari Tuhan. Ada perbedaan ekspresi untuk hayat ini sebab "toko" dari hayat ini berbeda.
Karena itu, dalam pekerjaan hari ini Tuhan Yesus memerintahkan kaum saleh-Nya untuk membuktikan hayat-Nya di bumi dan mengekspresikan hayat-Nya melalui karakter mereka. Ini sangat penting. Kecuali kita mengekspresikan hayat surgawi secara praktis di bumi, hayat ini, yang kita dapatkan melalui kelahiran kembali dan berasal dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan, tidak akan dipersatukan dengan kita secara teguh.
Hayat dengan dirinya sendiri tidak bisa memiliki pengalaman apa pun. Hal yang paling penting adalah memiliki bentuk luaran. Hayat burung mengalami penghidupan burung melalui bentuk luaran burung. Bagi seorang kudus untuk menerima hayat Tuhan secara praktis dan mengekspresikan hayat ini di bumi adalah semacam pelatihan. Pengalaman burung dan makhluk di dalam air dimulai dari hari dimana hayat di dalam mereka membuat mereka menjadi burung dan makhluk di dalam air. Sejak hari itu burung dan makhluk di dalam air bisa memperhidupkan penghidupan mereka dan mendapatkan pengalaman. Ini berhubungan dengan pelatihan kaum saleh. Pekerjaan Tuhan Yesus sekarang adalah melatih kaum saleh-Nya dalam hayat. Akan tetapi, sebelum pelatihannya dimulai, kaum saleh harus pertama-tama dipersatukan kepada hayat Tuhan.
VI. Pekerjaan pada hari keenam menandakan kedatangan kembali Tuhan Yesus dan ke-raja-an-Nya. Di dalam pekerjaan hari keenam, Allah menciptakan Adam dalam gambar-Nya sendiri dan memerintahkan Adam untuk menguasai seluruh bumi. Lima hari pekerjaan sudah lewat. Segala sesuatu di bumi sudah siap. Semua obyek di langit juga sudah siap. Makanan dan tempat kediaman yang diperlukan manusia semuanya dipersiapkan satu demi satu. Lalu Allah menciptakan manusia. Poin yang paling penting dalam penciptaan manusia adalah bahwa dia diciptakan dalam gambar Allah. Manusia di bumi adalah wakil Allah. Manusia adalah ekspresi Allah. Ini berhubungan dengan kedatangan kembali Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus adalah Adam yang akhir dan Manusia kedua. Adam pertama adalah lambang-Nya. Adam pertama diciptakan dalam gambar Allah. Di sini kita melihat lambang dari kedatangan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, Tubuh-Nya, yang adalah gereja-Nya, juga akan dirampungkan. Seluruh gereja akan menjadi gambar-Nya pada saat Dia kembali. Satu Yohanes 3:2 mengatakan, "Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia." Ketika Tuhan Yesus muncul kembali, gereja-Nya akan sepenuhnya seperti Dia. Sama seperti Adam diciptakan dalam gambar Allah, Tubuh dari Adam yang akhir, gereja, juga akan sepenuhnya seperti Allah ketika Tuhan Yesus datang kembali. Kedatangan Tuhan yang kedua akan membuat setiap orang kudus mengambil gambar-Nya, gambar dari tubuh yang mulia yang diberikan oleh-Nya.
Pada hari keenam, Hawa diciptakan sebagai pasangan Adam. Hawa adalah lambang dari gereja. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, gereja akan rampung dan akan dipersembahkan kepada Kristus sebagai pasangan-Nya. Dia akan berkuasa bersama Kristus atas dunia. Hawa diciptakan pada hari keenam. Gereja akan rampung pada saat Tuhan datang kembali. Gereja juga akan menjadi pasangan Tuhan ketika Tuhan kembali. Penciptaan Adam dan Hawa pada hari keenam merupakan suatu referensi yang jelas kepada kejadian-kejadian pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua.
Allah tidak hanya menciptakan Adam dan Hawa; Dia membuat mereka berkuasa atas dunia yang tercipta. Segala otoritas diserahkan kepada mereka. Allah tidak berkuasa atas dunia secara langsung. Melainkan, Dia telah menyerahkan otoritas untuk menguasai dunia kepada Adam. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi untuk berkuasa atas seluruh dunia. Sama seperti penciptaan Adam di dalam paragraf sebelumnya berhubungan dengan kedatangan Tuhan, penugasan Adam untuk berkuasa atas dunia berhubungan dengan ke-raja-an-Nya. Di dalam milenium, Allah akan menyerahkan segala otoritas kepada Kristus dan membuat Dia memerintah. Filipi 2:9 mengatakan, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama." Ada banyak ayat-ayat lain yang berbicara mengenai Allah memberikan otoritas kepada Kristus untuk menjadi Raja atas segala sesuatu dan untuk berkuasa atas segala hal di dalam milenium
Adam membagi seluruh otoritasnya dengan Hawa. Walaupun Adamlah yang secara langsung memerintah dunia, Hawa membantu Adam dalam menjadi seorang pemimpin. Ketika Tuhan Yesus adalah Raja di dalam milenium, Dia akan melaksanakan ke-raja-an-Nya. Namun Alkitab berulang kali memberi tahu kita bahwa orang-orang Kristen adalah Hawa Tuhan Yesus dan bahwa mereka akan memerintah bersama Dia dan berbagian dalam kemuliaan-Nya. Dia akan berkuasa atas segala sesuatu, dan pada waktu yang sama, orang-orang Kristen akan berbagian dalam memerintah dunia. Walaupun mungkin ada perbedaan antara lima atau sepuluh kota, pemerintahan kita bersama-Nya adalah suatu fakta yang abadi.
Kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan Tuhan Yesus yang memberi hayat adalah elemen-elemen penting dalam pekerjaan-Nya. Jika hal ini adalah seluruh pekerjaan-Nya, dan jika tidak ada kedatangan-Nya yang kedua atau memerintah dengan Dia, seorang Kristen hanya bisa berharap pada jaman ini dan akan lebih miskin daripada orang-orang lain. Kaum saleh menderita hari ini di dunia. Mereka akan menikmati berkat mereka di masa depan di surga! Surga mungkin baik, tapi surga tidak akan pernah bisa mengobati penderitaan yang yang dialami kaum saleh di dunia hari ini. Akibatnya, Tuhan Yesus harus datang kembali ke dunia ini. Di dunia ini Dia diperlakukan semena-mena, ditolak, dianiaya, dan disalibkan. Di dunia ini Dia akan menerima kemuliaan-Nya di masa yang akan datang. Hal ini tidak akan terjadi di planet lain di langit. Ketika orang-orang Kristen menderita bersama Tuhan hari ini, mereka menderita di dunia. Di masa yang akan datang, mereka juga akan menerima kemuliaan di dalam dunia. Inilah sebabnya mengapa kedatangan Tuhan Yesus dan ke-raja-an-Nya diperlukan bagi Diri-Nya sendiri dan kaum saleh-Nya.
PENCIPTAAN DAN PEKERJAAN YANG KUDUS DARI KRISTUS
Kristus adalah kunci untuk segala kebenaran. Jika Alkitab tidak memiliki Kristus, dia adalah sebuah kitab yang mati. Tanpa Kristus, kita tidak bisa memahami Alkitab. Jika kita memeriksa tempat-tempat di dalam Alkitab, yang sulit untuk dijelaskan atau dipahami, dengan suatu pandangan akan Kristus dan memasukkan Dia ke dalamnya, kita akan menerima terang yang luar biasa. Malah, Alkitab memiliki satu Manusia sebagai pusat; tanpa Manusia ini kita tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Alkitab. Manusia ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dia sendiri mengatakan, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci,...memberi kesaksian tentang Aku" (Yoh. 5:39). Kemudian Dia mengatakan, "Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku" (Ibr. 10:7). Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, dan Kristus adalah Firman Allah yang hidup. Firman yang tertulis adalah untuk mempersaksikan Firman yang hidup. Firman yang hidup adalah untuk menggenapi Firman yang tertulis. Sama seperti kita membaca mengenai Tuhan Yesus di dalam Matius, kita juga bisa membaca mengenai Dia di dalam Kejadian.
Kita sudah melihat di dalam bab sebelumnya bahwa penciptaan jasmani hanyalah mengekspresikan penciptaan rohani. Sekarang kita akan melihat prosedur-prosedur yang diambil Allah dalam penciptaan jasmani-Nya dan bagaimana hal-hal itu berhubungan dengan pekerjaan Kristus dalam penciptaan rohani. Pekerjaan penciptaan Allah sebenarnya dilakukan oleh Tuhan Yesus sebab "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu" (Kol. 1:16). Kita sekarang akan melihat bagaimana Kristus dalam penciptaan jasmani berhubungan dengan Kristus dalam penciptaan rohani. Semoga kita terlepas dari segala terkaan dan hanya memanifestasikan Kristus yang mengenai-Nya Allah telah dengan jelas menulis di dalam kitab-Nya. Karena Allah memakai penciptaan jasmani untuk menandakan penciptaan ulang rohani, sangat memungkinkan bagi kita untuk menemukan bagaimana kedua penciptaan ini berhubungan di tangan Kristus.
PERLUNYA PENEBUSAN
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Semua pekerjaan Allah itu sempurna; semua yang telah melewati tangan Mahaperkasa adalah tanpa cacat dosa, kerut ketuaan, atau penyakit lainnya. Semua pekerjaan Allah adalah seperti Diri-Nya, cantik dan baik secara sempurna. Hal-hal yang baru keluar dari tangan Penguasa alam semesta, Tukang Periuk yang unik, adalah segar dan mulia! Allah menganggap keadaan orisinil umat manusia "sangat baik."
Walaupun demikian, hal-hal yang baik selalu datang bersama banyak ujian, dan keadaan ini tidak berlangsung lama. Setelah melihat bahwa Allah menciptakan suatu langit dan bumi yang sempurna, kita segera mendengar suatu cerita yang tragis: "Bumi menjadi tanpa bentuk, dan kosong" (ay. 2, Ibr.). Catatan di dalam ayat ini berbeda ketika dibandingkan dengan ayat sebelumnya! Bumi yang Allah ciptakan telah berubah! Di antara kedua ayat tersebut, suatu bencana yang luar biasa pasti telah terjadi dan bumi yang cantik itu menjadi tanpa bentuk dan kosong. Dosa telah datang! Para malaikat telah jatuh! Bagian dari sejarah ini demikian menyedihkannya sehingga Allah tidak mau mencatatnya secara langsung. Umat manusia juga berdosa dan jatuh ke taraf yang rendah.
"Gelap gulita menutupi samudera dalam" (ay. 2). Ini adalah gambar dari kejatuhan. Kegelapan menutupi permukaan samudera dalam! Secara rohani, moral, mental, dan tingkah laku, kegelapan membutakan seluruh umat manusia; semuanya dilahirkan dari daging! Otoritas kegelapan, yang adalah kekuatan Satan, turun ke atas orang-orang berdosa di dunia, merampas kebebasan mereka dan menundukkan mereka semua kepada pemerintahannya. Di dalam samudera dalam, manusia menciptakan, menghasilkan, dan menyombongkan kebudayaan dan hikmat mereka; tapi Satan membuat kegelapan menutupi permukaan samudera dalam sehingga tidak ada penerangan dari Allah! Namun manusia masih mengatakan kepada diri mereka sendiri bahwa peradaban di abad kedua puluh ini tidak ada tandingannya! Sebenarnya, itu masih berada di bawah otoritas Satan.
Di dalam keadaan seperti ini, tidak ada harapan bahwa manusia bisa diselamatkan. Allah tidak berutang kepada manusia, kecuali bahwa Dia mengadakan perjanjian dengan manusia bahwa Dia harus memenuhi, mewajibkan Diri-Nya untuk mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia. Jika Dia melaksanakan penghakiman-Nya dan membuat seluruh dunia binasa selamanya, ini akan masih sangat benar. Akan tetapi, Dia memiliki kasih karunia yang besar sekali, suatu kasih karunia yang tanpa batas, sangat agung, dan di luar dugaan manusia. Dia mempersiapkan keselamatan untuk menyelamatkan dunia. Sama seperti Dia memulihkan penciptaan jasmani dalam enam hari, Allah juga menebus manusia yang berdosa dalam penebusan Kristus, yang dilambangkan di dalam enam hari itu, untuk menggenapkan penciptaan rohani-Nya. Kita akan maju selangkah lebih jauh dalam renungan kita. Betapa sukacitanya berbicara lebih banyak mengenai Kristus dan berpikir lebih banyak mengenai Kristus! Baiklah kita dengan khidmat memuji dan menyembah Juruselamat yang ajaib ini atas pekerjaan penyelamatan-Nya yang indah.
I. Pekerjaan pada hari pertama menandakan kelahiran Tuhan Yesus. Pada hari pertama Allah menjadikan terang, dan terang bersinar di dalam kegelapan. Permukaan samudera dalam pada mulanya ditutupi oleh kegelapan, tapi terang datang! Inilah untuk pertama kalinya terang dan kegelapan bertemu. Belum pernah ada keadaan yang seperti ini di bumi; inilah kali pertama terang datang ke dunia yang gelap. Jelas sekali bahwa ini melambangkan kelahiran Tuhan Yesus. Ketika Yohanes berbicara mengenai kelahiran Tuhan Yesus dan inkarnasi Firman, dia mengatakan, "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya," dan "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia" (Yoh. 1:5, 9). Yohanes dengan jelas menyerupakan kelahiran Tuhan Yesus kepada terang yang bercahaya di dalam kegelapan. Ketika Zakharia berbicara mengenai kelahiran Tuhan Yesus, dia juga mengatakan, "Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi" (Luk. 1:78). Bahkan Tuhan Yesus sendiri membandingkan kelahiran-Nya kepada terang yang bersinar ke dalam kegelapan. Dia mengatakan, "Sebab Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia...Terang telah datang ke dalam dunia" (Yoh. 3:17, 19). Ayat-ayat Kitab Suci ini mempersaksikan kepada kita bahwa pekerjaan Allah pada hari pertama, memanggil terang untuk bersinar ke dalam kegelapan, melambangkan Tuhan Yesus yang kelak menjadi terang yang sesungguhnya yang datang ke dalam dunia. Terang sudah datang, namun sayang sekali bahwa dunia tidak mau membiarkan Dia untuk menyinari mereka!
Pekerjaan pada hari pertama adalah langkah pertama dari pekerjaan penebusan. Tanpa terang datang ke dalam dunia, Allah dan manusia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertemu. Tanpa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, orang-orang berdosa tidak akan bisa melihat Allah Bapa, yang diekspresikan hanya oleh Putra tunggal. Sekarang kita bisa melihat bagaimana pekerjaan pada hari pertama dan kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia adalah sama.
Bersinarnya terang terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus. "Dan Roh Allah mengerami di atas permukaan air" (Kej. 1:2, Ibr.). Prinsip yang sama juga berlaku untuk inkarnasi. Malaikat memberi tahu Maria, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Putra Allah" (Luk. 1:35). Putra Allah Yang Mahatinggi dilahirkan dari Roh Kudus. Akan tetapi, dunia tidak menerima pengandungan dari Roh Kudus ini. Oleh karena itu, terang dipanggil pada hari pertama. "Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi" (Kej. 1:3). Ini sudah kita katakan tadi: Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai terang. Sekarang mari kita melihat tempat lainnya di dalam Alkitab. Ketika Simeon melihat Tuhan Yesus sebagai seorang anak kecil, dia mengatakan, "Sekarang, Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel" (Luk. 2:29-32). Siapa yang ingin diterangi oleh Dia?
Allah mendeklarasikan bahwa terang itu baik. "Allah melihat bahwa terang itu baik" (Kej. 1:4). Kata pertama yang diucapkan Allah kepada Tuhan Yesus Kristus adalah, "Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Mat. 3:17). Selain Putra-Nya, tidak seorang pun bisa berkenan kepada hati Bapa sebab "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah" (Rm. 8:8). Salah satu fenomena aneh di antara manusia yang berdosa hari ini adalah adanya pemikiran bahwa tingkah laku mereka itu dengan sempurna berkenan kepada Allah dan bahwa Tuhan Yesus itu kurang lebih sama seperti mereka! Betapa butanya manusia milik daging! Dia tidak bisa melihat kecantikan Tuhan Yesus dan oleh karenanya jatuh cinta kepada-Nya! Bagaimanapun juga, Allah selalu menganggap bahwa Terang ini baik. Diberkatilah mereka yang memiliki pandangan Allah! Terang dan kegelapan dipisahkan. "Dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap" (Kej. 1:4). Di sini kita melihat keharmonisan yang ajaib di dalam catatan Alkitab. Kitab Ibrani mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah "Imam Besar...yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari tingkat-tingkat surga" (7:26). Betapa berbedanya Manusia ini dari orang-orang biasa! Dia bersedia untuk berbagian dengan sifat insani kita, namun Dia tidak memiliki akar dosa seperti kita. Terang dipisahkan dari gelap; Kristus berbeda dari orang-orang berdosa. Allah menamai terang itu. "Dan Allah menamai terang itu siang" (Kej. 1:5). Demikian juga, nama Kristus diberikan oleh Allah. Nama-Nya bukan diberikan oleh Yusuf dan Maria. Ketika Dia masih berada di dalam kandungan ibu-Nya, malaikat memberi tahu Maria, "Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka" (Mat. 1:21). Sebelum Dia dilahirkan, Dia telah dinubuatkan oleh nabi, katanya, "TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan" (Yes. 49:1). Dia adalah Yesus; oleh karena itu, Dia adalah Juruselamat. Karena Juruselamat sudah datang, bagaimanakah kalian memperlakukan-Nya? Dunia tidak meminta Juruselamat. Melalui kasih karunia-Nya yang khusus, Tuhan sendiri datang ke dunia dan menjadi manusia. Juruselamat sudah datang, dan terang sudah bersinar. Namun siapakah yang mau menerima Dia?
Firman menjadi daging adalah pemandangan pertama di dalam permulaan pekerjaan penebusan. Di dalam dirinya sendiri, manusia sangat lemah dan milik daging. Apakah manusia? Manusia hanyalah debu! Manusia itu terbatas dan terikat; segala kebajikan manusia (itupun kalau ada) memiliki batasan yang tidak bisa dilewati. Pemikiran, karakter, tingkah laku, dan etika manusia sepenuhnya berasal dari manusia; mereka tidak akan pernah bisa lebih tinggi dari tingkat ini. Kelemahan, kemerosotan, dan dosa adalah kualitas umum manusia. Jika ada kebaikan, itu tidak bisa melebihi alam manusia. Akan tetapi, jika manusia tetap manusia--lemah, kalah, berdosa--Allah tidak akan puas. Allah itu sempurna. Dia ingin manusia sempurna dalam karakter, moralitas, tingkah laku, dan pemikiran, menurut standar-Nya sendiri. Kalau tidak, Allah tidak akan pernah memilih manusia untuk menjadi pendamping-Nya, memberi manusia hayat yang kekal dan memiliki manusia bersama dengan Dia di surga. Kecuali manusia bisa mencapai tingkat kesempurnaan Allah, dia tidak bisa menerima hal-hal itu. Harapan apa yang dimiliki manusia? Sangatlah penting bahwa Allah menjadi manusia. Kelahiran Yesus adalah perbauran antara keilahian dengan keinsanian. Tuhan Yesus adalah Allah, namun Dia menjadi manusia. Oleh karena itu Dia adalah Allah dan manusia; Dia adalah manusia dan juga Allah. Tadinya ada jurang yang memisahkan Allah dan manusia. Allah tidak bisa menjadi manusia, dan manusia tidak bisa menjadi Allah. Akan tetapi, Firman menjadi daging ketika Tuhan Yesus datang ke bumi ini. Dia adalah jembatan ponton gantung antara Allah dan manusia. Allah dan manusia bertemu di dalam Tuhan Yesus. Manusia tidak hanya menjadi Allah, Allah juga tidak hanya menjadi manusia. Tuhan Yesus mengekspresikan Allah, dan Dia juga mewakili manusia. Dia adalah Allah yang unik, dan Dia juga adalah Manusia yang unik. Karena Dia adalah Allah dan juga manusia, Allah bisa memberi kasih karunia kepada manusia dalam Dia. Karena Dia adalah manusia dan juga Allah, manusia bisa mendekat kepada Allah dalam Dia. Sekarang ada banyak manusia di bumi yang dipenuhi dengan keilahian. Manusia memiliki kemungkinan untuk menerima hayat Allah. Hayat Allah bisa masuk ke dalam roh manusia. Tadinya, mustahil bagi Allah dan manusia untuk dipersatukan; akan tetapi, Allah dan manusia telah dipersatukan di dalam Tuhan Yesus. Mulai titik ini ada kemungkinan bagi Allah dan manusia untuk dipersatukan. Inkarnasi bukan totalitas dari injil. Inkarnasi adalah langkah pertama dari keselamatan; langkah ini memproklamirkan sifat dan hasil dari keselamatan yang mendekat.
Akan tetapi, ini bukan alasan langsung bagi inkarnasi. Alasan bahwa Putra Allah "menjadi sama [darah dan daging] dengan mereka" adalah (1) "supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan...Iblis"; dan (2) "membebaskan [manusia] pula" (Ibr. 2:14-15). Semua orang sudah berdosa, dan upah dosa adalah maut. Yang memiliki kuasa maut adalah iblis. Dosa membawa manusia kepada maut, dan melalui maut dikarenakan dosa, iblis menguasai manusia. Oleh karena itu, bagi Allah untuk menyelamatkan manusia, Dia harus membereskan masalah hukuman dari dosa melalui menghancurkan kuasa maut, yang berada di bawah komando iblis. Hukuman dosa adalah maut, namun maut mewajibkan tubuh jasmani. Oleh karena itu, Tuhan Yesus "menjadi sama [darah dan daging] dengan mereka." Karena Dia memiliki tubuh jasmani, Dia bisa mati dan menebus manusia. Oleh karena itu, Allah "menyediakan tubuh" bagi-Nya "untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku"; kehendak ini adalah "persembahan tubuh Yesus Kristus...setelah mempersembahkan hanya satu kurban saja karena dosa, Kristus duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah" (Ibr. 10:5, 7, 10, 12). Iblis memiliki kuasa maut. Karena tidak ada satu manusia pun bisa mengalahkan maut, Yesus mendapatkan tubuh insani, mati, dan juga bangkit. Dia mengalahkan semua kuasa iblis dan memusnahkannya.
Manusia telah berdosa dan seharusnya mati. Allah tidak bisa memberikan kasih karunia dengan mengorbankan kebenaran, dan Dia juga tidak bisa menyelamatkan manusia tanpa menghukum dosa. Allah ingin menyelamatkan manusia, namun Allah juga ingin menghukum dosa. Oleh karena itu, Dia sendiri menjadi manusia untuk menanggung hukuman dosa atas nama manusia. Akibatnya, dosa bisa dihakimi dan manusia bisa diselamatkan. Jika Allah tidak menjadi manusia, hal ini tidak akan pernah tergenapi. Karena dosa-dosa dilakukan oleh manusia, hukumannya juga seharusnya ditanggung oleh manusia. Allah tidak bisa mati. Tapi bahkan jika Allah bisa mati bagi manusia, itu akan tidak adil sebab manusialah yang melakukan dosa, bukan Allah. Itulah sebabnya mengapa Allah harus menjadi manusia. Manusia, secara kolektif, telah berdosa. "Manusia Kristus Yesus," Manusia yang unik yang di dalamnya seluruh ras manusia tercakup, telah menanggung hukuman dosa; ini memenuhi syarat hukum Taurat. Manusia, dunia, telah berdosa, dan Manusia itu, Tuhan Yesus, telah menanggung hukumannya; ini sangat adil. Jika Tuhan Yesus terpisah dari manusia, maka kematian Tuhan Yesus tidak bisa dihitung sebagai manusia yang menanggung hukuman dosa. Walaupun Tuhan Yesus itu Allah, Dia benar-benar adalah manusia, telah dipersatukan sepenuhnya dengan ras manusia. Oleh karena itu, kematian-Nya adalah kematian manusia. Dia tidak seharusnya mati; oleh karena itu, kematian-Nya adalah sebuah kematian yang menggantikan. Inilah yang telah digenapkan inkarnasi.
Walaupun demikian, Kristus haruslah Allah; kalau tidak, penebusan tidak adil. Karena Kristus adalah Allah, Dia adalah Dia yang telah diserang dunia; Dia memiliki hal untuk menerima serangan dunia dan mengampuni mereka. Jika Dia bukan Allah, maka Dia bukan yang diserang; melainkan, Dia adalah pihak ketiga yang tidak berdosa. Ketika seseorang yang tidak berdosa mati bagi para penyerang, walaupun itu adalah penuh belas kasih, hal tersebut merupakan suatu ketidakadilan bagi orang yang tidak berdosa itu. Akan tetapi, Kristus bukan pihak ketiga. Dia terlibat secara langsung. Dia adalah yang dilukai; oleh karena itu, Dia memiliki kuasa untuk mengampuni dan menanggung akibat dari dilukai. Dia adalah Allah.
Inkarnasi tidak menyusun keseluruhan keselamatan. Penggenapan keselamatan terletak pada penyaliban. Inkarnasi adalah langkah pertama dari keselamatan. Jika Juruselamat belum pernah mengosongkan Diri-Nya untuk menjadi manusia, Dia tidak akan pernah bisa mati untuk menyelamatkan manusia. Betlehem mendahului Golgota. Tanpa Betlehem, tidak akan pernah ada Golgota. Betapa kasih karunia yang ajaib bahwa Putra Allah mau menanggalkan Diri-Nya sendiri untuk menjadi manusia! Betapa misteri yang agung bahwa Putra Allah mau menjadi daging!
II. Pekerjaan pada hari kedua menandakan kematian Tuhan Yesus. Dalam pekerjaan di hari kedua, Allah membuat cakrawala dan memisahkan air yang di bawah cakrawala dengan air yang di atas cakrawala. Cakrawala ini adalah langit kita. Tadinya, semua air dikumpulkan semua pada satu tempat, tidak ada pemisahan. Kemudian langit yang beratmosfir muncul dan memisahkan air di bawah langit dari air di atas langit. Langit yang beratmosfir ini merupakan suatu lambang yang jelas mengenai salib Tuhan Yesus. Di dalam pekerjaan hari kedua, pemisahan adalah sebuah hal yang besar. Pemisahan ini terdiri dari dua bagian. Di dalam bagian pertama, cakrawala di dalam air memisahkan air. Di dalam bagian kedua, air di bawah cakrawala dipisahkan dari air yang di atas cakrawala. Bukankah salib juga terdiri dari dua bagian? Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Dia berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Ini adalah pemisahan-Nya dari Allah. Namun Alkitab juga mengatakan bahwa Dia diputus dari dunia orang-orang hidup. Ini berbicara mengenai pemisahan-Nya dari manusia. Pekerjaan pada hari kedua adalah bagian yang paling penting dalam pekerjaan penebusan. Tanpa pencurahan darah, tidak ada pengampunan dosa-dosa. Dunia bukan hanya memerlukan teladan yang bersinar. Walaupun terang itu baik, dia hanya mengekspos kerusakan manusia dan kondisi yang sesungguhnya dari kejatuhannya. Semakin terang itu bercahaya, semakin seseorang dihakimi. Jika kelahiran Kristus tidak diikuti oleh penebusan, kelahiran-Nya akan menjadi dasar yang paling kuat untuk penghakiman manusia. Jika Dia bisa menempuh kehidupan yang kudus dan benar, semua orang seharusnya juga bisa menempuh kehidupan yang sama. Jika Seseorang bisa melakukannya, semua orang seharusnya bisa juga. Jika Seseorang bisa, namun yang lainnya tidak bisa, maka yang lainnya itu tidak memiliki alasan. Jika kelahiran Tuhan Yesus adalah seluruh pekerjaan, kehidupan-Nya akan menghakimi seluruh dunia akan dosa-dosa mereka. Jika Dia tidak mati bagi manusia, dan jika tujuan kelahiran-Nya bukan untuk penebusan, akan lebih baik bagi-Nya jika Dia sama sekali tidak pernah dilahirkan. Pemikiran, perkataan, tingkah laku, dan penghidupan-Nya jauh melebihi jangkauan siapapun juga. Setiap aspek dari Diri-Nya cukup untuk menghakimi manusia atas dosanya. Dia adalah manusia, dan kalian juga manusia. Jika Dia bisa melakukannya, mengapa kalian tidak bisa? Tabir di dalam Tempat Kudus mungkin indah dan mulia, namun tabir yang sama ini memisahkan Tempat Kudus dan menahan manusia dari Tempat Maha Kudus dan Allah. Hanya tabir yang robek yang bisa menawarkan jalan kepada manusia untuk datang ke hadapan Allah. Yesus yang hidup akan mengusir semua orang dari hadirat Allah, sedangkan Yesus yang mati bisa membawa semua orang berdosa ke Tempat Maha Kudus. "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib"; "Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Ptr. 2:24; 3:18). Selama Dia hidup, tidak ada yang bisa dipersatukan dengan Allah.
Sekarang kita akan melihat bagaimana salib Tuhan Yesus sesuai dengan pekerjaan pada hari kedua. Allah tidak membuat cakrawala langsung sekaligus. Pertama Allah menentukan, lalu Dia melaksanakannya. Ayat 6 mengatakan, "Jadilah cakrawala." Ini berbicara mengenai keputusan Allah. Lalu di dalam ayat 7, kita melihat bahwa "Allah menjadikan cakrawala." Ini adalah Allah melaksanakan keputusan-Nya. Sebelum salib didirikan di Golgota, Allah telah menakdirkan perkara tersebut. Salib sangat mirip dengan cakrawala di sini. Kematian Tuhan Yesus bukan sebuah nasib sial, itu bukan kecelakaan; itu sudah ditakdirkan sebelumnya. "Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (1 Ptr. 1:20). Dia adalah "Anak Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan" (Why. 13:8). Kematian Tuhan Yesus, sama seperti pekerjaan pada hari kedua, dilaksanakan pertama-tama melalui suatu keputusan, lalu suatu eksekusi.
Cakrawala diletakkan di tengah-tengah air. Di dalam Alkitab, air mewakili dunia. Kita bisa melihat hal ini dengan jelas ketika kita mempelajari Wahyu 17:15. Air mewakili dunia dan kerajaan-kerajaan di dunia. Demikian juga salib ditinggikan di tengah-tengah manusia dan bagi manusia. "Di situ mereka menyalibkan Dia. Bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, sedangkan Yesus di tengah-tengah" (Yoh. 19:18). Sebenarnya, Golgota bisa dianggap sebagai pusat dunia. Tuhan Yesus mati di tengah-tengah keinsanian untuk tujuan menyelamatkan manusia.
Cakrawala memisahkan air. Salib Tuhan Yesus memisahkan orang-orang dunia. Ketika Dia disalibkan, salibnya memisahkan kedua orang penjahat untuk selamanya. Yang satu pergi ke Firdaus, yang satunya lagi pergi ke Hades. Sepanjang hidup mereka, keduanya telah berdosa bersama-sama. Namun selama beberapa menit dari akhir hidup mereka, yang satu menerima kematian yang menggantikan dari salib Tuhan Yesus, dan yang lainnya menolak untuk menerimanya. Ada pemisahan antara surga dan neraka! Pemisahan ini adalah untuk selamanya. Salib-Nya memisahkan kedua penjahat pada waktu itu, dan dalam cara yang sama memisahkan seluruh dunia hari ini. Sebenarnya, pemisahan ini tidak terjadi hanya hari ini saja. Di sepanjang sejarah, salib-Nya telah memisahkan semua orang di dalam dunia ke dalam dua jenis: yang diselamatkan dan yang binasa. "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah" (1 Kor. 1:18). Salib memisahkan keselamatan dan kebinasaan bagi manusia. Pemisahan antara orang-orang yang binasa dan orang-orang yang diselamatkan hanyalah berdasarkan sikap mereka terhadap salib. Hanya cakrawala yang bisa memisahkan air yang diatas dari air yang di bawah. Demikian juga, hanya salib yang bisa memisahkan orang-orang yang diselamatkan dan orang-orang yang binasa.
Lebih jauh lagi, cakrawala memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah sehingga air yang di atas tidak bisa turun. Cakrawala berdiri di tengah-tengah. Dia mencegah air dari atas turun ke bawah dan bercampur dengan air di bawah, yang bisa sekali lagi membuat mereka menjadi tanpa bentuk dan kosong, dan membawa mereka kembali kepada keadaan yang gersang dari penghakiman Allah. Kita sudah melihat dari Wahyu 17 bahwa air di bumi merupakan lambang dari orang-orang duniawi. Akan tetapi, air di langit melambangkan hal lainnya. Di jaman Nuh, dunia jatuh ke dalam dosa, dan Allah menghakiminya. Dia mengirim hujan dan membuka jendela langit, mencurahkan air dari atas. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa air di atas adalah lambang dari kemurkaan, penghukuman, dan penghakiman Allah. Jika ini benar, maka tidak sulit untuk menemukan makna dari cakrawala. Cakrawala menahan air yang di atas supaya tidak turun ke air di bawah. Dia berdiri di antara air di atas dan air di bawah. Ini adalah pekerjaan salib. Ketika Tuhan Yesus disalibkan di atas salib, Dia berdiri di tempat kita dan menanggung dosa-dosa kita. Dia adalah penutup kita. Penghakiman, penghukuman, dan murka Allah seharusnya turun ke atas kita dan membuat kita gersang, membuat kita menjadi "samudera dalam." Akan tetapi, Tuhan Yesus berdiri di antara kita dan murka Allah. Ketika Dia disalibkan di atas salib, Dia mengijinkan murka Allah turun ke atas Diri-Nya dan bukan ke atas kita. Menurut ketetapan Allah, murka Allah seharusnya tinggal di atas kita (Yoh. 3:36). Tetapi Dia telah menetapkan-Nya sebagai pemikul dosa-dosa kita. "TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yes. 53:6). Syukur pada Tuhan atas cakrawala di langit yang memisahkan air di atas dari air di bawah! Syukur pada Tuhan atas salib Tuhan Yesus yang memisahkan dunia dari murka Allah! Namun Dia telah menanggung apa yang seharusnya kita tanggung sendiri. Inilah keselamatan. Inilah injil. Jika air di atas tidak dipisahkan dari air di bawah, dunia akan selamanya binasa di bawah air. Jika Tuhan Yesus tidak menanggung murka Allah demi manusia, dunia akan selamanya berada di dalam kegersangan dan tanpa harapan. Inilah pekerjaan salib yang menggantikan/men-substitusi.
Cakrawala diciptakan oleh Allah. Keputusan dibuat oleh Allah, dan penciptaan juga digenapkan oleh Allah. Secara luaran, Tuhan Yesus disalibkan oleh orang-orang Yahudi dan dibunuh oleh orang-orang Kafir. Kelihatannya nyawa-Nya diambil oleh manusia. Akan tetapi, menurut Alkitab, Dia tidak dibunuh sebab Dia mengatakan bahwa tidak seorang pun bisa merebut nyawa-Nya dari Dia. Kematian-Nya adalah penghakiman Allah atas Diri-Nya bagi segala dosa orang-orang berdosa. "Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban penebus salah" (Yes. 53:10). Salib adalah pekerjaan Allah secara langsung. Bukan manusia yang memperlakukan Dia dengan tidak baik. Alkitab mengatakan, "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka" (Kis. 2:23).
Di antara keenam hari pekerjaan Allah, Dia menganggap bahwa pekerjaan-Nya di hari-hari yang lainnya baik. Hari kedua adalah satu-satunya hari dimana Allah tidak mengatakan bahwa apa yang Dia jadikan adalah baik. Apa yang tidak dikatakan Allah adalah sama bermaknanya dengan apa yang dikatakan-Nya. Pekerjaan pada hari kedua adalah Allah membereskan dosa di salib. Murka Allah dimanifestasikan atas Yang Benar untuk tujuan membebaskan orang-orang yang tidak benar. Di sanalah Allah membuat Dia yang tidak berdosa menjadi dosa bagi kita dan membuat Dia menderita penghakiman bagi orang-orang berdosa. Sangatlah bermakna bahwa Dia tidak mengatakan bahwa itu baik. Allah tidak bahagia dalam menghakimi dosa. Dia senang memberi kasih karunia; Dia tidak suka menghakimi.
Pembebasan salib adalah dasar keselamatan. Tanpa salib yang menggantikan, kelahiran Kristus akan sia-sia. Seluruh dunia telah berdosa, dan upah dosa adalah maut. Kecuali ada Juruselamat yang mau mati demi orang-orang berdosa, tidak seorang pun akan lepas dari penghakiman yang layak untuk dia terima. Jika hanya ada kelahiran Kristus, itu akan benar-benar tidak berguna dalam menyelamatkan orang-orang berdosa. Apa yang kekurangan dari manusia adalah Juruselamat yang menanggung dosa, bukan guru yang kudus. Hanya Juruselamat yang mau menderita bagi orang lain yang bisa membebaskan orang-orang berdosa dari dosa-dosa mereka. Jika tidak ada kematian yang bagi orang lain (vicarious death), bahkan kebangkitanpun tidak ada gunanya, sebab tanpa kematian tidak akan bisa ada kebangkitan dan tidak diperlukan kebangkitan. Semua fakta dari keselamatan adalah berdasarkan pekerjaan hari kedua. Jika air tidak dipisahkan, tidak ada kemungkinan bagi daratan untuk muncul. Bahkan bersinarnya terang pada hari sebelumnya akan menjadi sia-sia. Kita seharusnya memberi perhatian pada perkara ini dan tidak pernah lupa bahwa Tuhan Yesus mati di salib bagi kita.
III. Pekerjaan pada hari ketiga menandakan kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam pekerjaan-Nya pada hari ketiga ini Allah membuat air di bawah langit berkumpul di satu tempat, membuat daratan kering muncul, dan membuat daratan menumbuhkan rumput, tanaman berbiji, dan pohon. Tadinya bumi ditutupi oleh samudera luas; sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan, ataupun kehidupan. Seluruh daratan telah terkubur di bawah air penghakiman Allah. Kecuali kegelapan, tidak ada apa-apa lagi. Selain gelombang air kotor, tidak ada bayangan dari daratan. Karena bumi sendiri sudah menghilang, tidak ada kehidupan bumiah. Lalu Allah memulai pekerjaan-Nya. Pertama, Dia membuat daratan keluar dari air. Kedua, Dia membuat kehidupan muncul di atas daratan ini. Pekerjaan pada hari ketiga ini jelas merupakan lambang dari kebangkitan Tuhan Yesus.
Kata "hari ketiga" saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pekerjaan pada hari tersebut adalah lambang dari kebangkitan. Satu Korintus 15:4 mengatakan, "Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga." Ada banyak tempat di dalam Alkitab dimana hari ketiga dan kebangkitan dihubungkan bersama. Ini berlaku bukan hanya di dalam Perjanjian Baru saja, namun juga di dalam Perjanjian Lama. Tiga hari setelah Paskah (Passover, bukan Easter -- red). ada pesta untuk mempersembahkan buah-buah sulung dari hasil panen. Ini jelas mengacu kepada kebangkitan Kristus tiga hari setelah kematian-Nya. Di dalam 1 Korintus 15 ada sebuah frase khusus, "Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci" (ay. 4). Kebangkitan Tuhan Yesus pada hari ketiga telah dinubuatkan oleh Kitab Suci, yaitu, di dalam Perjanjian Lama. Dimana kita bisa menemukan hari ketiga? Kita tidak perlu melihat semua tempat di dalam Alkitab. Di dalam Kejadian 1, pada permulaan Alkitab, kita menemukan "hari ketiga" yang pertama. Kita tidak bisa tidak menganggap hal ini sebagai lambang dari kebangkitan Tuhan Yesus.
Bukan saja tanda bilangan, "hari ketiga," adalah suatu lambang, namun pekerjaan pada hari ketiga juga merupakan bukti kebangkitan. Daratan tadinya terkubur di bawah air. Ayat 9 mengatakan, "Hendaklah..., sehingga kelihatan yang kering." Tadinya daratan berada di bawah air; kemudian dia naik ke atas air. Inilah kebangkitan. Daratan keluar dari kuburan air. Dulu dia tertutup air. Lalu dia naik ke atas air dan menjadi lebih tinggi dari air. Ini adalah gambaran yang indah akan kebangkitan. Kita bisa melihat gambaran ini dengan jelas pada saat pembaptisan. Ketika seseorang dibaptis, seluruh dirinya dicelupkan ke dalam air, dan lalu dia keluar dari air. Roma 6:24 dan Kolose 2:12 memberi tahu kita bahwa baptisan melalui diselam ke dalam air merupakan simbol dari kematian, penguburan, dan kebangkitan. Jadi, daratan keluar dari air adalah lambang dari kebangkitan keluar dari kematian dan kubur.
Yesaya 57:20 memberi tahu kita bahwa air mewakili dosa. "Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur." Daratan terkubur di bawah air adalah seperti Tuhan Yesus terkubur di kuburan. Daratan tidak tinggal di bawah air untuk selamanya. Pada hari ketiga dia keluar dari air. Situasi ini adalah seperti kebangkitan Tuhan Yesus. Roma 6 dengan jelas memberi tahu kita mengenai hubungan kebangkitan Tuhan Yesus dan dosa. "Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah" (ay. 10). Dan, "Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (ay. 9). Seperti daratan keluar dari air, kebangkitan Kristus membuat-Nya putus hubungan dengan dosa.
Pekerjaan pada hari ketiga memiliki dua tingkat. Tidak saja daratan keluar dari air, tapi dia juga menumbuhkan kehidupan yang baru. Ini berbicara mengenai kebangkitan. Ayat 11 memberi tahu kita bahwa tanah menumbuhkan berbagai jenis rumput, tanaman berbiji, dan pohon-pohon yang menghasilkan buah. Asalnya tidak ada kehidupan di bumi. Akan tetapi, pada hari tersebut, kehidupan mulai muncul. Tadinya maut berkuasa. Sekarang hayat datang. Allah tidak menciptakan kehidupan pada hari kedua, atau membuat hal-hal bertumbuh di tanah pada hari keempat. Pada hari inilah, hari ketiga, Allah menciptakan kehidupan. Roma 6:4 memberi tahu kita bahwa "kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan berjalan dalam kebaharuan hayat." Tanpa kebangkitan, tidak akan ada hayat yang baru. Hayat yang baru ini muncul setelah kebangkitan. Sebelum tanah keluar dari air, tidak ada kehidupan yang bisa tumbuh di bumi. Harus pertama-tama ada pemisahan dari air sebelum bisa ada pertumbuhan. Harus pertama-tama ada kebangkitan sebelum bisa ada hayat. Setelah kebangkitan, hayat pasti akan mengikuti. Tanpa hayat yang baru, kebangkitan itu kosong. Kaum saleh yang memperhatikan kemajuan rohani mereka seharusnya memperhatikan fakta ini.
Pada tingkat kedua dari pekerjaan hari ketiga, perkara yang paling penting adalah buah. Ini adalah hasil alami dari kebangkitan. Sasaran dari kebangkitan adalah untuk menghasilkan buah. Kalau tidak, mengapa daratan keluar dari air? Daratan muncul untuk tujuan menghasilkan buah. Alkitab tidak bisu mengenai hubungan antara kebangkitan dan berbuah. Roma 6:22 mengatakan, "Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan." Bagaimana kita bisa dibebaskan dari dosa? Kita dibebaskan melalui diidentifikasikan bersama Tuhan dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Inilah apa yang dikatakan Kejadian 1:11-13 kepada kita. Hasil dari kebangkitan ini adalah buah kepada pengudusan. Dengan demikian, berbuah adalah hasil nyata dari kebangkitan. Ini bukan satu-satunya ayat yang memberi tahu kita mengenai hal ini. Roma 7:4 juga mengatakan, "Kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah." Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan dan tidak ada buah. Buah-buah yang adalah bagi Allah datang hanya melalui mati dan bangkit bersama Tuhan Yesus. Satu-satunya buah yang terhitung di hadapan Allah adalah buah yang berdasarkan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Di mata Allah, segala sesuatu yang belum melewati kematian dan kebangkitan berasal dari ciptaan lama. Dia dihakimi oleh Allah dan tidak bersyarat untuk menghasilkan buah.
Pekerjaan pada hari ketiga adalah kebangkitan. Inkarnasi itu penting, dan penyaliban juga penting. Tapi tanpa kebangkitan, injil akan menjadi tidak lengkap. Sasaran inkarnasi adalah penyaliban. Hasil dari penyaliban adalah kebangkitan. Kebangkitan berarti Allah telah menerima keselamatan yang digenapkan oleh penyaliban Tuhan Yesus. Roma 4:25 mengatakan bahwa Yesus diserahkan bagi pelanggaran-pelanggaran kita. Ini berarti Tuhan Yesus mati untuk menanggung dosa-dosa kita. Ketika Dia mati, Dia menanggung penghukuman dosa-dosa kita, dan kita diampuni. Lebih jauh lagi, Dia "dibangkitkan bagi pembenaran kita." Pengampunan ada di sisi negatif; ini memperlihatkan bahwa kita telah berdosa dan bahwa Allah telah mengampuni kita. Pembenaran ada di sisi positif; dia memperlihatkan bahwa kita sekarang tanpa berdosa, bahwa Allah telah mendeklarasikan bahwa kita ini tanpa berdosa, dan bahwa kita sudah dibenarkan. Kita bisa menjadi tanpa dosa sebab pekerjaan pada sisi negatif telah digenapkan sepenuhnya dan segala dosa kita telah diampuni dan dicuci. Berdasarkan kematian Tuhan Yesus dan pengampunan kita, Allah membenarkan kita. Pembenaran diberikan kepada kita melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Kematian-Nya telah menggenapkan keselamatan melalui pengampunan dosa-dosa kita. Sekarang melalui kebangkitan-Nya, Allah telah mendeklarasikan bahwa kita ini tanpa dosa dan membenarkan kita. Kebangkitan mendirikan suatu hubungan yang baru bagi kita dengan Allah. Dikarenakan kebangkitan Tuhan Yesus, kita diletakkan pada posisi yang baru di hadapan Allah. Kematian dan kebangkitan saling berkaitan. Demikian juga pengampunan dan pembenaran saling berkaitan. Kebangkitan Tuhan menandakan bahwa Allah telah menerima dan mengakui kematian-Nya. Pembenaran kita membuktikan bahwa kita sudah diampuni oleh Allah. Dikarenakan kematian Tuhan Yesus, seorang Kristen seharusmya menyadari dalam rohnya bahwa dosa-dosanya telah ditanggung oleh Tuhan, bahwa dosa-dosanya telah diampuni, dan bahwa mereka telah dihakimi dan dihukum dalam Tuhan Yesus. Semuanya ini ada pada sisi negatif. Melalui kebangkitan Tuhan Yesus, kaum saleh seharusnya menyadari dalam roh mereka bahwa mereka bukan hanya orang-orang berdosa yang telah diampuni yang seharusnya meringkuk dengan gelisah di hadapan Allah, melainkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang terkasih. Kebangkitan berarti segala hal yang lampau sudah mati. Segala sesuatu yang berdosa dan berasal dari diri sendiri telah dikuburkan di kuburan; mereka tidak pernah bisa ditemukan. Mereka selamanya hilang. Segalanya sekarang sepenuhnya baru. Karena itulah, kita tidak seharusnya hanya menjadi kaum saleh yang sudah diampuni, puas hanya dengan dosa-dosa kita sudah diampuni. Melainkan, kita seharusnya menjadi orang-orang Kristen yang dibenarkan, setiap hari mengakui fakta bahwa Allah telah menganggap kita benar di hadapan-Nya, bukan melalui kebenaran kita sendiri, melainkan melalui posisi baru kita yang didapat melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Setiap hari kita harus percaya bahwa kita diterima dalam Kristus dan bahwa Allah telah menerima kita sama seperti Dia telah menerima Kristus. Sama seperti Allah puas dan berkenan pada Kristus, Dia juga menerima kita melalui hubungan kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
IV. Pekerjaan pada hari keempat menandakan kenaikan Tuhan Yesus. Pada hari keempat, pekerjaan Allah menjadikan benda-benda penerang. Dia membuat matahari, bulan, dan bintang. Pekerjaan pada hari-hari sebelumnya adalah di bumi. Pekerjaan pada hari keempat adalah di langit. Penekanan pada hari keempat adalah pada hal-hal surgawi. Matahari, bulan, dan bintang adalah benda-benda surgawi. Allah membuat benda-benda penerang ini untuk beberapa alasan. Pertama, mereka "untuk menerangi bumi" (Kej. 1:17). Kegelapan adalah kondisi umum dari dunia, dan terang adalah kondisi khusus dari dunia. Umumnya dunia itu gelap. Itulah sebabnya mengapa terang harus memancar. Kalau tidak, dunia akan tenggelam ke dalam malam yang panjang. Kedua, benda-benda penerang adalah untuk "menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap" (ay. 18). Mereka bukan hanya untuk penerang saja, tapi juga untuk berkuasa. Pekerjaan pada hari keempat ini adalah lambang dari kenaikan Tuhan Yesus.
Seluruh pekerjaan pada hari keempat ada di langit. Ini tidak sama dengan hari pertama, ketika terang ada di dalam dunia. Walaupun terang pada hari pertama bersinar di bumi, benda-benda penerang di hari keempat ada di langit. Terang yang datang ke bumi sekarang sumbernya di langit. Inilah kenaikan. Tuhan Yesus, yang turun dari surga, sekarang telah dibawa keluar dari dunia lagi.
Maleakhi 4:2 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Surya kebenaran. Wahyu 12:1 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Matahari. Mazmur 19:5-6 mengatakan hal yang sama. Dalam pembacaan Alkitab, kita menemukan pengajaran bahwa matahari adalah lambang Kristus. Kita tidak melihatnya di dunia, melainkan di langit. Dia telah naik ke surga bagi kita dan telah menampakkan diri di hadapan Allah sebagai Jurudamai dan Imam kita.
Pekerjaan pada hari keempat ini bukan hanya menandakan Kristus saja, namun juga umat-Nya, sebab bulan adalah lambang dari gereja dan bintang-bintang adalah lambang dari orang-orang Kristen secara individual. Berdasarkan kematian dan kebangkitan Tuhan, Tuhan telah mendapatkan umat untuk nama-Nya sendiri. Itulah sebabnya mengapa kita melihat bulan dan bintang-bintang di hadirat Tuhan. Bulan tidak memiliki terangnya sendiri; dia hanya memantulkan terang matahari. Demikian juga gereja tidak memiliki terangnya sendiri; dia hanya memantulkan terang Kristus. Saat ini kaum beriman "bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Flp. 2:15); mereka itu seperti bintang-bintang. Kita sudah membahas poin ini sebelumnya dan tidak akan membahas terlalu banyak sekarang.
Dua hal yang harus kita lakukan sekarang berhubungan dengan apa yang telah kita bahas sebelumnya. Pertama, kita harus memantulkan terang Kristus di dalam malam yang gelap secara moral ini. Kedua, kita harus berkuasa atas kekuatan kegelapan dengan terang dari perkataan dan perbuatan kita. Ketika seribu tahun datang, kita akan benar-benar menjadi raja-raja dan berkuasa atas segala sesuatu.
Kenaikan Kristus merampungkan pekerjaan-Nya di bumi. Kenaikan-Nya adalah berdasarkan kematian dan kebangkitan-Nya. Makna dari kenaikan-Nya adalah kemenangan atas segala sesuatu milik kerajaan Satan. Efesus 1:20-21 mengatakan, "Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut." Kita tahu bahwa semua hal ini mengacu kepada Satan dan bawahannya. Kenaikan Tuhan Yesus berarti Allah telah memberi Dia suatu posisi yang lebih tinggi dari segala kekuasaan Satan. Posisi-Nya di surga adalah posisi mengalahkan-Satan. Satan berada di bawah kaki-Nya; dia tidak punya peluang untuk mengalahkan-Nya sebab Yesus sekarang adalah Tuhan atas segala sesuatu dan telah menjadi Kepala atas segala sesuatu.
Filipi 2:8-11 mengatakan bahwa Kristus melewati "mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!" Dalam kenaikan-Nya Tuhan Yesus menerima tempat yang paling tinggi, tempat yang tidak bisa dijamah Satan dan roh-roh jahatnya. Mereka juga telah mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Raja. Posisi ini sangat penting. Jika Tuhan Yesus belum terangkat, efek kematian dan kebangkitan-Nya di bumi akan terpengaruh. Adalah benar bagi Tuhan sendiri untuk memimpin umat-Nya ke posisi surgawi ini. Di satu pihak, umat-Nya bisa bersinar bagi Dia, dan di lain pihak, mengalahkan kuat kuasa kegelapan yang menentang mereka. Inilah yang diberitakan Efesus 2:6 kepada kita. Sama seperti terang matahari mengalahkan kegelapan, posisi surgawi Tuhan Yesus mengalahkan kuat kuasa kegelapan iblis. Sama seperti bulan dan bintang menemani matahari di langit, orang-orang Kristen juga tinggal bersama Tuhan Yesus di surga.
V. Pekerjaan pada hari kelima menandakan Tuhan Yesus sebagai Tuhan hayat. Dalam pekerjaan-Nya pada hari kelima, Allah menciptakan banyak jenis kehidupan di dalam air dan burung-burung. Pada keempat hari sebelumnya, Allah mempersiapkan langit dan bumi sebagai tempat tinggal bagi makhluk-makhluk hidup. Sampai hari kelima, belum ada makhluk hidup di dalam air ataupun di udara. Walaupun tumbuh-tumbuhan tercakup di dalam pekerjaan hari ketiga, tidak ada tanda-tanda mengenai hewan. Makhluk di dalam air bisa hidup di dalam air sebab Allah mempersiapkan air pada hari pertama. Burung-burung bisa terbang di udara sebab Allah mempersiapkan udara pada hari kedua. Burung dan makhluk di dalam air keduanya memiliki hayat. Satu-satunya perbedaan terletak pada bentuk luaran mereka. Burung-burung dan makhluk di dalam air ciptaan Allah ini berbeda satu dengan yang lainnya di pandangan manusia; mereka jelas berbeda. Akan tetapi, mereka memiliki hayat yang sama. Mereka hanya berbeda dalam tempurung luaran dari hayat mereka. Karena itu, pekerjaan pada hari kelima adalah supaya hayat mengambil bentuk. Sebagian mengambil bentuk mereka di dalam air, sedangkan yang lainnya mengambil bentuk mereka di udara. Pekerjaan pada hari kelima adalah lambang dari Tuhan Yesus sebagai Tuhan pemberi hayat.
Hayat tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Semua hayat diciptakan oleh Allah. Allah adalah Pencipta segala hayat. Tidak peduli bentuk luaran apa yang diambil hayat ini, dia berasal dari Allah. Setelah Tuhan Yesus bangkit dan terangkat, pekerjaan-Nya adalah mendispensikan hayat kepada orang-orang, sehingga mereka yang memiliki hayat-Nya bisa memilikinya dengan berlimpah. Kenaikan-Nya, yang dilambangkan oleh pekerjaan pada hari sebelumnya, adalah dengan tujuan untuk menjadi hayat bagi kaum saleh. Kita bisa melihatnya di dalam Kolose 3:1-4: "Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." Ini berbicara mengenai kebangkitan dan kenaikan. Mengikuti kenaikan, Kitab Suci melanjutkan, "Hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hayat kita,..." Dari sini kita bisa melihat bahwa pekerjaan Kristus setelah kenaikan adalah untuk menjadi hayat kita, suatu hayat yang tersembunyi di dalam Allah.
Burung-burung dan makhluk-makhluk di dalam air adalah lambang dari orang-orang di dalam dunia. Sekarang kita akan melihat bagaimana burung-burung dan makhluk-makhluk di dalam air ini berhubungan dalam maknanya dengan hayat Kristen.
Hayat diberikan oleh Tuhan Yesus. Tuhan sekarang sudah naik ke surga. Sasaran-Nya adalah supaya kaum saleh mengekspresikan hayat-Nya secara praktis sebelum Dia datang kembali. Jika suatu hayat tidak memiliki bentuk luaran, hayat tersebut tidak bisa eksis di bumi ini atau memiliki pengalaman di bumi. Walaupun bentuk luaran tidak berarti banyak, tanpa bentuk tersebut, tidak ada jalan bagi hayat untuk diekspresikan. Karena itulah, sangat diperlukan bagi hayat untuk "mengambil bentuk." Tuhan Yesus menginginkan kaum saleh-Nya untuk memperhidupkan ekspresi praktis dari hayat yang berasal dari kematian dan kebangkitan-Nya di bumi. Mereka telah menerima hayat melalui kematian dan kebangkitan Tuhan. Secara posisi, mereka sudah menerima tempat surgawi. Kekurangan mereka adalah suatu bentuk di bumi yang mengekspresikan hayat Tuhan. Inilah makna dari hari kelima.
Tuhan Yesus sekarang sedang melatih murid-murid-Nya untuk mengambil bentuk di bumi. Sama seperti burung mengekspresikan hayat mereka melalui bentuk luaran mereka dan seperti makhluk di dalam air mengekspresikan hayat mereka melalui bentuk luaran mereka, Tuhan Yesus damba supaya kaum saleh-Nya mengekspresikan Dia dengan suatu bentuk yang nyata di bumi. Tuhan damba supaya kaum saleh-Nya, di manapun mereka, mengekspresikan hayat-Nya melalui bentuk mereka. Hayat ini adalah hayat yang sama. Namun dalam bentuk luaran mereka, ada perbedaan antara burung dan makhluk di dalam air. Burung dan makhluk di dalam air menerima hayat yang sama. Tapi bentuk mereka berbeda. Jadi, ada perbedaan ekspresi dari hayat batini yang sama. Seluruh hayat yang diterima kaum saleh berasal dari Tuhan Yesus; tidak ada perbedaan sejak semula. Akan tetapi, dikarenakan perbedaan karakter kaum saleh, mereka mengekspresikan hayat Tuhan secara berbeda. Ini bisa kita lihat dengan jelas dalam perumpamaan seorang penabur. Walaupun benih yang ditaburkan jenisnya sama, walaupun hayat di dalam benih tersebut adalah sama, dan walaupun ladang-ladang semuanya baik, pada akhirnya, ada yang menghasilkan tiga puluh kali, ada yang enam puluh kali, dan ada yang seratus kali. Setiap orang menerima hayat yang sama dari Tuhan. Ada perbedaan ekspresi untuk hayat ini sebab "toko" dari hayat ini berbeda.
Karena itu, dalam pekerjaan hari ini Tuhan Yesus memerintahkan kaum saleh-Nya untuk membuktikan hayat-Nya di bumi dan mengekspresikan hayat-Nya melalui karakter mereka. Ini sangat penting. Kecuali kita mengekspresikan hayat surgawi secara praktis di bumi, hayat ini, yang kita dapatkan melalui kelahiran kembali dan berasal dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan, tidak akan dipersatukan dengan kita secara teguh.
Hayat dengan dirinya sendiri tidak bisa memiliki pengalaman apa pun. Hal yang paling penting adalah memiliki bentuk luaran. Hayat burung mengalami penghidupan burung melalui bentuk luaran burung. Bagi seorang kudus untuk menerima hayat Tuhan secara praktis dan mengekspresikan hayat ini di bumi adalah semacam pelatihan. Pengalaman burung dan makhluk di dalam air dimulai dari hari dimana hayat di dalam mereka membuat mereka menjadi burung dan makhluk di dalam air. Sejak hari itu burung dan makhluk di dalam air bisa memperhidupkan penghidupan mereka dan mendapatkan pengalaman. Ini berhubungan dengan pelatihan kaum saleh. Pekerjaan Tuhan Yesus sekarang adalah melatih kaum saleh-Nya dalam hayat. Akan tetapi, sebelum pelatihannya dimulai, kaum saleh harus pertama-tama dipersatukan kepada hayat Tuhan.
VI. Pekerjaan pada hari keenam menandakan kedatangan kembali Tuhan Yesus dan ke-raja-an-Nya. Di dalam pekerjaan hari keenam, Allah menciptakan Adam dalam gambar-Nya sendiri dan memerintahkan Adam untuk menguasai seluruh bumi. Lima hari pekerjaan sudah lewat. Segala sesuatu di bumi sudah siap. Semua obyek di langit juga sudah siap. Makanan dan tempat kediaman yang diperlukan manusia semuanya dipersiapkan satu demi satu. Lalu Allah menciptakan manusia. Poin yang paling penting dalam penciptaan manusia adalah bahwa dia diciptakan dalam gambar Allah. Manusia di bumi adalah wakil Allah. Manusia adalah ekspresi Allah. Ini berhubungan dengan kedatangan kembali Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus adalah Adam yang akhir dan Manusia kedua. Adam pertama adalah lambang-Nya. Adam pertama diciptakan dalam gambar Allah. Di sini kita melihat lambang dari kedatangan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, Tubuh-Nya, yang adalah gereja-Nya, juga akan dirampungkan. Seluruh gereja akan menjadi gambar-Nya pada saat Dia kembali. Satu Yohanes 3:2 mengatakan, "Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia." Ketika Tuhan Yesus muncul kembali, gereja-Nya akan sepenuhnya seperti Dia. Sama seperti Adam diciptakan dalam gambar Allah, Tubuh dari Adam yang akhir, gereja, juga akan sepenuhnya seperti Allah ketika Tuhan Yesus datang kembali. Kedatangan Tuhan yang kedua akan membuat setiap orang kudus mengambil gambar-Nya, gambar dari tubuh yang mulia yang diberikan oleh-Nya.
Pada hari keenam, Hawa diciptakan sebagai pasangan Adam. Hawa adalah lambang dari gereja. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, gereja akan rampung dan akan dipersembahkan kepada Kristus sebagai pasangan-Nya. Dia akan berkuasa bersama Kristus atas dunia. Hawa diciptakan pada hari keenam. Gereja akan rampung pada saat Tuhan datang kembali. Gereja juga akan menjadi pasangan Tuhan ketika Tuhan kembali. Penciptaan Adam dan Hawa pada hari keenam merupakan suatu referensi yang jelas kepada kejadian-kejadian pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua.
Allah tidak hanya menciptakan Adam dan Hawa; Dia membuat mereka berkuasa atas dunia yang tercipta. Segala otoritas diserahkan kepada mereka. Allah tidak berkuasa atas dunia secara langsung. Melainkan, Dia telah menyerahkan otoritas untuk menguasai dunia kepada Adam. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi untuk berkuasa atas seluruh dunia. Sama seperti penciptaan Adam di dalam paragraf sebelumnya berhubungan dengan kedatangan Tuhan, penugasan Adam untuk berkuasa atas dunia berhubungan dengan ke-raja-an-Nya. Di dalam milenium, Allah akan menyerahkan segala otoritas kepada Kristus dan membuat Dia memerintah. Filipi 2:9 mengatakan, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama." Ada banyak ayat-ayat lain yang berbicara mengenai Allah memberikan otoritas kepada Kristus untuk menjadi Raja atas segala sesuatu dan untuk berkuasa atas segala hal di dalam milenium
Adam membagi seluruh otoritasnya dengan Hawa. Walaupun Adamlah yang secara langsung memerintah dunia, Hawa membantu Adam dalam menjadi seorang pemimpin. Ketika Tuhan Yesus adalah Raja di dalam milenium, Dia akan melaksanakan ke-raja-an-Nya. Namun Alkitab berulang kali memberi tahu kita bahwa orang-orang Kristen adalah Hawa Tuhan Yesus dan bahwa mereka akan memerintah bersama Dia dan berbagian dalam kemuliaan-Nya. Dia akan berkuasa atas segala sesuatu, dan pada waktu yang sama, orang-orang Kristen akan berbagian dalam memerintah dunia. Walaupun mungkin ada perbedaan antara lima atau sepuluh kota, pemerintahan kita bersama-Nya adalah suatu fakta yang abadi.
Kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan Tuhan Yesus yang memberi hayat adalah elemen-elemen penting dalam pekerjaan-Nya. Jika hal ini adalah seluruh pekerjaan-Nya, dan jika tidak ada kedatangan-Nya yang kedua atau memerintah dengan Dia, seorang Kristen hanya bisa berharap pada jaman ini dan akan lebih miskin daripada orang-orang lain. Kaum saleh menderita hari ini di dunia. Mereka akan menikmati berkat mereka di masa depan di surga! Surga mungkin baik, tapi surga tidak akan pernah bisa mengobati penderitaan yang yang dialami kaum saleh di dunia hari ini. Akibatnya, Tuhan Yesus harus datang kembali ke dunia ini. Di dunia ini Dia diperlakukan semena-mena, ditolak, dianiaya, dan disalibkan. Di dunia ini Dia akan menerima kemuliaan-Nya di masa yang akan datang. Hal ini tidak akan terjadi di planet lain di langit. Ketika orang-orang Kristen menderita bersama Tuhan hari ini, mereka menderita di dunia. Di masa yang akan datang, mereka juga akan menerima kemuliaan di dalam dunia. Inilah sebabnya mengapa kedatangan Tuhan Yesus dan ke-raja-an-Nya diperlukan bagi Diri-Nya sendiri dan kaum saleh-Nya.
Misteri Penciptaan - Bab 4
BAB EMPAT
PENCIPTAAN DAN PENGALAMAN KRISTEN
Kita sudah melihat bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, bahwa kemudian bumi menjadi tanpa bentuk dan kosong, dan bahwa Allah memulihkan bumi dan segala sesuatu di bumi dalam enam hari. Sekarang kita akan maju untuk melihat makna rohani dari semuanya ini.
Mengenai ciptaan sebermula, kita hanya tahu bahwa "pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Pada ayat selanjutnya kita melihat bahwa situasinya berubah. Segalanya tidak lagi sama seperti sebelumnya: "bumi tanpa bentuk, dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam" (1:2). Tentunya ini bukan situasi yang Allah ciptakan pada mulanya, sebab Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah "menciptakannya bukan porak-poranda" (Yes 45:18). Oleh karena itu, di dalam Kejadian 1, di antara ayat 1 dan 2, terdapat suatu perubahan yang besar. Setelah bumi menjadi gersang, Allah memulai pekerjaan pemulihan bumi-Nya yang telah Dia hakimi. Mulai hari pertama sampai hari keenam, Allah bekerja untuk memulihkan dunia. Pada hari yang ketujuh Dia beristirahat.
Apakah maksud Allah hanyalah supaya kita tahu bagaimana Dia menciptakan dan memulihkan dunia? Atau apakah ada makna yang lebih dalam? Apakah ada perbedaan antara "ciptaan baru" dan penciptaan dunia pada hari-hari itu? Apakah penciptaan dari dunia jasmani serupa dengan dunia rohani? Dunia lahiriah hanyalah suatu refleksi dari dunia batini. Cara yang ditempuh Allah untuk membereskan dunia yang besar ini adalah sama dengan cara Dia bertindak terhadap masing-masing individu. Di dalam rencana Allah dan penggenapannya, proses penciptaan dunia jasmani dan pengalaman pembaharuan kerohanian pribadi memiliki hubungan. Sejarah penciptaan melambangkan jalur pengalaman dari kehidupan kita dalam ciptaan baru.
Fokus kita sekarang ini bukanlah pada sejarah umat manusia jaman purbakala, melainkan pada pengalaman rohani individu-individu hari ini. Pada hari-hari terakhir ini, kegagalan yang paling besar adalah bahwa orang-orang terlalu memperhatikan umat manusia dan melupakan manusia-manusia secara individu. Tapi Allah tidaklah demikian. Walaupun dia ingin memberkati umat manusia, Dia memulainya dengan manusia-manusia secara individu. Dia tidak memandang rendah siapapun juga. "Namun, seekor pun (dua ekor burung pipit) tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu" (Mat. 10:29). Dari tindakan-tindakan Allah, kita seharusnya melihat tangan Bapa. Manusia telah berdosa dan telah jatuh; namun, syukur pada Allah bahwa dia tidak memandang rendah siapapun juga. Hati-Nya tercurah terhadap semua orang. Hanya mengenal ini saja bisa menghibur kita. Hanya hati Allah yang bisa memuaskan hati manusia.
I. "Pada mulanya" berarti permulaan dunia. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Ketika langit dan bumi pertama kali keluar dari tangan Pencipta, betapa mereka sangat segar dan cantik! Kesempurnaan, kemurnian, kecantikan, dan kecemerlangan adalah kondisi dari langit dan bumi pada saat itu. "Bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai" (Ayb. 38:7). Betapa sukacitanya! Tidak ada suara keluhan atau dukacita tercampur dengan melodi sukacita tersebut. Betapa harmonisnya Pencipta dan ciptaan! Tidak ada dosa, tidak ada Satan, tidak ada dukacita, tidak ada sakit, tidak ada penyakit, tidak ada maut, melainkan hanya kasih karunia dan kemuliaan. Tentu saja itu merupakan sebuah dunia yang penuh dengan sukacita dan kemuliaan.
Inilah kondisi sebermula dari manusia. Kondisi sebermula dari Adam dan Hawa adalah sempurna, sama seperti dunia jasmani sempurna pada mulanya. Manusia diciptakan dalam gambar Allah dan menurut rupa Allah. Allah mempersiapkan pendamping baginya. Allah meletakan dia di sebuah taman dan memberikati dia dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangannya. Dia adalah raja bumi. Allah memerintahkan dia untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Allah mengatakan bahwa itu luar biasa baik. Pada latar belakang Adam, tidak ada warisan dosa. Sifat dosa tidak ada di dalam dia, demikian juga tanda dosa tidak ada pada dirinya, juga kondisi dosa tidak ada di sekelilingnya. Adam adalah manusia ideal yang hidup di dalam lingkungan yang ideal. Adam dan pendampingnya bersekutu dengan Allah mereka. Segala sesuatu seharusnya telah membuat dia puas dan bahagia.
II. "Dan bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam" (Kej. 1:2). Dunia yang dulunya sempurna telah jatuh, malapetaka datang, dan seluruh bumi berubah. Begitu dosa masuk, maut mengikutinya. Begitu maut masuk, maka masuk pula segala perbuatan milik maut. Karya agung Pencipta dihancurkan. Bejana tukang periuk telah rusak. Apa yang tadinya paling cantik sekarang menjadi yang paling jelek. Apa yang tadinya paling baik menjadi yang paling buruk. Apa yang tadinya disebut kesempurnaan menjadi yang gersang. Suara nyanyian tidak lagi terdengar; terang juga meredup. Seluruh bumi binasa di bawah penghakiman air Allah. Tidak ada lagi cakrawala. Gelap gulita menutupi samudera dalam, dan samudera dalam menutupi seluruh bumi. Tidak ada lagi di bumi yang terpisah dari warna yang suram, bau payau, dan suara gemuruh. Ciptaan sebermula Allah telah rusak.
Ini adalah sebuah gambaran yang gamblang mengenai betapa manusia telah meninggalkan Allah. Betapa kacaunya! Betapa gelapnya! Gelombang nafsu menggelora. Alam kita yang dulunya indah telah terkubur di dalam kedalaman dosa! "Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur" (Yes. 57:20).
Manusia menjadi jatuh. Awalnya dia menerima berkat, tetapi sekarang, kutukan. Maut dan dukacita datang ke tempat dimana tadinya ada hayat dan sukacita. Manusia terperosok ke dalam dosa dan tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri. Dia tersembunyi di dalam kegelapan dan tidak bisa melihat dirinya sendiri. Karakteristik yang jelas dari manusia yang jatuh adalah kegersangan. Kegelapan dalam moralitas dan perkara-perkara rohani adalah kondisi umum dari orang-orang berdosa (Ef. 4:18). "Tidak berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam"! Inilah gambaran yang sesungguhnya dari setiap orang berdosa. Betapa menyedihkannya bahwa banyak orang tidak menyadari kondisi mereka sendiri!
Inilah penyebab dari semua malapetaka dan dukacita di dalam dunia. Inilah sumber dari sifat dosa manusia. Manusia kehilangan gambar yang sebermula. Manusia yang diciptakan Allah pada mulanya adalah jujur (Pkh. 7:29). Akan tetapi, manusia kehilangan kondisinya. "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang" (Rm. 5:12). "Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa" (ay. 19). Sekarang di hadapan Allah, kondisi manusia adalah "tanpa bentuk...kosong...dan kegelapan," "jauh dari hayat Allah" (Ef. 4:18), "mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Ef. 2:1), dan "tidak bisa disembuhkan" (Yer. 17:9). "Semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 3:23), dan "tidak ada yang berbuat baik" (Rm. 3:12). "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak" (Rm. 3:10). Betapa menyedihkannya! Namun demikian manusia masih menyombongkan pengetahuan, hikmat, pendidikan, dan kebudayaan mereka. Jika manusia mau menyadari bahwa mereka itu "tidak berbentuk," "kosong," dan "gelap gulita," mereka akan diberkati.
III. "Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" (Kej. 1:2). Allah tidak bisa beristirahat di dalam situasi yang tanpa bentuk, kosong, dan gelap. Juga Dia tidak bisa bergembira dengan situasi dimana manusia ditaklukkan di bawah dosa, maut, dan Satan. Di dalam situasi yang demikian jatuh dan gersang, tidak akan mengejutkan jika Allah meninggalkan manusia. Namun Allah melalukan sesuatu yang sama sekali tidak diduga. Mengapa Allah masih menguatirkan apa yang telah dia hakimi dengan adil? Mengapa Allah masih memperhatikan yang gersang dan yang hancur? Mengapa Allah masih memiliki belas kasihan terhadap sesuatu yang tidak berbentuk, kosong, dan gelap, yang bahkan tidak layak untuk mendapatkan perhatian-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Ini hanyalah dikarenakan belas kasih dan kasih karunia Allah. Kasih Allah datang kepada mereka yang tidak layak atas kasih-Nya! Dan hati-Nya memiliki belas kasih atas mereka yang tidak layak untuk belas kasih-Nya! Bumi yang gersang dan manusia yang jatuh tidak memiliki hak untuk meminta Allah untuk bekerja. Di dalam kondisi mereka, meminta Allah atas belas kasihan yang sedemikian kelihatannya tiada harapan. Di dalam diri mereka sendiri, tidak ada sesuatu pun yang layak untuk kasih Allah. Walaupun demikian, alih-alih kemiskinan, ketidaklayakan, kejatuhan, dan kegagalan manusia, Allah masih memberikan kasih karunia-Nya yang tertinggi kepada mereka yang miskin dan tidak layak. Dia memberikan belas kasih-Nya yang tidak tidak ada habisnya kepada mereka yang telah jatuh dan gagal.
Langkah pertamanya adalah dengan "Roh" melayang-layang "di atas permukaan air." Tanpa Roh, bagaimana bumi bisa dipulihkan? Bagaimana orang mati bisa membangkitkan dirinya sendiri? Bagaimana kegelapan bisa mengubah dirinya menjadi terang? Bagaimana mereka yang berada di bawah penghakiman benar Allah bisa membuat diri mereka sendiri mampu untuk menerima berkat Allah? Jika bukan karena operasi Roh Kudus, bagaimana seseorang yang telah jatuh bisa bangkit? Makhluk-makhluk yang gersang dan lemah itu tidak berdaya. Bagaimana mereka bisa dipulihkan, disegarkan, dan dibangkitkan tanpa operasi Roh Kudus? Jika mereka berusaha untuk menang dan disegarkan oleh diri mereka sendiri, pada akhirnya mereka akan mengakui, "Di dalam aku sebagai yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik" (Rm. 7:18).
Namun syukur dan puji Allah! Walaupun orang-orang berdosa tidak bisa dilahirkan kembali oleh diri mereka sendiri, sama seperti bumi tidak bisa memulihkan dirinya sendiri, walaupun orang-orang berdosa tidak bisa memisahkan diri mereka sendiri dari dosa, sama seperti bumi tidak bisa memisahkan dirinya sendiri dari air samudera dalam, walaupun orang-orang berdosa tidak bisa bertindak benar, sama seperti bumi tidak bisa berubah dari kegelapan menjadi terang, akan tetapi, Allah sendiri bisa menyelamatkan kita. Ciptaan baru sama seperti ciptaan lama; keduanya diciptakan oleh Allah sendiri. Manusia tidak bisa menciptakan rohnya sendiri, sama seperti dia tidak bisa menciptakan dunia. Allahlah yang harus melakukan semua pekerjaan. Syukur dan puji Allah! Walaupun Dia tidak wajib untuk menyelamatkan kita, Dia menyediakan kasih karunia yang tidak terduga dan datang untuk menyelamatkan kita. Allah melakukan apa yang tidak harus Dia lakukan. Inilah belas kasih. Apa yang tidak layak untuk didapatkan manusia, dia mendapatkannya. Itulah kasih karunia. Mengenai keselamatan, manusia berada di dalam suatu posisi yang mutlak perlu menerima bantuan. Jika seseorang mengira bahwa di dalam dirinya atau di luar dirinya ada sesuatu yang baik, itu merupakan suatu penghinaan kepada Allah dan suatu penolakan akan kasih karunia-Nya.
Pekerjaan Roh Kudus adalah awal dari kelahiran kembali manusia. Di dalam teks aslinya, "melayang-layang" memiliki makna "menudungi (overshadowing)", "mengerami." Ini mengindikasikan kasih dan kelembutan. Kata yang sama dipakai sebagai "melayang-layang" di dalam Ulangan 32:11: "Laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya." Oh, semoga kita lebih banyak merespon kasih Allah! Betapa hati-Nya mendambakan kita! Namun siapakah "kita"? Kita hanyalah orang-orang berdosa, keinsanian yang telah jatuh! Dia tidak marah terhadap kita, juga Dia tidak memandang rendah terhadap kita atau membuang kita. Dia tidak menganggap bahwa, walaupun kita ini tidak berbentuk dan kosong dan gelap, kita tidak layak atas pengeraman Roh Kudus-Nya. Walaupun Dia memiliki mata yang "terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman" (Hab. 1:13), Dia merendahkan Diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan mereka yang berada di tengah-tengah debu dan kotoran. Ya Allah! "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah putra manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mzm. 8:5). Kita benar-benar tidak mengerti mengapa Allah begitu mengasihi orang-orang berdosa seperti kita. Saya terutama tidak mengerti mengapa Allah mengasihi saya. Malah, "Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita" (1 Yoh. 4:10). Ya Allah! Betapa ajaibnya kasih karunia-Mu! Betapa benarnya bahwa "putra-putra manusia menjadi kesenangan"-Mu (Ams. 8:31).
Kasih Allah adalah alasan mengapa kita dilahirkan kembali. "Karena Allah begitu mengasihi dunia ini...supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya...beroleh hayat yang kekal" (Yoh. 3:16). Kasih Allah membuat Dia bekerja di tengah-tengah kegersangan sampai Dia mengatakan, "Sangat baik," dan beristirahat. Sebelum apa yang gersang dipulihkan sepenuhnya kepada keadaan yang "sangat baik," hati kasih-Nya tidak akan pernah bisa beristirahat!
Dilahirkan kembali adalah pekerjaan permulaan dan juga merupakan pekerjaan yang paling penting. Tanpa pekerjaan ini, terang Allah akan bersinar dengan sia-sia. Allah pertama-tama membuat Roh Kudus melakukan suatu pekerjaan yang luar biasa di dalam manusia. Ini berfungsi sebagai suatu persiapan bagi terang-Nya untuk bersinar. "Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (Yoh. 3:7-8).
Apa kekurangan orang-orang berdosa adalah hayat. Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan hayat. Orang-orang berdosa tidak mau Allah dan tidak mau terang yang memancar dari Allah dalam Kristus. Mereka membencinya dan menolaknya. "Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat" (Yoh. 3:19). Hanya mereka yang telah dilahirkan kembali yang mengasihi terang Allah. Setelah kelahiran manusia yang kedua, dia memiliki perasaan terhadap terang Allah, dan hati nuraninya membuat dia tergerak dan berpaling kepada Allah.
IV. "Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi" (Kej. 1:3). Ayat sebelumnya mengatakan bahwa "Roh Allah melayang-layang." Di sini dikatakan, "Berfirmanlah Allah." Ini adalah firman Allah. Roh Allah dan firman Allah adalah dua sekerja yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, Roh Allah bekerja; lalu firman Allah bekerja. Kita dilahirkan dari Roh Kudus (Yoh. 3:5-6), dan kita juga "dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah yang hidup dan yang kekal" (1 Ptr. 1:23). "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang" (Mzm. 119:130). Oleh karena itu, "Berfirmanlah Allah...Lalu terang itu jadi."
Pekerjaan di hari pertama adalah Allah memanggil terang untuk muncul melalui firman-Nya. Pekerjaan pendahuluan Roh Allah dan firman Allah membuat terang bersinar dari kegelapan. Dosa membuat mata hari manusia gelap; dia membutakan mata pemahamannya. Jika manusia berdiri sendirian tanpa bantuan apa pun, dia tidak akan pernah tahu bahwa posisinya berada di dalam bahaya dan masa depannya adalah kebinasaan. Secara rohani, dia sama sekali buta, tidak tahu bahwa dia memerlukan Juruselamat. Kasih di dalam hatinya, pemikiran di dalam pikirannya, dan keputusan dari tekadnya tidak akan memberinya terang apa pun. Tapi terang Allah bisa datang dan bersinar di dalam hatinya. Hanya terang Allah yang bersinar di tempat yang gersang yang bisa mengekspos kondisi sesungguhnya dari makhluk ciptaan sampai pada puncaknya! Segalanya tetap sama. Satu-satunya yang berubah adalah kegelapan itu sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang terekspos bisa menyenangkan hati Allah. Satu-satunya yang baik di pandangan Allah adalah terang-Nya sendiri (Kej. 1:4). Di dalam manusia, tidak ada satu hal pun yang bisa memuaskan Allah atau bisa diterima oleh-Nya. Walaupun demikian, Dia berkenan pada Putra-Nya yang terkasih (Mat. 3:17), yang adalah terang dunia yang sesungguhnya (Yoh. 1:9). Mengenai pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama, rasul mengatakan, "Sebab Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang! Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus" (2 Kor. 4:6). Sama seperti terang Allah dahulu bercahaya di dunia yang gelap, hari ini Kristus dari Allah juga bercahaya di dalam hati yang gelap dan berdosa.
Begitu seseorang menerima penerangan Allah, terang dipisahkan dari kegelapan (Kej. 1:4). Dengan demikian, perasaan dan pengetahuan rohani secara bertahap dipulihkan. Hal-hal yang dahulu dikira benar oleh seseorang, hari ini dia menyadari bahwa itu adalah salah. Apa yang sebelumnya dia kira salah, sekarang dia menyadari bahwa itu adalah benar. Walaupun dalam pengalaman dari kebanyakan orang, mereka tidak langsung memiliki daya pembeda yang akurat, walaupun demikian, di dalam hati mereka, pemisahan antara terang dan kegelapan menjadi suatu realitas. Pada saat ini firman Allah (melalui terang yang dipancarkannya) mulai memisahkan roh manusia yang cemerlang dari jiwanya yang gelap (Ibr.4:12). Mulai titik ini, di dalam seseorang terdapat suatu pemisahan antara "apa yang lahir dari daging adalah daging" dan "apa yang lahir dari Roh adalah roh" (Yoh. 3:6). Walaupun pemisahan ini belum mencapai keadaannya yang sempurna dan kaum beriman belum mengalaminya secara penuh, secara fakta, pembagian di antara keduanya sudah digenapkan.
Allah memisahkan terang dari kegelapan, dan Dia memberikan kepada terang posisinya dan menamakannya siang. Kegelapan masih di sana, dan dia juga memiliki posisinya dan namanya (Kej. 1:5). Kegelapan masih kegelapan; di dalam kekekalan masih akan ada kegelapan, dan dia tidak akan pernah berubah menjadi terang. Bumi tidak pernah menjadi sumber terang. Kapankala bumi membelakangi terang, dia tinggal di dalam kegelapan. Ketika kegelapan dikendalikan terang, dia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi kecemerlangan terang. Begitu terang datang, kegelapan dan bayangan hilang. Keduanya masih tetap eksis seperti dulu. Sifat lama (daging) kita dan kehidupan lama (jiwa) kita akan tetap selalu gelap. Akan tetapi, kapankala hayat rohani, sifat ilahi, diperkuat, hal-hal lama menjadi tidak berdaya sama sekali. Akan tetapi, jika kita tidak berjalan dalam terang, kita akan kembali melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Selama kita berada di dunia ini, kita bisa selalu berjalan dalam terang. Akan tetapi, kita tidak pernah bisa menghapus kegelapan sepenuhnya, demikian juga sifat dan kehidupan kita yang berdosa tidak bisa diubah. Walaupun kita adalah anak-anak siang dan anak-anak terang, kita masih harus berjalan dalam terang Allah. Kalau tidak, malam akan kembali.
Sebenarnya, siang bukan sepenuhnya terang melainkan terdiri dari "petang" dan "pagi" (ay. 5). Sementara kita berada di bumi, kehidupan yang paling tingi yang bisa kita dapatkan adalah "siang." Walaupun demikian, dia masih terdiri dari "petang" dan "pagi." Jika hanya ada pagi dan tidak ada petang, itu bukan "siang" yang dibicarakan Kitab Suci. "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri" (1 Yoh. 1:8). "Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta" (1 Yoh. 1:10).
Walaupun kegelapan itu sendiri adalah "malam," begitu terang muncul, kegelapan tidak lagi "malam," melainkan "petang." Begitu terang Allah muncul, tidak peduli ada berapa banyak kegelapan, malam tidak bisa menjadi malam jika ada satu sorotan cahaya. Karena malam memiliki sejumlah terang, maka dia tidak lagi seharusnya disebut malam, melainkan "petang." Setelah diterangi oleh terang Allah, kegelapan seorang beriman tetap ada. Dia tidak mengubah sifatnya. Namun setelah diterangi, kegelapannya menjadi kegelapan yang berada di bawah kendali terang; dia tidak lagi tanpa batasan. Kadang-kadang kegelapannya mungkin bahkan diperkuat; namun apa yang dia miliki hanyalah petang. Dia tidak bisa lagi sepenuhnya "malam," sepenuhnya gelap. Walaupun kadang-kadang dia mungkin gagal sepenuhnya dan jatuh sepenuhnya, dia tidak bisa kehilangan terang atau hayat yang muncul dari terang itu. Dia juga tidak bisa kembali menjadi seorang berdosa yang belum percaya. Begitu seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, dia dilahirkan kembali; dan begitu dia dilahirkan kembali, dia memiliki hayat yang kekal. Dia mungkin jatuh, namun dia masih seorang putra Allah. Sementara dia mungkin masih kadang-kadang dikalahkan pelanggaran-pelanggaran (Gal. 6:1), mereka tidak bisa membuat dia untuk kembali ke posisi orang berdosa. Ini adalah kasih karunia Allah!
Di dalam Kejadian 1 disebutkan "petang dan pagi" enam kali. Walaupun terang disebut "Siang," selama enam hari dia disebut dengan "pagi." Pengalaman yang sebenarnya dari "Siang" belum datang. Pagi hanyalah permulaan dari siang; dia bukan puncak dari terang. Dalam penetapan Allah, setelah petang ada pagi. Walaupun kita memiliki terang yang menyingsing, waktu untuk penerangan ini untuk terang "yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari" (Ams. 4:18) ada di masa depan. Apa yang kita miliki hari ini adalah pagi. Pada suatu hari, ketika pekerjaan Allah sudah selesai dan hati-Nya sudah puas dan beristirahat, "siang yang sempurna" itu akan muncul. Tidak akan ada lagi petang atau pagi. Kita akan masuk ke dalam peristirahatan Allah dan secara kekal bersukacita dalam hari yang cemerlang dan tanpa malam. "Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam" (Mzm. 19:2), namun mereka yang mendengar dan memahaminya hanya sedikit jumlahnya.
Tentu saja, terang yang kita miliki sekarang ini hanyalah "pagi." Waktu dimana kita akan memancar dengan cemerlang masih ada di masa yang akan datang. Pada saat itu hal-hal yang sementara akan berlalu, dan kita akan masuk ke dalam kesempurnaan Allah.
V. "Berfirmanlah Allah: Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air" (Kej. 1:6). Ini adalah cakrawala yang kita kenal. Cakrawala memisahkan air di atas dari air di bawah (ay. 7-8). Apa yang sebelumnya samudera dalam yang kotor, gelap, dan suram telah dipisahkan dan menjadi uap yang naik ke cakrawala. Suatu pemisahan yang luar biasa! Melalui "cakrawala," Allah memisahkan apa yang murni dari apa yang jahat dan kotor, sehingga masing-masing bisa memiliki tempatnya masing-masing.
Inilah pekerjaan salib. Pekerjaan salib adalah untuk memisahkan. Terang Allah menyinari permukaan samudera yang dalam dan mengekspos kondisi yang sesungguhnya. Air yang besar sekali, tanpa batas, dan suram ini tersembunyi jauh di bawah penudungan kegelapan; sama sekali tidak mudah untuk mengenal kondisi mereka yang sesungguhnya. Namun terang datang. Mereka tidak bisa lagi bersembunyi. Semakin terang Allah bersinar, semakin dia menerangi kecemaran yang luas dan besar ini. Terang tidak membersihkan; melainkan, mengekspos hal-hal yang memalukan. Di bawah penerangan terang Allah, manusia menjadi merasa berdosa dan sangat menyesal. Hal-hal yang dulu mereka anggap sebagai hiburan, setelah diteliti, ternyata tidak berharga. Kejahatan dari hayat dan sifat dosa menerima evaluasi yang sesungguhnya. Di tengah-tengah kekecewaan dan pertobatan kitalah, kita mengenal kekuatan pemisahan dari salib Allah. Salib telah menyalibkan dosa kita (Rm. 6:6, 11), ego (Gal. 2:20), daging (Gal. 5:24), dunia (Gal. 6:14), dan elemen-elemen dunia (Kol. 2:20). Kematian memisahkan. Kematian adalah pemisahan, pemutusan, dan pelepasan yang besar. Kematian memutuskan segala hubungan dan mengakhiri segala keterlibatan. Tanpa salib, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari hal-hal yang ada di bawah. Persatuan kita dengan kematian Kristus melepaskan kita dari hal-hal yang ada "di bawah." Walaupun kita sudah dilahirkan kembali, dosa, ego, daging, dunia, dan elemen-elemen dunia masih bisa dengan kencang memegang dan menarik kita ke bawah. Setelah kelahiran kembali, jika kita mati bersama Kristus secara pengalaman, kita akan menjadi orang-orang yang "terpisah." Tanda salib merupakan bukti bahwa kita adalah orang-orang surgawi dan bahwa kita terpisah dari orang-orang duniawi. Terang Allah membawa kita kepada penghakiman diri sendiri, dan setelah penghakiman diri kepada salib, yang melaluinya kita menerima pelepasan.
Kita tidak seharusnya mencampur-adukkan posisi kita dan pengalaman kita. Begitu kita percaya pada Tuhan sebagai Juruselamat kita, kita memiliki posisi yang paling tinggi dalam Dia. Apa yang telah Dia genapkan bagi kita adalah milik kita. Ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita, Dia memisahkan apa yang di atas dari apa yang di bawah melalui salib. Ini adalah perkara posisi. Namun pada saat ini, kita mungkin masih belum memiliki pengalaman pemisahan ini. Ketika kita melatih iman kita untuk menerima apa yang telah digenapakan di atas salib dan berada dalam persatuan dengan kematian-Nya, kita memiliki pengalaman yang riil akan dilepaskan dari hal-hal yang di bawah dan meletakkan pikiran kita pada hal-hal yang di atas. Walaupun kita dilahirkan dari yang di atas, makna dari kelahiran kembali, kita tidak memiliki semua pengalaman akan "bukan dari dunia ini" (Yoh. 8:23). Oleh karena itu, kita harus masuk ke dalam kematian Tuhan, untuk membuktikan kematian-Nya, sehingga kita bisa memiliki pengalaman yang riil akan pemisahan roh dan jiwa (Ibr. 4:12). Sama seperti pisau imam besar menusuk dan memisahkan urat dan sendi dari kurban, salib yang diwahyukan melalui Firman Allah juga memisahkan roh dan jiwa kita.
Begitu kita dilahirkan kembali, Allah menganggap kita tersalib bersama Kristus. Kita percaya bahwa kematian-Nya adalah suatu kematian atas nama kita. Karena Dia telah mati bagi kita, kematian-Nya adalah kematian kita. Ini adalah ko-kematian (co-death. Sama seperti co-pilot/ko-pilot - red). Suatu kematian yang menggantikan (substitutionary death) secara alami akan menghasilkan ko-kematian. Bagi Dia untuk mati bagi kita berarti kita mati bersama Dia. Ketika Allah menerima kematian Tuhan Yesus yang dalam nama kita, Dia menganggap kita sudah mati. Dari sudut pandang pengalaman pribadi kita, ini adalah kematian yang menggantikan. Dari sudut pandang penghakiman hukum, ini adalah ko-kematian. Ketika kita percaya pada Tuhan Yesus, kita mati bersama Dia secara fakta; namun kita mungkin masih belum memiliki pengalaman akan kematian ini. Pengalaman ko-kematian ini datang setelah kita dilahirkan kembali, dalam pergumulan antara kedua hayat dan sifat dari terang dan kegelapan, ketika kita mencari kelepasan di salib.
Kaum beriman memiliki pemisahan ini bukan hanya dalam perkara-perkara luaran saja, melainkan juga dalam batin mereka. Allah sedang bekerja di dalam hati manusia secara tersembunyi, membuat kasih dan kedambaannya mengarah ke atas. Kaum beriman sudah dilahirkan kembali dan sudah menerima sifat ilahi Allah (2 Ptr. 1:4). Pekerjaan salib Tuhan membuat sifat ini memisahkan hal-hal yang di atas dari hal-hal yang di bawah. Perbedaan-perbedaan antara hal-hal bumiah dan hal-hal surgawi termanifestasi melalui sifat Allah. Sekarang hati kaum beriman bisa mengarah ke surga. Hati yang lama, tawar, dan gelap, yang dipenuhi dengan kejahatan dan nafsu, sekarang bisa dibersihkan; sekarang dia bisa diarahkan pada hal-hal yang di atas.
Dimana saja ada hayat, harus ada udara bagi hayat ini untuk bernafas. Karena terang surgawi sudah bersinar ke dalam roh kita, roh ini harus menghirup udara surgawi. Allah tidak hanya memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah di dalam kita, Dia juga memisahkan hal-hal yang di atas dan hal-hal yang di bawah di luar kita. Di sudah meletakkan "surga" di dalam kita. Dia juga sudah meletakkan kita di dalam "surga," sehingga iman kita bisa memiliki lingkungan yang cocok. Tanda pertama dari seorang beriman adalah bahwa mereka berasal dari surga. Mereka telah menerima suatu panggilan surgawi dan sedang menatap pada kerajaan surgawi, mendambakan suatu kota surgawi. Harapan mereka ada di surga, dan mereka menantikan suatu negeri surgawi, menganggap diri mereka sebagai pengembara yang sedang merantau di atas bumi. Begitu kita memiliki surga secara batini dan lahiriah, kita akan mengenal hal-hal di atas dari hal-hal di bawah.
Surga batini memerlukan surga lahiriah. Seseorang yang memiliki hayat surgawi, tentunya akan memiliki penghidupan surgawi. Sifat dari seorang yang sudah dilahirkan kembali akan memimpin dia untuk tidak "berjalan menurut nasihat orang fasik," dan untuk tidak "berdiri di jalan orang berdosa" (Mzm. 1:1). Kenikmatan, kasih, dan mode duniawi akan mengalami kesulitan untuk menariknya. Jika seseorang yang kuat dan sehat secara jasmani tidak bisa menghirup udara yang kotor, lalu bagaimana seorang saleh bisa bernafas di tengah-tengah kebencian, kejahatan, kesembronoan, dan kekacauan? Mereka akan mengasihi penyertaan saudara-saudara dan teman-teman mereka dalam perantauan mereka. "Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hayat, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita" (1 Yoh. 3:14).
Sampai saat ini, hati seorang beriman sudah berada di bawah peraturan Allah. Namun dia mungkin belum banyak berubah dari kondisinya yang semula jika daratan kering tidak muncul dan buah tidak dihasilkan. Walaupun hatinya sudah terikat surga, dan lalu lintas antara dirinya dan surga sudah dimulai, dia perlu maju lebih jauh lagi dan menghasilkan buah untuk memuliakan Allah.
VI. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Dan jadilah demikian" (Kej. 1:9). Ini adalah pekerjaan Allah pada hari ketiga. Pekerjaan Allah di sini sama dengan "hari ketiga" (1 Kor. 15:4), sebuah bilangan yang mengindikasikan kebangkitan. Daratan kering muncul dari bawah air. Dia terkubur di bawah laut kegelapan yang suram, namun dia keluar dari kuburnya. Daratan yang bersih, yang bisa ditanami dan menghasilkan buah, muncul dari laut kematian. Walaupun Allah tidak menghilangkan laut, Dia membatasinya sehingga dia tidak bisa keluar dari batasnya. Saat ini, laut memiliki batasannya dan dia tidak bisa membanjiri daratan. Allah memberinya nama (Kej. 1:10) dan mengakui eksistensinya. Baru pada langit baru dan bumi baru, laut akan dihilangkan. Daratan kering juga menerima nama yang baru (ay. 10) untuk membedakannya dari laut. Kemunculan daratan kering adalah pekerjaan dari setengah bagian pertama dari hari ketiga. Pekerjaan pada hari ketiga dibagi menjadi dua bagian. Pada hari itu Allah berfirman dua kali; Dia dua kali mengatakan bahwa pekerjaan-Nya itu baik. Pada setengah bagian pertama, daratan kering muncul; pada setengah bagian kedua, daratan menumbuhkan rumput, tanaman berbiji, dan pohon yang berbuah.
Kita melihat pekerjaan salib dalam hubungannya dengan pekerjaan Allah pada hari sebelumnya. Hari ketiga menandakan kebangkitan. Keduanya, kematian dan kebangkitan, merupakan sarana untuk hayat kita yang baru. Sama seperti Dia telah mati bagi kita, Dia juga telah bangkit bagi kita (Rm. 4:25). Kita memerlukan kebangkitan-Nya sebanyak kita memerlukan kematian-Nya (Rm. 5:10). Jika kita lebih mendahulukan salah satu, kita akan membuat injil menjadi sia-sia. Melalui kematian Kristus kita dibebaskan dari segala sesuatu milik Adam dan manusia alamiah; melalui kebangkitan-Nya kita masuk ke dalam segala sesuatu milik Kristus dan yang berada di luar alam alamiah. Kematian-Nya membebaskan kita dari posisi seorang berdosa dan bisa membebaskan kita dari pengalaman akan dosa-dosa. Kebangkitan-Nya memberi kita posisi seorang yang benar dan bisa memberi kita pengalaman akan kebenaran. "Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Kor. 5:17).
Menurut rencana keselamatan-Nya, Allah tidak memiliki maksud untuk memulihkan atau memperbaiki sifat lama kita, melainkan membuat kita menjadi "ciptaan baru." Dia tidak mau sifat lama kita. Kematian Tuhan Yesus telah membebaskan kita dari yang lama, dan kebangkitan Tuhan Yesus membuat kita masuk ke dalam yang baru. Jika kita dibangkitkan bersama Tuhan, kita akan memiliki pengalaman disatukan dengan Dia. Jika kita memiliki pengalaman berada "dalam Kristus," maka kita akan memiliki pengalaman ciptaan baru, mengenai hal-hal yang lama berlalu dan segala sesuatu menjadi baru. Supaya kita bisa secara praktis menempuh kehidupan ciptaan baru, kita harus mati bersama Tuhan dan dibangkitkan bersama Tuhan.
Tidak ada satu pun yang tercakup di dalam "ciptaan lama" kita, baik hayat kita dan perbuatan-perbuatan yang keluar dari hayat ini, atau pun sifat kita dan maksud-maksud yang keluar dari sifat ini, bisa memuaskan hati Allah. "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam" (1 Kor. 15:22). Di pandangan Allah, segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama kita memiliki tanda "mati." Hal-hal yang mati ini tidak bisa diperbaiki atau dikoreksi. Allah menginginkan sesuatu yang sama sekali baru; Dia menginginkan suatu ciptaan baru dimana hal-hal yang lama berlalu dan segala sesuatu menjadi baru. Oleh karena itu, pekerjaan pertama-Nya adalah melahirkan kembali manusia dan memberinya "roh yang baru" dan "hati yang baru." Ini adalah pekerjaan hari pertama. Roh kita yang baru bekerja sama dengan Roh Kudus Allah untuk meletakkan hayat dan sifat yang lama di atas salib, menyalibkan mereka di sana. Ini adalah pekerjaan pada hari kedua. Karena Allah menghapus semua "hal-hal lama," Dia sekarang bisa mulai untuk membangun "ciptaan baru," sehingga segala sesuatu bisa "menjadi baru." Dengan demikian, selangkah demi selangkah Dia maju ke depan sampai pada akhirnya tubuh kita ditransfigurasi pada hari keenam, manusia baru yang komplit. Nanti kita akan melihat hal ini secara lebih jelas.
Pengalaman kebangkitan datang setelah kelahiran kembali, pada hari pertama, dan setelah ko-penyaliban kita bersama Tuhan, pada hari kedua. Kelahiran kembali adalah permulaan hayat. Setelah menerima hayat kelahiran kembali, kita memiliki suatu bagian di dalam diri kita yang bersedia untuk bekerja sama dengan Roh Kudus; bagian ini bersedia untuk disalibkan bersama dengan Tuhan. Ko-penyaliban ini secara alami akan membawa kita ke dalam ko-kebangkitan. "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya" (Rm. 6:5). Kelahiran kembali adalah untuk menerima hayat; kebangkitan adalah untuk menerima lebih banyak hayat yang berlimpah. Jika seorang beriman tetap hanya sekedar dilahirkan kembali, dia tidak akan bisa mengalahkan dosa-dosa. Jika dia tetap hanya sekedar berada dalam ko-penyaliban, dia tidak akan mampu maju kepada kebenaran, kekudusan Allah. Kita seharusnya terus maju dalam pengalaman kita. Walaupun dalam pengalaman kelahiran kembali datang pertama, diikuti dengan ko-penyaliban dan ko-kebangkitan, dalam realitasnya saat kita percaya kepada Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Allah menganggap kita dibangkitkan. Akan tetapi, pada saat itu kita belum memiliki pengalaman akan kebangkitan di dalam kehidupan kita sendiri.
Banyak kaum beriman, melalui introspeksi, tidak bisa melihat bahwa hal-hal lama sudah berlalu dan bahwa segala sesuatu sudah menjadi baru. Ini adalah suatu bahaya yang besar. Entah mereka menganggap diri mereka sendiri belum dilahirkan kembali atau menganggap perkataan ini terlalu keras untuk dialami. Sebagian akan berusaha untuk mengoreksi dan memperbaiki kehidupan mereka dengan harapan bisa sesuai dengan Firman Allah, namun dalam pengalaman mereka, mereka berakhir dengan kegagalan dan kehilangan damai sejahtera, sukacita, kebebasan, dan kekuatan. Jika dengan iman mereka mau menolak ego dan dengan segenap hati mereka memandang kepada kristus, mereka akan memiliki potensi untuk menang. Kegagalan kita datang ketika kita berusaha untuk menolak akar dari ko-penyaliban kita sambil mengejar buah dari kebangkitan. Kita tidak membiarkan salib untuk melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam diri kita; namun pada saat yang sama kita damba untuk maju dengan tergesa-gesa untuk menerima hayat kebangkitan. Kita berusaha untuk menciptakan hayat yang baru dengan hayat yang lama. Ini sama sekali mustahil. Kebangkitan berdasarkan salib; tanpa salib, tidak ada kebangkitan. Siapa saja yang mendambakan pengalaman akan kebangkitan harus pertama-tama mengalami salib.
Diterima oleh Allah tidak bergantung pada pengalaman kita. Ketika kita percaya pada Tuhan Yesus, iman membawa kita ke dalam persatuan dengan Dia. Posisi kita "di dalam Kristus" membuat kita layak untuk diterima Allah, dan Dia menganggap kita sebagai manusia baru yang seutuhnya. Diterima dalam Kristus adalah diterima sama seperti Kristus diterima. Allah tidak mempedulikan apa yang kita miliki di dalam kita. Dia memandang kita seluruhnya baru hanya karena posisi kita yang baru. Ini berhubungan dengan keselamatan kita.
Di lain pihak, Allah menginginkan kita, Tubuh dari Putra-Nya, untuk mengalami semua yang telah digenapkan Kepala kita bagi kita. Melalui hal inilah kita dilepaskan dari ciptaan lama dan menjadi ciptaan baru. Kita dibangkitan bersama dengan Kristus; kita tidak bangkit sendiri. Kebangkitan Kristus meletakkan kita ke dalam alam yang baru; kita dibangkitkan bersama dengan Dia. Jika dengan iman kita mengakui fakta ini benar dan menerimanya, kebangkitan Tuhan akan meletakkan kita di daratan kering dimana air laut tidak bisa mencapainya.
Sama seperti daratan keluar dari samudera, demikian juga roh dibangkitkan dari dalam daging. Samudera tidak dihilangkan. Daging tidak menjadi roh, juga tidak dihapus. Air dikumpulkan pada satu tempat dan tidak bisa melewati batas mereka. Demikian juga daging masih ada di sini, namun kematian dan kebangkitan Tuhan memberi kita otoritas untuk membatasinya. Daging tidak bisa disembuhkan dan telah ditolak Allah. Akan tetapi barangsiapa telah mati dan telah dibangkitkan bersama dengan Tuhan "tidak hidup dalam daging" (Rm. 8:9).
Sekarang kita sudah melihat pekerjaan dari setengah bagian hari ketiga. Sekarang kita sampai pada setengah bagian kedua. Kita sudah dibangkitkan; sekarang ini adalah perkara menghasilkan buah (Kej. 1:11-12). Kebangkitan dan menghasilkan buah berhubungan secara langsung. "Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah" (Rm. 7:4). "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (Rm. 6:18).
Allah menamai daratan kering "Darat." Akar dari kata ini dalam teks aslinya adalah "remuk." Kita semua tahu bahwa tanah yang subur harus diremukkan. Jika dia tidak remuk, dia tidak bisa subur. Semakin tanah daratan dihancurkan sampai bubuk, akan semakin baik panennya. Hanya dalam cara inilah tanah bisa menyuplaikan makanan kepada benih-benih yang ditanam. Walaupun air laut sudah mundur dalam pengalaman kita, daratan mungkin masih keras; dia masih bisa menolak tangan penabur. Walaupun kekuatan daging sudah hilang, hayat jiwa yang alamiah masih menganggap dirinya sendiri sebagai "diri yang baik," memamerkan kemampuan dan kebajikan alamiahnya, menolak untuk menyerah. Hayat jiwa yang sudah remuk dari seorang beriman merupakan tanah yang subur di tangan Bapa surgawi. Allah tidak memerlukan kemampuan kita, melainkan ketidakmampuan kita. Dia tidak meminta kita untuk dipenuhi melainkan untuk dikosongkan. Dia tidak menginginkan kita untuk bertahan, melainkan untuk menyerah. Dia adalah mahaperkasa dan Dia memiliki segala keperkasaan. Kekuatan-Nya termanifestasi dalam kelemahan. Benih Allah bertumbuh paling subur di ladang yang remuk.
Menghasilkan buah bukan datang melalui mempertahankan diri. Melainkan, melalui peremukan diri, perendahan diri, dan kelemahannya; dia datang melalui ketergantungan kita pada Allah yang mengijinkan tangan-Nya untuk bekerja. Kemampuan kita sendiri selalu menjadi penghalang bagi manifestasi kemampuan Allah. "Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh. 12:24). Jika kita tidak membenci hayat jiwa kita, hayat alamiah kita, kemampuan kita, bakat kita, hikmat kita, dan kebajikan kita, kita tidak bisa menghasilkan banyak buah. Ketika kita mengusir hayat dan kemampuan alamiah yang diwariskan dari daging kita (daratan yang keluar dari air) dan menerima tangan Allah dengan hati yang remuk, kita bisa mendapatkan buah Allah.
Kita seringkali mengira bahwa daging yang penuh dosa dan najis ini seharusnya dihilangkan. Namun kita seharusnya menyadari bahwa untuk menghasilkan buah, adalah penting untuk menanggalkan kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kebenaran jiwa (diri) kita. Kita mungkin puas dengan ladang kita, namun Allah berpendapat bahwa ladang tersebut harus diremukkan. Kita menilai diri kita terlalu tinggi! Kita sangat tidak menyadari bahwa diri kita sudah terinfeksi oleh dosa Adam, dan bahwa dia masih lemah dan tidak memiliki kekuatan! Segala resolusi dan maksud kita yang baik adalah seperti bunga yang hanya hidup satu malam dan seperti gelembung sabun.
Ketika kita lemah, kosong, dan miskin, tunduk seperti tanah liat kepada tangan tukang tembikar, hayat Kristus akan hidup di dalam kita, dan kekuatan-Nya akan termanifestasi dalam tubuh kita. Semakin kita mengenal makna salib dan realitas kebangkitan, semakin kita akan mengenal makna yang sesungguhnya dari peremukan hayat jiwa.
Daratan ini bukan diirigasi oleh air laut; produktivitasnya tidak digarap oleh daging. Kabut (Kej. 2:6) adalah sarana yang membasahi; Roh Kudus merawat daratan. Dalam menghasilkan buah dalam kebenaran, segala ketetapan daging "tidak berguna." Membatasi batasannya dan memberinya nama menunjukkan bahwa daging bukanlah bantuan untuk ciptaan lama, dan bahwa dia seharusnya dihakimi dan dianggap tidak bisa disembuhkan.
Juga ada kemajuan yang bertahap dalam buah yang dihasilkan. Pertama ada rumput, lalu tanaman berbiji, dan kemudian pohon yang berbuah. Buah terutama bukanlah untuk kegunaannya sendiri, melainkan untuk dipakai Tuhan. "Agar kita berbuah bagi Allah" (Rm. 7:4). Setiap jenis buah mampu melanjutkan jenisnya masing-masing, "Benih yang ada di dalamnya, menurut jenisnya." Benih (biji) ada di dalam buah, menurut jenisnya. Oleh karena itu, hanya kasih yang bisa memperanakkan kasih, hanya sukacita yang bisa memperanakkan sukacita, dan seterusnya. Jika kita ingin kasih, maka kita harus memperlihatkan kasih. Jika kita ingin sukacita, maka kita harus memperlihatkan sukacita. Buah yang paling lama berada di bawah panas matahari adalah yang paling matang dan paling cocok untuk selera tuannya. Buah yang paling matang memiliki benih yang paling matang. Apa yang dituai manusia adalah berdasarkan apa yang dia taburkan.
VII. "Berfirmanlah Allah: Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi. Dan jadilah demikian" (Kej. 1:14-15). Pekerjaan pada hari ini cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pekerjaan di bumi telah pindah ke langit. Pekerjaan hari ini adalah pekerjaan di langit. Ini adalah kenaikan Kristus bersama kaum beriman-Nya.
Setelah kebangkitan, kejadian berikutnya adalah kenaikan. Kenaikan adalah kebenaran yang penting setelah kebangkitan. Tanpa kenaikan, "ciptaan baru" kita bukanlah pekerjaan yang lengkap. Kita menerima kenaikan, sama seperti semua kebenaran lainnya seperti penyaliban dan kebangkitan, pada saat kita percaya pada Tuhan Yesus. Pada saat itu Allah meletakkan kita pada posisi kenaikan walaupun kita belum memiliki pengalamannya. Pengalaman kenaikan mengikuti pengalaman kebangkitan. Jika kita benar-benar dibangkitkan bersama Tuhan dan bersatu dengan hayat kebangkitan-Nya, kita akan secara spontan menghasilkan buah di bumi, dan kehidupan rohani kita akan terangkat ke tingkat-tingkat langit.
"Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga" (Ef. 2:6). Setelah kebangkitan, secara spontan ada kenaikan. Setiap orang Kristen harus mencapai hayat yang terangkat ini. Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati dan duduk di sebelah kanan Allah, "jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut" (Ef. 1:20-21). Kehidupan yang terangkat adalah kehidupan yang mengalahkan segala otoritas dan kuasa Satan. Sebelum pengalaman kenaikan ini, kita hanya memiliki kemenangan atas daging, dosa-dosa, dan dunia. Ketika kita berada dalam kenaikan, kita mengalami peperangan dengan, dan menang atas, segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut di dalam wilayah kegelapan. Kita bisa mencapai kehidupan yang terangkat ketika roh dan jiwa kita terpisah sepenuhnya, ketika roh kita benar-benar bebas melalui kebangkitan, ketika kita tidak lagi dipengaruhi oleh emosi dan pikiran jiwa, dan ketika kita naik mengungguli segala lingkungan dan urusan duniawi. Orang-orang saleh yang sudah mencapai kehidupan yang terangkat memiliki pandangan yang datang dari takhta. Mereka memiliki pengalaman mengenai tidak terpengaruh oleh apa pun. Mereka yang benar-benar tersalib bersama Tuhan akan dibangkitkan bersama Dia. Dan mereka yang benar-benar dibangkitkan bersama Tuhan akan naik bersama dengan Dia ke tingkat-tingkat langit. "Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol. 3:1-3).
Benda-benda penerang yang berbeda-beda ini adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang (Kej. 1:16). Matahari adalah terang untuk siang. Dia adalah sumber panas dan terang bagi bumi. Terangnya adalah berasal dari dirinya sendiri, tidak berubah, dan konstan. Dia benar-benar merupakan lambang dari "Manusia surgawi." Dia pernah berada di bumi, namun Dia telah kembali kepada kemuliaan. Maleakhi 4:2 mendeklarasikan hal yang sama. Kemuliaan Tuhan Yesus adalah "terang besar" di surga. Ketika Dia berada di bumi, Dia adalah "Surya pagi dari tempat yang tinggi" yang mengunjungi kita (Luk. 1:78). Dia juga adalah "terang dunia" (Yoh. 8:12). Dia adalah "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia" (1:9). "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" (ay. 5). "Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak" (Yoh. 3:19-20). Oleh karena itu, Tuhan kembali ke surga untuk tinggal di dalam "tabernakel." Ketika kerajaan seribu tahun tiba, Dia akan menjadi "Surya kebenaran" dan "matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya" (Mzm. 19:5-7).
Hari ini terang-Nya tidak menyinari dunia ini. Hanya mereka yang percaya kepada-Nya yang berada di bawah penyinaran-Nya. "Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku" (Yoh. 14:19). "Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus...dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat" (Ibr. 2:9). "Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu" (Ef. 5:14).
Di dalam malam yang gelap secara moralitas dari dunia hari ini, orang-orang telah kehilangan pandangan akan matahari. Tetapi gereja telah terangkat tinggi dan masih bisa melihat matahari. Sama seperti bulan memantulkan matahari pada malam hari, maka gereja, yang tinggal di dalam terang Kristus, menjadi terang bagi malam yang telah menolak Kristus. Pada hari pertama dari keselamatan kita, kita menerima terang. "Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang" (Yoh. 12:36). Sekarang kita memantulkan terang, dan kita adalah saksi-saksi Kristus di dalam generasi yang jahat ini. "Kamu adalah terang dunia...Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang" (Mat. 5:14, 16).
Di dalam posisi terangkat ini kaum saleh memiliki persekutuan yang lebih intim bersama Tuhan Yesus. Bukankah di tempat inilah kita melihat situasi yang sesungguhnya dari malam yang gelap? Bukankah di tempat inilah kita merasakan kekuatan kegelapan mendekat? Bukankah di tempat inilah kita memiliki pandangan yang lebih luas? Bukankah di tempat inilah kita memiliki pandangan yang lebih jelas akan Kristus? Suatu posisi yang luar biasa!
Walaupun tingkat terang bulan hanya di bawah matahari (di urutan kedua setelah matahari – red), terdapat perbedaan yang besar sekali di antara keduanya! Walaupun bulan adalah terang malam, pada saat yang paling indah dan bulat, dibandingkan dengan sumber terang, dia hanya tampak dingin dan keperak-perakan. Dia berubah-ubah secara konstan! Dia membesar dan mengecil! Tingkat perbesaran dan pengecilannya bergantung pada sudut pergerakannya dalam menghadap pada matahari! Kadang-kadang dia tidak memancarkan cahaya sama sekali. "Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dari kemuliaan kepada kemuliaan" (2 Kor. 3:18). Betapa mudahnya dia berubah! Menurut ketentuan Allah, dia adalah benda langit yang tinggal di langit. Namun menurut pandangan manusia, dia tidak selalu ada di sana; dan kadang-kadang dia menghilang. Bahkan ketika dia berada di sana, dia jarang berada dalam kepenuhannya. Tidak asing bagi dia untuk menjauhi sumber terang. Pekerjaannya adalah menerima. Dia tidak memiliki kemuliaannya sendiri. Semua kemuliaannya datang dari Tuhannya. Dalam terang-Nya dia bisa bersinar. Dia tidak memiliki terangnya sendiri. Dia tidak perlu kuatir atau berjerih payah. Ketika dia menghadap pada matahari, itu adalah harinya yang cemerlang dan terang. Ketika manusia melihatnya dari bumi, bulan itu "indah" (Kid. 6:10), dia menumbuhkan yang terbaik (Ul. 33:14), dia "ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan" (Mzm. 89:38), dan akan ada "damai sejahtera berlimpah sampai tidak ada lagi bulan" (Mzm. 72:7), namun hayat dan suplai hayat diberikan kepada manusia oleh sinar matahari secara langsung. Posisi kita dalam Kristus sangat mustika; namun pengalaman secara langsung akan kehangatan-Nya juga penting. Ketika matahari terbit, bintang-bintang dan bulan tidak terlihat lagi.
Bintang-bintang adalah lambang dari orang-orang kudus hari ini yang individual, sebab mereka "bercahaya di antara mereka" (Flp. 2:15). Ketika matahari terbenam dan bulan mengecil, bintang-bintang bermunculan. "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya" (Dan. 12:3).
Semua benda-benda penerang ini diciptakan oleh Allah untuk "menguasai" (Kej. 1:16-17). Terdapat kekuatan untuk menguasai di dalam penerangan kaum saleh. Banyak dosa pasti menyembunyikan diri mereka sendiri di hadapan kaum saleh. Banyak orang yang najis dengan perbuatan-perbuatannya yang korup tidak berani mendekati kaum saleh. Kaum saleh yang berjalan dalam kekudusan, kemuliaan, kebenaran, dan kasih Allah, semuanya mendapatkan bagian dalam kekuatan untuk menguasai ini.
Apa yang dikuasai kaum beriman adalah malam. Otoritas paling besar bagi seorang Kristen yang terangkat adalah memiliki kemenangan atas kuat kuasa kegelapan. Sebelum kenaikan, kaum beriman tidak jelas mengenai peperangan rohani. Mereka tidak memiliki pandangan yang jelas akan siasat Satan, serangan musuh, godaan iblis, atau kepura-puraan roh-roh jahat. Baru setelah mereka mencapai kenaikan barulah mereka merasakan realitas dari kuat kuasa kegelapan. Kemudian mereka menyadari bagaimana mengalahkan musuh melalui darah Domba, melalui perkataan kesaksian mereka, dan bukan melalui mengasihi hayat jiwa mereka. Kemudian mereka tahu bagaimana cara menggunakan pedang Roh, yang adalah firman Allah, untuk menyerang kekuatan Satan. Lalu mereka tahu bagaimana cara berdoa dalam cara yang menantang untuk meminta Allah untuk menghancurkan aktivitas Satan. Lalu mereka tahu bagaimana berdiri di atas dasar salib, memegang kemenangan salib yang telah digenapkan, menggunakan kata-kata pujian untuk mengusir serangan-serangan yang datang dari roh-roh jahat. Kemudian mereka tahu bagaimana melatih kehendak mereka untuk berperang melawan segala tipu daya musuh. Karena kaum beriman yang terangkat sudah mendapatkan posisi yang mengijinkan mereka untuk menguasai kuat kuasa kegelapan, mereka akan memiliki banyak pengalaman meremukkan Satan di bawah kaki mereka.
Benda-benda penerang ini juga adalah untuk "tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,...untuk memisahkan terang dari gelap" (ay. 14, 18). Kaum beriman yang terangkat mengenal tanda-tanda jaman. Mereka tahu bagaimana cara membedakan jaman. Mereka memiliki pandangan Allah dari takhta dan sangat jelas mengenai kejadian-kejadian di dunia. Kaum beriman yang terangkat akan tahu mengenai situasi pada hari-hari terakhir. Oleh karena itu, mereka akan berada dalam keadaan yang tenang dan tidak bergeming ketika hal-hal berubah dan orang-orang yang bingung dan panik bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi dan harus berbuat apa. Mereka akan tahu apa yang tentunya akan terjadi. Ketika mereka mencapai posisi terangkat, kaum beriman akan mengenal pergerakan Tuhan pada hari-hari terakhir ini, mengenai sikap mereka yang tepat terhadap gereja, mengenai sikap mereka terhadap dunia pada hari-hari terakhir ini, dan mengenai betapa mereka harus berjaga-jaga. Mereka akan tahu bahwa pada hari-hari terakhir Kristus-kristus palsu dan nabi-nabi palsu akan menipu dunia. Mereka akan tahu bagaimana roh-roh jahat dan malaikat-malaikat jatuh akan mengacaukan dunia dan memikat orang-orang untuk mengikuti pengajaran-pengajaran setan, menipu kaum saleh yang bodoh untuk mempercayai mujizat dan keajaiban, dan untuk mengejar bahasa lidah yang palsu dan segala macam pengalaman supranatural. Mereka yang tidak berakar di dalam Firman Allah akan tertipu. Namun kaum beriman yang terangkat, yang memiliki pandangan Allah, tidak akan tertipu, sebab mereka akan sudah mengetahui siasat mereka.
VIII. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala" (ay. 20). Inilah pekerjaan pada hari kelima. Hari kelima ini adalah periode di antara kenaikan dan kedatangan kembali Tuhan untuk menjadi Raja. Oleh karena itu, tidaklah sulit untuk mendapatkan makna rohaninya.
Allah menciptakan ikan dan burung (ay. 21). Air sendiri tidak bisa menghasilkan ikan; demikian juga daratan tidak bisa menghasilkan burung. Ikan dan burung diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di air dan di daratan. Keduanya memiliki hayat (ay. 21). Mereka hanya berbeda dalam bentuk kehidupannya. Air mewakili sifat dosa kita, daging, seperti yang telah disinggung tadi. Ini membawa kita ke dalam pencobaan. Namun di dalam pencobaan ini kasih karunia Allah menggarapkan bentuk hayat bagi kita. Daratan mewakili hayat jiwa kita yang dimurnikan, seperti yang sudah disebutkan tadi. Ini sangat mempengaruhi kita. Di dalam hal ini, kebaikan Allah menggarapkan suatu bentuk hayat bagi kita.
Walaupun kehidupan kita sudah mencapai titik keterangkatan, kita masih manusia dan masih hidup di bumi ini. Kita tidak memiliki cara lain untuk mengekspresikan hayat Allah kecuali melalui tubuh kita. Kenaikan adalah keluar dari dunia; namun hari ini adalah waktu bagi kita untuk hidup di dalam dunia. Melalui pengajaran-Nya, Allah membuat kita mampu untuk mengekspresikan hayat-Nya melalui jiwa kita dan tubuh kita. Ketika kita sudah mencapai tahap ini, kehidupan kita kelihatannya mulai berbentuk. Walaupun bentuk-bentuk kehidupan berbeda-beda, ini adalah waktunya untuk pergi "dari kemuliaan kepada kemuliaan." Kenaikan adalah posisi surgawi kita. Namun hari ini adalah waktunya bagi penghidupan kita untuk diekspresikan di bumi ini. Oleh karena itu, dalam hubungan dengan dunia, kita tidak memiliki pilihan lain kecuali mengekspresikan hayat kita melalui tubuh dan jiwa kita. Bentuk luaran dari ikan dan burung adalah berbeda, tapi prinsip batini dari hayat adalah sama. Ikan di dalam air mengindikasikan adanya kehidupan di dalam air. Burung di daratan mengindikasikan bahwa ada kehidupan di atas bumi. Tadinya, air dan daratan sudah mati dan tanpa kehidupan; namun Allah bisa menciptakan makhluk-makhluk hidup, walaupun dalam bentuk yang berlainan, dan menempatkan mereka di sana. Ini sangat jelas. Ketika kehidupan Kristen kita dimulai, kita tidak memiliki hayat di dalam tubuh kita atau pun jiwa kita. Namun setelah kita naik ke tingkat-tingkat langit, hayat Allah akan diekspresikan melalui tubuh dan jiwa kita melalui penghidupan kita di bumi. Akan tetapi, kita seharusnya jelas, bahwa tidak akan pernah ada hayat di dalam tubuh kita dan jiwa kita; hanya hayat Allah yang terekpresi di dalam mereka. "Sehingga kamu bercahaya di antara mereka...sambil berpegang pada firman hayat" (Flp. 2:15-16). "Hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah." Inilah kenaikan. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi" (Kol. 3:3, 5). Ini adalah mengekspresikan hayat. Dengan demikian, kita akan mendapatkan berkat dari Allah (Kej. 1:22).
IX. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar. Dan jadilah demikian" (ay. 24). Pekerjaan pada hari keenam, sama seperti pekerjaan pada hari ketiga, dibagi menjadi dua. Makhluk-makhluk hidup di atas bumi diciptakan pada setengah bagian pertama dari hari keenam. Pada titik ini, penampilan kehidupan lebih maju. Sekarang tidak ada air dan kebajikan-kebajikan dari manusia baru dihasilkan.
Jika kita mengkombinasikan pekerjaan pada hari kelima dengan pekerjaan pada setengah pertama dari hari keenam, kita akan menemukan makna yang besar. Semua ikan, burung, ternak, insek, dan binatang liar adalah lambang manusia (Mat. 4:19; Kis. 10:12, 28). Orang-orang Kristen, setelah kenaikan mereka, menjadi saluran bagi hayat Allah; mereka menyampaikan hayat Allah ke dalam hati banyak orang. Semuanya ini mengacu kepada kehidupan dan pekerjaan hari ini.
Sekarang kita akan melihat ke dalam pekerjaan pada bagian kedua dari hari keenam. Allah menciptakan manusia dalam gambar-Nya sendiri dan menurut rupa-Nya (Kej. 1:26-27). Ini membawa kita kepada kedatangan Kristus yang kedua. Secara rohani, ini sudah menjadi realitas.
Kaum saleh yang sudah mengalami kelahiran kembali, ko-penyaliban, ko-kebangkitan, menghasilkan buah, dan kenaikan, dan telah mengekspresikan semua tahap-tahap yang progresif ini di dalam kehidupan rohani mereka, akan secara spontan mencapai tahap ini, yaitu sepenuhnya seperti Allah. "Kristus terbentuk di dalam kamu" (Gal. 4:19) adalah sasaran rohani kaum saleh. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus dalam segala hal dan telah mengalami segala yang telah Dia genapkan bagi kita, kita akan bisa mengalami "diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya" (2 Kor. 3:18).
"Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut gambar Penciptanya" (Kol. 3:9-10). "Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama...supaya kamu dibarui dalam roh pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:22-24). Dalam pengalaman kita, kita seharusnya memiliki kehidupan "manusia baru" yang benar-benar seperti Allah. "Menanggalkan" dan "mengenakan" adalah tindakan-tindakan yang diinisiasi oleh kehendak kita. Kaum beriman melatih tekad mereka untuk menolak segala perbuatan manusia lama dan memilih kebaruan dari manusia baru. Tingkat tertinggi dari penghidupan Kristen adalah hidup oleh tekad. Pada titik ini, mereka akan diperbaharui dalam pikiran dan pengetahuan mereka, dan mereka akan memiliki gambar Allah secara penuh. Pikiran adalah medan pertempuran rohani. Mereka mungkin benar dan kudus dalam tingkah laku dan kehidupan mereka (Ef. 4:24), namun mereka mungkin belum memiliki pengalaman akan pembaharuan pikiran. Pikiran adalah benteng pertahanan yang paling besar dari hayat Adam yang lama; dia adalah bagian yang paling terkontaminasi oleh dosa. Jika pikiran diperbarui, gambar Allah akan dipulihkan.
Walaupun demikian, pemulihan gambar Allah ada di masa yang akan datang, pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. "Karena kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya" (Flp. 3:20-21). "Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia" (1 Yoh. 3:2).
Kaum saleh bukan hanya memiliki gambar Allah, namun juga kekuasaan atas segala sesuatu (Kej. 1:26, 28). Ini membawa masuk kerajaan seribu tahun. Ini adalah berkuasanya kaum saleh. "Mereka...memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun" (Why. 20:4). "Kekuasaan atas sepuluh kota" (Luk. 19:17).
Tidak semua kaum beriman akan memiliki kemuliaan dari kerajaan seribu tahun. Melainkan, hanya mereka yang sudah mengalami semua tahap di dalam Kejadian 1 yang akan mendapatkan kemuliaan ini. Mereka yang dipersatukan dengan pengalaman-pengalaman Kristus di masa lalu akan juga dipersatukan dengan kemuliaan Kristus di masa depan. Kita hanya perlu percaya kepada Tuhan Yesus untuk diselamatkan; tapi jika kita tidak setia, dan jika kita tidak menderita dan menang, kita tidak akan mampu meraja bersama dengan Tuhan. Salib adalah jalan menuju mahkota. Penderitaan adalah syarat untuk masuk ke dalam kemuliaan. Allah memberi keselamatan secara gratis, namun Dia tidak akan menghadiahkan mahkota tanpa imbalan. Barangsiapa bersedia untuk menderita kerugian di jaman ini demi Tuhan akan menerimanya di jaman yang akan datang. Bagaimana seseorang yang meraja pada jaman ini bisa menerima kemuliaan pada jaman yang akan datang? Tidaklah mudah untuk merendahkan diri kita sendiri! Sebaliknya, kita selalu siap untuk ditinggikan dan menerima kemuliaan! Mereka yang menempuh kehidupan yang kudus dengan pekerjaan yang setia pasti akan menerima pujian dari Tuhan. Namun untuk meraja seperti ini, kita tidak perlu menunggu sampai jaman yang akan datang. Kita bisa meraja dalam roh kita, walaupun penggenapan selengkapnya ada di masa depan. Kita bisa menerapkan otoritas dari Tuhan untuk menguasai segala sesuatu. Kita seharusnya menjadi raja-raja yang menguasai roh-roh jahat dan melarang mereka bekerja. Karena Satan akan diikat di dalam kerajaan seribu tahun, kita bisa menerapkan otoritas dari jaman mendatang untuk mengikat dia sampai taraf tertentu. Kita juga seharusnya menggunakan senjata doa untuk menguasai lingkungan kita; baik itu adalah urusan nasional, urusan keluarga, urusan gereja, ataupun urusan pribadi, kita bisa menggunakan doa untuk menguasai mereka semua. Oleh tekad kita dan melalui Roh Kudus, kita bahkan bisa mengendalikan diri kita sepenuhnya. Ini, tentu saja, adalah kehidupan yang menang. Orang-orang Kristen "kerajaan seribu tahun" adalah orang-orang Kristen yang paling kuat.
Selain meraja sebagai raja-raja, kaum saleh juga akan memiliki makanan mereka sendiri (Kej. 1:29). Tanaman berbiji adalah sebuah tanda hayat. Kuat kuasa hayat ada di dalamnya. Hanya hal-hal yang memiliki hayat yang baik untuk menjadi makanan. Makanan adalah bagian dari pahala kita di masa depan: "Siapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon hayat yang ada di Taman Firdaus Allah" (Why. 2:7). "Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi" (ay. 17). Perkara makanan akan berlanjut setelah kebangkitan sebab Tuhan kita juga makan dan minum setelah kebangkitan-Nya. Buah dari pohon hayat adalah untuk dimakan oleh manusia di dalam kekekalan, kota surgawi.
Walaupun demikian, hari ini kita bisa mengalami tempat dimana kita akan berada di masa yang akan datang. Apa yang kita makan adalah penyusun dari kesehatan kita. Hanya makanan-hayat yang bisa memberikan perawatan hayat kepada mereka yang memakannya. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan diberikan "segala tumbuh-tumbuhan hijau" sebagai makanan. "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4). "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh. 4:34). "Akulah roti hayat" (Yoh. 6:48). "Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hayat yang kekal" (ay. 54). Jika kita ingin kuat, kita harus mengambil firman Allah, mengambil kehendak-Nya sebagai makanan kita, dan makan dan minum Tuhan Yesus. Kita tidak seharusnya membaca Kitab Suci secara sembarangan, melainkan memakai doa dan renungan untuk mencerna firman Allah dan menerima perawatan bagi kehidupan rohani kita. Setiap kali kita dengan setia mengambil kehendak Allah, kita akan merasakan bahwa manusia batini kita sekali lagi telah dirawat. Dengan iman, kita mengambil kematian dan hayat (daging dan darah) Tuhan Yesus untuk mengasimilasi mereka ke dalam kehidupan kita sehingga kita bisa maju dengan kekuatan. Untuk menjadi sehat secara rohani, kita perlu mengambil roti hayat. Makanan jenis lainnya hanyalah sekam.
X. "Pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kej. 2:1-3). Langit dan bumi sudah selesai, juga semua penghuninya. Pekerjaan penebusan Allah sudah digenapkan. Sekarang tidak ada yang lainnya lagi kecuali beristirahat.
Pada pasal pertama Allah berbicara lebih dari sepuluh kali. Segala yang sudah dikatakan-Nya sekarang sudah selesai. Firman Allah bekerja di dalam setiap tahap. Dia selalu berbicara. Setiap pekerjaan Allah memperlihatkan perkembangan dari kuat kuasa intrinsik-Nya. Tahap demi tahap, mereka memperlihatkan kuat kuasa ilahi-Nya untuk melaksanakan rencana ilahi-Nya. "Karena kita adalah mahakarya (masterpiece) Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik" (Ef. 2:10). Diberkatilah mereka yang taat kepada seluruh firman Allah. Tujuh kali Tuhan mengatakan, "Itu baik," namun untuk yang terakhir, Dia mengatakan, "Sangat baik." Hati-Nya puas dengan pekerjaan yang telah Dia selesaikan dengan sabar dan cermat. Karena Dia sudah puas, Dia beristirahat. Inilah perhentian Allah. Ini membawa kita ke langit baru dan bumi baru, jaman perhentian yang kekal. Pada saat itu, kita akan masuk ke dalam perhentian Allah (Ibr. 4:3). "Sebab siapa saja yang telah masuk ke dalam tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya" (Ibr. 4:10). Kekekalan akan dimulai, dan selama jutaan dari hari-hari yang tidak berkesudahan itu kita akan beristirahat di hadapan Allah dan akan berada di dalam Dia, memahami kehendak-Nya, takjub pada kemurahan kasih-Nya, dan memuji kasih karunia-Nya. Sungguh situasi yang luar biasa pada saat itu! "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1 Kor. 2:9).
Puji Tuhan, sebab kita tidak perlu menantikan masa depan untuk memiliki perhentian tersebut. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat. 11:28-29). Di sini ada dua perhentian. Yang pertama kita terima ketika kita percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Yang kedua kita terima ketika kita belajar dari Tuhan Yesus. Jiwa kita ini penuh dengan kedambaan, kegairahan, kerinduan, kesedihan, kejengkelan, dan dukacita. Namun ketika kita melihat kelemah-lembutan dan kerendah-hatian Tuhan, bagaimana Dia menahan penentangan dari orang-orang berdosa terhadap-Nya, bagaimana Dia dengan rela memikul gandar, dan bagaimana Dia memperlihatkan diri-Nya sendiri sebagai suatu teladan dari seekor domba, maka kita tidak lagi letih dan pusing. Jika kita belajar dari Dia, kita akan mendapatkan ketenangan bagi jiwa kita, suatu kehidupan yang damai, suatu kehidupan yang tanpa pergumulan, dan suatu kehidupan yang mengapresiasi kehendak Allah! Betapa sukacita yang besar!
Di dalam seluruh enam hari, ada "petang dan pagi." Setelah petang selalu ada pagi, namun tidak ada satu hari pun yang tanpa malam. Namun pada hari ketujuh, hari Sabat Allah, tidak ada petang ataupun pagi. Sekarang yang kita miliki adalah "siang" (berbeda dari pagi) yang tidak berakhir yang sempurna, penuh, mulia, diberkati, dan dikuduskan oleh Allah.
Penciptaan dunia jasmani adalah lambang dari pembangunan rohani. Sejarah penciptaan dunia jasmani terdiri dari sepuluh tahap, baik di masa lalu maupun di masa depan; namun seluruh tahap ini bisa dialami oleh kaum beriman, walaupun beberapa dari pengalaman ini akan mendapatkan penggenapan penuhnya di masa depan. "Kristus telah mengasihi gereja dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan gereja di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya gereja kudus dan tidak bercela" (Ef. 5:25-27).
Betapa sederhana dan betapa jelasnya perkara-perkara yang telah kita bahas ini! Siapa saja yang ingin memahami pelajaran ini harus memahami suara-suara yang diutarakan melalui penciptaan. Pekerjaan tangan Allah merupakan kesaksian Allah; mereka mengekspresikan pemikiran-Nya yang dalam dan kasih-Nya yang besar. Penciptaan dan penebusan adalah dua cabang dari pekerjaan Allah; mereka diam-diam mengutarakan Diri Allah sendiri. Kristus adalah kunci untuk seluruh Kitab Suci. Kita bukan sedang mengubah Kitab Suci, memotong jari supaya kaki bisa pas dengan sepatu. Allah telah menetapkan bahwa Kitab Suci seharusnya bersaksi mengenai Diri-Nya, mengenai Kristus dan penebusan-Nya. Jika terdapat kesalahan di dalam berita ini, itu hanyalah dikarenakan penulisan yang ceroboh yang gagal untuk menyampaikan makna yang dimaksudkan.
PENCIPTAAN DAN PENGALAMAN KRISTEN
Kita sudah melihat bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, bahwa kemudian bumi menjadi tanpa bentuk dan kosong, dan bahwa Allah memulihkan bumi dan segala sesuatu di bumi dalam enam hari. Sekarang kita akan maju untuk melihat makna rohani dari semuanya ini.
Mengenai ciptaan sebermula, kita hanya tahu bahwa "pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Pada ayat selanjutnya kita melihat bahwa situasinya berubah. Segalanya tidak lagi sama seperti sebelumnya: "bumi tanpa bentuk, dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam" (1:2). Tentunya ini bukan situasi yang Allah ciptakan pada mulanya, sebab Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah "menciptakannya bukan porak-poranda" (Yes 45:18). Oleh karena itu, di dalam Kejadian 1, di antara ayat 1 dan 2, terdapat suatu perubahan yang besar. Setelah bumi menjadi gersang, Allah memulai pekerjaan pemulihan bumi-Nya yang telah Dia hakimi. Mulai hari pertama sampai hari keenam, Allah bekerja untuk memulihkan dunia. Pada hari yang ketujuh Dia beristirahat.
Apakah maksud Allah hanyalah supaya kita tahu bagaimana Dia menciptakan dan memulihkan dunia? Atau apakah ada makna yang lebih dalam? Apakah ada perbedaan antara "ciptaan baru" dan penciptaan dunia pada hari-hari itu? Apakah penciptaan dari dunia jasmani serupa dengan dunia rohani? Dunia lahiriah hanyalah suatu refleksi dari dunia batini. Cara yang ditempuh Allah untuk membereskan dunia yang besar ini adalah sama dengan cara Dia bertindak terhadap masing-masing individu. Di dalam rencana Allah dan penggenapannya, proses penciptaan dunia jasmani dan pengalaman pembaharuan kerohanian pribadi memiliki hubungan. Sejarah penciptaan melambangkan jalur pengalaman dari kehidupan kita dalam ciptaan baru.
Fokus kita sekarang ini bukanlah pada sejarah umat manusia jaman purbakala, melainkan pada pengalaman rohani individu-individu hari ini. Pada hari-hari terakhir ini, kegagalan yang paling besar adalah bahwa orang-orang terlalu memperhatikan umat manusia dan melupakan manusia-manusia secara individu. Tapi Allah tidaklah demikian. Walaupun dia ingin memberkati umat manusia, Dia memulainya dengan manusia-manusia secara individu. Dia tidak memandang rendah siapapun juga. "Namun, seekor pun (dua ekor burung pipit) tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu" (Mat. 10:29). Dari tindakan-tindakan Allah, kita seharusnya melihat tangan Bapa. Manusia telah berdosa dan telah jatuh; namun, syukur pada Allah bahwa dia tidak memandang rendah siapapun juga. Hati-Nya tercurah terhadap semua orang. Hanya mengenal ini saja bisa menghibur kita. Hanya hati Allah yang bisa memuaskan hati manusia.
I. "Pada mulanya" berarti permulaan dunia. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Ketika langit dan bumi pertama kali keluar dari tangan Pencipta, betapa mereka sangat segar dan cantik! Kesempurnaan, kemurnian, kecantikan, dan kecemerlangan adalah kondisi dari langit dan bumi pada saat itu. "Bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai" (Ayb. 38:7). Betapa sukacitanya! Tidak ada suara keluhan atau dukacita tercampur dengan melodi sukacita tersebut. Betapa harmonisnya Pencipta dan ciptaan! Tidak ada dosa, tidak ada Satan, tidak ada dukacita, tidak ada sakit, tidak ada penyakit, tidak ada maut, melainkan hanya kasih karunia dan kemuliaan. Tentu saja itu merupakan sebuah dunia yang penuh dengan sukacita dan kemuliaan.
Inilah kondisi sebermula dari manusia. Kondisi sebermula dari Adam dan Hawa adalah sempurna, sama seperti dunia jasmani sempurna pada mulanya. Manusia diciptakan dalam gambar Allah dan menurut rupa Allah. Allah mempersiapkan pendamping baginya. Allah meletakan dia di sebuah taman dan memberikati dia dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangannya. Dia adalah raja bumi. Allah memerintahkan dia untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Allah mengatakan bahwa itu luar biasa baik. Pada latar belakang Adam, tidak ada warisan dosa. Sifat dosa tidak ada di dalam dia, demikian juga tanda dosa tidak ada pada dirinya, juga kondisi dosa tidak ada di sekelilingnya. Adam adalah manusia ideal yang hidup di dalam lingkungan yang ideal. Adam dan pendampingnya bersekutu dengan Allah mereka. Segala sesuatu seharusnya telah membuat dia puas dan bahagia.
II. "Dan bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam" (Kej. 1:2). Dunia yang dulunya sempurna telah jatuh, malapetaka datang, dan seluruh bumi berubah. Begitu dosa masuk, maut mengikutinya. Begitu maut masuk, maka masuk pula segala perbuatan milik maut. Karya agung Pencipta dihancurkan. Bejana tukang periuk telah rusak. Apa yang tadinya paling cantik sekarang menjadi yang paling jelek. Apa yang tadinya paling baik menjadi yang paling buruk. Apa yang tadinya disebut kesempurnaan menjadi yang gersang. Suara nyanyian tidak lagi terdengar; terang juga meredup. Seluruh bumi binasa di bawah penghakiman air Allah. Tidak ada lagi cakrawala. Gelap gulita menutupi samudera dalam, dan samudera dalam menutupi seluruh bumi. Tidak ada lagi di bumi yang terpisah dari warna yang suram, bau payau, dan suara gemuruh. Ciptaan sebermula Allah telah rusak.
Ini adalah sebuah gambaran yang gamblang mengenai betapa manusia telah meninggalkan Allah. Betapa kacaunya! Betapa gelapnya! Gelombang nafsu menggelora. Alam kita yang dulunya indah telah terkubur di dalam kedalaman dosa! "Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur" (Yes. 57:20).
Manusia menjadi jatuh. Awalnya dia menerima berkat, tetapi sekarang, kutukan. Maut dan dukacita datang ke tempat dimana tadinya ada hayat dan sukacita. Manusia terperosok ke dalam dosa dan tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri. Dia tersembunyi di dalam kegelapan dan tidak bisa melihat dirinya sendiri. Karakteristik yang jelas dari manusia yang jatuh adalah kegersangan. Kegelapan dalam moralitas dan perkara-perkara rohani adalah kondisi umum dari orang-orang berdosa (Ef. 4:18). "Tidak berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera dalam"! Inilah gambaran yang sesungguhnya dari setiap orang berdosa. Betapa menyedihkannya bahwa banyak orang tidak menyadari kondisi mereka sendiri!
Inilah penyebab dari semua malapetaka dan dukacita di dalam dunia. Inilah sumber dari sifat dosa manusia. Manusia kehilangan gambar yang sebermula. Manusia yang diciptakan Allah pada mulanya adalah jujur (Pkh. 7:29). Akan tetapi, manusia kehilangan kondisinya. "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang" (Rm. 5:12). "Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa" (ay. 19). Sekarang di hadapan Allah, kondisi manusia adalah "tanpa bentuk...kosong...dan kegelapan," "jauh dari hayat Allah" (Ef. 4:18), "mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Ef. 2:1), dan "tidak bisa disembuhkan" (Yer. 17:9). "Semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 3:23), dan "tidak ada yang berbuat baik" (Rm. 3:12). "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak" (Rm. 3:10). Betapa menyedihkannya! Namun demikian manusia masih menyombongkan pengetahuan, hikmat, pendidikan, dan kebudayaan mereka. Jika manusia mau menyadari bahwa mereka itu "tidak berbentuk," "kosong," dan "gelap gulita," mereka akan diberkati.
III. "Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" (Kej. 1:2). Allah tidak bisa beristirahat di dalam situasi yang tanpa bentuk, kosong, dan gelap. Juga Dia tidak bisa bergembira dengan situasi dimana manusia ditaklukkan di bawah dosa, maut, dan Satan. Di dalam situasi yang demikian jatuh dan gersang, tidak akan mengejutkan jika Allah meninggalkan manusia. Namun Allah melalukan sesuatu yang sama sekali tidak diduga. Mengapa Allah masih menguatirkan apa yang telah dia hakimi dengan adil? Mengapa Allah masih memperhatikan yang gersang dan yang hancur? Mengapa Allah masih memiliki belas kasihan terhadap sesuatu yang tidak berbentuk, kosong, dan gelap, yang bahkan tidak layak untuk mendapatkan perhatian-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Ini hanyalah dikarenakan belas kasih dan kasih karunia Allah. Kasih Allah datang kepada mereka yang tidak layak atas kasih-Nya! Dan hati-Nya memiliki belas kasih atas mereka yang tidak layak untuk belas kasih-Nya! Bumi yang gersang dan manusia yang jatuh tidak memiliki hak untuk meminta Allah untuk bekerja. Di dalam kondisi mereka, meminta Allah atas belas kasihan yang sedemikian kelihatannya tiada harapan. Di dalam diri mereka sendiri, tidak ada sesuatu pun yang layak untuk kasih Allah. Walaupun demikian, alih-alih kemiskinan, ketidaklayakan, kejatuhan, dan kegagalan manusia, Allah masih memberikan kasih karunia-Nya yang tertinggi kepada mereka yang miskin dan tidak layak. Dia memberikan belas kasih-Nya yang tidak tidak ada habisnya kepada mereka yang telah jatuh dan gagal.
Langkah pertamanya adalah dengan "Roh" melayang-layang "di atas permukaan air." Tanpa Roh, bagaimana bumi bisa dipulihkan? Bagaimana orang mati bisa membangkitkan dirinya sendiri? Bagaimana kegelapan bisa mengubah dirinya menjadi terang? Bagaimana mereka yang berada di bawah penghakiman benar Allah bisa membuat diri mereka sendiri mampu untuk menerima berkat Allah? Jika bukan karena operasi Roh Kudus, bagaimana seseorang yang telah jatuh bisa bangkit? Makhluk-makhluk yang gersang dan lemah itu tidak berdaya. Bagaimana mereka bisa dipulihkan, disegarkan, dan dibangkitkan tanpa operasi Roh Kudus? Jika mereka berusaha untuk menang dan disegarkan oleh diri mereka sendiri, pada akhirnya mereka akan mengakui, "Di dalam aku sebagai yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik" (Rm. 7:18).
Namun syukur dan puji Allah! Walaupun orang-orang berdosa tidak bisa dilahirkan kembali oleh diri mereka sendiri, sama seperti bumi tidak bisa memulihkan dirinya sendiri, walaupun orang-orang berdosa tidak bisa memisahkan diri mereka sendiri dari dosa, sama seperti bumi tidak bisa memisahkan dirinya sendiri dari air samudera dalam, walaupun orang-orang berdosa tidak bisa bertindak benar, sama seperti bumi tidak bisa berubah dari kegelapan menjadi terang, akan tetapi, Allah sendiri bisa menyelamatkan kita. Ciptaan baru sama seperti ciptaan lama; keduanya diciptakan oleh Allah sendiri. Manusia tidak bisa menciptakan rohnya sendiri, sama seperti dia tidak bisa menciptakan dunia. Allahlah yang harus melakukan semua pekerjaan. Syukur dan puji Allah! Walaupun Dia tidak wajib untuk menyelamatkan kita, Dia menyediakan kasih karunia yang tidak terduga dan datang untuk menyelamatkan kita. Allah melakukan apa yang tidak harus Dia lakukan. Inilah belas kasih. Apa yang tidak layak untuk didapatkan manusia, dia mendapatkannya. Itulah kasih karunia. Mengenai keselamatan, manusia berada di dalam suatu posisi yang mutlak perlu menerima bantuan. Jika seseorang mengira bahwa di dalam dirinya atau di luar dirinya ada sesuatu yang baik, itu merupakan suatu penghinaan kepada Allah dan suatu penolakan akan kasih karunia-Nya.
Pekerjaan Roh Kudus adalah awal dari kelahiran kembali manusia. Di dalam teks aslinya, "melayang-layang" memiliki makna "menudungi (overshadowing)", "mengerami." Ini mengindikasikan kasih dan kelembutan. Kata yang sama dipakai sebagai "melayang-layang" di dalam Ulangan 32:11: "Laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya." Oh, semoga kita lebih banyak merespon kasih Allah! Betapa hati-Nya mendambakan kita! Namun siapakah "kita"? Kita hanyalah orang-orang berdosa, keinsanian yang telah jatuh! Dia tidak marah terhadap kita, juga Dia tidak memandang rendah terhadap kita atau membuang kita. Dia tidak menganggap bahwa, walaupun kita ini tidak berbentuk dan kosong dan gelap, kita tidak layak atas pengeraman Roh Kudus-Nya. Walaupun Dia memiliki mata yang "terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman" (Hab. 1:13), Dia merendahkan Diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan mereka yang berada di tengah-tengah debu dan kotoran. Ya Allah! "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah putra manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mzm. 8:5). Kita benar-benar tidak mengerti mengapa Allah begitu mengasihi orang-orang berdosa seperti kita. Saya terutama tidak mengerti mengapa Allah mengasihi saya. Malah, "Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita" (1 Yoh. 4:10). Ya Allah! Betapa ajaibnya kasih karunia-Mu! Betapa benarnya bahwa "putra-putra manusia menjadi kesenangan"-Mu (Ams. 8:31).
Kasih Allah adalah alasan mengapa kita dilahirkan kembali. "Karena Allah begitu mengasihi dunia ini...supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya...beroleh hayat yang kekal" (Yoh. 3:16). Kasih Allah membuat Dia bekerja di tengah-tengah kegersangan sampai Dia mengatakan, "Sangat baik," dan beristirahat. Sebelum apa yang gersang dipulihkan sepenuhnya kepada keadaan yang "sangat baik," hati kasih-Nya tidak akan pernah bisa beristirahat!
Dilahirkan kembali adalah pekerjaan permulaan dan juga merupakan pekerjaan yang paling penting. Tanpa pekerjaan ini, terang Allah akan bersinar dengan sia-sia. Allah pertama-tama membuat Roh Kudus melakukan suatu pekerjaan yang luar biasa di dalam manusia. Ini berfungsi sebagai suatu persiapan bagi terang-Nya untuk bersinar. "Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (Yoh. 3:7-8).
Apa kekurangan orang-orang berdosa adalah hayat. Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan hayat. Orang-orang berdosa tidak mau Allah dan tidak mau terang yang memancar dari Allah dalam Kristus. Mereka membencinya dan menolaknya. "Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat" (Yoh. 3:19). Hanya mereka yang telah dilahirkan kembali yang mengasihi terang Allah. Setelah kelahiran manusia yang kedua, dia memiliki perasaan terhadap terang Allah, dan hati nuraninya membuat dia tergerak dan berpaling kepada Allah.
IV. "Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi" (Kej. 1:3). Ayat sebelumnya mengatakan bahwa "Roh Allah melayang-layang." Di sini dikatakan, "Berfirmanlah Allah." Ini adalah firman Allah. Roh Allah dan firman Allah adalah dua sekerja yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, Roh Allah bekerja; lalu firman Allah bekerja. Kita dilahirkan dari Roh Kudus (Yoh. 3:5-6), dan kita juga "dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah yang hidup dan yang kekal" (1 Ptr. 1:23). "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang" (Mzm. 119:130). Oleh karena itu, "Berfirmanlah Allah...Lalu terang itu jadi."
Pekerjaan di hari pertama adalah Allah memanggil terang untuk muncul melalui firman-Nya. Pekerjaan pendahuluan Roh Allah dan firman Allah membuat terang bersinar dari kegelapan. Dosa membuat mata hari manusia gelap; dia membutakan mata pemahamannya. Jika manusia berdiri sendirian tanpa bantuan apa pun, dia tidak akan pernah tahu bahwa posisinya berada di dalam bahaya dan masa depannya adalah kebinasaan. Secara rohani, dia sama sekali buta, tidak tahu bahwa dia memerlukan Juruselamat. Kasih di dalam hatinya, pemikiran di dalam pikirannya, dan keputusan dari tekadnya tidak akan memberinya terang apa pun. Tapi terang Allah bisa datang dan bersinar di dalam hatinya. Hanya terang Allah yang bersinar di tempat yang gersang yang bisa mengekspos kondisi sesungguhnya dari makhluk ciptaan sampai pada puncaknya! Segalanya tetap sama. Satu-satunya yang berubah adalah kegelapan itu sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang terekspos bisa menyenangkan hati Allah. Satu-satunya yang baik di pandangan Allah adalah terang-Nya sendiri (Kej. 1:4). Di dalam manusia, tidak ada satu hal pun yang bisa memuaskan Allah atau bisa diterima oleh-Nya. Walaupun demikian, Dia berkenan pada Putra-Nya yang terkasih (Mat. 3:17), yang adalah terang dunia yang sesungguhnya (Yoh. 1:9). Mengenai pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama, rasul mengatakan, "Sebab Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang! Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus" (2 Kor. 4:6). Sama seperti terang Allah dahulu bercahaya di dunia yang gelap, hari ini Kristus dari Allah juga bercahaya di dalam hati yang gelap dan berdosa.
Begitu seseorang menerima penerangan Allah, terang dipisahkan dari kegelapan (Kej. 1:4). Dengan demikian, perasaan dan pengetahuan rohani secara bertahap dipulihkan. Hal-hal yang dahulu dikira benar oleh seseorang, hari ini dia menyadari bahwa itu adalah salah. Apa yang sebelumnya dia kira salah, sekarang dia menyadari bahwa itu adalah benar. Walaupun dalam pengalaman dari kebanyakan orang, mereka tidak langsung memiliki daya pembeda yang akurat, walaupun demikian, di dalam hati mereka, pemisahan antara terang dan kegelapan menjadi suatu realitas. Pada saat ini firman Allah (melalui terang yang dipancarkannya) mulai memisahkan roh manusia yang cemerlang dari jiwanya yang gelap (Ibr.4:12). Mulai titik ini, di dalam seseorang terdapat suatu pemisahan antara "apa yang lahir dari daging adalah daging" dan "apa yang lahir dari Roh adalah roh" (Yoh. 3:6). Walaupun pemisahan ini belum mencapai keadaannya yang sempurna dan kaum beriman belum mengalaminya secara penuh, secara fakta, pembagian di antara keduanya sudah digenapkan.
Allah memisahkan terang dari kegelapan, dan Dia memberikan kepada terang posisinya dan menamakannya siang. Kegelapan masih di sana, dan dia juga memiliki posisinya dan namanya (Kej. 1:5). Kegelapan masih kegelapan; di dalam kekekalan masih akan ada kegelapan, dan dia tidak akan pernah berubah menjadi terang. Bumi tidak pernah menjadi sumber terang. Kapankala bumi membelakangi terang, dia tinggal di dalam kegelapan. Ketika kegelapan dikendalikan terang, dia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi kecemerlangan terang. Begitu terang datang, kegelapan dan bayangan hilang. Keduanya masih tetap eksis seperti dulu. Sifat lama (daging) kita dan kehidupan lama (jiwa) kita akan tetap selalu gelap. Akan tetapi, kapankala hayat rohani, sifat ilahi, diperkuat, hal-hal lama menjadi tidak berdaya sama sekali. Akan tetapi, jika kita tidak berjalan dalam terang, kita akan kembali melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Selama kita berada di dunia ini, kita bisa selalu berjalan dalam terang. Akan tetapi, kita tidak pernah bisa menghapus kegelapan sepenuhnya, demikian juga sifat dan kehidupan kita yang berdosa tidak bisa diubah. Walaupun kita adalah anak-anak siang dan anak-anak terang, kita masih harus berjalan dalam terang Allah. Kalau tidak, malam akan kembali.
Sebenarnya, siang bukan sepenuhnya terang melainkan terdiri dari "petang" dan "pagi" (ay. 5). Sementara kita berada di bumi, kehidupan yang paling tingi yang bisa kita dapatkan adalah "siang." Walaupun demikian, dia masih terdiri dari "petang" dan "pagi." Jika hanya ada pagi dan tidak ada petang, itu bukan "siang" yang dibicarakan Kitab Suci. "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri" (1 Yoh. 1:8). "Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta" (1 Yoh. 1:10).
Walaupun kegelapan itu sendiri adalah "malam," begitu terang muncul, kegelapan tidak lagi "malam," melainkan "petang." Begitu terang Allah muncul, tidak peduli ada berapa banyak kegelapan, malam tidak bisa menjadi malam jika ada satu sorotan cahaya. Karena malam memiliki sejumlah terang, maka dia tidak lagi seharusnya disebut malam, melainkan "petang." Setelah diterangi oleh terang Allah, kegelapan seorang beriman tetap ada. Dia tidak mengubah sifatnya. Namun setelah diterangi, kegelapannya menjadi kegelapan yang berada di bawah kendali terang; dia tidak lagi tanpa batasan. Kadang-kadang kegelapannya mungkin bahkan diperkuat; namun apa yang dia miliki hanyalah petang. Dia tidak bisa lagi sepenuhnya "malam," sepenuhnya gelap. Walaupun kadang-kadang dia mungkin gagal sepenuhnya dan jatuh sepenuhnya, dia tidak bisa kehilangan terang atau hayat yang muncul dari terang itu. Dia juga tidak bisa kembali menjadi seorang berdosa yang belum percaya. Begitu seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, dia dilahirkan kembali; dan begitu dia dilahirkan kembali, dia memiliki hayat yang kekal. Dia mungkin jatuh, namun dia masih seorang putra Allah. Sementara dia mungkin masih kadang-kadang dikalahkan pelanggaran-pelanggaran (Gal. 6:1), mereka tidak bisa membuat dia untuk kembali ke posisi orang berdosa. Ini adalah kasih karunia Allah!
Di dalam Kejadian 1 disebutkan "petang dan pagi" enam kali. Walaupun terang disebut "Siang," selama enam hari dia disebut dengan "pagi." Pengalaman yang sebenarnya dari "Siang" belum datang. Pagi hanyalah permulaan dari siang; dia bukan puncak dari terang. Dalam penetapan Allah, setelah petang ada pagi. Walaupun kita memiliki terang yang menyingsing, waktu untuk penerangan ini untuk terang "yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari" (Ams. 4:18) ada di masa depan. Apa yang kita miliki hari ini adalah pagi. Pada suatu hari, ketika pekerjaan Allah sudah selesai dan hati-Nya sudah puas dan beristirahat, "siang yang sempurna" itu akan muncul. Tidak akan ada lagi petang atau pagi. Kita akan masuk ke dalam peristirahatan Allah dan secara kekal bersukacita dalam hari yang cemerlang dan tanpa malam. "Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam" (Mzm. 19:2), namun mereka yang mendengar dan memahaminya hanya sedikit jumlahnya.
Tentu saja, terang yang kita miliki sekarang ini hanyalah "pagi." Waktu dimana kita akan memancar dengan cemerlang masih ada di masa yang akan datang. Pada saat itu hal-hal yang sementara akan berlalu, dan kita akan masuk ke dalam kesempurnaan Allah.
V. "Berfirmanlah Allah: Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air" (Kej. 1:6). Ini adalah cakrawala yang kita kenal. Cakrawala memisahkan air di atas dari air di bawah (ay. 7-8). Apa yang sebelumnya samudera dalam yang kotor, gelap, dan suram telah dipisahkan dan menjadi uap yang naik ke cakrawala. Suatu pemisahan yang luar biasa! Melalui "cakrawala," Allah memisahkan apa yang murni dari apa yang jahat dan kotor, sehingga masing-masing bisa memiliki tempatnya masing-masing.
Inilah pekerjaan salib. Pekerjaan salib adalah untuk memisahkan. Terang Allah menyinari permukaan samudera yang dalam dan mengekspos kondisi yang sesungguhnya. Air yang besar sekali, tanpa batas, dan suram ini tersembunyi jauh di bawah penudungan kegelapan; sama sekali tidak mudah untuk mengenal kondisi mereka yang sesungguhnya. Namun terang datang. Mereka tidak bisa lagi bersembunyi. Semakin terang Allah bersinar, semakin dia menerangi kecemaran yang luas dan besar ini. Terang tidak membersihkan; melainkan, mengekspos hal-hal yang memalukan. Di bawah penerangan terang Allah, manusia menjadi merasa berdosa dan sangat menyesal. Hal-hal yang dulu mereka anggap sebagai hiburan, setelah diteliti, ternyata tidak berharga. Kejahatan dari hayat dan sifat dosa menerima evaluasi yang sesungguhnya. Di tengah-tengah kekecewaan dan pertobatan kitalah, kita mengenal kekuatan pemisahan dari salib Allah. Salib telah menyalibkan dosa kita (Rm. 6:6, 11), ego (Gal. 2:20), daging (Gal. 5:24), dunia (Gal. 6:14), dan elemen-elemen dunia (Kol. 2:20). Kematian memisahkan. Kematian adalah pemisahan, pemutusan, dan pelepasan yang besar. Kematian memutuskan segala hubungan dan mengakhiri segala keterlibatan. Tanpa salib, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari hal-hal yang ada di bawah. Persatuan kita dengan kematian Kristus melepaskan kita dari hal-hal yang ada "di bawah." Walaupun kita sudah dilahirkan kembali, dosa, ego, daging, dunia, dan elemen-elemen dunia masih bisa dengan kencang memegang dan menarik kita ke bawah. Setelah kelahiran kembali, jika kita mati bersama Kristus secara pengalaman, kita akan menjadi orang-orang yang "terpisah." Tanda salib merupakan bukti bahwa kita adalah orang-orang surgawi dan bahwa kita terpisah dari orang-orang duniawi. Terang Allah membawa kita kepada penghakiman diri sendiri, dan setelah penghakiman diri kepada salib, yang melaluinya kita menerima pelepasan.
Kita tidak seharusnya mencampur-adukkan posisi kita dan pengalaman kita. Begitu kita percaya pada Tuhan sebagai Juruselamat kita, kita memiliki posisi yang paling tinggi dalam Dia. Apa yang telah Dia genapkan bagi kita adalah milik kita. Ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita, Dia memisahkan apa yang di atas dari apa yang di bawah melalui salib. Ini adalah perkara posisi. Namun pada saat ini, kita mungkin masih belum memiliki pengalaman pemisahan ini. Ketika kita melatih iman kita untuk menerima apa yang telah digenapakan di atas salib dan berada dalam persatuan dengan kematian-Nya, kita memiliki pengalaman yang riil akan dilepaskan dari hal-hal yang di bawah dan meletakkan pikiran kita pada hal-hal yang di atas. Walaupun kita dilahirkan dari yang di atas, makna dari kelahiran kembali, kita tidak memiliki semua pengalaman akan "bukan dari dunia ini" (Yoh. 8:23). Oleh karena itu, kita harus masuk ke dalam kematian Tuhan, untuk membuktikan kematian-Nya, sehingga kita bisa memiliki pengalaman yang riil akan pemisahan roh dan jiwa (Ibr. 4:12). Sama seperti pisau imam besar menusuk dan memisahkan urat dan sendi dari kurban, salib yang diwahyukan melalui Firman Allah juga memisahkan roh dan jiwa kita.
Begitu kita dilahirkan kembali, Allah menganggap kita tersalib bersama Kristus. Kita percaya bahwa kematian-Nya adalah suatu kematian atas nama kita. Karena Dia telah mati bagi kita, kematian-Nya adalah kematian kita. Ini adalah ko-kematian (co-death. Sama seperti co-pilot/ko-pilot - red). Suatu kematian yang menggantikan (substitutionary death) secara alami akan menghasilkan ko-kematian. Bagi Dia untuk mati bagi kita berarti kita mati bersama Dia. Ketika Allah menerima kematian Tuhan Yesus yang dalam nama kita, Dia menganggap kita sudah mati. Dari sudut pandang pengalaman pribadi kita, ini adalah kematian yang menggantikan. Dari sudut pandang penghakiman hukum, ini adalah ko-kematian. Ketika kita percaya pada Tuhan Yesus, kita mati bersama Dia secara fakta; namun kita mungkin masih belum memiliki pengalaman akan kematian ini. Pengalaman ko-kematian ini datang setelah kita dilahirkan kembali, dalam pergumulan antara kedua hayat dan sifat dari terang dan kegelapan, ketika kita mencari kelepasan di salib.
Kaum beriman memiliki pemisahan ini bukan hanya dalam perkara-perkara luaran saja, melainkan juga dalam batin mereka. Allah sedang bekerja di dalam hati manusia secara tersembunyi, membuat kasih dan kedambaannya mengarah ke atas. Kaum beriman sudah dilahirkan kembali dan sudah menerima sifat ilahi Allah (2 Ptr. 1:4). Pekerjaan salib Tuhan membuat sifat ini memisahkan hal-hal yang di atas dari hal-hal yang di bawah. Perbedaan-perbedaan antara hal-hal bumiah dan hal-hal surgawi termanifestasi melalui sifat Allah. Sekarang hati kaum beriman bisa mengarah ke surga. Hati yang lama, tawar, dan gelap, yang dipenuhi dengan kejahatan dan nafsu, sekarang bisa dibersihkan; sekarang dia bisa diarahkan pada hal-hal yang di atas.
Dimana saja ada hayat, harus ada udara bagi hayat ini untuk bernafas. Karena terang surgawi sudah bersinar ke dalam roh kita, roh ini harus menghirup udara surgawi. Allah tidak hanya memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah di dalam kita, Dia juga memisahkan hal-hal yang di atas dan hal-hal yang di bawah di luar kita. Di sudah meletakkan "surga" di dalam kita. Dia juga sudah meletakkan kita di dalam "surga," sehingga iman kita bisa memiliki lingkungan yang cocok. Tanda pertama dari seorang beriman adalah bahwa mereka berasal dari surga. Mereka telah menerima suatu panggilan surgawi dan sedang menatap pada kerajaan surgawi, mendambakan suatu kota surgawi. Harapan mereka ada di surga, dan mereka menantikan suatu negeri surgawi, menganggap diri mereka sebagai pengembara yang sedang merantau di atas bumi. Begitu kita memiliki surga secara batini dan lahiriah, kita akan mengenal hal-hal di atas dari hal-hal di bawah.
Surga batini memerlukan surga lahiriah. Seseorang yang memiliki hayat surgawi, tentunya akan memiliki penghidupan surgawi. Sifat dari seorang yang sudah dilahirkan kembali akan memimpin dia untuk tidak "berjalan menurut nasihat orang fasik," dan untuk tidak "berdiri di jalan orang berdosa" (Mzm. 1:1). Kenikmatan, kasih, dan mode duniawi akan mengalami kesulitan untuk menariknya. Jika seseorang yang kuat dan sehat secara jasmani tidak bisa menghirup udara yang kotor, lalu bagaimana seorang saleh bisa bernafas di tengah-tengah kebencian, kejahatan, kesembronoan, dan kekacauan? Mereka akan mengasihi penyertaan saudara-saudara dan teman-teman mereka dalam perantauan mereka. "Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hayat, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita" (1 Yoh. 3:14).
Sampai saat ini, hati seorang beriman sudah berada di bawah peraturan Allah. Namun dia mungkin belum banyak berubah dari kondisinya yang semula jika daratan kering tidak muncul dan buah tidak dihasilkan. Walaupun hatinya sudah terikat surga, dan lalu lintas antara dirinya dan surga sudah dimulai, dia perlu maju lebih jauh lagi dan menghasilkan buah untuk memuliakan Allah.
VI. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Dan jadilah demikian" (Kej. 1:9). Ini adalah pekerjaan Allah pada hari ketiga. Pekerjaan Allah di sini sama dengan "hari ketiga" (1 Kor. 15:4), sebuah bilangan yang mengindikasikan kebangkitan. Daratan kering muncul dari bawah air. Dia terkubur di bawah laut kegelapan yang suram, namun dia keluar dari kuburnya. Daratan yang bersih, yang bisa ditanami dan menghasilkan buah, muncul dari laut kematian. Walaupun Allah tidak menghilangkan laut, Dia membatasinya sehingga dia tidak bisa keluar dari batasnya. Saat ini, laut memiliki batasannya dan dia tidak bisa membanjiri daratan. Allah memberinya nama (Kej. 1:10) dan mengakui eksistensinya. Baru pada langit baru dan bumi baru, laut akan dihilangkan. Daratan kering juga menerima nama yang baru (ay. 10) untuk membedakannya dari laut. Kemunculan daratan kering adalah pekerjaan dari setengah bagian pertama dari hari ketiga. Pekerjaan pada hari ketiga dibagi menjadi dua bagian. Pada hari itu Allah berfirman dua kali; Dia dua kali mengatakan bahwa pekerjaan-Nya itu baik. Pada setengah bagian pertama, daratan kering muncul; pada setengah bagian kedua, daratan menumbuhkan rumput, tanaman berbiji, dan pohon yang berbuah.
Kita melihat pekerjaan salib dalam hubungannya dengan pekerjaan Allah pada hari sebelumnya. Hari ketiga menandakan kebangkitan. Keduanya, kematian dan kebangkitan, merupakan sarana untuk hayat kita yang baru. Sama seperti Dia telah mati bagi kita, Dia juga telah bangkit bagi kita (Rm. 4:25). Kita memerlukan kebangkitan-Nya sebanyak kita memerlukan kematian-Nya (Rm. 5:10). Jika kita lebih mendahulukan salah satu, kita akan membuat injil menjadi sia-sia. Melalui kematian Kristus kita dibebaskan dari segala sesuatu milik Adam dan manusia alamiah; melalui kebangkitan-Nya kita masuk ke dalam segala sesuatu milik Kristus dan yang berada di luar alam alamiah. Kematian-Nya membebaskan kita dari posisi seorang berdosa dan bisa membebaskan kita dari pengalaman akan dosa-dosa. Kebangkitan-Nya memberi kita posisi seorang yang benar dan bisa memberi kita pengalaman akan kebenaran. "Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Kor. 5:17).
Menurut rencana keselamatan-Nya, Allah tidak memiliki maksud untuk memulihkan atau memperbaiki sifat lama kita, melainkan membuat kita menjadi "ciptaan baru." Dia tidak mau sifat lama kita. Kematian Tuhan Yesus telah membebaskan kita dari yang lama, dan kebangkitan Tuhan Yesus membuat kita masuk ke dalam yang baru. Jika kita dibangkitkan bersama Tuhan, kita akan memiliki pengalaman disatukan dengan Dia. Jika kita memiliki pengalaman berada "dalam Kristus," maka kita akan memiliki pengalaman ciptaan baru, mengenai hal-hal yang lama berlalu dan segala sesuatu menjadi baru. Supaya kita bisa secara praktis menempuh kehidupan ciptaan baru, kita harus mati bersama Tuhan dan dibangkitkan bersama Tuhan.
Tidak ada satu pun yang tercakup di dalam "ciptaan lama" kita, baik hayat kita dan perbuatan-perbuatan yang keluar dari hayat ini, atau pun sifat kita dan maksud-maksud yang keluar dari sifat ini, bisa memuaskan hati Allah. "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam" (1 Kor. 15:22). Di pandangan Allah, segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama kita memiliki tanda "mati." Hal-hal yang mati ini tidak bisa diperbaiki atau dikoreksi. Allah menginginkan sesuatu yang sama sekali baru; Dia menginginkan suatu ciptaan baru dimana hal-hal yang lama berlalu dan segala sesuatu menjadi baru. Oleh karena itu, pekerjaan pertama-Nya adalah melahirkan kembali manusia dan memberinya "roh yang baru" dan "hati yang baru." Ini adalah pekerjaan hari pertama. Roh kita yang baru bekerja sama dengan Roh Kudus Allah untuk meletakkan hayat dan sifat yang lama di atas salib, menyalibkan mereka di sana. Ini adalah pekerjaan pada hari kedua. Karena Allah menghapus semua "hal-hal lama," Dia sekarang bisa mulai untuk membangun "ciptaan baru," sehingga segala sesuatu bisa "menjadi baru." Dengan demikian, selangkah demi selangkah Dia maju ke depan sampai pada akhirnya tubuh kita ditransfigurasi pada hari keenam, manusia baru yang komplit. Nanti kita akan melihat hal ini secara lebih jelas.
Pengalaman kebangkitan datang setelah kelahiran kembali, pada hari pertama, dan setelah ko-penyaliban kita bersama Tuhan, pada hari kedua. Kelahiran kembali adalah permulaan hayat. Setelah menerima hayat kelahiran kembali, kita memiliki suatu bagian di dalam diri kita yang bersedia untuk bekerja sama dengan Roh Kudus; bagian ini bersedia untuk disalibkan bersama dengan Tuhan. Ko-penyaliban ini secara alami akan membawa kita ke dalam ko-kebangkitan. "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya" (Rm. 6:5). Kelahiran kembali adalah untuk menerima hayat; kebangkitan adalah untuk menerima lebih banyak hayat yang berlimpah. Jika seorang beriman tetap hanya sekedar dilahirkan kembali, dia tidak akan bisa mengalahkan dosa-dosa. Jika dia tetap hanya sekedar berada dalam ko-penyaliban, dia tidak akan mampu maju kepada kebenaran, kekudusan Allah. Kita seharusnya terus maju dalam pengalaman kita. Walaupun dalam pengalaman kelahiran kembali datang pertama, diikuti dengan ko-penyaliban dan ko-kebangkitan, dalam realitasnya saat kita percaya kepada Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Allah menganggap kita dibangkitkan. Akan tetapi, pada saat itu kita belum memiliki pengalaman akan kebangkitan di dalam kehidupan kita sendiri.
Banyak kaum beriman, melalui introspeksi, tidak bisa melihat bahwa hal-hal lama sudah berlalu dan bahwa segala sesuatu sudah menjadi baru. Ini adalah suatu bahaya yang besar. Entah mereka menganggap diri mereka sendiri belum dilahirkan kembali atau menganggap perkataan ini terlalu keras untuk dialami. Sebagian akan berusaha untuk mengoreksi dan memperbaiki kehidupan mereka dengan harapan bisa sesuai dengan Firman Allah, namun dalam pengalaman mereka, mereka berakhir dengan kegagalan dan kehilangan damai sejahtera, sukacita, kebebasan, dan kekuatan. Jika dengan iman mereka mau menolak ego dan dengan segenap hati mereka memandang kepada kristus, mereka akan memiliki potensi untuk menang. Kegagalan kita datang ketika kita berusaha untuk menolak akar dari ko-penyaliban kita sambil mengejar buah dari kebangkitan. Kita tidak membiarkan salib untuk melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam diri kita; namun pada saat yang sama kita damba untuk maju dengan tergesa-gesa untuk menerima hayat kebangkitan. Kita berusaha untuk menciptakan hayat yang baru dengan hayat yang lama. Ini sama sekali mustahil. Kebangkitan berdasarkan salib; tanpa salib, tidak ada kebangkitan. Siapa saja yang mendambakan pengalaman akan kebangkitan harus pertama-tama mengalami salib.
Diterima oleh Allah tidak bergantung pada pengalaman kita. Ketika kita percaya pada Tuhan Yesus, iman membawa kita ke dalam persatuan dengan Dia. Posisi kita "di dalam Kristus" membuat kita layak untuk diterima Allah, dan Dia menganggap kita sebagai manusia baru yang seutuhnya. Diterima dalam Kristus adalah diterima sama seperti Kristus diterima. Allah tidak mempedulikan apa yang kita miliki di dalam kita. Dia memandang kita seluruhnya baru hanya karena posisi kita yang baru. Ini berhubungan dengan keselamatan kita.
Di lain pihak, Allah menginginkan kita, Tubuh dari Putra-Nya, untuk mengalami semua yang telah digenapkan Kepala kita bagi kita. Melalui hal inilah kita dilepaskan dari ciptaan lama dan menjadi ciptaan baru. Kita dibangkitan bersama dengan Kristus; kita tidak bangkit sendiri. Kebangkitan Kristus meletakkan kita ke dalam alam yang baru; kita dibangkitkan bersama dengan Dia. Jika dengan iman kita mengakui fakta ini benar dan menerimanya, kebangkitan Tuhan akan meletakkan kita di daratan kering dimana air laut tidak bisa mencapainya.
Sama seperti daratan keluar dari samudera, demikian juga roh dibangkitkan dari dalam daging. Samudera tidak dihilangkan. Daging tidak menjadi roh, juga tidak dihapus. Air dikumpulkan pada satu tempat dan tidak bisa melewati batas mereka. Demikian juga daging masih ada di sini, namun kematian dan kebangkitan Tuhan memberi kita otoritas untuk membatasinya. Daging tidak bisa disembuhkan dan telah ditolak Allah. Akan tetapi barangsiapa telah mati dan telah dibangkitkan bersama dengan Tuhan "tidak hidup dalam daging" (Rm. 8:9).
Sekarang kita sudah melihat pekerjaan dari setengah bagian hari ketiga. Sekarang kita sampai pada setengah bagian kedua. Kita sudah dibangkitkan; sekarang ini adalah perkara menghasilkan buah (Kej. 1:11-12). Kebangkitan dan menghasilkan buah berhubungan secara langsung. "Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah" (Rm. 7:4). "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (Rm. 6:18).
Allah menamai daratan kering "Darat." Akar dari kata ini dalam teks aslinya adalah "remuk." Kita semua tahu bahwa tanah yang subur harus diremukkan. Jika dia tidak remuk, dia tidak bisa subur. Semakin tanah daratan dihancurkan sampai bubuk, akan semakin baik panennya. Hanya dalam cara inilah tanah bisa menyuplaikan makanan kepada benih-benih yang ditanam. Walaupun air laut sudah mundur dalam pengalaman kita, daratan mungkin masih keras; dia masih bisa menolak tangan penabur. Walaupun kekuatan daging sudah hilang, hayat jiwa yang alamiah masih menganggap dirinya sendiri sebagai "diri yang baik," memamerkan kemampuan dan kebajikan alamiahnya, menolak untuk menyerah. Hayat jiwa yang sudah remuk dari seorang beriman merupakan tanah yang subur di tangan Bapa surgawi. Allah tidak memerlukan kemampuan kita, melainkan ketidakmampuan kita. Dia tidak meminta kita untuk dipenuhi melainkan untuk dikosongkan. Dia tidak menginginkan kita untuk bertahan, melainkan untuk menyerah. Dia adalah mahaperkasa dan Dia memiliki segala keperkasaan. Kekuatan-Nya termanifestasi dalam kelemahan. Benih Allah bertumbuh paling subur di ladang yang remuk.
Menghasilkan buah bukan datang melalui mempertahankan diri. Melainkan, melalui peremukan diri, perendahan diri, dan kelemahannya; dia datang melalui ketergantungan kita pada Allah yang mengijinkan tangan-Nya untuk bekerja. Kemampuan kita sendiri selalu menjadi penghalang bagi manifestasi kemampuan Allah. "Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh. 12:24). Jika kita tidak membenci hayat jiwa kita, hayat alamiah kita, kemampuan kita, bakat kita, hikmat kita, dan kebajikan kita, kita tidak bisa menghasilkan banyak buah. Ketika kita mengusir hayat dan kemampuan alamiah yang diwariskan dari daging kita (daratan yang keluar dari air) dan menerima tangan Allah dengan hati yang remuk, kita bisa mendapatkan buah Allah.
Kita seringkali mengira bahwa daging yang penuh dosa dan najis ini seharusnya dihilangkan. Namun kita seharusnya menyadari bahwa untuk menghasilkan buah, adalah penting untuk menanggalkan kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kebenaran jiwa (diri) kita. Kita mungkin puas dengan ladang kita, namun Allah berpendapat bahwa ladang tersebut harus diremukkan. Kita menilai diri kita terlalu tinggi! Kita sangat tidak menyadari bahwa diri kita sudah terinfeksi oleh dosa Adam, dan bahwa dia masih lemah dan tidak memiliki kekuatan! Segala resolusi dan maksud kita yang baik adalah seperti bunga yang hanya hidup satu malam dan seperti gelembung sabun.
Ketika kita lemah, kosong, dan miskin, tunduk seperti tanah liat kepada tangan tukang tembikar, hayat Kristus akan hidup di dalam kita, dan kekuatan-Nya akan termanifestasi dalam tubuh kita. Semakin kita mengenal makna salib dan realitas kebangkitan, semakin kita akan mengenal makna yang sesungguhnya dari peremukan hayat jiwa.
Daratan ini bukan diirigasi oleh air laut; produktivitasnya tidak digarap oleh daging. Kabut (Kej. 2:6) adalah sarana yang membasahi; Roh Kudus merawat daratan. Dalam menghasilkan buah dalam kebenaran, segala ketetapan daging "tidak berguna." Membatasi batasannya dan memberinya nama menunjukkan bahwa daging bukanlah bantuan untuk ciptaan lama, dan bahwa dia seharusnya dihakimi dan dianggap tidak bisa disembuhkan.
Juga ada kemajuan yang bertahap dalam buah yang dihasilkan. Pertama ada rumput, lalu tanaman berbiji, dan kemudian pohon yang berbuah. Buah terutama bukanlah untuk kegunaannya sendiri, melainkan untuk dipakai Tuhan. "Agar kita berbuah bagi Allah" (Rm. 7:4). Setiap jenis buah mampu melanjutkan jenisnya masing-masing, "Benih yang ada di dalamnya, menurut jenisnya." Benih (biji) ada di dalam buah, menurut jenisnya. Oleh karena itu, hanya kasih yang bisa memperanakkan kasih, hanya sukacita yang bisa memperanakkan sukacita, dan seterusnya. Jika kita ingin kasih, maka kita harus memperlihatkan kasih. Jika kita ingin sukacita, maka kita harus memperlihatkan sukacita. Buah yang paling lama berada di bawah panas matahari adalah yang paling matang dan paling cocok untuk selera tuannya. Buah yang paling matang memiliki benih yang paling matang. Apa yang dituai manusia adalah berdasarkan apa yang dia taburkan.
VII. "Berfirmanlah Allah: Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi. Dan jadilah demikian" (Kej. 1:14-15). Pekerjaan pada hari ini cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pekerjaan di bumi telah pindah ke langit. Pekerjaan hari ini adalah pekerjaan di langit. Ini adalah kenaikan Kristus bersama kaum beriman-Nya.
Setelah kebangkitan, kejadian berikutnya adalah kenaikan. Kenaikan adalah kebenaran yang penting setelah kebangkitan. Tanpa kenaikan, "ciptaan baru" kita bukanlah pekerjaan yang lengkap. Kita menerima kenaikan, sama seperti semua kebenaran lainnya seperti penyaliban dan kebangkitan, pada saat kita percaya pada Tuhan Yesus. Pada saat itu Allah meletakkan kita pada posisi kenaikan walaupun kita belum memiliki pengalamannya. Pengalaman kenaikan mengikuti pengalaman kebangkitan. Jika kita benar-benar dibangkitkan bersama Tuhan dan bersatu dengan hayat kebangkitan-Nya, kita akan secara spontan menghasilkan buah di bumi, dan kehidupan rohani kita akan terangkat ke tingkat-tingkat langit.
"Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga" (Ef. 2:6). Setelah kebangkitan, secara spontan ada kenaikan. Setiap orang Kristen harus mencapai hayat yang terangkat ini. Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati dan duduk di sebelah kanan Allah, "jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut" (Ef. 1:20-21). Kehidupan yang terangkat adalah kehidupan yang mengalahkan segala otoritas dan kuasa Satan. Sebelum pengalaman kenaikan ini, kita hanya memiliki kemenangan atas daging, dosa-dosa, dan dunia. Ketika kita berada dalam kenaikan, kita mengalami peperangan dengan, dan menang atas, segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut di dalam wilayah kegelapan. Kita bisa mencapai kehidupan yang terangkat ketika roh dan jiwa kita terpisah sepenuhnya, ketika roh kita benar-benar bebas melalui kebangkitan, ketika kita tidak lagi dipengaruhi oleh emosi dan pikiran jiwa, dan ketika kita naik mengungguli segala lingkungan dan urusan duniawi. Orang-orang saleh yang sudah mencapai kehidupan yang terangkat memiliki pandangan yang datang dari takhta. Mereka memiliki pengalaman mengenai tidak terpengaruh oleh apa pun. Mereka yang benar-benar tersalib bersama Tuhan akan dibangkitkan bersama Dia. Dan mereka yang benar-benar dibangkitkan bersama Tuhan akan naik bersama dengan Dia ke tingkat-tingkat langit. "Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol. 3:1-3).
Benda-benda penerang yang berbeda-beda ini adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang (Kej. 1:16). Matahari adalah terang untuk siang. Dia adalah sumber panas dan terang bagi bumi. Terangnya adalah berasal dari dirinya sendiri, tidak berubah, dan konstan. Dia benar-benar merupakan lambang dari "Manusia surgawi." Dia pernah berada di bumi, namun Dia telah kembali kepada kemuliaan. Maleakhi 4:2 mendeklarasikan hal yang sama. Kemuliaan Tuhan Yesus adalah "terang besar" di surga. Ketika Dia berada di bumi, Dia adalah "Surya pagi dari tempat yang tinggi" yang mengunjungi kita (Luk. 1:78). Dia juga adalah "terang dunia" (Yoh. 8:12). Dia adalah "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia" (1:9). "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" (ay. 5). "Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak" (Yoh. 3:19-20). Oleh karena itu, Tuhan kembali ke surga untuk tinggal di dalam "tabernakel." Ketika kerajaan seribu tahun tiba, Dia akan menjadi "Surya kebenaran" dan "matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya" (Mzm. 19:5-7).
Hari ini terang-Nya tidak menyinari dunia ini. Hanya mereka yang percaya kepada-Nya yang berada di bawah penyinaran-Nya. "Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku" (Yoh. 14:19). "Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus...dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat" (Ibr. 2:9). "Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu" (Ef. 5:14).
Di dalam malam yang gelap secara moralitas dari dunia hari ini, orang-orang telah kehilangan pandangan akan matahari. Tetapi gereja telah terangkat tinggi dan masih bisa melihat matahari. Sama seperti bulan memantulkan matahari pada malam hari, maka gereja, yang tinggal di dalam terang Kristus, menjadi terang bagi malam yang telah menolak Kristus. Pada hari pertama dari keselamatan kita, kita menerima terang. "Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang" (Yoh. 12:36). Sekarang kita memantulkan terang, dan kita adalah saksi-saksi Kristus di dalam generasi yang jahat ini. "Kamu adalah terang dunia...Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang" (Mat. 5:14, 16).
Di dalam posisi terangkat ini kaum saleh memiliki persekutuan yang lebih intim bersama Tuhan Yesus. Bukankah di tempat inilah kita melihat situasi yang sesungguhnya dari malam yang gelap? Bukankah di tempat inilah kita merasakan kekuatan kegelapan mendekat? Bukankah di tempat inilah kita memiliki pandangan yang lebih luas? Bukankah di tempat inilah kita memiliki pandangan yang lebih jelas akan Kristus? Suatu posisi yang luar biasa!
Walaupun tingkat terang bulan hanya di bawah matahari (di urutan kedua setelah matahari – red), terdapat perbedaan yang besar sekali di antara keduanya! Walaupun bulan adalah terang malam, pada saat yang paling indah dan bulat, dibandingkan dengan sumber terang, dia hanya tampak dingin dan keperak-perakan. Dia berubah-ubah secara konstan! Dia membesar dan mengecil! Tingkat perbesaran dan pengecilannya bergantung pada sudut pergerakannya dalam menghadap pada matahari! Kadang-kadang dia tidak memancarkan cahaya sama sekali. "Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dari kemuliaan kepada kemuliaan" (2 Kor. 3:18). Betapa mudahnya dia berubah! Menurut ketentuan Allah, dia adalah benda langit yang tinggal di langit. Namun menurut pandangan manusia, dia tidak selalu ada di sana; dan kadang-kadang dia menghilang. Bahkan ketika dia berada di sana, dia jarang berada dalam kepenuhannya. Tidak asing bagi dia untuk menjauhi sumber terang. Pekerjaannya adalah menerima. Dia tidak memiliki kemuliaannya sendiri. Semua kemuliaannya datang dari Tuhannya. Dalam terang-Nya dia bisa bersinar. Dia tidak memiliki terangnya sendiri. Dia tidak perlu kuatir atau berjerih payah. Ketika dia menghadap pada matahari, itu adalah harinya yang cemerlang dan terang. Ketika manusia melihatnya dari bumi, bulan itu "indah" (Kid. 6:10), dia menumbuhkan yang terbaik (Ul. 33:14), dia "ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan" (Mzm. 89:38), dan akan ada "damai sejahtera berlimpah sampai tidak ada lagi bulan" (Mzm. 72:7), namun hayat dan suplai hayat diberikan kepada manusia oleh sinar matahari secara langsung. Posisi kita dalam Kristus sangat mustika; namun pengalaman secara langsung akan kehangatan-Nya juga penting. Ketika matahari terbit, bintang-bintang dan bulan tidak terlihat lagi.
Bintang-bintang adalah lambang dari orang-orang kudus hari ini yang individual, sebab mereka "bercahaya di antara mereka" (Flp. 2:15). Ketika matahari terbenam dan bulan mengecil, bintang-bintang bermunculan. "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya" (Dan. 12:3).
Semua benda-benda penerang ini diciptakan oleh Allah untuk "menguasai" (Kej. 1:16-17). Terdapat kekuatan untuk menguasai di dalam penerangan kaum saleh. Banyak dosa pasti menyembunyikan diri mereka sendiri di hadapan kaum saleh. Banyak orang yang najis dengan perbuatan-perbuatannya yang korup tidak berani mendekati kaum saleh. Kaum saleh yang berjalan dalam kekudusan, kemuliaan, kebenaran, dan kasih Allah, semuanya mendapatkan bagian dalam kekuatan untuk menguasai ini.
Apa yang dikuasai kaum beriman adalah malam. Otoritas paling besar bagi seorang Kristen yang terangkat adalah memiliki kemenangan atas kuat kuasa kegelapan. Sebelum kenaikan, kaum beriman tidak jelas mengenai peperangan rohani. Mereka tidak memiliki pandangan yang jelas akan siasat Satan, serangan musuh, godaan iblis, atau kepura-puraan roh-roh jahat. Baru setelah mereka mencapai kenaikan barulah mereka merasakan realitas dari kuat kuasa kegelapan. Kemudian mereka menyadari bagaimana mengalahkan musuh melalui darah Domba, melalui perkataan kesaksian mereka, dan bukan melalui mengasihi hayat jiwa mereka. Kemudian mereka tahu bagaimana cara menggunakan pedang Roh, yang adalah firman Allah, untuk menyerang kekuatan Satan. Lalu mereka tahu bagaimana cara berdoa dalam cara yang menantang untuk meminta Allah untuk menghancurkan aktivitas Satan. Lalu mereka tahu bagaimana berdiri di atas dasar salib, memegang kemenangan salib yang telah digenapkan, menggunakan kata-kata pujian untuk mengusir serangan-serangan yang datang dari roh-roh jahat. Kemudian mereka tahu bagaimana melatih kehendak mereka untuk berperang melawan segala tipu daya musuh. Karena kaum beriman yang terangkat sudah mendapatkan posisi yang mengijinkan mereka untuk menguasai kuat kuasa kegelapan, mereka akan memiliki banyak pengalaman meremukkan Satan di bawah kaki mereka.
Benda-benda penerang ini juga adalah untuk "tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,...untuk memisahkan terang dari gelap" (ay. 14, 18). Kaum beriman yang terangkat mengenal tanda-tanda jaman. Mereka tahu bagaimana cara membedakan jaman. Mereka memiliki pandangan Allah dari takhta dan sangat jelas mengenai kejadian-kejadian di dunia. Kaum beriman yang terangkat akan tahu mengenai situasi pada hari-hari terakhir. Oleh karena itu, mereka akan berada dalam keadaan yang tenang dan tidak bergeming ketika hal-hal berubah dan orang-orang yang bingung dan panik bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi dan harus berbuat apa. Mereka akan tahu apa yang tentunya akan terjadi. Ketika mereka mencapai posisi terangkat, kaum beriman akan mengenal pergerakan Tuhan pada hari-hari terakhir ini, mengenai sikap mereka yang tepat terhadap gereja, mengenai sikap mereka terhadap dunia pada hari-hari terakhir ini, dan mengenai betapa mereka harus berjaga-jaga. Mereka akan tahu bahwa pada hari-hari terakhir Kristus-kristus palsu dan nabi-nabi palsu akan menipu dunia. Mereka akan tahu bagaimana roh-roh jahat dan malaikat-malaikat jatuh akan mengacaukan dunia dan memikat orang-orang untuk mengikuti pengajaran-pengajaran setan, menipu kaum saleh yang bodoh untuk mempercayai mujizat dan keajaiban, dan untuk mengejar bahasa lidah yang palsu dan segala macam pengalaman supranatural. Mereka yang tidak berakar di dalam Firman Allah akan tertipu. Namun kaum beriman yang terangkat, yang memiliki pandangan Allah, tidak akan tertipu, sebab mereka akan sudah mengetahui siasat mereka.
VIII. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala" (ay. 20). Inilah pekerjaan pada hari kelima. Hari kelima ini adalah periode di antara kenaikan dan kedatangan kembali Tuhan untuk menjadi Raja. Oleh karena itu, tidaklah sulit untuk mendapatkan makna rohaninya.
Allah menciptakan ikan dan burung (ay. 21). Air sendiri tidak bisa menghasilkan ikan; demikian juga daratan tidak bisa menghasilkan burung. Ikan dan burung diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di air dan di daratan. Keduanya memiliki hayat (ay. 21). Mereka hanya berbeda dalam bentuk kehidupannya. Air mewakili sifat dosa kita, daging, seperti yang telah disinggung tadi. Ini membawa kita ke dalam pencobaan. Namun di dalam pencobaan ini kasih karunia Allah menggarapkan bentuk hayat bagi kita. Daratan mewakili hayat jiwa kita yang dimurnikan, seperti yang sudah disebutkan tadi. Ini sangat mempengaruhi kita. Di dalam hal ini, kebaikan Allah menggarapkan suatu bentuk hayat bagi kita.
Walaupun kehidupan kita sudah mencapai titik keterangkatan, kita masih manusia dan masih hidup di bumi ini. Kita tidak memiliki cara lain untuk mengekspresikan hayat Allah kecuali melalui tubuh kita. Kenaikan adalah keluar dari dunia; namun hari ini adalah waktu bagi kita untuk hidup di dalam dunia. Melalui pengajaran-Nya, Allah membuat kita mampu untuk mengekspresikan hayat-Nya melalui jiwa kita dan tubuh kita. Ketika kita sudah mencapai tahap ini, kehidupan kita kelihatannya mulai berbentuk. Walaupun bentuk-bentuk kehidupan berbeda-beda, ini adalah waktunya untuk pergi "dari kemuliaan kepada kemuliaan." Kenaikan adalah posisi surgawi kita. Namun hari ini adalah waktunya bagi penghidupan kita untuk diekspresikan di bumi ini. Oleh karena itu, dalam hubungan dengan dunia, kita tidak memiliki pilihan lain kecuali mengekspresikan hayat kita melalui tubuh dan jiwa kita. Bentuk luaran dari ikan dan burung adalah berbeda, tapi prinsip batini dari hayat adalah sama. Ikan di dalam air mengindikasikan adanya kehidupan di dalam air. Burung di daratan mengindikasikan bahwa ada kehidupan di atas bumi. Tadinya, air dan daratan sudah mati dan tanpa kehidupan; namun Allah bisa menciptakan makhluk-makhluk hidup, walaupun dalam bentuk yang berlainan, dan menempatkan mereka di sana. Ini sangat jelas. Ketika kehidupan Kristen kita dimulai, kita tidak memiliki hayat di dalam tubuh kita atau pun jiwa kita. Namun setelah kita naik ke tingkat-tingkat langit, hayat Allah akan diekspresikan melalui tubuh dan jiwa kita melalui penghidupan kita di bumi. Akan tetapi, kita seharusnya jelas, bahwa tidak akan pernah ada hayat di dalam tubuh kita dan jiwa kita; hanya hayat Allah yang terekpresi di dalam mereka. "Sehingga kamu bercahaya di antara mereka...sambil berpegang pada firman hayat" (Flp. 2:15-16). "Hayatmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah." Inilah kenaikan. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi" (Kol. 3:3, 5). Ini adalah mengekspresikan hayat. Dengan demikian, kita akan mendapatkan berkat dari Allah (Kej. 1:22).
IX. "Berfirmanlah Allah: Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar. Dan jadilah demikian" (ay. 24). Pekerjaan pada hari keenam, sama seperti pekerjaan pada hari ketiga, dibagi menjadi dua. Makhluk-makhluk hidup di atas bumi diciptakan pada setengah bagian pertama dari hari keenam. Pada titik ini, penampilan kehidupan lebih maju. Sekarang tidak ada air dan kebajikan-kebajikan dari manusia baru dihasilkan.
Jika kita mengkombinasikan pekerjaan pada hari kelima dengan pekerjaan pada setengah pertama dari hari keenam, kita akan menemukan makna yang besar. Semua ikan, burung, ternak, insek, dan binatang liar adalah lambang manusia (Mat. 4:19; Kis. 10:12, 28). Orang-orang Kristen, setelah kenaikan mereka, menjadi saluran bagi hayat Allah; mereka menyampaikan hayat Allah ke dalam hati banyak orang. Semuanya ini mengacu kepada kehidupan dan pekerjaan hari ini.
Sekarang kita akan melihat ke dalam pekerjaan pada bagian kedua dari hari keenam. Allah menciptakan manusia dalam gambar-Nya sendiri dan menurut rupa-Nya (Kej. 1:26-27). Ini membawa kita kepada kedatangan Kristus yang kedua. Secara rohani, ini sudah menjadi realitas.
Kaum saleh yang sudah mengalami kelahiran kembali, ko-penyaliban, ko-kebangkitan, menghasilkan buah, dan kenaikan, dan telah mengekspresikan semua tahap-tahap yang progresif ini di dalam kehidupan rohani mereka, akan secara spontan mencapai tahap ini, yaitu sepenuhnya seperti Allah. "Kristus terbentuk di dalam kamu" (Gal. 4:19) adalah sasaran rohani kaum saleh. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus dalam segala hal dan telah mengalami segala yang telah Dia genapkan bagi kita, kita akan bisa mengalami "diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya" (2 Kor. 3:18).
"Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut gambar Penciptanya" (Kol. 3:9-10). "Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama...supaya kamu dibarui dalam roh pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:22-24). Dalam pengalaman kita, kita seharusnya memiliki kehidupan "manusia baru" yang benar-benar seperti Allah. "Menanggalkan" dan "mengenakan" adalah tindakan-tindakan yang diinisiasi oleh kehendak kita. Kaum beriman melatih tekad mereka untuk menolak segala perbuatan manusia lama dan memilih kebaruan dari manusia baru. Tingkat tertinggi dari penghidupan Kristen adalah hidup oleh tekad. Pada titik ini, mereka akan diperbaharui dalam pikiran dan pengetahuan mereka, dan mereka akan memiliki gambar Allah secara penuh. Pikiran adalah medan pertempuran rohani. Mereka mungkin benar dan kudus dalam tingkah laku dan kehidupan mereka (Ef. 4:24), namun mereka mungkin belum memiliki pengalaman akan pembaharuan pikiran. Pikiran adalah benteng pertahanan yang paling besar dari hayat Adam yang lama; dia adalah bagian yang paling terkontaminasi oleh dosa. Jika pikiran diperbarui, gambar Allah akan dipulihkan.
Walaupun demikian, pemulihan gambar Allah ada di masa yang akan datang, pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. "Karena kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya" (Flp. 3:20-21). "Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia" (1 Yoh. 3:2).
Kaum saleh bukan hanya memiliki gambar Allah, namun juga kekuasaan atas segala sesuatu (Kej. 1:26, 28). Ini membawa masuk kerajaan seribu tahun. Ini adalah berkuasanya kaum saleh. "Mereka...memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun" (Why. 20:4). "Kekuasaan atas sepuluh kota" (Luk. 19:17).
Tidak semua kaum beriman akan memiliki kemuliaan dari kerajaan seribu tahun. Melainkan, hanya mereka yang sudah mengalami semua tahap di dalam Kejadian 1 yang akan mendapatkan kemuliaan ini. Mereka yang dipersatukan dengan pengalaman-pengalaman Kristus di masa lalu akan juga dipersatukan dengan kemuliaan Kristus di masa depan. Kita hanya perlu percaya kepada Tuhan Yesus untuk diselamatkan; tapi jika kita tidak setia, dan jika kita tidak menderita dan menang, kita tidak akan mampu meraja bersama dengan Tuhan. Salib adalah jalan menuju mahkota. Penderitaan adalah syarat untuk masuk ke dalam kemuliaan. Allah memberi keselamatan secara gratis, namun Dia tidak akan menghadiahkan mahkota tanpa imbalan. Barangsiapa bersedia untuk menderita kerugian di jaman ini demi Tuhan akan menerimanya di jaman yang akan datang. Bagaimana seseorang yang meraja pada jaman ini bisa menerima kemuliaan pada jaman yang akan datang? Tidaklah mudah untuk merendahkan diri kita sendiri! Sebaliknya, kita selalu siap untuk ditinggikan dan menerima kemuliaan! Mereka yang menempuh kehidupan yang kudus dengan pekerjaan yang setia pasti akan menerima pujian dari Tuhan. Namun untuk meraja seperti ini, kita tidak perlu menunggu sampai jaman yang akan datang. Kita bisa meraja dalam roh kita, walaupun penggenapan selengkapnya ada di masa depan. Kita bisa menerapkan otoritas dari Tuhan untuk menguasai segala sesuatu. Kita seharusnya menjadi raja-raja yang menguasai roh-roh jahat dan melarang mereka bekerja. Karena Satan akan diikat di dalam kerajaan seribu tahun, kita bisa menerapkan otoritas dari jaman mendatang untuk mengikat dia sampai taraf tertentu. Kita juga seharusnya menggunakan senjata doa untuk menguasai lingkungan kita; baik itu adalah urusan nasional, urusan keluarga, urusan gereja, ataupun urusan pribadi, kita bisa menggunakan doa untuk menguasai mereka semua. Oleh tekad kita dan melalui Roh Kudus, kita bahkan bisa mengendalikan diri kita sepenuhnya. Ini, tentu saja, adalah kehidupan yang menang. Orang-orang Kristen "kerajaan seribu tahun" adalah orang-orang Kristen yang paling kuat.
Selain meraja sebagai raja-raja, kaum saleh juga akan memiliki makanan mereka sendiri (Kej. 1:29). Tanaman berbiji adalah sebuah tanda hayat. Kuat kuasa hayat ada di dalamnya. Hanya hal-hal yang memiliki hayat yang baik untuk menjadi makanan. Makanan adalah bagian dari pahala kita di masa depan: "Siapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon hayat yang ada di Taman Firdaus Allah" (Why. 2:7). "Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi" (ay. 17). Perkara makanan akan berlanjut setelah kebangkitan sebab Tuhan kita juga makan dan minum setelah kebangkitan-Nya. Buah dari pohon hayat adalah untuk dimakan oleh manusia di dalam kekekalan, kota surgawi.
Walaupun demikian, hari ini kita bisa mengalami tempat dimana kita akan berada di masa yang akan datang. Apa yang kita makan adalah penyusun dari kesehatan kita. Hanya makanan-hayat yang bisa memberikan perawatan hayat kepada mereka yang memakannya. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan diberikan "segala tumbuh-tumbuhan hijau" sebagai makanan. "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4). "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh. 4:34). "Akulah roti hayat" (Yoh. 6:48). "Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hayat yang kekal" (ay. 54). Jika kita ingin kuat, kita harus mengambil firman Allah, mengambil kehendak-Nya sebagai makanan kita, dan makan dan minum Tuhan Yesus. Kita tidak seharusnya membaca Kitab Suci secara sembarangan, melainkan memakai doa dan renungan untuk mencerna firman Allah dan menerima perawatan bagi kehidupan rohani kita. Setiap kali kita dengan setia mengambil kehendak Allah, kita akan merasakan bahwa manusia batini kita sekali lagi telah dirawat. Dengan iman, kita mengambil kematian dan hayat (daging dan darah) Tuhan Yesus untuk mengasimilasi mereka ke dalam kehidupan kita sehingga kita bisa maju dengan kekuatan. Untuk menjadi sehat secara rohani, kita perlu mengambil roti hayat. Makanan jenis lainnya hanyalah sekam.
X. "Pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kej. 2:1-3). Langit dan bumi sudah selesai, juga semua penghuninya. Pekerjaan penebusan Allah sudah digenapkan. Sekarang tidak ada yang lainnya lagi kecuali beristirahat.
Pada pasal pertama Allah berbicara lebih dari sepuluh kali. Segala yang sudah dikatakan-Nya sekarang sudah selesai. Firman Allah bekerja di dalam setiap tahap. Dia selalu berbicara. Setiap pekerjaan Allah memperlihatkan perkembangan dari kuat kuasa intrinsik-Nya. Tahap demi tahap, mereka memperlihatkan kuat kuasa ilahi-Nya untuk melaksanakan rencana ilahi-Nya. "Karena kita adalah mahakarya (masterpiece) Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik" (Ef. 2:10). Diberkatilah mereka yang taat kepada seluruh firman Allah. Tujuh kali Tuhan mengatakan, "Itu baik," namun untuk yang terakhir, Dia mengatakan, "Sangat baik." Hati-Nya puas dengan pekerjaan yang telah Dia selesaikan dengan sabar dan cermat. Karena Dia sudah puas, Dia beristirahat. Inilah perhentian Allah. Ini membawa kita ke langit baru dan bumi baru, jaman perhentian yang kekal. Pada saat itu, kita akan masuk ke dalam perhentian Allah (Ibr. 4:3). "Sebab siapa saja yang telah masuk ke dalam tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya" (Ibr. 4:10). Kekekalan akan dimulai, dan selama jutaan dari hari-hari yang tidak berkesudahan itu kita akan beristirahat di hadapan Allah dan akan berada di dalam Dia, memahami kehendak-Nya, takjub pada kemurahan kasih-Nya, dan memuji kasih karunia-Nya. Sungguh situasi yang luar biasa pada saat itu! "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1 Kor. 2:9).
Puji Tuhan, sebab kita tidak perlu menantikan masa depan untuk memiliki perhentian tersebut. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat. 11:28-29). Di sini ada dua perhentian. Yang pertama kita terima ketika kita percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Yang kedua kita terima ketika kita belajar dari Tuhan Yesus. Jiwa kita ini penuh dengan kedambaan, kegairahan, kerinduan, kesedihan, kejengkelan, dan dukacita. Namun ketika kita melihat kelemah-lembutan dan kerendah-hatian Tuhan, bagaimana Dia menahan penentangan dari orang-orang berdosa terhadap-Nya, bagaimana Dia dengan rela memikul gandar, dan bagaimana Dia memperlihatkan diri-Nya sendiri sebagai suatu teladan dari seekor domba, maka kita tidak lagi letih dan pusing. Jika kita belajar dari Dia, kita akan mendapatkan ketenangan bagi jiwa kita, suatu kehidupan yang damai, suatu kehidupan yang tanpa pergumulan, dan suatu kehidupan yang mengapresiasi kehendak Allah! Betapa sukacita yang besar!
Di dalam seluruh enam hari, ada "petang dan pagi." Setelah petang selalu ada pagi, namun tidak ada satu hari pun yang tanpa malam. Namun pada hari ketujuh, hari Sabat Allah, tidak ada petang ataupun pagi. Sekarang yang kita miliki adalah "siang" (berbeda dari pagi) yang tidak berakhir yang sempurna, penuh, mulia, diberkati, dan dikuduskan oleh Allah.
Penciptaan dunia jasmani adalah lambang dari pembangunan rohani. Sejarah penciptaan dunia jasmani terdiri dari sepuluh tahap, baik di masa lalu maupun di masa depan; namun seluruh tahap ini bisa dialami oleh kaum beriman, walaupun beberapa dari pengalaman ini akan mendapatkan penggenapan penuhnya di masa depan. "Kristus telah mengasihi gereja dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan gereja di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya gereja kudus dan tidak bercela" (Ef. 5:25-27).
Betapa sederhana dan betapa jelasnya perkara-perkara yang telah kita bahas ini! Siapa saja yang ingin memahami pelajaran ini harus memahami suara-suara yang diutarakan melalui penciptaan. Pekerjaan tangan Allah merupakan kesaksian Allah; mereka mengekspresikan pemikiran-Nya yang dalam dan kasih-Nya yang besar. Penciptaan dan penebusan adalah dua cabang dari pekerjaan Allah; mereka diam-diam mengutarakan Diri Allah sendiri. Kristus adalah kunci untuk seluruh Kitab Suci. Kita bukan sedang mengubah Kitab Suci, memotong jari supaya kaki bisa pas dengan sepatu. Allah telah menetapkan bahwa Kitab Suci seharusnya bersaksi mengenai Diri-Nya, mengenai Kristus dan penebusan-Nya. Jika terdapat kesalahan di dalam berita ini, itu hanyalah dikarenakan penulisan yang ceroboh yang gagal untuk menyampaikan makna yang dimaksudkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)